
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Kiarra menginap di kediaman Rein malam itu. Entah kenapa, rasa kantuk tak menerjangnya. Ia seperti bisa terjaga seharian. Kiarra habiskan untuk menyusun banyak rencana. Pagi itu, Kiarra menatap wajahnya di cermin. Pilu dengan kondisinya yang menyedihkan seperti sekarang ini.
"Mayat hidup," ucapnya pada diri sendiri.
Diletakkan cermin itu perlahan dan kembali melihat kalender meja yang sudah ia tandai. Kiarra kembali mengambil pulpen lalu menuliskan sesuatu pada selembar kertas menggunakan bahasa Indonesia. Ia terlihat serius kali ini.
TOK! TOK! TOK!
GREKK ....
"Oh, kau sudah bangun?" tanya Rein terkejut. "Ayo sarapan," ajaknya.
"Kau lupa? Jangan menyindirku."
"Eh?" Rein diam sejenak yang kemudian meringis karena baru menyadari kesalahannya. "Maaf," ucapnya tertunduk sedih.
"Tak masalah. Kalian berdua segeralah makan. Aku bersiap," ucapnya.
Rein mengangguk dan meninggalkan Kiarra dengan pintu geser yang terbuka. Kiarra sebenarnya sudah menyiapkan diri, tetapi dia sekarang sedang mendandani dirinya agar terlihat menyerupai manusia hidup. Kiarra yang dulunya seorang supermodel, sangat memperhatikan penampilan meskipun tubuhnya sudah tak secantik dulu lagi.
"Ara. Ayo," ajak Chiko datang menjemput ketika Kiarra sedang memoles bibirnya. "Wow! Hahaha, kau benar-benar hebat! Tak terlihat sama sekali kalau kau—"
"Mayat hidup? Hem. Terima kasih pujiannya," jawab Kiarra lalu berdiri seraya mengenakan topi hitam besar usai menggelung rambutnya ke atas.
"Tak bisakah kau jangan merusak suasana?" pintanya kesal.
Kiarra menahan senyum saat saudara lelakinya menggerutu. Wanita itu mencoba berjalan anggun, tetapi kakinya memang sudah tak bisa seperti dulu lagi.
"Jangan pikirkan. Fokuslah pada misimu. Kita keluarga. Kami akan membantu menuntaskan semua. Selain itu, ada hal lain yang harus kau ketahui," ujar Chiko yang memberikan lengannya sebagai pembantu Kiarra berjalan.
"Apa itu?" tanyanya dengan pandangan lurus ke depan.
"Aiko. Jasper menikahi Aiko dan menceraikannya." Praktis, informasi dari Chiko membuat langkah Kiarra terhenti seketika. "Aku dan Rein sudah membahas hal ini. Oleh karena itu, kita membutuhkan Ryota. Dia orang yang paling membenci Jasper, tapi menahan diri untuk tak membunuhnya. Hah, meskipun kita sudah meninggalkan jalan kegelapan itu, jiwa mafia tetap tak bisa luntur. Mau bagaimana lagi," ucap Chiko terlihat pasrah.
Kiarra terkekeh. Ia mengangguk setuju. Dirinya ingat saat terakhir kali bersama Ryota. Pria itu bahkan memberikan kesempatan padanya untuk kabur. Sayang, malah berakhir dengan kematian pada dirinya. Kiarra penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Ia berharap, Ryota mau bercerita dan menolongnya membalas dendam.
"Oh ya, bagaimana dengan istrimu?" tanya Kiarra saat teringat akan iparnya.
"Pisah. Begitupula dengan Ryota. Entahlah, sepertinya kami berdua memang sedikit buruk dalam membangun rumah tangga. Namun, kami berdua sudah menanamkan benih. Seharusnya, bayiku akan segera lahir dalam waktu dekat ini," jawab Chiko santai yang membuat Kiarra tertegun.
"Oh, selamat!" serunya dan Chiko mengangguk dengan senyuman.
BROOM!!
Selama perjalanan menuju Tokyo menggunakan mobil ke kediaman Ryota, Kiarra menjelaskan lebih detail tentang aksinya nanti. Dia yang harus melakukan eksekusi itu, meminta agar Rein, Chiko dan Ryota nantinya tak terlibat langsung. Rein dan Chiko tak menyangka jika Kiarra masih memikirkan nasib mereka. Di sini, Kiarra tak mengatakan perjanjiannya dengan sang Naga mengenai kehidupan selanjutnya bagi Rein, Chiko dan anggota keluarga lainnya saat meninggal nanti akan berkumpul bersamanya di Negeri Kaa.
