Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Jawaban Raja Tur*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Usai jamuan, para tamu dipersilakan untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Namun, Kun yang memilih untuk setia dengan sang Raja, mengurung dirinya di kamar seorang diri. Rat sengaja membuat kawan satu koloninya itu merasakan jika dia tersisihkan. Namun, Kun dibuat terkejut saat Kenta masuk ke kamarnya dengan membawa selimut dan bantal. Kun terbengong.


"Jangan salah paham. Kamarku sedang direnovasi. Oh, maksudku ... perbaikan. Dan ... karena semua orang sudah tidur lalu kulihat kau baru saja masuk, jadi ... bolehkah diriku yang malang ini menjadi teman sekamar khusus malam ini saja? Aku berjanji tak akan berisik. Namun, tak janji jika aku tidak mendengkur," ucap Kenta santai.


Pria rakun itu terdiam. Ia melihat ranjang di kamarnya memang ada dua. Manusia setengah binatang tersebut mengangguk pelan dan langsung membaringkan tubuh dalam posisi miring. Kenta juga menepati ucapannya dengan bergegas tidur.


Tak lama, Kenta tertidur lelap. Ternyata, pria rakun membalik tubuhnya perlahan saat ia mendengar dengkuran lirih. Diam-diam, ia mengamati Kenta entah lekat seperti memikirkan sesuatu. Lama Kun mengamati Kenta hingga ia ikut tertidur.


Saat bulan merah kembali bercahaya, pria rakun segera pergi tanpa berpamitan. Namun, Rat dan kawanannya melihat kepergian mantan teman sepasukannya itu. Kun berlari kecil meninggalkan benteng terluar kerajaan Zen memasuki hutan. Tujuannya, ia akan kembali ke Tur untuk memberikan informasi dari hasil keputusan orang-orang yang memihak Kenta.



Setibanya di Kerajaan Tur. Bukan sambutan layaknya pahlawan yang didapatkan oleh Kun. Malah, pria itu dianggap mata-mata kerajaan musuh. Dua tangan dan kaki Kun dirantai. Ia dimasukkan dalam ruang penyiksaan bawah tanah.


Tubuhnya dicambuk hingga terlihat jelas luka sabetan dari tali tambang di dadanya. Pria itu merintih kesakitan sampai tubuhnya bergetar. Putri Panglima Rat yang berada di seberang sel rakun terisak, membayangkan akan ikut disiksa sepertinya.


"Kakak ...."


"Sstt ... diam, diam. Jangan bersuara atau nanti kita juga disiksa," bisik putra Panglima Rat menenangkan sang adik dengan membungkam mulutnya rapat.


Si gadis kecil menahan isak tangisnya karena tak tega melihat rakun disiksa sangat keji.


"Erghh ... egghh," rintih Kun dengan wajah berkerut saat darah dari luka robekan di kulitnya menetes membasahi bulu-bulunya.


"Dari semua ucapan yang kau utarakan, aku hanya percaya satu hal, Kun. Pria bernama Kenta akan datang bersama empat kerajaan untuk menyerang Tur. Selebihnya, kebohongan yang kau buat agar selamat dari penyiksaanku. Kau pikir dirimu pahlawan, hem?" ucap sang Raja dengan cambukan dalam genggaman.

__ADS_1


"Hah, hah, a-aku ...."


TARRR!


"Argh!"


"AAAA!" teriak putri Panglima Rat menjerit histeris saat mendengar suara cambukan yang menyayat pendengaran.


Sang kakak dengan sigap memeluk adiknya dan menjadikan dirinya tameng. Ia tahu, jika sikap mereka bisa menimbulkan kemurkaan sang Raja yang sedang menginterogasi. Benar saja, Raja Tur membalik badan dan menatap anak lelaki itu tajam dari dalam sel rakun.


"Ayah kalian gagal. Dia tak menyayangi kalian. Sebagai hukuman karena pengkhianatannya, kalian akan menjadi pajangan indah depan benteng kerajaan untuk menyambut kedatangan para penyerang," ucap sang Raja menyeringai yang membuat mata putra Panglima Rat melebar. "Persiapkan mereka berdua! Buat Rat dan orang-orang Tur yang mengkhianatiku menyesal karena salah memihak!"


"Laksanakan, Paduka Raja!" jawab para penjaga penjara.


Beberapa dari mereka segera meninggalkan ruang bawah tanah untuk mengabarkan ke seluruh prajurit di kerajaan untuk berperang. Dua anak Panglima Rat menangis. Mereka tak menyangka jika sang ayah tega mengorbankan anak-anaknya untuk sebuah kebebasan demi dirinya sendiri.


