
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra panik saat melihat Ram seperti akan melakukan hal buruk kepada salah satu dayangnya, Ron. Sang Jenderal semakin gencar melakukan serangan pada Ram dengan sisa tenaga dan anggota bagian tubuh yang bisa menjangkau badan penyihir itu.
Akan tetapi, "Mati kau."
"Ron!" teriak Eur saat melihat senjata-senjata tajam yang tergeletak di sekitar halaman istana melayang dengan ujung terarah pada lelaki bertubuh besar itu.
Mata Ron terbelalak melihat senjata-senjata tersebut melesat cepat, siap menusuk tiap bagian tubuhnya.
"Hargh! Demi Jenderal Kia!" teriaknya lantang seraya menggenggam pedang kristal dengan dua tangan.
Mata semua orang melebar saat Ron terus berlari seraya menangkis semua benda-benda tajam yang ingin membunuhnya. Suara gesekan begitu nyaring terdengar saat bilah pedang kristal Kiarra berhasil menebas senjata-senjata itu dan membelahnya. Kiarra yang melihat Ron berjuang untuk menyelamatkannya, tak ingin usaha sang dayang sia-sia. Kiarra melirik ke arah naga ungu kecil. Makhluk itu seperti tahu isi pikiran Kiarra, dan seketika ....
WHOOM!
"Aghhh!" rintih Ram saat naga kecil menyemburkan api biru ke kepala Ram.
Meski Kiarra tercekik, tetapi ternyata ia mampu bertahan karena memiliki kemampuan lebih dalam dirinya. Kiarra mengamati serangan naga kecil, di mana api yang disemburkan ternyata bisa melukai Ram. Kiarra akhirnya melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Ram lalu meraih janggut panjang lelaki itu.
KRETT!
"Arghhh!" raung Ram saat Kiarra menarik janggut lelaki itu kuat dengan satu tangan.
Otot-otot di tubuh Kiarra menegang dan membuat cekikan Ram melemah. Kiarra menarik napas panjang dan masih memegang pergelangan tangan Ram dengan satu tangannya, mencoba untuk disingkirkan. Kiarra fokus pada pikirannya dan menatap wajah Ram yang sedang mengerang kesakitan. Seketika, matanya menyala biru, menunjukkan jika sihir siap digunakan.
"Terbakarlah!"
WHOOM!
"Yeah! Bagus, Jenderal!" seru Ben dari kejauhan.
Janggut Ram terbakar api biru karena tangan Kiarra bisa mengeluarkan api. Celana Ram ikut berkobar dalam api biru karena semburan dari naga kecil. Ron melihat kesempatan usai berhasil menjatuhkan semua senjata yang ingin merenggut nyawanya.
"Jenderal Kia!" teriak Ron sembari melemparkan pedang kristal ke arah sang Jenderal yang berhasil lepas dari cengkraman Ram karena pria tersebut berusaha memadamkan api di tubuhnya dengan dua tangan.
Kiarra yang jatuh dalam posisi berjongkok, bergegas melompat untuk menangkap lemparan pedang Ron. Saat Kiarra berhasil melakukannya, JLEB!!
"Ron!" teriak Kiarra lantang ketika mendapati sebuah ujung tombak berhasil menembus dada dayang bertubuh kekar tersebut. Ron berdiri dengan kaku yang pada akhirnya jatuh berlutut. Semua orang terpaku dalam kesedihan karena tahu jika lelaki berkulit gelap itu tak bisa diselamatkan lagi. "Ron!"
BRUKK!!
"Ron!" teriak dayang-dayang lainnya yang kemudian berlari penuh kesedihan dan kecewa karena gagal melindungi kawan mereka.
"Serang!" teriak Panglima Goo yang disusul teriakan dari pasukan Vom, siap menyerang Ram untuk kesekian kali.
__ADS_1
Ron tewas dengan mata terbuka saat Ram menendang sebuah tombak yang tergeletak di lantai batu. Ia melihat Ron sudah tak bersenjata pedang kristal lagi dan memanfaatkan celah itu untuk membunuhnya. Seperti yang Ram harapkan, usahanya berhasil.
"Hahaha! Kalian tidak akan bisa membunuhku!" teriaknya usai berhasil memadamkan api di tubuh dan menyingkirkan naga kecil dengan menghempaskannya hingga makhluk tersebut terlontar jauh.
Kiarra yang sangat jeli dalam melihat peluang sekecil apa pun, bergegas melakukan tindakan saat tubuh Ram kembali membesar, di mana ia yakin, jika kemampuan sihir lelaki itu belum sempurna.
"Hargh!"
WHOOM!
"Jenderal! Apa yang kau lakukan? Kenapa melindunginya?" tanya Pop menghentikan laju lari karena Kiarra membuat pagar api biru yang berkobar di hadapan mereka.
"Ram lemah terhadap api! Persenjatai senjata kalian dengan api biru untuk melumpuhkannya!" seru Kiarra.
"Cerdik! Kami mengerti!" seru Goo lantang. "Semuanya! Lapisi senjata dengan api biru. Cepat!"
"Baik, Panglima!" jawab para prajurit Vom dengan sigap.
Kiarra maju terlebih dahulu untuk memberikan waktu bagi para penolongnya untuk mempersiapkan diri. Kiarra yang kembali pulih dan merasa kemampuannya semakin berlipat usai terluka, membuatnya yakin bisa mengalahkan Ram karena manusia itu masih memiliki kelemahan meski mengatakan abadi.
