
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra dalam wujud roh, kini akan ikut andil dalam usahanya menyelamatkan warga Yak dan orang-orang dalam kubunya. Sudah terlalu banyak kematian akibat perang tak berkesudahan. Kini, Kiarra akan mengerahkan semua kemampuannya untuk membawa orang-orang itu keluar dari Yak.
"Terbang!" seru Kiarra lantang.
NGEKK!!
Kapal balon udara terbang terlebih dahulu. Orang-orang Yak yang baru pertama kali menaiki benda melayang di udara tentu saja dibuat tegang. Namun, setelah merasakan jika kapal yang mereka tumpangi aman dan takjub karena bisa melihat keindahan alam di bawahnya, orang-orang mulai berani untuk melongok dari pagar geladak.
"Indah sekali," ucap seorang warga Yak kagum.
"Katakan itu nanti saat kalian berhasil melewati pasukan Tur di bawah sana. Bersiap!" seru Kiarra lantang yang muncul di geladak kapal menatap orang-orang.
Warga Yak bergegas mempersiapkan diri untuk melakukan serangan sebelum diserang. Mereka sebenarnya bisa saja selamat. Namun, kumpulan pengendara hang glider tidak seberuntung mereka. Oleh karena itu, Kiarra mengantisipasinya.
"Hang glider! Sekarang!" teriak Kiarra yang terbang meninggalkan kapal dan kini melayang di hadapan orang-orang di atas bukit.
"Maju!" seru Tej memimpin pasukan penerbang.
Orang-orang itu berlari kencang menuruni bukit. Mereka terlihat tegang. Namun, saat tubuh terangkat karena udara mendorong lapisan kulit yang dijadikan sayap tersebut, wajah berbinar langsung terlihat.
"Ini sungguh luar biasa!" seru Tam si penunggang Eee saat merasakan sensasi lain di mana sebelumnya ia menunggangi hewan agar bisa berada di langit.
"Bagus. Terus ikuti kapal. Tetap berada di atas dan jangan bersuara. Kalian pergi secara diam-diam agar tak diketahui musuh," ucap Kiarra kepada sekelompok orang itu dengan terbang di hadapan mereka.
"Kami mengerti, Ratu," jawab para penerbang mantap.
Saat istana Yak terlihat berikut pasukan Tur yang tersebar di beberapa penjuru, jantung orang-orang berdebar. Mereka khawatir jika musuh melihat dan akan diserang. Namun, Kiarra sudah memikirkan strategi lain, meskipun orang-orang dalam kapal telah bersiap untuk melakukan rencana cadangan jika cara roh berselimut cahaya biru tersebut gagal.
Di wilayah kerajaan Yak yang berlapis salju di mana mayat-mayat bergelimpangan dari dua kubu. Terlihat pasukan Tur sedang menumpuk mayat-mayat untuk dibakar. Beberapa dari mereka mengambil senjata-senjata yang berhasil ditemukan untuk dipergunakan lagi sebagai cadangan. Wajah orang-orang Yak dan kelompok pengikut Kiarra tegang karena takut ketahuan. Namun, tiba-tiba ....
"Oh, apa itu?" tanya seorang prajurit Tur saat melihat ada sebuah cahaya biru di balik batu.
"Apa yang kaulihat?" tanya prajurit lain mengikuti pergerakan mata pria di sebelahnya.
WHUSS!
"Oh!" kejut dua orang itu saat melihat ada semacam pergerakan yang bergerak cepat meninggalkan batu besar menuju ke batu lainnya seperti bersembunyi di sana.
"Hei!" panggil prajurit Tur dengan sosok manusia setengah kambing mulai menggenggam pedang.
Para prajurit Tur di sekitar pria setengah kambing mulai berkumpul. Lirikan mata sebagai isyarat jika ada penampakan aneh di dekat mereka. Sekelompok pria dengan berbagai jenis binatang itu bergerak perlahan seperti mengendap. Mereka berpencar ke beberapa tempat untuk menyergap sosok mencurigakan tersebut.
Sedang di atas sana. Kelompok Kiarra dibuat tegang saat melintasi daratan es luas di mana pasukan Tur tersebar di beberapa wilayah. Akan tetapi, Kiarra yang menggiring pasukan Tur menuju ke wilayah hutan, membuat kapal dan kelompok hang glider dengan tujuan ke arah pantai berhasil melintas tanpa diketahui pasukan musuh. Semua orang akhirnya bernapas lega karena mereka tak perlu bertempur demi bisa keluar dari Yak.
