
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Kiarra sengaja membiarkan jasadnya diperiksa oleh pihak kepolisian. Suasana ramai di kamar Jasper membuatnya merenung memikirkan banyak hal. Kabar pembunuhan itu dengan cepat menyebar hingga ke seluruh dunia. Seorang mayat bisa hidup kembali karena sebuah dendam tentu saja menimbulkan banyak perbincangan. Banyak pro dan kontra akan kejadian ini. Namun, hal itu tak membuat keluarga Kiarra membencinya.
"Ara!" tangis Azumi dari kejauhan di depan pintu yang diberikan garis batas polisi dilengkapi dengan setrum agar tak ada yang melintas.
Azumi ditemani oleh Kenta berikut saudara serta saudari lainnya, menatap jasad Kiarra pilu. Meski suasana duka menyelimuti, tetapi Kiarra tersenyum dalam hati. Ia tak menyangka jika keluarga yang selama ini dianggap sangat merepotkan ternyata menyayanginya.
"Apakah permintaan Rein disetujui agar jasad Kiarra dimasukkan tabung lagi?" tanya Hiro—putra Tora dan Mei.
"Entahlah, tetapi keluarga Tuan Kim Arjuna sedang berusaha untuk bisa merealisasikan hal itu. Aku tak menyangka, jika Rein masih berharap jika Kiarra bisa bangkit lagi. Jujur, aku juga merindukannya. Aku teringat saat ia mengizinkanku ikut dalam pemberantasan wabah monster kala itu. Aku ... masih ingin bertempur bersamanya. Kenapa ... Ara tak melibatkanku?" ujar Raiden—putra Pion Darion dan Mei—cemberut.
"Kau malah berharap ingin didatangi oleh zombie? Kau sungguh tak waras, Rai," ledek Kenta.
"Aku tahu jika terdengar aneh, tapi ... jika zombie itu Kiarra, aku pasti sangat bahagia," ucapnya senang.
Kiarra terharu. Ingin sekali rasanya ia memeluk lelaki tampan yang kini sudah beranjak dewasa itu. Perasaan sesal kembali menyerang jiwanya. Ia bahkan diam saja saat jasad Jasper diambil oleh pihak kepolisian dan tubuhnya yang menyender pada dinding dipotret untuk dijadikan barang bukti. Lama Kiarra termenung karena teringat akan masa lalu bersama keluarganya.
Tiba-tiba ... terlihat percikan api yang muncul dalam kegelapan. Sang Naga kembali muncul dengan wujud yang berbeda. Mata Kiarra melebar karena ia berada di alam lain. Tubuhnya melayang di udara seperti ruang hampa.
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
"Ara ...."
"Apakah ... kau sudah menarik arwahku kembali?"
"Hem. Sepertinya kau tak sadar jika bulan telah bersinar. Kau larut dalam kenangan."
Kiarra tersenyum. "Aku ... ingin berkumpul lagi bersama keluargaku, tetapi ... bukan karena sebuah misi atau melakukan perbuatan keji. Aku ... ingin berkumpul layaknya acara pesta ulang tahun yang dipenuhi kebahagiaan," ucapnya sedih.
Sang Naga terdiam menatap Kiarra saksama. Kiarra tertunduk seperti harapan itu sangat berarti untuknya. Tiba-tiba, muncul gemerlap dalam kegelapan. Mata Kiarra sampai menyipit karena silau dari cahaya yang memancarkan warna biru itu. Kepala wanita cantik itu sampai mendongak saat melihat cahaya terang bagaikan bintang dengan warna biru bersinar dalam kegelapan.
"Kau lihat cahaya itu?" Kiarra mengangguk dengan mata terus menatap cahaya biru tersebut. "Itu adalah bintang biru. Bintang itu hanya muncul tiap sepuluh tahun sekali saat langit menjadi sangat gelap tanpa bulan ungu atau merah. Ketika bintang itu bersinar, kau bisa bertemu lagi dengan keluargamu di Bumi, tetapi hanya satu malam."
Praktis, senyum Kiarra terkembang. Ia tampak begitu bahagia karena diizinkan kembali. Hingga ia menyadari sesuatu sampai wajahnya berkerut. "Tunggu. Dra pernah mengatakan tentang umur 1 bintang. Apakah maksudnya ... ia kehilangan umur setara 10 tahun karena konsekuensi membangkitkanku?"
"Hem. Dra adalah salah satu penyihir murni yang mendapatkan kekuatan dari Negeri Kaa. Begitupula dengan para penyihir dari lima kerajaan di Negeri Kaa. Hanya orang-orang terpilih yang mendapatkan kemampuan magis itu. Hanya saja, Ram ... dia mencuri ilmu magis dari para penyihir kerjaan lainnya. Oleh karena itu, matanya—"
"Berwarna kuning. Ya, aku melihatnya!" potong Kiarra yang diangguki oleh sang Naga.
