Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Jatuhnya Tiga Kerajaan di Negeri Kaa


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Di sisi lain.


Sebelum kapal balon udara berlayar meninggalkan hutan kabut putih, Kenta ditemui oleh roh Kiarra. Ternyata, para burung yang dikirim Putri Xen dari Yak mengubah haluan. Mereka bertemu dengan roh Kiarra di sebuah pohon jembatan yang telah tumbang akibat kebodohan raja-raja Negeri Kaa di masa lalu. Informasi yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang tertentu, dengan mudah disampaikan oleh burung-burung tersebut karena Kiarra mendapat berkah dari Naga dan kekuatan bintang biru.


Meskipun seekor burung telah tewas akibat tertangkap oleh pasukan Tur kala itu, tetapi Kiarra berhasil mendapatkan informasi penting tersebut. Sontak, kabar mengejutkan itu membuat Kenta mengubah rencananya dari tujuan awal menciptakan kapal balon udara. Kenta diberitahu jika banyak wilayah telah hancur akibat serangan para monster iblis yang marah karena hilangnya rumah mereka. Para peri yang juga melihat sosok Kiarra ikut mendengarkan.


Di sana, mereka berdiskusi untuk menentukan misi apa yang harus diambil. Hingga akhirnya, keputusan tercipta yakni menyelamatkan sebanyak mungkin orang akibat perang. Kenta berlayar dengan empat kapal mengikutinya dari belakang yang dinahkodai oleh beberapa orang handal. Kenta yang sudah diberikan rute oleh Kiarra akhirnya berhasil menemukan keberadaan pasukan Laksamana Noh di hutan dekat Desa Gul.


Kenta memberitahukan rencananya dan Noh siap bergabung. Bagi Noh, tak ada gunanya bertahan di tempat itu. Lebih baik tewas berjuang ketimbang mati penuh penyesalan. Kelompok Noh sendiri dibagi menjadi beberapa orang. Hingga akhirnya, lima buah kapal berpencar sesuai dengan misi.


Kenta, Kol dan sebagian warga Tur yang berlindung di hutan kabut putih pergi ke Vom. Laksamana Noh pergi ke Ark bersama sipil Tur. Kem pergi ke Zen bersama para penjaga dua menara untuk mencari keberadaan Rak serta pengikutnya yang dikabarkan berhasil melarikan diri. Sedangkan Lon yang sudah sadar meski dalam kondisi kritis, bersama para sipil yang terluka ke rumah naga dengan nahkoda Aim. Sedangkan anak buah Aim dan Cok, pergi ke Yak untuk memberitahukan tentang kondisi Negeri Kaa di mana tempat tinggal mereka sudah porak-poranda akibat Raja Tur yang ambisius.


Di Kerajaan Vom.


BLUARRR!


"Dra! Kita tak bisa mempertahankan istana lagi. Kita harus pergi!" seru Kapten Mun seraya melangkah mundur usai berhasil melindungi tubuhnya dengan tameng milik seorang prajurit Vom yang telah tewas akibat serangan bola meriam.


Benda bulat itu sukses meruntuhkan dinding pertahanan Vom. Para prajurit Vom jatuh tertimpa dan tewas seketika. Dra dan para pejuang Vom yang masih sanggup bertahan mulai kewalahan. Ternyata, pasukan Tur memiliki ramuan ajaib yang membuat mereka menjadi beringas layaknya hewan buas. Sifat manusia mereka seolah lenyap dan digantikan oleh nafsu membunuh seekor binatang.


"Hah, hah."


Dra tak bisa menutupi ketakutannya ketika melihat para prajurit yang melindunginya tewas dimangsa karena anggota tubuh menghilang. Wanita bergaun bulu-bulu di sekitar lehernya itu gemetaran karena ia memang bukan seorang petarung. Penyihir cantik tersebut sampai kesulitan untuk melafalkan mantra saat melihat satu per satu prajurit Tur datang ke arahnya. Kapten Mun tak henti-hentinya mengayunkan pedang agar senjata lawan tak menggores tubuhnya.


"Dra! Kita harus pergi dari sini! Tinggalkan istana!" teriak sang Kapten lantang.


Namun, Dra menggeleng cepat. Ia kembali menguatkan hati dan mentalnya. Ia memejamkan matanya sejenak, dan saat terbuka, "Geaga! Geaga! Heraaa!"


