Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Ram? Jasper?*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Mata Kiarra membulat penuh saat melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Jasper, calon suaminya di Bumi. Pria itu jatuh bergulung ikut terkejut dan sempat beradu pandang dengan Kiarra, tetapi kemudian segera bangkit dan merapatkan jubahnya. Mulut wanita cantik itu sampai menganga lebar karena tak menyangka akan bertemu Jasper di tempat ini, tetapi kemudian keningnya berkerut karena ada perbedaan antara Jasper dan pria tersebut.


"Kau siapa?" tanya Kiarra dengan mata terkunci pada sosok pria yang menutupi tubuhnya dengan jubah berwarna merah, tetapi bertelanjang dada dan memperlihatkan otot perutnya yang indah.


Kiarra menatap tajam pria itu yang hanya mengenakan celana kain cokelat panjang, sepatu boots dari kulit hewan dan membawa tas dari kain model slempang. Rambut lelaki itu juga berbeda dengan Jasper yang ia lihat terakhir kali karena berwarna putih dan ada campuran warna merah muda seperti di-highlight. Potongan rambutnya juga belah tengah dan gondrong sampai sebahu. Kiarra semakin curiga.


"Aku ... aku Ram," jawabnya terlihat gugup seraya melihat sekitar dengan waspada. "Maaf, aku harus pergi," ujarnya tiba-tiba yang kemudian berlari begitu saja seperti takut akan sesuatu.


"Hei!" panggil Kiarra karena ia merasa pria yang mirip dengan Jasper itu tak mengenalnya. Entah kenapa, hatinya ingin mengetahui siapa pria itu. Saat Kiarra bermaksud untuk mengejarnya, tiba-tiba ....


"Itu dia! Tangkap!" teriak segerombolan pria berpakaian merah seperti prajurit kerajaan.


Seketika, mata Kiarra melebar. Saat ia akan kabur, dirinya baru sadar sewaktu pasukan itu melewatinya begitu saja. Kiarra melihat arah pasukan yang ternyata mengejar pria dengan nama Ram. Sontak, jiwanya bangkit untuk menolong.


"Sial! Kenapa hatiku ingin sekali terlibat!" pekik Kiarra kesal dan akhirnya ikut melaju mengikuti pasukan berbaju merah seperti prajurit Ark.


Para prajurit itu menunggangi kuda dan bersenjata tajam. Kiarra menjaga jarak karena khawatir jika wajahnya dikenali. Bagaimanapun, Jenderal Kia sosok yang cukup terkenal di Negeri Kaa, begitu pikirnya. Saat banyak pertanyaan berseliweran di kepala Kiarra tentang pria bernama Ram, tiba-tiba fokusnya terbagi ketika melihat seorang prajurit yang menunggangi kuda sedang membidik pria berjubah merah dengan anak panah. Spontan, Kiarra menarik pedang yang selalu ia sarungkan di pinggul sebelah kiri dan mengambil gulungan tali.


SWINGG! JLEB! CRATT!


"Arghhh!"


Praktis, rintihan kesakitan itu membuat prajurit lainnya menoleh dengan mata membulat penuh. Kiarra menutup sebagian wajahnya dengan kain layaknya cadar. Gagang pedangnya ia lilitkan dengan tali seperti saat memotong dahan pohon jembatan. Ia berhasil membuat ujung pedangnya menusuk pinggang pemanah itu ketika baju lapisnya terangkat saat menarik busur. Kiarra menariknya dan kembali menggenggam gagang pedang kuat


"Dia pasti komplotan pria itu! Serang!" seru salah seorang prajurit yang kini mengubah arah pengejaran dengan target Kiarra.


Mata Kiarra melebar karena sebagian pasukan yang diduga dari Kerajaan Ark kini berbalik arah padanya. Jantungnya berdebar kencang dengan kepanikan langsung menerjang. Namun, sisi sang Jenderal bangkit di mana wanita itu memang menyukai tantangan dan pertempuran.


"Heh," kekehnya menyeringai.


"Heyah!" seru para prajurit memacu kudanya kencang, siap menerjang Kiarra.


Sang Jenderal bersiap dengan senjata modifikasinya yang terlilit tali. Ia memutar-mutar tali yang menjuntai dalam genggaman tangan kanan di samping tubuh hewan seperti ayam raksasa bernama Aaa dengan mata membidik sekumpulan pria di depannya berjumlah empat orang. Tangan kiri Kiarra bergerak ke balik pinggul dan seketika ....


