
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di sisi lain. Pasukan bantuan dari Kapten Rhi berhasil tiba di benteng yang dikuasai oleh Jenderal Gor. Ia membawa banyak muatan yang ditarik oleh makhluk Ggg. Beberapa prajurit Tur ditempatkan di sekitar kumpulan orang-orang Vom yang disandera oleh mereka. Nantinya, Laksamana Noh dan lainnya akan dijadikan barang pertukaran atas keinginan Raja Tur.
Namun, tanpa sepengetahuan orang-orang Tur, Laksamana Noh dan pasukannya telah sembuh. Mereka mendapatkan pengobatan mujarab dari para penyihir melalui bantuan si manusia tikus tanah kala itu. Botol-botol berisi obat dan sihir, membuat orang-orang Vom yang disekap pulih dengan cepat. Di kejauhan, Aim mengamati pergerakan pasukan Tur yang berada di benteng seperti sedang membicarakan sesuatu.
"Sial, kita tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Bisa jadi, ini hal yang gawat," ucap Aim berbisik.
"Tenang saja. Kita akan tahu sebentar lagi," jawab sang Laksamana yang masih membaringkan tubuh dan berpura-pura sekarat. Padahal, lukanya sudah kering dan ia merasakan tenaganya telah pulih.
Aim dan pasukan burung Eee yang masih duduk di dalam kurungan batu melingkar dibuat penasaran. Laksamana kembali memejamkan mata seperti orang bersantai menikmati liburan meski harus kehilangan salah satu kakinya. Di tempat Jenderal Gor dan Kapten Rhi, diam-diam, Cok si manusia tikus tanah menguping pembicaraan mereka. Ia menggali cukup jauh sampai ke tempat dekat reruntuhan yang tak diketahui oleh pasukan Tur. Ia sengaja memilih tempat yang tertutup agar keberadaannya tak diketahui.
"Bagus. Kita bergerak saat bulan ungu bersinar," ucap sang Kapten yang sudah menyiapkan segala keperluan untuk bertempur dengan membawa muatan dalam peti-peti berukuran besar entah berisi apa.
Cok segera memasuki terowongan yang telah digalinya untuk menyampaikan kabar penting itu. Ia kembali muncul di balik pakaian tempur yang sengaja ditutup agar lubangnya tak diketahui musuh. Laksamana Noh melirik saat melihat wajah Cok muncul di balik lempengan besi tersebut. Pria berambut panjang itu memiringkan tubuhnya dan menatap Cok tajam.
"Mereka akan bergerak saat bulan ungu bersinar. Kapten Rhi dan Jenderal Gor akan menyerang Vom dalam kekuatan besar," bisiknya.
Laksamana Noh mengangguk paham. Ia lalu memberikan sebuah robekan kain yang digulung kepada Cok. Pria tikus tanah itu menerimanya lalu diselipkan dalam lapisan pakaian.
"Berikan kepada para penduduk desa," pintanya. Cok mengangguk paham dan segera pergi.
__ADS_1
Pria tikus tanah tersebut menggali cukup jauh dengan tiga jalur. Pertama, jalur antara desa Lon yang sudah habis terbakar menuju hutan tempat warga melindungi diri. Jalur kedua dari hutan ke tempat Laksamana dan kelompoknya berada. Lalu jalur ketiga, terowongan yang menghubungkan tempat orang-orang Vom dengan benteng terluar tempat pasukan Tur berjaga.
Lon yang memilih untuk tetap berada di desanya ikut diberikan kabar dari Cok. Anak lelaki itu mengangguk paham, lalu bergegas masuk ke desa. Ia pergi ke tempat di mana dulu terdapat sebuah gua untuk melindungi diri dari gempuran pasukan musuh. Lon menyiapkan banyak hal di tempat tersebut tanpa sepengetahuan sekutunya.
Di tempat Kenta berada. Tepi kolam hutan kabut putih yang terhubung ke kolam naga.
Kenta dan para pengungsi dari Tur duduk melingkar di tepi kolam tampak membicarakan hal serius. Dalam kumpulan itu, Kol dipercaya sebagai pemimpin dari orang-orang Tur untuk memberikan keputusan. Para Nym ikut mendengarkan karena bagaimanapun, mereka jadi ikut terlibat karena hal ini.
