
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Ternyata, bangkitnya Kenta membuat penghuni hutan kabut putih berkumpul mengelilingi telur kristal Kiarra. Cangkang tebal itu bersinar. Hanya saja, para peri tak tahu dengan apa yang terjadi.
"Nym, aku merasa jika sebaiknya telur ini diamankan ke rumah Naga," ujar seorang peri bunga mengusulkan.
"Kita akan mati begitu keluar dari tempat ini," sahut salah satu peri yang berjongkok dengan wajah masam.
"Ingat perjanjian kita dengan Tur. Meskipun lelaki keji itu tak bisa menyerang hutan, tetapi dia masih bisa melakukan hal licik untuk membuat kita terbunuh entah dengan cara apa," ucap Nym mengingatkan.
Para peri dibuat bingung dengan hal ini. Namun, mereka sadar dengan risikonya. Pyu yang merasa mendapatkan kesempatan, pergi meninggalkan kemahnya menuju ke aliran sungai terdekat. Pyu yang sudah menuliskan informasi mengenai rencana dari Tur, segera memasukkan pesan itu di dalam botol lalu menghanyutkannya.
Pyu yang tak ingin berlama-lama meninggalkan kawasan dekat hutan, segera kembali dengan membawa air dalam dua buah ember kayu sebagai persediaan. Benar saja, saat ia kembali ke perkemahan, ia terkejut karena mendapati pasukan Tur telah menunggunya di sana. Pyu melangkah dengan gugup seraya menenteng dua ember dalam genggaman. Kol berdiri gagah dengan wajah garang.
"Kau sepertinya sadar jika akan dikunjungi. Bagus, buatkan kami minum," ucap Kol melihat barang bawaan Pyu.
Wanita setengah panda merah itu mengangguk. Ia lega karena tak dicurigai. Pyu segera membuatkan hidangan dari persediaan di kemahnya berikut minuman hangat bagi pasukan Tur.
"Maaf, Jenderal. Apakah ... kalian datang untuk memastikan kondisiku?" tanya Pyu penasaran.
"Jangan terlalu percaya diri. Kau hanya pelayan, tak lebih dari itu. Raja Tur ingin menanyakan mengenai perkembangan telur ratunya selama di dalam hutan kabut putih. Apakah ... ada tanda-tanda pergerakan dari Vom di sini?" tanya Kol seraya memegang gelas dari tembaga berisi minuman berwarna ungu pemberian Pyu.
Pyu menggeleng. Kol mengangguk pelan lalu memberikan kode kepada prajuritnya untuk menyisir sekitar seperti ingin memastikan sesuatu. Pyu ikut mengamati pergerakan prajurit Tur seperti mencurigai jika ada penyusup Vom di wilayah tersebut. Lama para prajurit itu berkeliling hingga satu per satu dari mereka kembali.
"Jenderal, tempat ini aman," jawab seorang prajurit dan diangguki prajurit lainnya.
"Hem," jawab Kol dengan anggukan lalu menghabiskan minumannya.
Kol dan pasukkannya pergi begitu saja usai menunaikan tugas. Pyu bernapas lega karena pasukan Tur tak tinggal di perkemahan. Pyu yang ingin menghabiskan waktu dengan mendengarkan nyanyian dan permainan musik para peri, tak ingin diusik oleh para prajurit yang diperbudak oleh Raja Tur.
"Semoga mereka membaca pesanku," gumam Pyu cemas karena khawatir jika pesannya malah berakhir di tangan sekutu Tur.
Di tempat Kenta berada.
Selama penerbangan menuju ke pertempuran, Kenta mendapatkan banyak penjelasan mengenai Negeri Kaa dari Rak. Kenta ternyata mampu beradaptasi dengan cepat. Rak merasa jika Kenta ini seperti tak memiliki rasa takut karena ia duduk dalam posisi terbalik di atas punggung Eee. Rak menjadi salah tingkah karena ditatap Kenta tajam.
"Oke, Rak sayang. Aku mulai paham dengan kerumitan di planet ini," ucap Kenta serius dengan tubuh menghadap Rak, saling berpandangan. Rak mengangguk pelan dengan pandangan tertunduk.
__ADS_1
Perlahan, bulan merah mulai terlihat samar karena akan digantikan oleh bulan ungu. Rak khawatir jika Eee yang ditunggangi akan tertidur mengingat perjalanan mereka masih jauh karena sengaja tak menggunakan pohon jembatan. Namun, siapa sangka, Eee yang ditunggangi ternyata diberikan berkah oleh sang naga sehingga tidak terpengaruh akan perubahan bulan. Rak terkejut karena baru mengetahui hal tersebut.
"Pantas saja saat bulan berubah, para Eee ketika bertempur melawan pasukan Ark masih bisa terbang. Sepertinya, pasukan Wen juga tak menyadari hal tersebut karena fokus menyerang," ucap Rak dari ingatannya.
"Kurasa itu karena Naga memihak kalian untuk memenangkan pertempuran. Naga memberikan berkah kepada siapa pun yang dia anggap pantas mendapatkannya," jawab Kenta dengan senyuman.
Rak mengangguk karena setuju dengan hal tersebut. Dirinya yang menjadi penyihir agung tunggal di kerajaannya dulu juga dianggap sebuah hadiah tak ternilai karena dipercaya oleh sang Naga untuk menerima ilmunya. Saat Kenta sedang mengagumi paras ayu Rak meski terlihat pucat, tiba-tiba, mata Kenta mendapati sesuatu saat mereka melintas di atas bibir pantai perbatasan wilayah Kerajaan Tur dan Yak yang tak dijaga. Sebuah kilatan seperti pantulan cahaya membuat Kenta memerintahkan Eee untuk terbang turun.