SWINGG! JLEB!! BRUKK!


Tangan kiri Kiarra dengan cepat menarik sebuah pisau yang terselip pada sarung khusus layaknya ikat pinggang besar berisi sederetan pisau. Ia melemparkan benda berujung tajam itu ke arah seorang prajurit yang telah membidiknya dengan anak panah siap dilesatkan. Si ayam raksasa tetap berlari seperti tak takut dengan empat ekor kuda yang ukuran lebih besar darinya. Perpaduan gerakan tangan kanan dan kirinya seimbang yang bekerja bersamaan.

__ADS_1


SHOOT!


"Hah!"


Kiarra dengan sigap merebahkan tubuhnya hingga hampir menyentuh pantat si ayam saat sebuah anak panah dari prajurit yang terkena pisau tepat di wajahnya meluncur membidik wajah. Mata Kiarra melebar saat melihat batang anak panah itu melintas di atas wajahnya dan hampir menewaskan.


"Kalian ingin menghancurkan kecantikanku? Tak bisa dimaafkan!" teriak Kiarra marah yang dengan sigap kembali duduk tegap dan tangan kanan terus memutar tali. "Harghh!" serunya sembari melontarkan tali yang bisa memanjang itu ke arah tiga pria dengan pedang siap menebas.


Tangan kiri Kiarra dengan sigap menarik tali kendali Aaa dan membuat hewan tersebut menghentikan laju lari sampai berbelok ke kiri.


SRETT!!


"Aghhh!" raung para pria itu yang terkena serangan langsung di dada karena ujung pedang sang Jenderal menggores dari samping.


"Heyahh!" teriak Kiarra yang kembali memutar tali dalam genggaman tangan kanan seraya menaikkan bidikan dengan target membunuh.


KRASSS!! GLUNDUNGG!!


Praktis, tebasan kuat dari samping sekali lagi membuat leher para pria itu terpotong karena tajamnya pedang sang Jenderal. Tiga kepala langsung terpenggal dan jatuh dari tumpuannya yang membuat para kuda meringkik histeris seperti bisa merasakan kematian juga siap mendatangi mereka.


"Hah? Hentikan dia!" teriak salah satu pasukan dengan mata terbelalak lebar ketika menyaksikan keterampilan sekaligus kengerian yang diberikan oleh sosok tak dikenal.


SHOOT! SHOOT!


"Sial!" gerutu Kiarra karena ia kini dihujani anak panah yang dilesatkan oleh sisa pasukan Ark meski berhasil menangkis dengan pedangnya.


Kiarra bergegas menghindar dan kembali memacu ayam besarnya menjauh dari sekumpulan pria yang menaruh dendam. Dua kaki jenjang si ayam yang tangguh, mampu berlari kencang dan menyelinap gesit di antara pepohonan saat Kiarra membawanya kembali masuk dalam hutan berdaun merah. Sayangnya, ia dikepung dari tiga sisi. Empat prajurit yang tersisa berada di sisi kiri, kanan dan belakang mengejar.


Napas Kiarra memburu karena ia terhimpit. Berusaha untuk meloloskan diri dengan mata fokus dan kepala terus menoleh untuk menghindari lesatan anak panah. Hingga ia menyadari jika hutan tersebut bisa menjadikannya peluang untuk menang. Kenangan saat melihat mendiang sang ayah—Tora—sewaktu berlatih pedang di hutan bambu. Kiarra terhenyak untuk sesaat seperti terperangkap karena mengagumi kemampuan pedang sang ayah, hingga tiba-tiba ....


"Aggg!"


"Hah?" kejutnya yang kemudian menoleh dan mendapati pria mirip Jasper membantunya dengan memanah para prajurit di atas salah satu kuda prajurit Ark.


Senyum Kiarra terpancar. Pria mirip Jasper tersebut ternyata cukup hebat dan mampu membuat empat prajurit terakhir jatuh dari kuda dengan ujung panah tertancap di tubuh mereka. Para lelaki dengan pakaian lapis seperti baju tempur kuno zaman dulu, menggelepar di tanah, seperti masih sanggup untuk bertarung lagi. Sayangnya, sang Jenderal tak mengizinkan. Ia menghentikan laju Aaa dan kini berdiri di kejauhan seraya menarik empat buah pisau dari balik pinggang.


