
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di tempat Kiarra berada.
Pesta pernikahan selama 7 hari berturut-turut dilaksanakan di Kerajaan Tur. Kiarra yang senang berpesta, tak ingin membuatnya tertekan seperti tawanan sebenarnya. Ia memanjakan diri, bahkan tak sungkan meminta banyak hal kepada sang Raja. Uniknya, Raja Tur juga tak ada niatan untuk menjalin kasih dengan sang Jenderal. Kiarra yang saat itu sedang menikmati jamuan di taman belakang kastil, mencoba mengorek informasi dari pria setengah binatang itu.
"Raja. Boleh kutahu? Kenapa saat itu kau mau saja menebang pohon jembatan atas saran dari Ark?" tanya Kiarra seraya mengiris daging seperti steak.
"Ark menjanjikan kerjasama perdagangan dengan Kerajaan Tur," jawab pria berbulu hitam tersebut.
"Seperti apa?" tanya Kiarra yang kini menatap Tur lekat di mana ia mulai terbiasa dengan wujud seperti macan kumbang itu.
Namun, sang Raja tak menjawab. Kiarra langsung memasang wajah masam.
"Aku ingin menanam kembali pohon jembatan," ucap Kiarra yang kembali mengiris steak. Praktis, ucapannya membuat kepala semua orang di tempat tersebut tertuju pada Kiarra. "Tak usah melihatku dengan tatapan seperti itu. Bukankah kau yang bilang sendiri jika Kerjaan Tur akan bergabung dengan Vom? Akan sangat menghabiskan waktu, tenaga dan biaya jika menggunakan jalan darat atau laut. Dengan adanya pohon jembatan, kita akan mempersingkat waktu," ucap Kiarra santai.
"Apa kau tahu cara menumbuhkan pohon jembatan?" tanya sang Raja menatap Kiarra lekat.
"Hem. Namun, aku membutuhkan toples yang kau ambil dari dalam kamarku."
Sontak, ucapan Kiarra membuat mata sang Raja melebar seketika.
BRAKK!
Kiarra terperanjat karena tak menyangka jika pria macan itu akan marah.
"Jadi ... ucapanmu yang mengatakan calon anakku akan menjadi penerus kerajaan adalah dusta. Heh, semua pria sama saja. Manis di mulut," sindir Kiarra tajam.
"Grr, apa katamu!" pekik sang Raja dengan uluran tangan, siap mencekik Kiarra.
Namun, seketika ....
JLEB!
"Agh!" rintih sang Raja ketika tiba-tiba saja, garpu dan pisau Kiarra berlapis kristal biru dengan ujung runcing seperti tombak.
Telapak tangan pria itu terluka dan darah mengucur deras di sana. Napas sang Raja memburu dengan mata menatap Kiarra tajam.
"Aku bisa pergi dari tempat ini dengan mudah, tapi tak kulakukan. Apa kau tahu kenapa?" tanya Kiarra memancing. Raja tak menjawab dengan tangan kiri memegangi tangan kanannya yang berdarah. "Itu karena kau mengatakan jika ingin menggabungkan kerajaan kita melalui bayiku. Oleh sebab itu, aku bertahan. Namun, jika kurasa kau hanya membuang waktuku di sini, lebih baik, aku pergi saja," ucap Kiarra enteng dengan dua siku sebagai penopang dua genggaman tangan berisi pisau dan garpu kristal tertuju ke Raja.
"Paduka," panggil pria dengan wujud manusia setengah serigala seraya mendekati Tur terlihat tegang.
"Hempf," dengkus Tur yang membuat pria berbulu putih itu berdiri tegap di samping sang Raja. "Aku tak tahu cara menumbuhkan kembali pohon jembatan."
"Aku tahu. Yang kubutuhkan hanya tiga toples di ruangan yang kau ambil itu," ujar Kiarra serius.
__ADS_1
"Apa kau tahu isi toples itu?" tanya sang Raja curiga.
"Berikan saja. Sisanya biar aku yang urus," jawab Kiarra yang mulai bosan dengan sifat keras kepala sang Raja.
"Gor. Berikan yang Ratu mau," titah sang Raja menatap Kiarra tajam.
"Baik, Paduka," jawab pria serigala itu lalu pergi meninggalkan tempat.
Kiarra meremukkan kristal pada peralatan makan hanya dengan meremat saja tanpa terluka. Ia membiarkan serpihan itu berguguran di atas meja makan lalu melipat kedua tangan di atas papan kayu tersebut.
"Raja. Aku butuh satu pelayan untuk mengurus segala keperluanku. Aku sudah memilih orangnya. Wanita dengan rambut merah panjang. Aku tak tahu namanya, tetapi kulihat ia rajin dan membantu pekerjaan di dapur. Aku mau dia menjadi pelayanku," pinta Kiarra tenang.
"Pyu?"
"Pyu? Ya, mungkin," jawab Kiarra dengan dua bahu terangkat.
"Pyu!" panggil sang Raja lantang sampai Kiarra terperanjat karena kaget.
Tak lama, wanita dengan wujud setengah binatang menyerupai rakun itu datang. Mata Kiarra menyipit karena saat melihatnya dari dekat, ia tak yakin jika dirinya adalah rakun.
"Kau rakun atau panda merah?" tanya Kiarra memastikan.
"Saya ... tak tahu, Ratu Kia. Saya tak mengenal jenis dua hewan tersebut. Maaf," jawabnya gugup.
Pyu hanya mengangguk dengan wajah lugu.