"Akulah Dewi Kematianmu, Ram! Harghh!" teriak Kiarra lantang dengan pedang kristal biru di tangan kanan siap menebas dan tangan kiri mengepal kuat.
"Kali ini, akan kuserap sihirmu!" teriak Ram yang berubah menjadi raksasa dan bertubuh ungu.
Ram membungkukkan tubuhnya, siap menangkap Kiarra. Wanita cantik itu tak gentar ketika Ram mengepalkan tangan dan sengaja memukul permukaan sehingga tanah bergetar hebat. Pasukan Vom jatuh dan beberapa bangunan mulai runtuh karena kekuatan besar tersebut.
"Heahhh!"
Ram yang terkejut langsung memejamkan mata. Ia panik, tetapi tubuh besarnya membuat bangunan di sekitar terkena dampak. Bangunan runtuh dan puingnya menjatuhi penduduk. Warga panik dan berusaha menyelamatkan diri. Kiarra yang berhasil mendarat meski tanah berguncang karena Ram melangkah dengan asal, membuatnya kesulitan berdiri dengan benar.
"Evakuasi penduduk! Pindahkan mereka ke tempat aman!" seru Kiarra menunjuk dayang-dayangnya.
"Baik!"
"Cepat! Cepat! Pergi dari sini!" seru Fuu.
"Percaya pada Jenderal! Dia tak pernah gagal dalam bertugas!" sahut Eur dan diangguki orang-orang yang percaya hal tersebut.
Kiarra yang tak mau kehilangan kesempatan, mencoba untuk melukai Ram dengan pedang kristalnya. Meskipun tubuh Ram membesar, tetapi pakaian yang dikenakan ikut menyesuaikan dengan ukuran badannya. Kiarra semakin yakin, jika hal tersebut karena dampak sihir dalam dirinya.
"Heahhh!"
SRETT!
"Harghh!" raung Ram saat kakinya tersayat sewaktu Kiarra melompat.
__ADS_1
Kiarra terus melakukan serangan. Ia memanfaatkan badannya yang lebih kecil dari Ram dengan melukai bagian tubuh yang bisa dijangkaunya. Saat Kiarra melihat Ram mulai linglung dan berniat untuk menghabisinya, tiba-tiba ....
"Agh!" rintih Kiarra ketika Ram tiba-tiba menendang tubuhnya hingga terlempar jauh.
Ram berpura-pura terluka parah dan mudah diserang. Ram yang licik, tertawa puas karena berhasil membuat musuh utamanya kini tertimbun puing bangunan karena bangunan yang dihantam olehnya runtuh.
"Jenderal!" panggil Ben panik karena Jenderal mereka terhimpit sehingga tak bisa keluar dari reruntuhan.
"Hahaha! Akan kuserap semua sihirmu, Jenderal Kia!" ucap Ram lantang dengan tangan terjulur, siap menangkap tubuhnya.
Namun, tiba-tiba ....
KRAKK! BRUGG!
"Mikkk!"
"Oh!" kejut Kiarra saat muncul Mkk dari dalam tanah dan menjebol lantai batu pekarangan istana.
Tanah berguncang hebat bak gempa bumi. Semua orang jatuh dari pijakan. Mata mereka melotot saat melihat tentakel bermata besar dengan ujung bergigi tajam, muncul dari dalam tanah. Tentakel layaknya gurita raksasa itu terjulur ke atas dan bergerak dengan cepat, serta berjumlah sangat banyak.
"Mikkk!"
"Argh!"
"Hah!" kejut Kiarra dengan mata terbelalak lebar saat melihat tentakel layaknya tangan itu melilit tubuh Ram seperti menjeratnya. Ram meraung karena tangan, kaki, leher dan perutnya terlilit kuat. "Mkk dipihak kita! Habisi Ram!" teriak Kiarra lantang dengan tubuh terlentang dan terjepit karena semua orang terpaku akan sosok yang dikenal pemakan manusia itu.
"Jangan diam saja! Serang!" titah Panglima Wen yang dengan sigap berdiri dan membidik tubuh Ram dengan busur panahnya.
Seketika, SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB!
WHOOM!
"HARGHH!" Ram merintih kesakitan saat tubuhnya tertancap ratusan anak panah dengan api biru pada bagian ujung.
Api biru berkobar dengan cepat melahap tubuh Ram. Kiarra menatap Mkk yang ternyata tak terkena dampak dari api biru tersebut. Saat Kiarra berusaha untuk membebaskan diri dari tumpukan puing, naga kecil kembali. Senyum wanita itu merekah karena naga kecil baik-baik saja.
"Kaa ... Kaa!"
Seketika, lilitan Mkk terlepas karena tubuh Ram kembali menyusut dan menjadi seperti manusia normal. Mkk tiba-tiba menghilang dengan tentakel masuk kembali ke dalam tanah dan meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan. Para dayang Kiarra berlari menyingkirkan puing usai mengevakuasi warga. Kiarra kembali berdiri dengan napas tersengal dan pedang kristal masih dalam genggaman.
"Jenderal," panggil Pop terlihat siap untuk bertarung.
"Kalian! Terus serang Ram. Aku akan menuntaskan tugas dari naga!"
"Baik!" jawab para dayang mantap dan kembali mempersenjatai senjata mereka dengan api biru.
__ADS_1
***
Trims sudah sabar menunggu. Lele padamuđź’‹