Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Penghisap Kekuatan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Panglima Goo tampak gugup saat matanya terfokus pada kepala sang Raja yang tergeletak di samping kaki. Ia terlihat pucat. Ditambah, banyak orang yang memihak Kiarra. Dalam diamnya, ia teringat akan penglihatan yang didapat dari sang Naga tentang perjuangan Kiarra di planet bernama Bumi dan usahanya untuk mendapatkan buah naga demi menyelamatkan Dra. Kiarra juga dipercaya oleh sang Naga untuk mengabdi padanya. Perlahan, kepala Panglima Goo terangkat. Matanya langsung bertemu dengan Kiarra yang masih menatapnya tajam.


"Aku bersumpah setia padamu, Ratu Kia-rra!" seru Panglima Goo berlutut.


Praktis, keputusan panglima kebanggaan Vom tersebut membuat para prajurit ikut menaruh hormat dan bersumpah untuk mengabdi pada sang Jenderal. Kiarra tersenyum puas dan meminta mereka untuk segera berdiri.


"Aku pegang janji kalian!" seru Kiarra dengan pedang kristal ditujukan pada Panglima Goo dan pasukan Vom yang bersujud padanya. Sekumpulan pria itu mengangguk mantap dan segera berdiri.


"Kami menunggu perintah Anda selanjutnya, Ratu," ujar Goo.


"Kita buru Ram. Dia adalah petaka sesungguhnya di Negeri Kaa. Dia memiliki maksud tak baik. Sangat berbahaya jika dia—"


"Arrghhh!"


"Apa yang terjadi? Siapa yang berteriak itu?" tanya Pop langsung menoleh ke arah pintu aula.


Semua orang terdiam hingga Kiarra menyadari sesuatu. "Dra!" Praktis, semua orang langsung berlari mengikuti Jenderal mereka yang kini telah diakui menjadi ratu meski belum dinobatkan. Kiarra panik dan bergegas menuju ke asal teriakan yang diyakini adalah tempat Dra berada. Benar saja, "Ram!"


"Hahaha! Hahahaha!" tawa lelaki itu puas saat dua tangannya memegang kepala Dra dan terlihat aura berwarna ungu keluar dari tubuh penyihir Vom tersebut.


Mata Kiarra membulat penuh saat melihat Aaa tergeletak tak sadarkan diri tak jauh dari tempat Dra yang sedang dihisap kekuatannya oleh Ram.


"Harghhh!" raung Kiarra yang bergegas berlari untuk menghentikan aksi gila Ram.


Akan tetapi, "Arghhh!"


"Jenderal!" seru Panglima Goo saat tubuh Kiarra terhempas begitu saja hanya dengan satu tangan kiri Ram dari jarak jauh.


Mata lelaki itu perlahan berubah warna menjadi keunguan. Napas Kiarra memburu dan segera bangkit. Panglima Goo dan pasukan Vom yang melihat Dra mulai melemah karena cahaya ungu di matanya memudar, dengan sigap melakukan serangan.


"Bunuh Ram!"


"Heahhh!"


"Ck, ngengat," decak Ram dan melakukan hal yang sama seperti saat ia menghempaskan Kiarra.


Mata Kiarra menajam saat melihat kekuatan Ram yang ternyata sangat besar dan tak terlihat lelah ketika mengkonsumsi energi tersebut. Kiarra melihat sebuah busur dan anak panah tergeletak di lantai batu dari seorang mayat prajurit Vom yang tewas saat aksi pemberontakan. Ia bergegas mengambil senjata itu dan membidik Ram.


SHOOT!


"Oh!" kejut Kiarra karena anak panah itu seperti tertahan.


Tiba-tiba saja, anak panah itu berhenti saat melesat. Mata Kiarra menyipit. Ia melihat tubuh Ram seperti memiliki lapisan pelindung layaknya perisai tembus pandang yang kuat sehingga panahnya jatuh tak berhasil mengenai target.


"Sialan kau, Ram!" teriak Kiarra marah dan tetap berusaha menghujani Ram dengan seluruh anak panah temuannya. Ia bergulung dan melesatkan anak panah, mencari titik lemah Ram. Sayangnya, pria itu seperti tak memiliki titik buta sehingga semua pergerakannya tak tertembus. "Dra!" panggil Kiarra cemas karena adik Kia tersebut mulai memejamkan mata dengan tubuh terkulai lemas seperti kehilangan nyawa.


BRUKK!


"Hahahaha! Kekuatan Dra menjadi milikku!" teriaknya dengan mata menyala ungu terang dan muncul seperti asap berwarna ungu di sekitar tubuh pria itu.