"Kemampuan sihir Ram belum sempurna. Namun, saat matanya telah menjadi ungu sepenuhnya, ia akan menjadi penyihir tak terkalahkan di seluruh Negeri Kaa. Hanya saja, Ram yang tak mengetahui tentang Negeri Kaa karena ia bukan makhluk abadi sepertiku, masih bisa dikalahkan olehmu."
__ADS_1
"Aku?" tanya Kiarra sampai menunjuk dirinya sendiri. Naga mengangguk.
"Kau memiliki sihir murni dari bintang biru. Aku saja tak bisa meramalkan masa depanmu di negeriku ini, padahal aku adalah Dewa."
Kiarra mengedipkan mata, mencoba menelaah ucapan dari sang Naga. Hingga tiba-tiba, senyumnya terpancar. "Mungkin karena itulah, aku dilahirkan kembali di negeri ini," ucap Kiarra penuh percaya diri. Naga mengangguk.
"Penuhi janjimu. Gunakan sihirmu untuk mengalahkan Ram. Jangan biarkan Ram mendapatkan kekuatan Dra karena aku sendiri tak tahu bagaimana caranya untuk mengalahkan lelaki itu dengan sihirmu. Aku bahkan tak tahu bagaimana membuat sihirmu itu bisa digunakan dengan leluasa seperti para penyihir lainnya. Sepertinya, sang Pencipta memberikan batasan sehingga aku tak bisa melihat semuanya."
Kiarra mengangguk mengerti dalam diamnya. Hingga ia teringat akan janji sang Naga. "Oh, ya. Kau—"
"Ya. Aku ingat janjiku. Oleh karena itu, segeralah temui Dra. Sembuhkan dia dan jalankan misi dariku sesuai kesepakatan kita dulu."
"Aku mengerti, Tuan Naga," ucap Kiarra dengan anggukan hormat.
"Kuberikan hadiah karena kulihat, kau sepertinya akan membuat perubahan besar di negeriku seperti kedatangan alien bertentakel itu ratusan tahun silam."
"He? Alien bertentakel?"
Naga mengangguk. "Kau percaya cerita Kenta dan Azumi? Kisah anak-anak setan di duniamu?"
Praktis, ucapan sang Naga membuat mata Kiarra melotot seketika. "Oag!"
"Hem. Dia juga pernah datang kemari. Ia menawarkan hal menarik yang tak bisa kutolak karena aku juga mengharapkan perubahan di negeriku," jawab sang Naga yang membuat mulut Kiarra menganga lebar.
"Berpikirlah."
"Aku sedang tak bisa berpikir karena rasa penasaran yang tinggi," jawab Kiarra cepat.
"Kalau begitu, anggap saja rasa ingin tahumu sebagai pekerjaan rumah."
Wajah Kiarra masam seketika. Ia meminta diberikan waktu sebentar untuk berpikir. Ia mencoba menerka-nerka, tetapi sang Naga yang sepertinya tahu isi pikirannya. Ia selalu menggeleng tiap Kiarra menunjukkan telunjuknya padahal belum berucap.
"Argh! Ini sungguh membuatku frustasi!" teriak Kiarra marah menjambak rambutnya sendiri. Sang Naga masih terbang melayang dengan kilau emasnya seperti memakai pakaian tempur. "Aku menebak alien itu yang membuat bulan ungu dan merah, tapi kau menggeleng. Aku menduga jika ilmu sihir yang didapat Dra dan lainnya dari Oag, tapi kau juga menggeleng. Termasuk keberadaan pohon biru, para manusia, hewan-hewan aneh seperti campuran spesies dan ... eh, tunggu dulu," ucap Kiarra yang tiba-tiba berhenti bicara seperti menyadari sesuatu.
"Hem, benar."
"Sungguh? Para manusia di negeri ini bukan asli dari Negeri Kaa?" Naga mengangguk. "Jadi ... makhluk seperti Aaa, Ooo, dan lainnya, mereka ...."
"Ya. Makhluk asli negeri Kaa adalah aku, Naga. Jika kau menemukan naga di duniamu, mereka adalah anak-anakku. Oag saat itu membawa mereka untuk ditukarkan dengan makhluk-makhluk yang sudah ia rekayasa agar bisa menghuni tempat ini. Aku bisa melihat yang terjadi di Bumi karena masih terhubung dengan anak-anakku yang kalian puja itu. Bulan ungu dan merah, hal itu memang alami di negeri ini, berikut segala jenis habitat dan keunikan sihir di dalamnya. Hanya saja, manusia. Mereka dibuat agar bisa hidup di tempat ini. Oleh karena itu, jumlah mereka tidak banyak dan terbatas."
"Ah, aku mengerti sekarang. Alien sialan itu sepertinya senang sekali ikut campur di planet orang," gerutu Kiarra.