"Usulanmu sangat menarik, Ken-ta. Aku selaku mantan prajurit, menerima idemu dengan penuh percaya diri. Hanya saja, orang-orang yang berlindung di sini hanyalah sipil. Jangan berharap banyak dari mereka," ucap Kol.
"Kami akan membantu," ucap seorang peri dengan tubuh berukuran kecil.
Mata Kenta dan lainnya menatap sosok peri berkulit pucat dengan sayap bersinar biru layaknya telur Kiarra. Kenta mengubah arah posisi tubuh karena makhluk berjenis perempuan itu memalingkan wajah darinya.
"Kami sudah memutuskan. Tak bisa ditarik lagi," ucapnya masih tak mau memandang lawan bicara.
Pria berambut panjang itu lalu menoleh ke arah para Nym yang mengelilingi kumpulan manusia-manusia. Mereka menatap Kenta saksama seperti tak membantah ucapan peri yang memiliki banyak sulur dibagian bawah tubuhnya. Mata Kenta kembali pada sosok peri berukuran sebesar seekor kelinci dewasa. Kenta berasumsi, jika peri yang terlihat cuek itu adalah pemimpin para peri di Hutan Kabut Putih. Ia tak menyangka, jika para peri juga memiliki seorang Ratu dan ia senang karena didukung.
"Baiklah, jika demikian. Kita akan segera membuatnya. Aku khawatir, jika teman-teman kita sedang dalam kesulitan dan mereka terdesak," ucap Kenta dengan helaan napas panjang.
__ADS_1
"Mudah," ucap peri berkepala gundul itu lalu mengepakkan sayap dan terbang.
Kenta menatap sosok tersebut saksama yang ternyata tak memiliki kaki. Jari-jari tangannya bahkan berupa sulur dalam jumlah banyak. Peri itu melayang di atas batu di tengah-tengah kolam lalu menggerakkan jarinya yang seperti akar karena memiliki banyak cabang. Seketika, para peri pohon bergerak. Kenta sampai berdiri saat melihat kumpulan peri-peri itu melakukan sesuatu hingga tanah bergetar.
"Cepat menyingkir!" titah Kol saat melihat seorang peri pohon membuat sebuah benda berukuran besar dan hampir mengenai anak-anak setengah binatang tersebut.
Mor mengajak kawan-kawannya untuk menjauh, termasuk para orang dewasa. Mereka terlihat takjub saat menyaksikan kemampuan peri-peri dalam hutan kabut putih yang mampu membuat sebuah benda dengan mudah. Senyum Kenta terkembang. Ia yang mengira akan menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu untuk membuat satu buah saja, bisa dilakukan oleh para Nym dalam hitungan menit. Kenta berdiri tegak saat melihat para Nym bahu-membahu membuat benda seperti yang ia tunjukkan kepada pengungsi Tur di atas goresan tanah.
"Luar biasa. Kalian lebih hebat dari pada robot-robot ciptaan Rex Industries," ucap Kenta teringat akan kawan masa kecilnya yang tumbuh menjadi pria sukses karena berhasil membuat inovasi-inovasi hebat pada zamannya.
"Selesai. Apakah seperti ini yang kau mau, Ken-ta?" tanya seorang peri saat menunjukkan hasil kerjanya bersama para Nym lain di tanah lapang itu.
"Indah sekali. Ya, ini lebih keren dari yang kuharapkan. Kalian sungguh mengagumkan," ucap Kenta senang.
"Kurasa ini belum sempurna. Kalian harus menambah beberapa hal," ucap seorang peri kupu-kupu yang terbang di sekitar benda ciptaan para peri pohon.
"Hem, itu mudah. Terima kasih. Sisanya, serahkan pada kami," ucap Kol seraya berjalan maju.
"Baiklah. Kami akan buatkan lebih banyak untuk kalian. Sebagai janji, kalian harus memenangkan pertempuran," tegas peri berkaki sulur menegaskan.
"Yes, Mam!" jawab Kenta mantap, tetapi membuat para pendengarnya berkerut kening karena tak memahami ucapan pria tersebut.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (DeviantArt)