
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Raja Tur yang tak ingin kehilangan pasukannya lagi demi menggempur empat kerajaan, menarik mundur semua prajurit di perbatasan atas saran dari Panglima Rat. Ia menganggap, pria setengah tikus itu cukup bijaksana dalam memberikannya nasihat usai dirinya mengalami banyak kekalahan demi menguasai empat kerajaan. Selain itu, ide untuk memblokade manusia ubur-ubur agar tak lagi bisa mengintai pergerakan pasukannya di wilayah kabut putih juga hasil pemikiran Rat. Kali ini, pertempuran besar yang ia nantikan, dipercayakan kepada panglima bertubuh kerdil itu demi mewujudkan cita-citanya.
"Gagal, hukuman mati untukmu, Rat," ucap sang Raja bengis di depan pintu utama istana.
Sang Panglima mengangguk paham. Pria itu lalu pergi bersama pasukan yang dipercaya untuk melaksanakan misi. Dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan menjadi jaminan atas keinginan sang Raja jika pria tikus itu gagal mengemban tugas. Sang Raja merangkul bahu dua anak itu erat dengan mengapitnya di lengan. Dua anak Panglima Rat ketakutan dan menangis. Ibu mereka telah tiada, dan satu-satunya ayah yang selalu melindungi dari kekejaman sang Raja, kini ditugaskan.
KRANG!
"Agh!" rintih si tikus kecil yang manis saat ia dan sang kakak dimasukkan ke dalam sebuah sel di ruang bawah tanah Kerajaan Tur.
"Kalian akan tetap di sini sampai Panglima Rat berhasil merebut wilayah. Jika Rat tewas saat bertempur, kalian akan dikirim untuk melakukan rencana cadangan sang Raja. Hehe, berdoalah," ucap seorang penjaga penjara yakni manusia setengah badak.
Si tikus kecil berwarna cokelat muda itu menangis. Sang kakak memeluk adiknya erat. Tikus kecil dengan bulu berwarna cokelat tua itu menatap si badak dengan tatapan bengis. Ia berusaha untuk tetap tegar seperti ucapan sang ayah kala itu setelah memberikan kabar buruk sebelum ditugaskan.
Sehari sebelumnya. Kediaman Panglima Rat. Desa Rawa Tur.
Rumah yang berada di tengah-tengah rawa berkabut hijau dan dihuni oleh empat kepala keluarga tersebut terlihat sepi. Tiga kepala keluarga berkumpul di rumah sang Panglima. Rumah pohon tersebut melindungi keluarga kecilnya. Para tetangganya memenuhi ruangan bercahaya redup dari lilin, usai mengetahui jika sang Panglima yang dihormati itu sedang dalam tekanan sang Raja.
"Kukira dengan memberikan banyak ide pada sang Raja, dia akan membiarkanku tetap berada di istana. Ternyata, dugaanku salah. Ayah minta maaf," ucap sang Panglima dengan wajah berkerut di hadapan putranya.
"Jangan mati. Kau harus pulang. Kau berjanji pada ibu untuk melindungi kami. Aku masih kecil. Aku tak bisa melawan raja dan orang-orangnya. Siapa yang akan menjaga kami jika kau tak ada?" tanya sang putra meneteskan air mata, berdiri dengan terisak di hadapan sang ayah.
"Ayah akan pulang dan menjemput kalian. Bertahanlah. Ayah telah memikirkan banyak ide di luar ide-ide gila yang sudah diutarakan kepada sang Raja," jawab sang Panglima lalu memeluk putranya erat.
Para tetangga yang mendengar hal tersebut ikut bersedih. Putri sang Panglima telah tertidur lelap di kamarnya dan ditemani oleh salah satu istri tetangga yang juga seekor tikus. Saat ayah anak itu saling menguatkan hati agar tak terpuruk, para penjaga kerajaan datang. Badak-badak bercula itu mendatangi sang Panglima untuk membawanya pergi.
Sang putra terpaksa merelakan ayahnya atas bujukan para tetangga agar jangan melawan perintah Raja. Namun, siapa sangka. Di hari berikutnya, dua anak sang Panglima dibawa ke istana yang ternyata menjadi jaminan kemenangan sang Raja. Praktis, hal tersebut mengejutkan keluarga tikus itu.