__ADS_1
"Kita berhasil!" seru Tam menatap Tej yang terbang tak jauh dengannya menggunakan hang glider.
"Yeahhh!" sorak semua orang saat melintasi tepi pantai.
Namun, tiba-tiba sosok Wii muncul dari luapan air laut. Sontak, hal tersebut membuat semua orang panik seketika.
"Ingat yang dikatakan Ratu Kiarra! Jatuhi dia dengan tanah dan bekas bara!" titah sang Pangeran.
Warga yang menaiki kapal bergegas melakukan yang diperintahkan oleh sang pemimpin. Cok berusaha keras mempertahankan laju kapal yang bergerak di tepian agar tak memasuki lautan di mana Wii berkuasa di tempat itu. Akan tetapi, angin yang cukup kencang dari bukit, mendorong kapal dan para penerbang hang glider ke arah laut.
"Cok!" seru Boh panik di mana kekuatannya masih belum pulih.
"Anginnya terlalu kencang! Erghh!" erang manusia setengah tikus tanah itu berusaha memutar kemudi agar kapal balon udara bergerak ke pantai. Namun, layar yang terkembang membuat kapal bergerak ke arah Wii berada.
"Bertahan dan serang Wii!" titah sang Pangeran tak putus asa di mana ia juga menaruh dendam karena saudarinya tewas dimangsa.
"Heahhh! Rasakan ini, Wii!" seru seorang warga Yak saat melempari monster laut itu dengan tanah yang mereka kumpulkan dalam gua lalu dibentuk menjadi bulatan.
Bulatan-bulatan keras sebesar bola tenis itu pecah dan menjadi tanah kering saat mengenai tubuh Wii. Monster hijau tersebut melengking kesakitan akibat tubuhnya terkena sisa bara api pembakaran dan tanah kering. Warga Yak menjatuhkan kain-kain berisi bara api ke arah Wii dari atas kapal.
"Wii!"
BYUR!!
"Kita berhasil! Kita berhasil!" sorak seorang warga yang langsung mendapat pelukan dari dua orang anak.
"Wiii!"
"Arggg!" teriak seorang warga Yak.
Pria itu terbang tepat di atas Wii yang melompat tinggi. Tubuh monster tersebut berada di atas permukaan air laut.
"AAAA!" teriak orang-orang dalam kapal histeris saat melihat tangan monster laut itu berhasil menggapai salah satu penerbang hang glider dan membuatnya tertangkap dan masuk ke dalam air.
Cok selaku nahkoda ikut dibuat panik termasuk penerbang lainnya. Mereka ketakutan jika dikejar oleh monster hijau tersebut. Tej dan penerbang lainnya berusaha untuk mengubah arah menuju daratan, tetapi berulang kali terhempas angin sehingga terdorong lagi menuju lautan. Praktis, hal tersebut membuat gelisah semua orang.
"Ada pergerakan besar di bawah sana! Wii akan muncul lagi!" teriak Tam dengan mata melotot saat melihat bayangan besar di bawah permukaan air.
SPLASH!!
"Wiii!" lengking monster hijau itu siap untuk menangkap lagi.
Mata semua orang terbelalak saat melihat Wii muncul dari air dan dua tangannya terjulur ke atas. Saat Tej dan Tam merasa jika nyawa sudah di ujung tanduk, tiba-tiba ....
BYURR!
__ADS_1
"Oh! Apa yang terjadi?" tanya sang Pangeran saat melihat Wii seperti terkejut akan sesuatu lalu tercebur.
Semua orang terlihat tegang dengan mata terfokus pada air melimpah di bawah sana. Hingga akhirnya, sosok Wii kembali terlihat, tetapi hanya tubuh bagian atasnya saja. Makhluk tersebut diam saja dengan mata terfokus pada sesuatu di atas. Pangeran Owe dan lainnya melihat arah mata Wii.
"Aku berjanji akan mengembalikan rumahmu, Wii. Berhentilah mengacau dan tidur," ucap roh Kiarra dengan mata menyala biru terang dan dua telapak tangan bersinar dalam cahaya biru.
Wii diam saja lalu menenggelamkan tubuhnya yang besar itu ke dalam lautan. Semua orang tertegun. Mereka tak menyangka jika Kiarra mampu mengendalikan Wii tanpa harus bertarung melawannya.