Tepat saat bulan ungu bersinar—meskipun wilayah Tur terselimuti kabut hijau yang tebal—Raja Tur dan pasukannya telah bersiap membalas serangan yang akan datang untuk merebut kerajaannya. Tangan dua anak Panglima Tur yakni Mor dan Tar diikat dengan tali tambang. Tubuh dua anak itu digantung pada bagian luar benteng. Sebuah batu layaknya papan menempel pada dinding benteng.


Benda pipih itu digunakan sebagai penopang dua kaki kecil mereka. Sayangnya, Mor dan Tar harus berjinjit agar lengan ringkih tersebut tak merintih karena harus terus terangkat entah kapan diistirahatkan. Punggung mereka menempel pada dinding yang kotor. Wajah kumal itu makin menyedihkan karena dijemur seharian sebagai bentuk hukuman atas pengkhianatan sang ayah kepada Raja.


Akan tetapi, sampai bulan merah bersinar, tak terlihat kedatangan pasukan penyerang dari kerajaan-kerajaan musuh. Jenderal Kol dengan wujud manusia setengah macan kumbang yang awalnya ditugaskan untuk mengawasi Pyu, kini beralih tugas karena keadaan mendesak. Pria dengan gigi bertaring tersebut merasa jika serangan kerajaan lain adalah tipuan. Ia lalu mendatangi Raja yang mengamankan dirinya di ruangan khusus berpenjagaan ketat. Benar saja, wajah bengis sang Raja terpancar bahkan sebelum Kol memberikan laporan.


"Bawa Kun kemari!" titah Raja Tur marah besar.


Kol yang masih berdiri di depan meja sang Raja terlihat tegang. Dua penjaga dalam ruangan bergegas keluar untuk menjemput Kun yang masih dikurung dalam sel. Kun yang dirantai pada pergelangan kaki dan tangan, tampak menyedihkan karena tubuhnya penuh dengan luka layaknya kulit terkoyak. Kun membuka matanya perlahan saat mendengar suara pintu sel dibuka. Ia melihat dua orang prajurit mendatanginya dengan wajah garang.


KRANGG! BRUKK!!

__ADS_1


"Erghh ...," rintih Kun saat tubuhnya yang tak berdaya menghantam lantai batu.


Pengait rantai dilepaskan, tetapi belenggu di tubuh manusia rakun itu dibiarkan mengurungnya. Kun jatuh dengan keras menghantam lantai batu karena tubuhnya digantung pada dinding sel. Penderitaan pria malang itu semakin menjadi saat tubuhnya yang berdarah-darah diseret dan dibiarkan bergesekan dengan lantai kasar lorong penjara. Para penjaga di koridor sel memilih diam dengan wajah tegang terlihat miris.


Mereka membayangkan jika sosok yang diseret itu adalah dirinya. Kun ditarik paksa untuk berjalan meski berulang kali ambruk karena tak bisa menahan rasa sakit luar biasa di tubuhnya. Rantai besi yang menjuntai dan terasa berat, membuat Kun menyeret kakinya yang lemah penuh perjuangan. Suara rantai yang bergesekan dengan lantai batu membuat jantung semua pendengar berdebar kencang.


BRUKK!


"Agg," rintihnya ketika didorong oleh dua penjaga yang membawanya secara paksa tanpa belas kasih ke hadapan sang Raja.


Kun ambruk dengan posisi tengkurap. Kol melirik prajurit malang itu ketika pergelangan dua tangan dan kaki masih dibelenggu dengan rantai menjuntai sampai menyentuh lantai batu. Sang Raja menatap pria rakun itu bengis lalu mengambil gelas di atas meja.


SPLASH!


"Erghhh!" rintih Kun saat punggungnya merasakan perih akibat air berwarna hijau yang disiramkan oleh sang majikan. Semua orang berwajah tegang.


"Gantung dia di benteng! Biarkan orang-orang itu melihat utusan mereka mati secara perlahan," titah Tur yang diangguki dua penjaga yang membawa Kun.


SREKK!


"Argh! Aggg!"


Kun meraung kesakitan saat tubuh yang penuh luka kembali ditarik paksa dan membuatnya jatuh di lantai batu. Darah yang keluar dari lukanya semakin melebar dan menyapu kotoran di lantai. Para penjaga koridor memejamkan mata saat menyaksikan salah satu kawan mereka begitu menderita karena tak dikasihani oleh sang Raja. Kun terus diseret sampai ke benteng.


Dua anak Panglima Rat yang kelelahan karena haus dan lapar menyerang, membuat mereka semakin bersedih ketika melihat Kun yang telah terluka parah kini ikut digantung pada dinding luar benteng. Tiga manusia malang itu kini menjadi penyambut pasukan kerajaan lain yang berniat untuk menyerang Tur. Kol kembali di posisi di mana dirinya kini dipercaya sebagai pemimpin pasukan Tur untuk melawan musuh-musuh Raja.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (The Nerd Stash)


__ADS_2