"Hehe, kena tidak, ya?" ucapnya memicingkan mata.


Saat lelaki bernama Ram turun dari kuda karena jarak dengan Kiarra sudah cukup dekat, tiba-tiba ....


SWING! JLEB! JLEB! JLEB! JLEB! BRUKK!

__ADS_1


"Oh!" kejutnya karena para prajurit itu tewas dengan ujung pisau menancap tepat di wajah. Senyumnya terkembang, tetapi ketika ia mendekati Kiarra yang ikut turun dari ayam besar dan berjalan ke arahnya, seketika, "Agh!"


"Kenapa mereka mengejarmu? Apa yang kaulakukan hingga membuatku harus terlibat?" tanya Kiarra dengan ujung pedang sudah menempel di samping leher Ram dan belati siap menusuk perut.


Pria bernama Ram menelan ludah. Ia terlihat gugup dan berdiri mematung dengan mulut bergerak-gerak ragu sulit berucap.


"A-aku mencuri seragam salah satu prajurit Ark yang menjaga gerbang terluar," jawabnya tergagap dengan mata fokus pada lensa indah sang Jenderal.


"Untuk apa?" tanya Kiarra yang memang menaruh kebencian pada Jasper dan tak segan melukai penirunya.


"Aku ... aku ingin menyusup ke dalam penjara. Adikku ditangkap dan aku ingin menyelamatkannya. Namun, aku ketahuan dan hampir terbunuh. Terima kasih sudah menolongku," ucapnya kemudian terlihat tegang.


Kiarra diam dengan mata menyipit mencari kebohongan dari raut wajah Ram. "Seseorang ditangkap dan di penjara, pastilah melakukan sebuah kejahatan. Katakan, apa penyebabnya," tegas Kiarra masih bertahan dengan posisi mengancam.


"Adikku mencuri makanan untuk dibagikan kepada warga yang kelaparan. Tak seharusnya penolong disebut penjahat, bukan?" tegasnya.


Kiarra langsung menurunkan dua senjata tajamnya lalu disarungkan. Ram terkejut karena wanita di depannya tak berkomentar apa pun dan langsung pergi.


"Hei, siapa namamu? Apakah kau penduduk Ark?" tanya Ram karena Kiarra memunggungi.


"Ara, dan aku seorang pengelana. Aku tak bertuan," ujarnya seraya menaiki Aaa.


Senyum Ram terkembang. Ia mendekati Kiarra yang sudah duduk dengan gagah di atas tunggangannya.


"Bolehkah ... aku ikut berkelana denganmu? Aku tak bisa kembali ke Ark. Mungkin terdengar pengecut dan tak menyayangi adikku. Hanya saja, aku tak sehebat itu untuk menyelamatkannya," ujar Ram dengan pandangan tertunduk kemudian.


Kiarra kembali diam. Entah kenapa ia seperti ingin dekat dengan Ram. Padahal, ia sangat membenci Jasper si playboy tengik. "Tahu sesuatu tentang buah naga? Jika ya, kau kuizinkan ikut. Jika tidak, menyingkirlah dariku."


"Aku tahu! Aku pernah melihat seseorang mendapatkan buah itu. Ia menukarnya kepada seorang bangsawan dan mendapatkan kekayaan berlimpah!" sahutnya dengan wajah berbinar.


"Sayangnya, aku membutuhkan buah naga untuk menolong adikku, bukan untuk orang kaya," tegasnya. Ram langsung terdiam.


"Aku akan membantumu mendapatkannya. Anggap saja sebagai balas budi karena kau telah menolongku," ucapnya serius.


Kiarra diam sejenak menatap Ram tajam. "Jika kau mati saat ikut denganku, mayatmu akan kutinggal di tempat kau tewas."


"Hem, setuju," jawabnya dengan senyuman.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Gimana puasanya gaes? Lancar? Semoga bisa goal sampai lebaran tiba ya. Amin. Kalau eps ini tulisannya agak kacau harap maklum ya soalnya web dan apk di hp gak sinkron. Pdhl udah lele update tapi embuhlah ini, MT kumat. Kwkwkw😆


__ADS_2