Mata Kapten Mun terbelalak melihat para prajurit Tur tertusuk sebuah benda tajam layaknya bilah pisau. Kepala pria berwajah garang itu menoleh ke asal senjata pembunuh. Ternyata, Dra yang melakukannya. Wanita itu tersenyum miring dan kembali melafalkan mantranya.


Bulu-bulu yang menghiasi gaunnya berubah menjadi runcing. Benda itu terlepas dari dudukannya lalu melesat ke arah sasaran sesuai bidikan tangan dan mata Dra. Kapten Mun dan Dra berhasil bertahan meski sisi lain istana berhasil dikuasai. Dra yang melihat kesempatan bergegas meninggalkan wilayah peperangan itu.


Di tempat para dayang Kiarra berada. Kuil Dra.


"Argh!"


TANG! KLANG!

__ADS_1


"Eur!" panggil Pop panik karena kawannya itu berhasil dijatuhkan.


Pedang Eur terhempas karena ayunan kuat manusia setengah banteng yang menjadi lawan. Pop berusaha menangkis serangan pedang dari seorang manusia setengah hyena yang berusaha membunuhnya. Usahanya hampir berhasil karena Pop terluka di bagian dada akibat cabikan kuku tajam makhluk tersebut. Sedangkan Eur, pria tersebut merangkak mundur dengan dua lengannya. Manusia setengah banteng itu melangkah maju dengan menggenggam sebuah kapak, siap untuk membelah salah satu dayang Kiarra tersebut.


"Demi melindungi warisan Jenderal Kia! Mati pun aku rela!" teriak Eur dengan mata membulat penuh, menatap lawannya tajam.


"HARRGHH!" raung manusia setengah banteng mulai mengayunkan kapak untuk membelah tubuh manusia malang di hadapan.


KLANG!!


"Hah!" kejut Eur saat melihat pedang yang digunakan oleh Ben dan Fuu menahan kapak tersebut.


"Sayangnya, kami tak rela kau mati!" teriak Ben lantang.


"Heahhh!" teriak Fuu bersama dengan Ben saat mendorong kapak tersebut.


Manusia banteng itu berhasil dibuat mundur, tetapi prajurit Tur lainnya mulai berdatangan seolah tak ada habisnya. Fuu dan Ben yang berhasil mengalahkan seorang prajurit Tur karena bekerja sama, kini membantu Eur. Pop berhasil kabur dari lawan, tetapi tak menjadikannya lolos dari maut. Empat dayang Kiarra tersudut. Para lelaki tampan itu mengacungkan senjata ke tubuh lawan yang menunjukkan sisi buas seperti siap untuk memangsa.


Tiba-tiba, WHOOM!!


"Oh!" kejut Pop saat api ungu melintas di depan mereka layaknya sebuah barikade.


Para prajurit Tur melangkah mundur perlahan saat ditatap tajam oleh penyihir Vom tersebut.


"Harghhh!"


WHOOM!


Empat dayang Kiarra tersentak. Mata mereka terbelalak lebar saat melihat Dra menyemburkan api ungu dari kedua telapak tangan tepat ke tubuh prajurit-prajurit Tur tersebut. Para manusia setengah binatang itu terlahap oleh api sihir Dra yang ganas dan tak bisa dipadamkan. Dra lalu berlari memasuki kuil yang kemudian diikuti empat pria tampan itu. Mereka melindungi Dra saat penyihir agung tersebut merentangkan tangan untuk membuka dinding pelindung pedang kristal biru Kiarra.


"Reloka!" teriaknya lantang dengan dua tangan diturunkan bersamaan.


Seketika, dinding pelindung lenyap. Dra mengangkat roknya yang panjang lalu berlari mendatangi tempat pedang kristal Kiarra disimpan. Dra mengalungkan pedang itu di punggung kemudian mengajak empat dayang Kiarra pergi meninggalkan kuil.


"Dra!" teriak seseorang yang membuat lima orang di bawah sana mendongak. "Pergilah ke belakang istana!" imbuh Hem tampak tergesa.


Dra dan keempat dayang mengangguk. Mereka mengubah arah yang tadinya ingin pergi di pintu menuju pemukiman warga, sekarang ke tempat yang diminta oleh Hem. Namun, setibanya di sana. Langkah orang-orang itu terhenti. Mereka melihat banyak prajurit Tur berusaha menggagalkan aksi melarikan diri para pejuang Vom dari istana.