"Apa isinya?" tanya Rak saat Eee turun atas perintah Kenta.
Pria itu mengambil botol tersebut lalu mengambil isinya. Rak berdiri di samping Wen, ikut membaca isinya.
"Ini dari Pyu! Oh, Kia-rra disembunyikan di hutan kabut putih. Kita dekat dengan wilayah Tur, Ken-ta. Kita bisa ke sana dan mengambil telurnya!" seru Rak yang membuat Kenta menatap kekasih Wen tajam.
"Seberapa berbahayanya tempat itu? Coba kau pikirkan, Rak sayang. Jika sampai raja macan itu memindahkan telur Kiarra, pasti ia berpikir jika istananya tak aman. Pastilah hutan tersebut berbahaya sehingga aman untuk disembunyikan di sana sampai kemunculan bintang biru," ucap Kenta yang membuat Rak terdiam dan memikirkan hal tersebut.
"Ya, tempat itu dihuni oleh para peri. Lalu ... hutan tersebut tak bisa diserang," ucap Rak yang membuat senyum Kenta terkembang.
Eee kembali terbang dengan tujuan baru, hutan kabut putih. Rak terpaksa mundur dari pertempuran dan memasrahkan hal tersebut kepada kawan-kawannya untuk menaklukkan wilayah Ark yang tersisa. Ia fokus membantu Kenta di mana penyihir berambut putih itu yakin jika kedatangan Kenta akan membawa perubahan. Senyum Rak terkembang, ia tak menyangka jika pilihannya untuk menarik roh salah satu keluarga Kiarra adalah hal yang tepat. Rak memeluk tubuh kekasihnya erat dan Kenta menyadari hal itu.
"Kau pasti sangat menyukai sosok Wen, ya? Baiklah, semoga aku tak mengecewakanmu, Rak sayang," ucap Kenta yang kini duduk menghadap depan seraya menepuk punggung tangan Rak lembut. Rak tersenyum.
Hanya saja, saat memasuki wilayah Tur dengan kabut hijau pekat, Kenta mulai terlihat waspada. Instingnya mengatakan jika tempat tersebut berbahaya. Terlebih, pakaian tempurnya yang berwarna emas cukup mencolok sehingga keberadaannya pasti diketahui.
"Rak, kau penyihir, bukan?" tanya Kenta dengan mata memindai sekitar.
"Ya, ada apa?"
"Pastikan kau siap menggunakan sihirmu. Kita di wilayah musuh yang belum ditaklukkan. Mereka bisa datang dari mana saja. Waspadalah dengan belakang dan bawahmu. Aku akan mengawasi depan, atas, kanan dan kiri. Oke?" pinta Kenta.
"Oh, baik," jawab Rak dengan anggukan.
Benar saja, tiba-tiba kepala burung Eee mendongak. Kenta dengan sigap menarik pisau yang terselip di baju tempurnya.
"Haarghhh!"
__ADS_1
SHOOT! JLEB!!
"Arrghhh!"
"Bodoh. Jika ingin menyerang, tak perlu berteriak. Kau malah menunjukkan posisimu. Amatiran," sindir Kenta tersenyum miring saat ujung pisaunya yang dilemparkan, berhasil mengenai dada seorang manusia setengah burung ketika ingin menyerangnya dari balik gumpalan awan hijau pekat.
"Rak! Kemampuan sihirmu es, bukan?" tanya Kenta yang merasa jika dirinya diawasi di balik kabut hijau.
"Ya!" jawab Rak tegang usai mendapatkan serangan tak terduga, tetapi berhasil selamat.
"Bekukan semua makhluk yang berusaha mendekati kita! Di sini, tak mungkin ada kawan. Semuanya lawan, jangan takut! Berjuanglah jika ingin menjadi istriku!" teriak Kenta yang membuat Rak tertegun seketika.
"I-istri?" tanya Rak gugup.
"Hem, ingatan Wen memberikanku penglihatan jika dia sangat ingin menikahimu usai semuanya berakhir. Namun, harapannya belum tercapai. Jadi, aku akan menggantikan tugasnya. Hanya saja, hal itu tak bisa terjadi jika calon mempelaiku mati. Kau mengerti?" tegas Kenta dengan dua tangan siap menarik pisau di samping pinggang.
Rak terharu dan mengangguk mantap meski matanya berlinang.
"Eekkk!"
"Bekaka me!" seru Rak saat ia melihat pergerakan dari balik kabut seperti makhluk bersayap besar.
Rak yang tak ingin menunggu kemunculan makhluk itu, dengan sigap mengeluarkan sihir esnya dari telapak tangan yang ia arahkan ke musuh. Seketika, makhluk itu menjadi patung es seperti terkena bola es. Makhluk itu jatih dari ketinggian dan disaksikan oleh Kenta. Senyum pria asal Jepang itu terkembang karena calon istrinya sangat kuat.
"Heh, siapa sangka aku akan menikahi penyihir cantik. Tempat ini sungguh hebat! Aku akan panjang umur!" seru Kenta semangat seraya menarik dua gagang pisau yang ia arahkan ke balik kabut hijau ketika merasakan pergerakan di sisi kiri dan kanan.
SWING! JLEB! JLEB!
"Arghhh!" raung dua manusia burung yang terkena ujung pisau tajam Kenta dan membuat mereka jatuh dari langit.
"Kau hebat, Ken-ta," ucap Rak dengan senyum terkembang.
"Jangan lengah! Tetap fokus sampai tiba ditujuan!" seru Kenta yang kembali waspada saat Eee mulai terbang menukik karena tujuannya berada di depan mata.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1