"Hidup Ratu Kia-rra!" seru Owe lantang yang disambut teriakan semuanya.
Senyum Kiarra ikut terkembang. Namun, tiba-tiba sosok wanita cantik itu seperti memudar. Kegembiraan langsung meredup seketika.
"Waktunya habis! Kia-rra akan menghilang lagi!" ujar Boh yang terlihat masih begitu lemah.
Pangeran Owe tampak serius melihat sosok Kiarra yang terbang mengikuti kapal, tetapi cahayanya mulai pudar.
"Ratu Kia-rra! Pulanglah! Aku berjanji akan membawa mereka sampai ke hutan kabut putih dan rumah naga! Terima kasih sudah membantu!" seru Pangeran Owe.
"Benar, Ratu! Serahkan pada kami sisanya! Kami bisa melindungi diri dan lainnya!" sahut Tej dan diangguki semua orang dengan mantap.
Kiarra tersenyum lalu sosoknya menghilang seperti yang dikhawatirkan. Sontak, kepergian Kiarra membuat wajah-wajah itu sendu seketika. Namun, usaha mereka untuk melintasi laut tanpa diganggu Wii berhasil. Akhirnya, angin mulai bersahabat. Kapal dan hang glider memasuki wilayah Tur dengan tujuan ke hutan kabut putih tak mengalami kendala karena pasukan Tur tak terlihat.
Akan tetapi, kapal yang melaju lebih dahulu terpaksa meninggalkan kelompok penerbang. Nantinya, mereka akan bertemu di hutan kabut putih. Hang glider sudah tak bisa digunakan karena angin tak lagi mendukung. Para penerbang mendarat di wilayah padang rumput dan masih cukup jauh dari tujuan. Benda tersebut telah dimodifikasi sehingga bisa dilipat.
Mereka membawanya sembari berlari kecil menyusuri tepi sungai dekat hutan. Di mana menurut Boh, tempat tersebut paling aman karena manusia ubur-ubur berjaga di sana. Air di sungai itu tercampur dengan air laut sehingga manusia ubur-ubur bisa bertahan hidup di sana. Ternyata, hal itu benar. Tej dan lainnya bertemu dengan kumpulan manusia ubur-ubur yang terperangkap tak bisa ke laut karena ada Wii di sana.
"Kalian berhasil keluar dari Yak!" ucap seorang manusia ubur-ubur ketika bertemu kelompok Tej di tepi sungai besar. Jika diteruskan akan bertemu cabang menuju Sungai Agung.
"Ya. Kami harus ke hutan kabut putih. Apa kau tahu jalan aman ke sana?" tanya Tej seraya mengawasi sekitar.
Namun, para manusia ubur-ubur menggeleng. Tej terlihat bingung dan merasa tempat mereka berada saat ini tidak aman karena dulu, pasukan Tur sering berpatroli di kawasan tersebut.
"Jika kalian bersedia, berenanglah sampai ke sana. Kami akan menuntun dengan menyusuri sungai. Sayangnya, kami tak bisa mendekat sampai ke wilayah hutan karena air di sana seperti memiliki racun. Tubuh kami perih seperti terbakar. Lalu, hati-hati. Raja Tur memasang penghalang agar sungai tak bisa dilewati. Bagaimana?" tanya seorang manusia ubur-ubur cemas.
Tej menatap kawan-kawannya saksama seperti mencari kesepakatan.
"Baik. Kami terima risiko itu," jawab Tej mantap dan diangguki anggota kelompoknya.
"Kalau begitu, tinggalkan benda yang kalian bawa di atas pohon agar tak ditemukan pasukan Tur," saran salah satu manusia ubur-ubur.
"Hem, ide bagus," jawab Tam lalu mengajak kawan-kawannya melakukan saran tersebut.
Setelahnya, para penerbang hang glider mempersiapkan diri untuk berenang dipandu oleh manusia ubur-ubur melalui sungai. Mereka akan ditarik dengan sebuah dahan pohon agar lebih cepat sampai. Tej dan lainnya tampak begitu serius saat menenggelamkan diri di air hingga sosok mereka tak terlihat.
"Percaya pada kami, blub!" ucap seorang manusia ubur-ubur dan diangguki orang-orang tersebut.
__ADS_1
***