Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Menerobos Wilayah Zen*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra yang kini membonceng Ram terlihat gugup karena ia sangat yakin jika mulai menaruh perasaan di hatinya. Namun, Kiarra tetap bersikukuh karena fisik Ram sangat mirip dengan Jasper. Kiarra yang belum mengenal Jasper lebih dalam lagi dan hanya tahu dari rumor tentang pria itu, menganggap sosok Ram sama seperti dirinya.


Aku memang memergoki Jasper bermesraan bersama gadis-gadis, tetapi aku tak tahu dengan pasti alasan kenapa ia bersama mereka dan siapa dua wanita itu, ucapnya dalam hati mulai memikirkan sosok Jasper. Eh, apa yang kukatakan, kenapa membelanya? Dia sudah tahu jika akan bertunangan denganku, lantas kenapa malah menghabiskan waktu bersama dua gadis seksii dan bukannya menjemputku di bandara? Jangan terkecoh, Ara, Jasper memang playboy tengik seperti yang dibicarakan orang-orang, batinnya kembali menggerutu. Ngomong-ngomong soal playboy tengik, kenapa aku jadi teringat akan Paman Jonathan, ya?


"Ara! Ara!"


"Ha?" kejut wanita itu saat ia baru menyadari jika sedari tadi Ram memanggilnya. Mereka memasuki sebuah hutan dengan jalanan setapak cukup lebar.


"Kau memikirkan sesuatu? Sebaiknya, kau fokus dengan apa yang ada di depan kita!" seru Ram yang membuat mata Kiarra melebar seketika.


"I-itu ...."


"Awas!" teriak Ram yang dengan sigap menarik kendali pada tali Aaa sehingga unggas itu berkelit ketika sekumpulan serangga besar akan menerjangnya.


"Sss!" teriak Kiarra ketika dalam pikirannya muncul kenangan mengenai serangga itu. Tangan Kiarra dengan sigap menarik pedang dan menggenggamnya kuat. "Heahh!"


JLEBB!!


"Brrr!" raung hewan-hewan terbang itu saat melihat lawannya mulai melakukan aksi perlawanan.


"Kau memang hebat, Jenderal! Mereka ada banyak dan pasti sudah ditempatkan untuk menghalangi jalan kita! Mereka melindungi pohon jembatan!" seru Ram yang fokus dengan laju kendali Aaa.


"Aku mengerti!" seru Kiarra yang dengan siap berdiri di punggung Aaa dan tangan kiri memegang salah satu pundak Ram kuat.


Kiarra menusuk bagian bawah serangga itu lalu membuang bangkainya jauh dengan sekali ayunan. Ram tahu jika kendali Aaa dipercayakan padanya. Pria itu mencoba agar tetap stabil agar sang Jenderal tak jatuh.


"Heahhh!" seru Kiarra dengan tangan kiri siap menggenggam belati sebagai senjata tambahannya.


Serangga-serangga berukuran sebesar buah semangka, berbentuk layaknya kumbang hitam tanduk berwarna merah menyala, tetapi memiliki warna mata kuning dan kaki-kaki berbentuk capit layaknya kepiting itu terbang mendatangi dengan dengungan yang kencang seperti lebah. Saat Kiarra bermaksud untuk menebas salah satu serangga itu, ia terkejut karena tubuh hewan seperti memiliki perisai. Pedangnya hanya mampu menggores tubuhnya, tak memotong.


"Sial! Jadi titik lemah kalian hanya bagian perut, ya? Baiklah!" teriaknya garang dengan dua tangan menggenggam kuat dua senjata tajam.


Ram berusaha menghindari serangan serangga-serangga yang ingin memotongnya dengan kaki seperti penjepit kepiting itu. Sedang Kiarra, terus melakukan gerakan menusuk meski ia kesulitan karena Aaa berlari secara zig-zag dan membuatnya hanya memiliki tumpuan di dua kaki pada punggung tanpa berpegangan lagi.


"Brrrr!"

__ADS_1


CLAK!


"Agh!" raung Kiarra ketika salah satu tangannya terkena capitan. Beruntung, tangannya tak putus karena ia langsung menariknya, tetapi luka gores membuat darahnya langsung menyembur dari robekan.


"Jenderal!" seru Ram panik karena Kiarra langsung jatuh dari punggung Aaa dan bergulung-gulung di tanah.


Napas wanita cantik itu tersengal. Kilasan kenangan sang Jenderal ketika menghadapi makhluk-makhluk itu membuat dirinya sedikit takut karena nyaris tewas. Kala itu, Dra menolongnya dengan sihir yang mengeluarkan api sehingga para serangga terbakar. Dra yang tak ada di sampingnya, membuat Kiarra panik, tetapi otaknya langsung bekerja mencari solusi.


"Aku tahu!" teriaknya yang dengan sigap berdiri karena melihat lukanya seperti mulai menutup berkat jilatan Ooo kala itu. Seringai sang Jenderal terpancar. Kiarra dikejar oleh segerombolan serangga, siap untuk melukainya lagi. "Harghh!" teriak Kiarra lantang ketika ia menebas dahan-dahan pohon saat memasuk ke dalam hutan rimbun.



