Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Makhluk-makhluk Negeri Kaa*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Akibat Ram yang menyatakan perasaan terhadap sang Jenderal, Kiarra sering salah tingkah. Biasanya ia tak seperti ini. Bahkan ketika bersama kelima dayangnya, ia terlihat dominan. Namun, di hadapan Ram, wanita itu seperti gadis belia yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


Gak boleh jatuh cinta ... gak boleh ..., ucap Kiarra dalam hati mencoba menyangkal akan perasaan sesungguhnya terhadap Ram.


Kiarra memilih menjauh dari Ram dengan tidur di sisi berseberangan. Ram dan Kiarra menggunakan punggung Aaa sebagai sandaran. Mereka saling diam dan membuat suasana yang sunyi makin hening.


"Ara ...," panggil Ram yang membuat mata Kiarra terbuka di mana tadinya ia siap tidur.


"Sebaiknya kau tetap di sini saja. Ada gua tak jauh dari sini. Kau istirahatlah di sana bersama Aaa. Aku akan pergi meneruskan perjalanan mengumpulkan bagian dari pohon jembatan di seluruh Negeri Kaa. Dra tak bisa menungguku lebih lama lagi," tegasnya yang dengan sigap bangun.


Ram terkejut dan ikut bangun. Kiarra menyipitkan mata karena kedua kaki Ram sudah menapak dan tak ada lagi rintihan kesakitan dari mulutnya.


"Sudah kubilang, aku akan menemanimu mendapatkan buah naga. Sangat berbahaya di luar sana, meskipun aku tahu jika kau sangat kuat, Jenderal," tegas Ram bersikeras dan bersiap dengan buntalannya.


"Aku tak bisa mengajak Aaa. Dia terluka," ucap Kiarra karena dua kaki unggas itu mengalami lecet hingga berdarah sehingga tak bisa berdiri, terlebih melakukan hal lainnya.


"Aku tahu. Selama ini aku banyak berjalan. Namun sebelumnya, kita harus amankan Aaa dan meninggalkan beberapa makanan untuknya sampai kembali untuk menjemput. Bagaimana?" saran Ram.


Kiarra yang sependapat dengan usulan Ram hanya mengangguk dalam diam. Ram mengajak Kiarra untuk memindahkan Aaa dengan memapah hewan tersebut sampai ke gua tempat dirinya dibangkitkan dulu.


"Aakkk ...."


"Maaf, Aaa. Aku berjanji akan menjemputmu atau ... kau ingin menyusulku?" ledek Kiarra saat berjongkok di samping hewan itu.


Kiarra dan Ram segera pergi dari gua dengan meninggalkan banyak makanan untuk Aaa. Kiarra menoleh sekali lagi saat hewan itu juga balas menatapnya. Entah kenapa hatinya sangat sedih. Aaa mengingatkan akan peliharaannya seekor kucing yang mati saat tinggal di Kastil Hashirama dulu. Kiarra meninggalkan senyuman dengan hati yang berat. Mereka berjalan menuju ke pohon jembatan dengan langkah serius. Kini, keduanya tak peduli bulan akan bersinar merah atau ungu karena mereka tak terkena dampak. Hanya saja, Kiarra malah diam seraya memandangi batang pohon di depannya.


"Apa yang mengganggumu, Jenderal?" tanya Ram menoleh ke arahnya.


"Ara."


"Hem?"


"Panggil saja Ara."


"Ah, baiklah," jawab Ram yang merasa jika mendapatkan angin segar dari wanita pujaan.


"Jangan kepedean. Em, maksudku jangan ge-er. Eh, hiss!" gerutunya karena menggunakan bahasa gaulnya. Ram diam menatap Kiarra saksama terlihat sabar menunggu. "Jangan karena kau kuizinkan memanggil namaku, bukan berarti kita akrab. Aku hanya tak ingin orang lain tahu siapa diriku jika kau terus memanggilku Jenderal," tegasnya.


"Baiklah, aku mengerti," jawab Ram mengangguk pelan dengan pandangan tertunduk. Keduanya menarik napas dalam dan mengembuskannya bersamaan. "Jadi ... kita kembali ke Zen, atau bagaimana?"


"Itulah. Terakhir kali aku bersama Dra, pohon ini membawaku ke wilayah Tur. Aku hanya sedikit cemas jika ternyata kita kembali ke tempat Hoo berada," jawabnya.