"Kau akan menjadi pelayan Ratu selama ia di sini. Semua hal yang ia butuhkan dan apapun yang dia kerjakan, kau laporkan padaku setiap hari. Terlewat, hukuman menantimu, Pyu," tegas sang Raja yang membuat Kiarra melebarkan mata.
"Kau senang sekali memberikan hukuman, Raja. Kau akan kehilangan kewibawaan dan hormat dari pengikutmu jika berperilaku kejam. Pemberontakan akan terjadi tanpa kau sadari," tegas Kiarra menasihati.
"Kau pikir, aku tak tahu yang kau lakukan? Aku tahu semuanya. Aku hanya membiarkan saja. Jangan kau pikir, aku tak bisa menghukummu juga, Ratu Kia," tegas sang Raja yang membuat napas Kiarra memburu.
Hingga akhirnya, acara makan berakhir dengan ketegangan. Para pelayan dan prajurit istana terlihat gugup saat Raja Tur bersama ratu barunya melintas di depan mereka. Pyu ditugaskan hari itu juga untuk melayani Kiarra. Saat sang Ratu baru Kerajaan Tur memasuki ruangan, ia terkejut karena tiga toples berisi makhluk tak dikenalnya sudah berada di ruangan tempat lukisan pohon jembatan berada.
"Selamat beristirahat, Ratu," ucap Gor seraya menutup pintu.
Kiarra mengangguk lalu mengambil tiga toples itu dengan hati-hati. Pyu menatap Kiarra lekat saat sang Ratu meletakkan tiga benda berlapis kaca tersebut di atas meja dekat tempat tidurnya.
"Itu ... apa, Ratu?" tanya Pyu ikut mendekat karena penasaran.
"Aku tak tahu. Namun, bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. Kau siap?" jawab Kiarra menatap Pyu lekat yang membuat wanita berambut merah itu tegang seketika.
Pyu mengambil sebuah pisau untuk memotong buah di meja jamuan tempat makanan di hidangkan. Kiarra tersenyum. Ia lalu menatap toples berwarna ungu dengan gumpalan asap seperti menari-nari.
"Kia-rra ... bebaskan ... bebaskan ...," pinta isi toples itu seperti orang berbisik.
__ADS_1
"Katakan, kau siapa?" tanya Kiarra tegas.
"Aku adalah roh penjaga pohon jembatan yang ditangkap oleh pria bernama Sok sebelum akhirnya pohon ditebang. Bebaskan ...," ucapnya yang membuat Kiarra tertegun.
"Apa imbalan jika kau kubebaskan?" tanya Kiarra menatap gumpalan gas seperti memiliki jiwa itu.
Pyu yang mendengar apa yang diucapkan sang Ratu meski tak tahu perkataan dari gumpalan tersebut, semakin serius menyimak.
"Aku bisa menumbuhkan kembali pohon jembatan. Hanya saja, untuk membuat para monster iblis musnah, bisa dilakukan ketika bintang biru bersinar."
Praktis, ucapan sosok tak dikenal itu membuat pandangan Kiarra tak menentu. Menunggu bintang biru kembali muncul akan sangat lama dan ia bisa gagal untuk membangkitkan arwah pendahulunya di mana ia sangat merindukan pria itu. Kiarra termenung dan terlihat bingung. Pyu menyadari hal tersebut.
"Ratu ... Anda baik-baik saja?" tanya Pyu.
Kiarra terbebas dari lamunannya. Ia tersenyum dengan anggukan. Wanita cantik tersebut kembali menatap sosok yang mengaku sebagai penjaga pohon jembatan.
"Haruskah aku ada di sana saat bintang biru muncul?" tanya Kiarra memastikan.
"Tentu saja. Hanya kau yang bisa menggunakan kekuatan bintang biru. Kau adalah yang terpilih, Kiarra. Aku tahu misimu dari sang Naga. Meskipun aku terjebak dalam kaca ini, tetapi aku bisa melihat kehidupanmu dari sorot mata. Aku adalah See," ucapnya yang membuat Kiarra menelan ludah.
"Kau ... penjaga pohon jembatan di wilayah mana?" tanya Kiarra penasaran.
"Perbatasan Vom dan Tur. Jika kau membebaskanku, rohku akan bersemayam dalam sisa pohon yang telah rusak. Pohon jembatan memang tak bisa digunakan, tetapi ia tak mati. Oleh karenanya, aku masih hidup. Semua pohon jembatan terhubung dengan pohon Naga. Aku akan terus tumbuh hingga menjadi pohon jembatan sesungguhnya dan bisa digunakan kembali," ucap sosok itu yang membuat senyum Kiarra terkembang.
"Baiklah, aku percaya padamu. Jika kau berbohong, aku tak segan meminta kepada sang Naga untuk menghancurkanmu," ancam Kiarra menatap gumpalan itu tajam.
"Setuju."
Kiarra mengambil wadah kaca dengan dua tangannya. Pyu mundur beberapa langkah karena sang Ratu berdiri seraya membawa toples itu ke tengah ruangan berlantai batu.
Seketika, PRANGG!
"Oh!" kejut Pyu ketika sang Ratu membanting toples kaca itu lalu muncullah gumpalan asap besar berwarna ungu bagaikan raksasa yang menatap Kiarra tajam.
Kiarra sampai mendongak dengan jantung berdebar kencang karena wujud sosok itu adalah seorang wanita, tetapi menyeramkan bagai monster.
"Hehehe, Kiarra ...," kekeh sosok itu menunjukkan gigi-gigi gergajinya. Kiarra menelan ludah.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
Ya ampun sampai mau up Kiarra udh gempor duluan lele. lemes uyy setelah jadi emak beranak dua. happy weekend❤️
__ADS_1