TING TONG!
"Aku tak menerima tamu! Pergi!" teriak seorang lelaki dari balik pintu yang tak lain adalah Ryota.
__ADS_1
"Pasti mabuk lagi," ujar Rein geleng-geleng kepala di depan pintu kediaman saudara lain ibu itu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Kiarra bingung.
"Ryota sangat sedih atas kematianmu. Ia membenci Jasper dan ingin menjatuhkannya. Namun, Jasper sangat pintar mengambil hati keluarga kita yang lain. Seperti Aiko yang berhasil ia nikahi. Namun, hanya bertahan satu tahun lalu bercerai. Alasannya, Aiko selingkuh, tetapi tak ada bukti sampai sekarang. Hanya saja, kau tahu Jasper. Dia sangat licik," jawab Chiko yang membuat Kiarra seperti bisa merasakan napasnya memburu.
"Biar kutebak. Alasan Jasper apakah mengincar aset?" Rein dan Chiko mengangguk. Kiarra makin geram hingga tangannya mengepal. "Tak ada yang memperingatkannya?"
"Aiko cinta buta. Dia seperti disihir oleh Jasper tengik itu. Dengan bodohnya ia membiarkan Jasper mengelola semua aset miliknya. Saat Jasper sudah mendapatkan kuasa dari Aiko, buzz! Begitulah," sambung Rein.
"Lalu ... di mana Aiko sekarang?" tanya Kiarra cemas.
"Dia trauma. Jasper menuduhnya dengan sangat keji hingga membuat Aiko seperti mengalami gangguan mental. Sampai sekarang, Aiko masih dalam perawatan di bawah pengawasan Elios Farmasi. Beruntung, Dayana peduli padanya. Hanya saja, ibu jadi repot karena ia sering berkunjung ke fasilitas untuk mendampingi Aiko," tegas Rein di mana Aiko adalah saudara tiri mereka. Aiko Clarissa adalah anak dari Dexter dan Rui.
"Biar kutebak. Tuan Kim tetap berpihak pada Jasper?"
"Akibat hal itu, Nyonya Naomi meninggalkan Tuan Arjuna. Jujur Kiarra. Kondisi keluarga kita tidak baik-baik saja. Aku bisa melihat, jika Jasper ingin merebut semua aset kita melalui perkawinan penuh jebakan," tegas Chiko.
Kiarra teringat akan ucapan sang Naga jika Jasper dan Ram memiliki keterkaitan. Ambisi mereka merusak tatanan dunia dan keluarga. Mendengar pengakuan Rein dan Chiko, dirinya semakin yakin jika perkataan sang Naga adalah benar. Hingga ia menyadari sesuatu.
"Wait. Kalian bilang ... Jasper dan Aiko menikah, tetapi hanya bertahan 1 tahun? Maksud kalian ... aku sudah mati selama 1 tahun, begitu?" tanya Kiarra tertegun.
"Lebih tepatnya 1,5 tahun. Kenapa?" tanya Chiko yang membuat Kiarra kembali berpikir keras.
Aku merasa jika berada di Negeri Kaa mungkin sekitar 15 hari. Apakah 15 hari di sana, setara dengan 1,5 tahun di Bumi? Wow, perbedaan waktu yang sangat jauh, batinnya.
Saat Kiarra sedang berkecamuk dengan pikirannya, tiba-tiba ....
Kiarra terpaku karena saudara lain ibu itu dianggap olehnya paling tampan di antara yang lain malah terlihat seperti gembel. Ryota kembali masuk dengan botol minuman keras di tangan dan membiarkan tamunya terbengong-bengong dengan sikapnya di teras rumah.
"Apakah ... ini berarti kita diperbolehkan masuk?" tanya Rein ragu.
"Anggap saja demikian," jawab Kiarra yang dengan sigap melangkah mengikuti Ryota meski pria itu berulang kali terhuyung dan hampir jatuh. "Ryota. Apakah kau mau membantuku membunuh Jasper?"
Seketika, langkah kaki pria itu terhenti. Ia menoleh dengan gugup dengan botol minuman yang tersisa setengah dalam genggaman. Wajahnya terlihat tegang ketika melihat wanita berkacamata hitam dan memakai topi besar membukanya. Mata Ryota terbelalak lebar saat mengenali sosok di depannya masih terlihat cantik meski mata berubah abu-abu.
"Aku bangkit dari kematian untuk membalas dendam."
BRUKK!
"Ryota!" teriak Rein panik karena pria garang itu pingsan dengan botol masih dalam genggaman.