__ADS_1


Dra jatuh tergeletak dengan mata terpejam dan tubuh lunglai. Kiarra panik. Ia bisa merasakan kekuatan Ram begitu besar hingga membuat tubuhnya bergetar. Namun, ia teringat akan ucapan sang Naga jika hanya dirinya yang bisa mengalahkan Ram. Kiarra memejamkan mata dan mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk bertempur kembali.


"Harghh! Jangan takut! Dia hanya manusia biasa seperti kita! Kemampuan sihirnya tidak murni! Ia menghisap kekuatan para penyihir di Negeri Kaa! Ram bisa dikalahkan! Maju!" seru Kiarra lantang dan kembali berdiri dengan pedang kristal biru dalam genggaman.


"Serang!" seru Panglima Goo yang memimpin pasukan Vom untuk kembali menyerang Ram.


Ram menyeringai dengan mata menyala ungu terang. Tubuhnya berubah menjadi lebih tinggi dan besar seperti raksasa. Bahkan, Kiarra bisa melihat muncul dua tanduk di kepalanya seperti banteng. Ram meraung saat terjadi perubahan dalam dirinya.


"Ini kesempatan! Jatuhkan dia dengan cara apa pun! Bila perlu, bunuh dia!" teriak Kiarra terus berlari mendatangi Ram yang kini berada di halaman istana dengan banyak pasukan Vom tergeletak di berbagai tempat dalam kondisi sudah tak bernyawa. Kiarra yakin, orang-orang itu awalnya ingin menghentikan aksi Ram, tetapi kalah kekuatan. Kiarra berusaha mengeluarkan sihir dalam diri meski masih belum tahu bagaimana caranya. "Akan kucoba semuanya!" teriaknya pantang menyerah.


Kulit Ram perlahan berubah menjadi ungu. Rambut di dagunya terus memanjang menjadi seperti janggut berbentuk segitiga dan hampir menyentuh lantai batu. Kukunya berubah menjadi cakar berwarna hitam seperti hewan predator. Semua serangan yang diberikan oleh pasukan Vom tak memberikan dampak apa pun. Tubuh Ram seperti perisai yang tak tertembus. Goo dan pasukannya panik saat melihat Ram mulai membidik mereka.


"Harghhh!"


"Awas!" teriak Goo saat melihat Ram mulai mengayunkan tangan kanannya, seperti siap menghempaskan semua orang yang berani menentang.


BRUGG!!


"Aghhh!" raung pasukan Vom yang tubuhnya terkena ayunan tangan Ram sebesar batang pohon hingga punggung mereka menghantam dinding batu.


Ram menangkap para prajurit yang masuk dalam jangkauan tangannya lalu dilemparkan jauh. Bahkan, ia bisa merobek baju besi pakaian tempur para prajurit.


"Bagaimana dengan ini!" teriak Kiarra siap menebas Ram menggunakan pedang kristalnya.


Ram melihat kedatangan Kiarra dan menjulurkan tangan kanannya, siap untuk menangkap tubuh itu. Namun, Kiarra dengan sigap melompat dan mengarahkan ujung pedang kristalnya ke kepala Ram. Pria itu lalu menggunakan tangan kanannya untuk melindungi wajah. Namun, tiba-tiba, Kiarra menarik pedang. Ia merubah arah serangan saat dua kakinya mendarat di bahu Ram lalu melompat lagi. Ram bingung, dan saat ia membalik tubuh untuk melihat yang Kiarra lakukan, seketika ....


JLEB!!


"Arghhh!"


Perisai di tubuh penyihir itu memudar dan difokuskan pada bagian atas tubuh karena Kiarra akan menyerang kepalanya. Kiarra mendarat di lantai batu dengan senyum kemenangan karena Ram berhasil dilukai.


Akan tetapi, "Harghhh!"


"Hah!" kejut Panglima Goo dan Wen saat Ram tiba-tiba berlari ke depan sehingga membuat pedang itu tercabut dari kakinya.


Goo dan Wen yang memegangi pedang mereka kuat tertegun ketika melihat luka tusukan itu tiba-tiba tertutup meski darah Ram menggenangi sekitar luka robek tadi. Mata semua orang melebar saat menyadari jika tubuh pria itu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri.


"Kalian tidak akan bisa membunuhku!" teriaknya penuh kebanggaan dengan dua taring muncul di mulutnya.


"Tapi kau masih bisa dilukai!" teriak Kiarra yang tiba-tiba muncul di belakangnya dengan ujung pedang siap menusuk.


Mata Ram terbelalak dan, JLEB!!


"Aggg!" erang Ram saat melihat ujung pedang Kiarra berhasil menembus perisainya dan menusuk perut lelaki itu hingga menembus pinggang.