"Aku akan melindungimu, Tar. Jangan takut. Naga akan melindungi orang-orangnya yang percaya pada kekuatannya," bisik Mor meyakinkan adiknya.
"Naga ... hiks, tolong kami," pinta sang adik menangis dan semakin kuat memeluk tubuh sang kakak di mana jeruji besi merenggut kebebasan keduanya.
Di perbatasan wilayah Yak dan Zen sisi Timur Laut. Tepat saat bulan ungu bersinar.
__ADS_1
Panglima Rat yang sudah berjanji kepada mendiang istri dan dua anaknya, meyakinkan diri agar tak tewas dalam pertempuran. Ia tak pernah berhati-hati seperti saat ini. Pria tikus itu benar-benar waspada dalam setiap pergerakannya.
"Panglima," panggil salah satu prajuritnya dengan wujud manusia setengah kelinci. Telinga orang itu bergerak-gerak dan berdiri tegak saat mendengar adanya pergerakan di dalam hutan.
Sang Panglima dengan sigap mengangkat kedua tangannya. Ia dan pasukannya berhasil keluar dari kabut hijau Kerajaan Tur, lalu menyeberangi hamparan padang rumput. Mereka sengaja memutar agar tak bertemu dengan para penjaga kerajaan Yak dan Zen di perbatasan. Orang-orang itu lalu berpencar agar tak tertangkap. Pasukan yang dipimpin Panglima Rat tengkurap dan bersembunyi di balik rerumputan tinggi.
Sang Panglima yang sudah tahu di mana saja empat kerajaan meletakkan pasukannya, memilih menghindar. Sang Raja awalnya meragukan ide dari Panglima Rat, tetapi melihat pria tikus itu sangat yakin dengan strateginya, Raja Tur yang tak ingin rugi dalam perang, menggunakan dua anak sang Panglima sebagai asuransi. Panglima Rat kembali fokus pada misi agar tak gagal usai ingatan tentang sang Raja berhasil membebaskan lamunannya. Ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk tiarap dan tak melakukan gerakan mencurigakan. Ia lalu melirik si pria kelinci dan memberikan kode dengan anggukan kepala.
DUK! SRAKK!
Si manusia kelinci melempar batu ke arah pergerakan yang dicurigai dan mengenai dedaunan. Mata Panglima Rat menajam. Para manusia setengah binatang itu meletakkan telinga mereka di tanah seperti mencoba mendengarkan sesuatu dari getaran di tanah. Benar saja, tak lama, muncul beberapa orang berseragam kuning ciri khas Kerajaan Zen.
"Ada yang memasuki wilayah ini," ucap salah satu prajurit Zen berbisik dengan mata memindai sekitar.
Dua pria berseragam kuning itu mengendap dengan pedang dalam genggaman, siap untuk menyerang lawan jika muncul di hadapan. Seketika ....
SHOOT! DUAKK!
"Argh!" rintih salah seorang prajurit Zen ketika tiba-tiba saja terkena lemparan batu dari balik semak.
Orang-orang itu panik dan terkejut karena musuh tak terlihat. Mereka berusaha melarikan diri dari tempat tersebut untuk menghindari serangan. Akan tetapi ....
JLEB! JLEB! JLEB!
"Argh!"
BRUK! BRUK!
Panglima Rat dengan sigap keluar dari persembunyian saat dua prajurit itu berlari ke arahnya. Manusia setengah tikus tersebut menusuk prajurit berseragam kuning dengan pedangnya secara bergantian. Tanpa mampu melakukan serangan balasan, dua prajurit Zen ambruk bersimbah darah dalam keadaan sekarat.
"Zen, akan menjadi milik kami," ucap Panglima Rat berdiri di depan wajah dua pria itu seraya mengarahkan ujung pedangnya.
"Ter-terkutuklah kalian semua," ucap salah satu prajurit dengan otot-otot wajah menegang.
JLEB! JLEB! CRATT!
Tanpa aba-aba, Panglima Rat menuntaskan tugasnya dengan menusuk leher dua pria malang itu menggunakan dua ujung pedang bersamaan. Rat mengibaskan pedang lalu mengelap noda darah pada bilahnya di pakaian perang musuh.
__ADS_1
"Kami memang orang-orang terkutuk," ucap sang Panglima dengan wajah dingin lalu berpaling.