"Oag adalah bangsa ilmuwan. Mereka senang berpetualang dan menjelajah, tetapi bukan penjajah. Mereka mengambil spesies unik suatu planet untuk dipelajari lalu diterapkan entah di planetnya atau planet lain agar timbul keberagaman. Jika dirasa merusak, maka makhluk-makhluk itu akan dipindahkan ke planet tak bertuan atau dilenyapkan," terang sang Naga.
"Oke," jawab Kiarra pasrah pada akhirnya.
__ADS_1
"Hanya saja, manusia membuat kehidupan di Negeri Kaa lebih berwarna meski terjadi banyak peperangan karena keinginan berkuasa. Aku melihat semua, tetapi membiarkannya. Hanya saja, aku tak bisa membuat kekejaman itu terus berlanjut karena merusak tatanan dan kemurnian negeriku."
"Oh, pantas saja kau ingin aku melenyapkan para raja dan ratu lalim di negeri ini karena mereka sudah kau anggap sebagai perusak keharmonisan. Benar begitu?"
"Hem. Aku percaya padamu, Kiarra. Kekuatan bintang biru masuk dalam dirimu, itu berarti kau diberkati. Ooo, adalah makhluk sakral dan ia juga mendapatkan kekuatan itu, termasuk pohon jembatan. Oleh karenanya, aku membutuhkanmu untuk mengembalikan kedamaian dan keharmonisan negeriku ini. Imbalannya, seperti yang pernah kujanjikan waktu itu."
"Aku mengerti. Oke, aku siap. Kembalikan aku agar misiku cepat selesai," pintanya mantap.
"Kukabulkan."
Seketika, "Akkk!"
"Aaa!" panggil Kiarra saat melihat ayam besar seperti campuran burung unta dan merak itu langsung berlari menghampiri.
Kiarra begitu merindukan makhluk cantik itu yang dikira sudah dibawa pergi oleh Ram saat melarikan diri.
"Ara. Aku sudah memberikanmu buah naga dan kupercayakan pada Aaa. Sebenarnya, itu adalah telur. Mereka adalah anak-anakku. Kau cukup meletakkan telurku di atas tubuh Dra dan mereka akan melakukan tugasnya. Namun, ada hal penting yang harus kau ketahui tentang telur naga."
"Apa itu?" tanya Kiarra saat sang Naga kembali muncul dengan sosok lain lagi, tetap tetap berwarna emas.
"Setiap makhluk hidup di Negeri Kaa yang mendapatkan pengobatan dari anak-anakku, saat mereka meninggal nanti, orang-orang itu akan menjadi penjaga pohon naga atau penjaga pohon jembatan. Jiwa mereka akan dimurnikan dan terlahir kembali menjadi makhluk agung."
Kiarra diam sejenak. Ia akhirnya tahu asal muasal makhluk-makhluk raksasa yang diyakini olehnya penjaga pohon jembatan seperti monster layaknya rusa dan ular raksasa disebut Grr.
"Hal penting lainnya. Kau bisa menggunakan jasad Dra untuk roh salah satu keluargamu yang telah tiada. Kau cukup membawa jasad raja dan ratu lalim yang sudah kau bunuh ke sini lalu tenggelamkan ke kolam naga. Ketika salah satu anggota keluargamu mati, mereka akan menghuni tubuh yang sudah kau persembahkan."
"Okey. Ini sangat menarik sekali. Kau tahu, Negeri Kaa seperti dunia fantasi untukku," ucap Kiarra terlihat senang seraya mengelus kepala Aaa yang berbulu halus.
"Pergilah, selamatkan Dra dan bunuh Ram!"
"Yes, Sir!" jawab Kiarra mantap lalu dengan sigap menunggangi Aaa. "Heyah!" seru Kiarra dengan tubuh sang Jenderal Kia.
Kiarra terlihat begitu siap dan bersemangat di mana tubuhnya yang mendapatkan banyak luka termasuk tusukan telah pulih sempurna. Ia bahkan merasakan kemampuannya seperti berlipat. Pikiran Kia sudah hilang sepenuhnya dan ia menjadi Kiarra sesungguhnya meski dalam raga sang Jenderal. Kiarra siap bertempur karena mengenakan pakaian perang berlapis emas dan pakaian bersisik seperti kulit naga. Kiarra tampak berkilau di saat bulan merah menampakkan sosoknya ketika ia keluar dari pintu pohon naga.
"Ayo, Aaa! Kerahkan semua kemampuanmu!"
"Akk! Akk!" lengking ayam besar itu yang sebenarnya adalah perwujudan kembali dari sang Jenderal Kia, tetapi dalam wujud ayam.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
Yey masih dapat tips dari mak sis🥳 Makasih ya💋Temen-temen yang lain mohon doanya semoga novel Kiarra bisa menang lomba. amin ❤️ Kwkwkw walaupun gak yakin juga mengingat lawannya novel author femes semua😆 Gpp lah ya ngarep dulu walaupun misalnya berakhir kandas. Hahahaha😁
__ADS_1