"Kau mati, Ram!" ujar Kiarra bengis yang berhasil melukai Ram tanpa harus menggunakan sihir.


"Hargghh!" raung Ram seraya memegang kedua tangan Kiarra kuat lalu ditariknya tusukan itu.


Tubuh Ram tiba-tiba menyusut dan kembali menjadi manusia normal ketika terkena pedang kristal Kiarra. Sang Jenderal yang menyadari hal itu, berusaha keras mempertahankan pedangnya untuk menghabisi Ram selama-lamanya. Kiarra menahan tangannya yang memegang pedang agar benda bercahaya biru itu tetap tertancap.

__ADS_1


Keduanya saling beradu kekuatan, hingga tiba-tiba, DUAKK!


"Argh!" rintih Kiarra saat Ram menendang salah satu lututnya hingga wanita itu ambruk karena tak siap dengan serangan tersebut.


KLANG!! BYURR!


"Jenderal!" seru Fuu panik karena tak bisa membantu.


Pedang Kiarra dibuang jauh hingga tercebur ke dalam kolam. Kiarra menahan sakit di kakinya, tetapi ia yakin jika akan segera pulih karena tubuhnya juga memiliki kemampuan menyembuhkan diri. Akan tetapi, hal tak terduga dilihatnya. Ram menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengambil sebuah tas yang diletakkan pada sebuah pelana kuda. Ia mengulurkan tangan kanan dan tas itu melayang mendatanginya. Mata semua orang membulat penuh ketika melihat sebuah benda seperti sebuah telur berwarna kehijauan dikeluarkan dari dalam tas dan dipegangnya kuat.


"Hah, hah," engahnya dengan darah menetes deras dari perut.


Hingga tiba-tiba, "Oh!" kejut semua orang dengan mata melotot saat menyaksikan Ram memakan telur itu.


"Kaa! Kaa!" lengking naga kecil yang terbangun dan langsung bersuara seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Kiarra!"


"Naga?" sahut Kiarra saat mendengar suara sang Naga di telinganya.


"Ram memakan telur naga! Hal itu akan menjadikannya abadi! Cepat bunuh dia sebelum bagian terakhir ditelannya!"


Praktis, mata Kiarra melebar. "Hargg! Kanibal!" teriak Kiarra garang dan segera berlari meski harus menahan rasa sakit.


Tubuh Ram yang perlahan membesar, fokus memakan telur itu hingga lendir pada bagian dalam telur menetes. Kiarra yang tak ingin Ram menjadi abadi, mengabaikan rasa sakit karena belum pulih sempurna, tetapi ia merasakan jika kekuatannya bertambah drastis.


Kiarra mengepalkan kedua tangannya dan, BUAKK!! KRAKK!!


"Hah!" kejut Ram saat telur yang sedang dimakannya remuk dan bagian terakhir jatuh di lantai batu.


"Kaa! Kaa!"


WHOOM!!


Kiarra dan Ram terkejut saat naga kecil terbang mendekati pecahan telur lalu menyemburkan api hingga menghanguskannya. Ram geram dan mencengkeram leher Kiarra kuat dengan satu tangan dan tangan lainnya berusaha menangkap naga kecil yang terbang di sekitarnya. Kiarra yang tak siap berusaha melepaskan cengkraman itu dengan menendangi tubuh Ram agar terlepas. Namun, kekuatan pria itu sungguh kuat.


"Aku bisa merasakan sihir dalam tubuhmu, Jenderal Kia ... aku juga akan menghisap kekuatanmu!" teriaknya dengan mata berwarna ungu terang.


"Aghhh!" raung Kiarra saat usahanya untuk membebaskan diri tak berhasil.


Semua orang panik dan akhirnya nekat untuk membantu meski kecil kemungkinan menang.


"Jenderal!" teriak Ron lantang dengan tubuh basah kuyup membawa pedang kristal dalam genggaman.


"Erghhh!" erang Kiarra dengan tubuh menegang mencoba bertahan agar tak mati di tangan penyihir iblis itu.


Mata Ram mendapati Ron yang berlari ke arahnya, seperti siap untuk menyerang. Ram tersenyum miring dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Ron, siap melakukan sesuatu.


"Tidak!" teriak Kiarra lantang karena bisa merasakan hawa jahat dari gerakan Ram.


***

__ADS_1



Makasih tips koinnya jeng Riana❤️ berkah syelalu💋 Lele lanjut up nanti ya kalau udh sampai Jogja dengan nyaman. Rempong banget ni soalnya krn mudik. Trims udh sabar menunggu. Lele padamu💋


__ADS_2