__ADS_1


"Aku siap," ucap Ram mantap dengan busur dan anak panah siap untuk dilesatkan.


Kiarra melirik Ram sekilas lalu memegang pundaknya. Ram tersenyum tipis tanpa melihat Kiarra. Tangan kiri sang Jenderal terjulur dan menyentuh batang pohon tersebut.


"Oh!" kejut Ram dan Kiarra bersamaan karena mereka tak kembali ke wilayah Zen. Pohon jembatan membawa mereka ke tempat yang diharapkan oleh sang Jenderal.


"Sudah kuduga," ucap Kiarra mantap lalu mengambil ranting dengan daun biru pohon jembatan tersebut menggunakan tekniknya.


Ia kemudian berjalan menuju ke bukit di mana dulu bertemu dengan Ooo untuk pertama kali. Ram terlihat waspada dan segera mengikuti sang Jenderal. Sayangnya, makhluk sakral itu tak ada. Kiarra berharap bisa bertemu dengan Ooo lagi mengingat hewan itu konon katanya bisa lahir kembali layaknya Phoenix. Sayangnya, ia belum bisa mempercayai rumor itu.


"Kita berada di wilayah Tur, Jen— maaf, Ara," ucap Ram terlihat gelisah.


"Aku tahu. Aku pernah kemari sebelumnya. Saat itu, Dra membawaku. Hanya saja, aku tak tahu rute tujuannya. Sial," gerutunya saat teringat matanya terpejam selama perjalanan ketika naik di punggung Ooo.


"Aku tahu wilayah ini. Hanya saja, kudengar Tur memiliki banyak makhluk iblis. Mereka sengaja dibiarkan berkeliaran di luar kawasan kerajaan untuk melindungi pohon jembatan. Jadi, sebaiknya kita cepat," ucap Ram panik.


Kiarra mengangguk setuju dan mengajak Ram untuk kembali ke pohon jembatan. Akan tetapi, ketika mereka akan keluar dari hutan, terdengar suara raungan hewan yang membuat keduanya menghentikan langkah seketika. Angin tiba-tiba terasa dingin dan membuat bulu kuduk meremang. Kiarra menelan ludah seraya memperhatikan sekitar di mana bulan kembali bercahaya ungu.


"Sebaiknya kita memutar. Aku merasa, ada yang mengincar kita jika melalui padang rumput," ucap Ram berbisik dengan tangan tak lepas dari senjata panahnya.


Kiarra mengangguk. Wanita cantik itu bersiaga dengan pedang dalam genggaman tangan kanan dan belati di tangan kiri. Mereka mengendap menyusuri bagian tepian hutan. Hingga tiba-tiba, muncul kabut tebal dari bawah tanah yang membuat wilayah tersebut terselimuti asap hijau. Kiarra spontan menutup mulut dan hidung dengan cadarnya. Ram juga melakukan hal serupa dengan membalut wajahnya menggunakan kain. Mereka terlihat waspada dan menunduk karena melihat pergerakan dengan bayangan besar di balik kabut tebal di luar hutan.


"Goorrr," raung sekumpulan monster dengan tubuh menyerupai ular besar dengan mata menyala terang dari balik asap.



BRUKK!


"Goorr ...," raung seekor monster ular besar menoleh ke asal suara di mana Kiarra kini sedang tengkurap karena Ram dengan sigap merobohkan tubuhnya.


"Mereka adalah Grr. Ular-ular besar itu iblis di Negeri Kaa, sama seperti Hoo. Mereka pastilah penjaga pohon jembatan di wilayah ini. Sial, kita tak akan bisa mendekati pohon. Jumlah mereka sangat banyak," ujar Ram panik dengan suara lirih. Kiarra melirik Ram dan menatapnya tajam. "Meski aku mencintaimu, Ara, bukan berarti kau bebas menjadikanku umpan. Kakiku baru saja sembuh. Jangan kejam," ucapnya yang membuat Kiarra tersenyum miring karena Ram tak ingin ditumbalkan kali ini.


"Apakah mereka bisa dibunuh? Kenapa tempat ini banyak sekali monster!" pekik Kiarra dengan suara tertahan.


Ram menatap sang Jenderal terheran-heran, tetapi ia memilih bungkam. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Tak mungkin bisa mendekati pohon jembatan atau kita akan mati," tegasnya.