Kiarra mengikuti arah aliran sungai kecil dengan air menggenang. Para serangga yang tak siap menabrak daun-daun rimbun dari dahan tersebut sehingga pergerakan terbang mereka menjadi tak beraturan. Kiarra hanya berputar-putar di wilayah tersebut sehingga para serangga menjadi berkumpul di satu tempat layaknya lebah yang akan menyengat lawan.


"Heahh!"


KRASS!! KRAKK ... BRUGG!!


"Brrr! Brrr!"


"Jenderal!" panggil Ram yang kembali setelah ia juga berhasil menghalau Sss saat mengejarnya tadi.


Kiarra dengan sigap berlari ke arah Ram karena ia tahu jika para serangga itu belum mati. Ia hanya melumpuhkan mereka sementara waktu karena terjebak dalam timbunan dedaunan dan dahan pohon. Ram mengulurkan tangan dan Kiarra dengan sigap menyambut lalu naik ke punggung Aaa.


"Heahhh!" teriak Ram lantang yang kembali memacu ayam besar.



Langit sepenuhnya telah berubah merah. Jantung Kiarra berdebar saat mendongak ke atas karena ia merasa seperti bagaikan di neraka. Gambaran dalam buku yang pernah dibacanya sewaktu kecil mengenai tempat penyiksaan abadi itu membuatnya pucat seketika. Ia membayangkan dirinya berada di sana dan sedang disiksa.


"Aku belum siap mati, aku belum siap mati," ujarnya dengan mata terpejam erat dan tubuh gemetaran. Dua tangannya menggenggam senjata tajam di samping paha.


Ram menoleh. Ia mendengar yang dikatakan oleh sang Jenderal. Ia bisa melihat raut wajah wanita itu yang tampak ketakutan akan sesuatu di mana hal tersebut tak pernah diduga sebelumnya. Jalanan mulai tak bersahabat karena banyak batuan terjal. Kiarra kembali fokus dengan tujuannya dan berpegangan erat pada Ram usai menyarungkan senjata. Jalanan berliku dan menanjak, membuat Kiarra bingung karena ia seperti menjauh dari wilayah pepohonan ke tempat tandus.


"Ram, kenapa kita—"


"Ssstt ... aku tahu jalan lain menuju istana. Jangan berisik karena ada hewan penjaga yang konon katanya bisa berkamuflase dengan sekitar. Ia terjaga ketika bulan merah bercahaya. Jika ia menganggap kita penjahat, mau tidak mau, kita harus melawannya agar bisa mendekati pohon jembatan. Namun, jika ia merasa kita bukan ancaman, sebuah keberuntungan karena bisa mendekati pohon ajaib itu seperti harapanmu," ujar Ram sesekali menoleh karena Kiarra duduk di belakang.

__ADS_1


"Aku mengerti," jawab Kiarra mantap dengan anggukan.


Tempat yang tadinya terselimuti oleh suasana merah mencekam, tiba-tiba menjadi seperti senja karena adanya kabut yang menyelimuti kawasan itu. Kiarra tersentak, ketika ia terkena cahaya silau yang membuatnya menoleh ke asal sinar tersebut. Seketika, wanita cantik itu terperangah. Ia tak pernah melihat hal begitu menakjubkan di mana tampak bangunan-bangunan indah berlapis emas berada di antara gunung-gunung batu yang membentengi.



"E-emas?" kejut Kiarra sampai melotot karena mendapati bangunan-bangunan yang tampak gagah seperti terbuat dari emas.


"Ara! Di sana!" seru Ram yang membuat kepala Kiarra menoleh mengikuti telunjuknya.


Terlihat sebuah pohon jembatan berada di sisi lain dari bangunan berkilau itu. Senyumnya terkembang dan tak sabar untuk segera mengambil bagian dari pohon jembatan. Saat Aaa melaju mendekati arah pohon jembatan yang daunnya bersinar biru terang di tengah kilauan emas, tiba-tiba ....


KRAKKK!!


"Oh!" kejut Kiarra dan Ram saat merasakan tanah bergetar layaknya gempa bumi.


Aaa tiba-tiba saja duduk yang membuat dua orang itu terkejut. Unggas besar tersebut memasukkan kepalanya ke dalam tanah seperti takut dan bersembunyi dari sesuatu.


"Apa yang terjadi?" tanya Kiarra yang membuat dirinya dengan sigap turun dari Aaa lalu berdiri melihat sekitar.


Ram bersiap dengan busur panah yang ia rampas dari prajurit Ark kala itu meski jumlah anak panah tak banyak. Ia terlihat sigap untuk melesatkan benda tersebut jika muncul makhluk buas yang ingin menggagalkan misi mereka.


Benar saja, "Hoo!"



"Oh my God!" pekik Kiarra saat muncul sosok monster hewan seperti rusa raksasa dari balik dinding gunung batu menunjukkan kehebatan tanduk-tanduk besarnya.


"Hoo! Mereka iblis pelindung pohon jembatan!" teriak Ram yang membuat Kiarra mematung saat makhluk besar itu mulai menampakkan sosok besarnya dan menoleh ke arah mereka. "Lari!" teriak Ram yang membuat Kiarra langsung berlari karena mata hewan itu telah membidik.


"Hoo!" raung monster besar tak berkaki dan tubuhnya seperti menyatu dengan bukit batu di wilayah tersebut


***


Jangan lupa vote vocernya keburu angus ya LAP. Lele padamu dan selamat menjalankan ibadah puasa❤️


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2