"Panglima!" panggil salah seorang prajurit yang bergerak di sisi timur.
Panglima Rat menatap lekat pria dengan sosok setengah rakun yang mendekatinya. Prajurit lainnya menyingkirkan mayat prajurit Zen dan menyembunyikannya di balik semak.
"Tak ada penjaga keliling sampai 100 langkah di depan, Panglima. Kita bisa menerobos hutan," ucap prajurit itu melaporkan.
"Bagus. Tetap waspada dan menyatulah dengan alam," titah sang Panglima dan diangguki prajurit-prajuritnya.
Pasukan di bawah komando Panglima Rat menerobos hutan. Sosok mereka yang bagaikan binatang dan memiliki kemampuan hewan, dengan mudah berbaur dengan kondisi lingkungan tanpa terdeteksi para penjaga Zen. Mereka memanjat pohon untuk mengintai dan membuat terowongan dengan bantuan salah satu manusia setengah tikus tanah agar bisa melewati perbatasan. Saat mereka bergerak dengan memasuki terowongan buatan untuk menembus wilayah kerajaan, tiba-tiba ....
"Apa yang terjadi? Gempa bumi?" tanya salah seorang prajurit panik karena tanah tiba-tiba bergetar hebat.
"Bawa kami keluar dari sini, Cok!" titah sang Panglima.
Pria dengan sosok setengah tikus tanah itu bergegas menggali. Mereka menggunakan insting binatang di mana saat dalam kondisi mencekam, naluri hewan tersebut lebih peka dan bisa diandalkan. Anak buah Panglima Rat membantu mempercepat penggalian di mana kini diarahkan ke permukaan.
"Hah! Hah! Cepat! Tanah di atas kita akan runtuh! Kita akan tertimbun!" titah sang Panglima yang melihat beberapa bongkahan batu mulai menjatuhi para prajuritnya yang berada di belakang.
Benar saja, KREKK! BRUKK!
"Argh!"
Mata sang Panglima melotot. Ia tertegun melihat atap tanah itu runtuh dan menimbun para prajuritnya. Prajurit-prajurit yang tersisa bergegas menggali dengan tangan-tangan mereka. Tanah yang ambles itu bergerak dengan cepat seperti mengejar prajurit Rat yang berlari menyelamatkan diri dengan berbalik arah. Namun, naas. Mereka kalah cepat dengan kekuatan alam.
"Hah, hah! Panglima! Kami berhasil!" teriak salah satu prajurit dengan sosok setengah kelinci saat melihat cahaya di atas mereka.
Dengan sigap, sang Panglima berlari dan merangkak ke atas. Para prajurit yang berhasil menggali untuk bisa sampai ke permukaan dengan cepat memanjat. Saat mereka sudah berada di permukaan, betapa terkejutnya ketika melihat kumpulan dalam jumlah besar mengepung. Para prajurit Rat segera membentuk formasi melingkar saling melindungi.
Ketakutan dan panik tak bisa lolos dari hati mereka. Terlebih, saat orang-orang itu tahu alasan kenapa tiba-tiba saja tanah terowongan runtuh. Ternyata makhluk Ggg yang ditunggangi oleh beberapa prajurit Zen menghentakkan kaki besar mereka di atas terowongan hingga ambles. Napas Panglima Rat memburu menatap satu per satu orang-orang Zen yang berdiri memutari kelompoknya.
Hingga tiba-tiba. Muncul seseorang dengan tubuh berkilau mendekat. Mata sang Panglima menatap sosok yang begitu gagah berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu mengenakan pakaian tempur berlapis emas tampak kokoh.
"Kalian sangat cocok untuk menjadi tukang ledeng nantinya. Oh! Tukang pipa juga bisa. Wah, sangat berguna!" ucap pria berbaju zirah senang.
"Kami tak sudi menjadi budakmu!" teriak Panglima Rat marah.
Pria tikus tersebut dengan sigap melompat ke tubuh lelaki yang melapisi wajah layaknya helm pelindung sehingga hanya terlihat matanya. Sontak, serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang dari dua kubu. Para prajurit Zen dengan sigap mengarahkan ujung tombak ke manusia-manusia setengah bintang. Pasukan Rat yang tersisa ikut mengacungkan pedang sebagai tanda jika mereka siap bertarung.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Unreal Engine)