"Kembali ke tujuan semula!" ajak Dra, dan empat dayang Kiarra kembali berlari mengikuti penyihir tersebut.

__ADS_1


Ternyata, Dra dan para pria itu dikejar oleh prajurit Tur yang melihat pergerakan mereka. Fuu dan tiga kawannya sengaja menjatuhkan barang-barang di lorong untuk menghambat laju musuh. Namun, para manusia setengah binatang itu begitu buas sehingga benda-benda tersebut sengaja ditabrak.


"Mereka gila!" pekik Pop sampai keringatnya bercucuran.


Dra melihat ember berisi bara apinya berada di salah satu sudut ruangan. Wanita itu berbelok dan sengaja menumpahkannya di lantai koridor. Fuu dan lainnya bingung, ditambah mereka terpaksa berhenti karena tak ingin Dra tertinggal. Namun, musuh terus mengejar dan hal tersebut membuat para pria tampan itu kembali panik.


"Dra!"


"Melako negaga!"


DUK! DUK! DUK!


WHOOM!


Empat dayang Kiarra terkejut. Bongkahan dalam ember yang berisi api ungu Dra melayang lalu melesat cepat ke arah para prajurit Tur seperti menyerangnya. Orang-orang itu terbakar karena api ungu Dra melahap dengan cepat. Akan tetapi, mereka yang berusaha memadamkan api bergulung ke tempat dengan banyak peralatan. Praktis, bahan-bahan terbuat dari kayu dengan cepat berkobar dan malah menjalar memangsa sekitarnya. Dra dan lainnya tertegun. Siapa sangka, aksi mereka malah membakar istana Vom.


"Biarkan saja! Sudah tak ada orang di istana. Kita segera pergi, Dra!" ajak Ben.


Dra akhirnya menurut dan berlari menuju ke pintu yang akan membawa mereka ke wilayah pemukiman. Siapa sangka, jika tempat tersebut telah dikuasai oleh para prajurit Tur. Dra dan lainnya terdesak. Saat keberadaan mereka diketahui oleh para prajurit Tur dan siap ditangkap, tiba-tiba ....


"AAAA!" teriak Pop panik karena tubuhnya tiba-tiba melayang.


Kepala Dra dan lainnya mendongak. Seketika, kepanikan itu berubah menjadi rasa lega karena diselamatkan oleh pasukan burung Eee terakhir dari Hem. Kapten Mun menunggangi salah satunya karena penunggang sebelumnya telah tewas. Para prajurit Tur meraung di bawah sana karena gagal menangkap orang-orang terakhir Vom yang seharusnya akan dijadikan sandera.


Dra meneteskan air mata karena tempatnya dibesarkan kini telah terbakar hebat. Banyak prajurit mati berikut para petinggi kerajaan yang kembali ditugaskan usai tiga kerajaan lain bersedia menjadi sekutu untuk mewujudkan kedamaian Negeri Kaa. Mereka terbang ke pantai karena diyakini tempat tersebut paling aman meski ada monster Wii di sana. Akan tetapi, ....


"Oh, Naga. Apa yang terjadi? Ke-ke mana orang-orang?" tanya Hem dengan mata melotot saat Eee mendarat di pantai.


"Argh! Wiii!" teriak Dra marah besar.


Ia melemparkan bola api ungu ke monster hijau yang berada di tengah laut sedang memegang benda-benda milik para manusia. Sayangnya, bola api Dra tak sampai padanya. Wii hanya menatap sekumpulan orang di tepi pantai dengan tatapan tajam, lalu menenggelamkan diri di luapan air ungu tersebut.


Dra ambruk berikut orang-orang yang menduga jika warga Vom tewas dimangsa olehnya. Kapten Mun berjalan gontai dengan mata memandangi sekitar di mana terlihat banyak barang-barang rusak seperti habis diterjang ombak dahsyat dan menewaskan para pemiliknya. Terlihat beberapa anggota tubuh tersangkut pada benda-benda yang rusak di bibir pantai. Delapan belas pejuang Vom yang berhasil lolos dari kematian lemas karena duka menyelimuti.


"Semua sia-sia," ucap Kapten Mun lalu ambruk dengan kaki berlutut.


***


__ADS_1


__ADS_2