"Ck!" Kiarra berdecak kesal. Untung saja ia sudah mengambil bagian dari pohon jembatan itu. Ia mencoba mengingat tempat lain selama berteleportasi dengan Dra, tetapi petualangannya di Negeri Kaa memang masih sedikit. "Jenderal sialan, kenapa kau pelit sekali membuka ingatanmu! Aku sedang berusaha mengobati adikmu!" pekik Kiarra kembali menggerutu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ram cemas. Kiarra mendesah pelan dengan anggukan.


"Kau tahu pohon jembatan lainnya?" Ram mengangguk mantap. "Kalau begitu, ayo!" ajak Kiarra yang dengan sigap berdiri.


Namun, hal itu membuatnya terlihat oleh para monster ular. "Goorr!!"

__ADS_1


"Oh ... shitt!" pekiknya berdiri mematung saat matanya kini beradu dengan tatapan para Grr.


"Ara!" teriak Ram seraya menarik tangan sang Jenderal yang membatu karena shock.


Kiarra bergidik ngeri. Ram tak melepaskan gandengannya dan terus mengajak Kiarra berlari memasuki hutan gelap dengan cahaya biru mulai menyusup di antara dedaunan.


SRAKK! SRAKK!! BRUGG!!


"Goorr!!"


"Terus lari!" teriak Ram yang susah payah melewati beberapa akar pohon karena mencuat di atas permukaan.


Bermodalkan cahaya biru akibat cahaya ungu dari bulan yang tersaring dengan warna dedaunan, membuat daerah itu cukup terang dalam kegelapan. Kiarra tak menoleh ke belakang dan terus berlari dengan napas memburu. Ia bisa merasakan para ular besar itu mengejarnya. Terdengar suara pohon-pohon seperti ditabrak paksa hingga berjatuhan dan membuat tanah berguncang.


DUKK! BRUKK!


"Agh!"


"Ara!" panggil Ram panik karena pegangannya terlepas.


Kiarra jatuh tersungkur di atas tanah. Saat Ram akan kembali padanya, asap hijau mulai memasuki hutan. Pria itu panik dan kebingungan. Kiarra melihat kakinya tersangkut akar pohon yang tertutupi dedaunan sehingga tersandung. Ram yang melihat kepala seekor Grr mulai memasuki hutan terpaksa meninggalkan Kiarra dan berlari menjauh. Mata Kiarra melotot lebar.


"Dasar pengecut!" teriak Kiarra marah dan melempar Ram yang sudah jauh di depan dengan segenggam daun kering.


"Goo ... rrr ...."


Kiarra mematung dengan tubuh masih tengkurap. Tubuhnya gemetaran tak bisa menahan rasa takut luar biasa yang menjalar. Kiarra meneteskan air mata dalam diam. Mulutnya terbungkam rapat dan membayangkan makhluk besar mengerikan itu siap menyantapnya. Seekor Grr telah berada di atas punggung Kiarra dan sedang mengamatinya. Saat makhluk itu sudah membuka mulutnya lebar siap memangsa, tiba-tiba ....


"Tuurr ... turr ... tuurr ...."


Kiarra tertegun. Ia mendengar suara seperti panggilan sendu yang terdengar sedih dari balik kegelapan hutan. Kiarra masih bertahan dengan posisinya. Ia bisa merasakan jika pergerakan Grr seperti terhenti entah apa yang terjadi dengan makhluk itu. Kiarra menaikkan kepala dan melihat seperti ada sosok manusia yang mengintip di balik bayangan pohon. Matanya menyipit mencoba untuk melihat lebih jelas lagi sosok itu. Namun, tiba-tiba ....



"Grrrr ...."


"Emph!" kejut Kiarra saat melihat kepala Grr dan lehernya yang panjang layaknya ular, tetapi berukuran besar melintas di atasnya.


Jantung Kiarra seperti akan meledak saat melihat ukuran makhluk itu dari jarak dekat. Grr mendekat ke arah batang pohon mencari suara seperti panggilan itu. Kiarra mengatur napasnya karena mendadak ia seperti kesulitan bernapas. Asap hijau mulai menyeruak di wilayah itu dan menyelimuti tubuh Kiarra yang masih tengkurap di atas daun-daun kering dalam hutan. Kiarra menghirup udara itu dan seketika, matanya terpejam dan tak sadarkan diri.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2