Kiarra mengembuskan napas panjang meski tak ada udara di sana. Chiko menutup pintu dan bergegas mendatangi Ryota lalu melepaskan botolnya.
"Di-dia berat sekali!" teriak Chiko sampai otot-otot di tangannya terlihat karena mengenakan kemeja lengan pendek.
Chiko bermaksud untuk membopong Ryota, tetapi ternyata tenaganya tak sebesar itu. Rein dengan sigap membantu, sedangkan Kiarra tetap berdiri di tempatnya karena raga tak mumpuni untuk melakukan pekerjaan tersebut. Ryota dibopong kembali ke kamar. Kiarra duduk di sebuah bangku samping ranjang. Dilihatnya paras pria itu yang ketampanannya tertutupi karena kumis, jambang dan rambut gondrongnya.
"Apa yang akan kaulakukan?" tanya Chiko karena Kiarra mengambil gunting yang berada di atas meja lampu samping ranjang.
"Salon," jawab Kiarra singkat.
__ADS_1
Chiko yang bingung mengedipkan mata. Rein yang paham akan maksud ucapan sang kakak, dengan sigap mencari alat cukur untuk merapikan penampilan Ryota.
"Sebaiknya kau bereskan ruang tamu, Chiko-san. Kita akan bicara serius di sana dengan Ryota tentunya. Saat ia bangun," ucap Kiarra yang membuat Chiko mengangguk meski terlihat bingung.
Rein tersenyum dan membantu kakaknya merapikan Ryota yang terlihat tak terawat agar kembali menawan. Cukup lama hingga akhirnya Ryota bangun dari pingsan. Hingga akhirnya ia siap bertemu Kiarra di ruang tamu usai mendengarkan penjelasan dari Rein.
"Ara?" panggil Ryota saat melangkah perlahan memasuki ruang tamu di mana Kiarra dan Chiko duduk bersebelahan.
"Halo, Tampan," sapanya dengan senyuman.
Ryota sungguh terkejut. Ia sampai mengusap mulutnya karena tak percaya dengan yang ia lihat. Ryota duduk perlahan berseberangan dengan Kiarra ditemani Rein. Pria itu menatap Kiarra lekat yang duduk elegan seraya menyilangkan kaki. Ryota yakin jika mayat hidup di depannya memang saudarinya seperti yang dijelaskan oleh Rein meski baginya di luar nalar.
"Jadi ... Jasper?" tanyanya. Kiarra mengangguk pelan. Wajah pria itu tertunduk. Senyumnya terbit dengan kepala mengangguk-angguk seperti ingin mengekspresikan sesuatu. "Kau butuh Michelle."
"Michelle?" tanya Kiarra bingung.
"Semenjak aku tak menjadi tangan kanan Tuan Kim Arjuna, Michelle menggantikanku. Namun, informasi yang kudapat dari Azumi jika Jasper mengincar Michelle. Beruntung, Michelle lebih cerdik dan peka ketimbang Aiko. Kurasa, kita harus melibatkannya," terang Ryota.
"Kau yakin jika dia tak akan berkhianat?" tanya Rein cemas.
"Ancam dia dengan gelang pemenggal?" saran Ryota.
"Kau gila! Kau ingin memotong tangan saudari kita!" pekik Chiko sampai matanya melotot.
"Atau kau ingin mengalungkan detektor kebohongan di lehernya? Gas halusinasi?" imbuh Ryota memberikan solusi dengan wajah polos.
"Jangan bilang kau masih menyimpan benda-benda yang sudah disita oleh pemerintah itu?" tanya Rein ikut melotot.
"Anggap saja cinderamata. Aku tak bisa membiarkan barang-barang berharga ciptaan Vesper Industries hanya menjadi pajangan di Museum Perjuangan," keluhnya dengan wajah memelas.
Chiko dan Rein geleng-geleng kepala, sedangkan Kiarra tersenyum dan menunjukkan jempol diam-diam. Ryota terkekeh.
"Lalu ... apa yang kaubutuhkan dariku, Kiarra," tanya Ryota terlihat siap.
"Ingat permainan saat kita kecil dulu? Agent rahasia?"
"Oh, yeah!" ucap Ryota mantap.
Rein mengangguk dengan senyum merekah memperlihatkan gigi putihnya. Chiko mengangguk-angguk tampak bersemangat.
"Kau komandannya?" tanya Ryota. Kiarra mengangguk pelan.
"Aku siap jadi agent!" seru Rein senang bertepuk tangan.
"Jadi, kalian siap, para agentku?"
"Yes, Mam!" jawab ketiganya penuh semangat.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE