Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Menyegel Xii*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Dra, Rak dan Boh terlihat bersiap untuk menyegel roh salah satu penjaga pohon jembatan yang terbebas. Xii mengamuk dan menganggap para manusia itu sebagai ancaman karena telah menebang pohon jembatan. Bagi para roh penjaga, pohon jembatan adalah rumah dan harus dilindungi. Namun, akibat keegoisan Ark kala itu dan berhasil menghasut para raja di Negeri Kaa, pohon jembatan hilang satu per satu.


"Heerrghh!" raung Xii yang kini mengincar Dra karena bisa merasakan sihir dalam dirinya.


"Bersiap!" seru Dra tak terlihat takut.


"Bersama-sama!" ucap Rak lantang yang sudah berada di posisi, begitu pula dengan Boh.


Tiga penyihir itu membentuk formasi segitiga untuk memerangkap Xii yang kemudian rohnya akan ditarik ke batu kristal biru lalu disegel di sana. Panglima Goo menggenggam pedang Kiarra mantap berikut para pasukan gabungan lainnya yang berada di sekitar, siap untuk melakukan serangan.


"Hergghhh!"


"Beyoga! Zekeke! Eee ... teroka Xii!" seru Dra, Boh dan Rak serempak dengan dua tangan direntangkan.


Seketika, cahaya ungu yang membentuk seperti garis keluar dari telapak tangan Dra dan terhubung ke Rak. Penyihir dari Yak itu mengeluarkan sinar putih yang menyambut sinar ungu dari Dra dan Boh dengan warna hijau. Mata tiga penyihir itu menyala terang, berusaha keras membuat benteng untuk mengurung Xii agar tak kabur dari kurungan cahaya. Xii memberontak saat tahu dirinya akan disegel. Ia berusaha keluar dari dinding cahaya yang memperangkapnya. Namun, Panglima Goo yang sudah siap dengan pedang kristal Kiarra, menggunakan senjata itu untuk menyudutkan Xii agar tak keluar dinding.


"Heahhh!"


"Goaarrr!" raung makhluk itu saat ujung pedang Kiarra menusuk tubuhnya yang berbentuk gumpalan asap hitam.


Para pasukan Vom yang tergabung dari kerajaan lain, Laksamana Noh dan Yoh tersenyum melihat monster iblis itu tak bisa kabur dari dinding segel. Sayangnya, banyak dari prajurit yang terluka parah karena serangan Xii sehingga tak bisa lagi membantu.


"Ben! Tahan batu kristalnya!" teriak Dra lantang dengan tangan mulai bergerak ke atas bersamaan dengan dua penyihir kebanggaan kerajaan masing-masing.


Ben, Fuu, Eur dan Pop memegangi batu kristal besar itu dengan kuat mengelilinginya. Mata mereka terfokus saat tubuh raksasa Xii telah terperangkap dan tak bisa lolos.


"Regalo! Regalo! Xii! Heahhh!" teriak Dra, Rak dan Boh bersamaan saat dinding segel berbentuk segitiga menutup sampai ke atas lalu bergerak melayang.


Tangan tiga penyihir itu mengarah ke batu kristal biru. Sontak, sosok besar Xii membuat para dayang Kiarra melebarkan mata. Mereka takut, tetapi percaya jika akan baik-baik saja karena Xii tak bisa keluar dari dinding segitiga bercahaya.


"Heahhhh!" teriak tiga penyihir itu ketika mereka menjulurkan kedua tangan ke depan, terfokus pada batu kristal biru yang dipegangi kuat oleh para dayang.


"Goarrr! Heerrghh!" raung Xii saat ujung dari segitiga bagian atas itu mulai terhisap oleh dinding kristal biru Kiarra.


Para dayang memegangi kristal biru dengan kuat karena bisa merasakan jika Xii memberontak. Sedangkan Panglima Goo, terus menusuk gumpalan asap hitam dari samping dinding cahaya di mana pedang kristal Kiarra ternyata mampu menembus tanpa merusaknya.


"Hargh! Hagg!" teriak Goo mendesak monster iblis karena tahu jika ular raksasa itu kesakitan ketika terkena tusukan pedang Kiarra.


"Errghh!" raung Dra dan lainnya hingga tangan mereka bergetar saat berusaha menahan monster iblis Xii agar masuk ke dalam batu kristal biru.


Perlahan, mata Lon terbuka. Ia melihat cahaya menyilaukan tak jauh dari tempatnya berada. Hingga ia menyadari jika Panglima Wen memegangi meski matanya terfokus pada orang-orang yang berusaha menyegel Xii.


"A-aku sudah tidak kuat ...," rintih Rak dengan satu kaki mulai tertekuk seperti akan roboh.


"Bertahan, Rak! Jika sampai gagal, akan sangat sulit untuk menyegelnya lagi!" teriak Boh dengan keringat bercucuran membasahi bulu-bulu halusnya.

__ADS_1


"Erghh, hah ... hah!"


"Lon!" teriak Wen terkejut saat merasakan bocah lelaki yang dipangkunya seperti akan berdiri.


"Mereka ... hah, mereka membutuhkanku, Panglima. Kita tak boleh kalah," ujar Lon dengan tubuh bergetar dan lutut tertekuk menahan tubuhnya yang lunglai.


"Berdiri saja tak bisa, jangan berlagak menjadi jagoan!" pekik Wen melotot.


"Kalau begitu bantu aku!" teriak Lon dengan mata kuning menyala terang dan kedua tangannya kembali menjadi batu.


"Dasar keras kepala! Awas saja jika gagal. Akan kujatuhkan kau dari atas langit!" pekik Wen kesal lalu membopong Lon menuju ke tempat para penyihir berjuang.


Lon tersenyum dan terlihat seperti fokus untuk mengumpulkan energinya.


"Bertahan, Rak! Dia hampir tersegel sempurna!" seru Goo berusaha melukai Xii, tetapi monster itu mampu berkelit.


"Aku ... aku, agh!"


BRUKK!


"Rak!"


"Goarrr!"


Praktis, mata semua orang melebar saat dinding yang dibuat oleh Rak lenyap dan membuat Xii melihat adanya jalan keluar. Saat monster iblis itu berusaha menarik sebagian tubuhnya yang telah masuk ke dalam kristal, tiba-tiba ....


Rak sampai melebarkan mata karena dinding buatan Lon terlihat begitu kokoh layaknya kaca berlapis emas yang menyilaukan. Lon menutup dinding yang lenyap tadi dengan dinding buatannya. Panglima Wen menahan tubuh Lon karena kaki bocah lelaki itu sakit. Laksamana Noh dan Yoh yang melihat Wen sampai gemetaran, bergegas membantunya dengan ikut memegangi tubuh Lon yang diangkat ke atas agar setinggi orang dewasa.


"Kalian jangan diam saja! Lakukan seperti yang Wen dan para Laksamana kerjakan! Dasar bodoh!" teriak Goo marah karena pasukannya malah terbengong.


"Baik!" jawab para pasukan gabungan itu lalu melemparkan senjata ke sembarang tempat.


Napas Dra tersengal yang duduk lemas di atas lantai batu. Para pasukan Vom memegangi tubuh Boh dan Dra karena dua wanita cantik itu hampir roboh akibat menahan beban berat untuk menyegel Xii.


"Goarrr!"


"Haaaa!" teriak Lon lantang seraya menggerakkan tangannya sehingga membuat Dra dan Boh tertegun karena anak lelaki itu seperti mengomandoi. "Cepat masuk! Dasar monster jelek!"


Dra tersenyum tipis melihat Lon berusaha menekan asap Xii yang terkurung dalam dinding cahaya untuk segera masuk ke kristal biru Kiarra. Siapa sangka, usaha anak lelaki itu berhasil. Kristal biru itu kini dipegangi beramai-ramai oleh para dayang dan pasukan Vom.


"Heahhh!" teriak Dra, Boh dan Lon lantang saat bagian terakhir dari Xii akhirnya terhisap oleh kristal biru.


BUZZ!


"Hah ... hah ... hah, hahahaha ... hahahaha! Berhasil! Kita berhasil!" seru Lon yang akhirnya ambruk dengan tubuh terkulai lemas.


Wen dan dua Laksamana yang memegangi ikut letih karena Lon ternyata sangat berat seperti menggendong kuda. Orang-orang itu tergeletak di lantai dengan napas tersengal, tetapi mereka gembira.

__ADS_1


"Yeah! Yeah!" seru Eur gembira karena akhirnya Xii tersegel.


Warna kristal biru Kiarra berubah dengan adanya corak kekuningan seperti roh Xii. Dra yang masih lemas dibantu berdiri oleh pasukan Vom karena ingin menyampaikan sesuatu.


"Kristal biru itu ... sebaiknya kita bawa ke kolam naga. Hanya tempat itu yang paling aman dari segala serangan," ucap Dra menatap orang-orang.


"Hem!" jawab Panglima Goo dan lainnya dengan anggukan mantap.


Laksamana Noh menatap rivalnya tajam saat keduanya duduk lemas di lantai batu.


"Aku ditinggalkan Raja Tur. Tak mungkin aku berenang sampai ke sana. Jadi, kuputuskan untuk membantu," ucapnya seraya mengibaskan tangan karena pegal.


"Hehehe," kekeh Noh lalu menepuk pundak pria dengan tubuh setengah hewan itu.


Kapten Mun yang akhirnya berhasil mengevakuasi warga karena para dayang Kiarra cemas dengan kondisi peperangan di halaman istana lalu memilih bergabung, mendekati orang-orang yang tampak letih tersebut.


"Aku akan amankan kristal biru berisi Xii sampai kita siap berangkat," ujar Kapten Mun seraya mengambil pedang kristal Kiarra dari genggaman Goo.


"Pastikan kristal itu tak pecah, Kapten," tegas Boh terlihat begitu letih.


"Percayakan padaku," ucapnya mantap lalu meminta kepada anak buahnya yang telah kembali dari pemukiman untuk mengangkatnya menggunakan gerobak.


Benda dari kayu beroda itu dilapisi banyak kain untuk menyelimuti kristal biru penyegel. Dra dan lainnya mengikuti para prajurit yang mengamankan kristal tersebut sampai ke dalam istana. Sayangnya, orang-orang yang tahu jika Kiarra berhasil dibawa pergi oleh Raja Tur kembali sedih. Lon meneteskan air mata teringat akan kenangannya dengan Kiarra.


"Tenang saja, Lon. Kudengar, jika telur yang melindungi Jenderal tak akan terbuka sampai bintang biru muncul. Itu berarti, kita masih memiliki banyak waktu untuk menyusun rencana dan kekuatan demi membebaskan Ratu," ucap Eur seraya menepuk pundak anak lelaki itu.


"Em," jawab Lon berusaha tegar meski wajahnya basah air mata.


"Kau anak yang kuat dan pintar, Lon. Kita harus segera pulih. Aku punya ide, bagaimana jika kita minta diajari oleh para Panglima dan Laksamana tentang cara bertarung. Kita harus bisa melindungi diri dan orang-orang yang disayangi agar tak terluka karena orang-orang jahat. Bagaimana?" ajak Pop.


"Aku setuju!" jawab Lon semangat.


Para dayang Kiarra tersenyum lebar. Ternyata, dua Laksamana dan dua Panglima yang masih berada di tempat itu mendengar pembicaraan tersebut, tetapi memilih untuk pura-pura tak tahu.


"Enak saja meminta kita mengajari mereka," gerutu Laksamana Yoh dengan jalan pincang karena luka dari pertarungan sebelumnya belum pulih.


"Ilmu kita tak ternilai. Sembarangan meminta, tidak tahu diri," sahut Noh ikut jalan tertatih karena merasa pergelangan kakinya mengalami keseleo.


Sedang dua Panglima yang berjalan di belakang senior mereka hanya menahan senyum. Sebenarnya mereka juga keberatan, tetapi mengingat jika para dayang dan Lon memang butuh didikan, mereka siap melatih orang-orang amatiran itu.


"Pekerjaan kita semakin banyak. Sial," gerutu Wen dan dijawab dengan kekehan oleh Goo.


Selama para prajurit gabungan menyembuhkan diri akibat serangan Xii, para dayang Kiarra berlatih keras agar bisa bertarung. Pedang Kiarra berikut batu kristal berisi Xii disandingkan di kuil tempat Dra tinggal karena dianggap paling aman. Dra melindungi tempat tinggalnya dengan dinding sihir ciptaannya selama dua benda itu berada di sana. Rak, Boh dan Lon kini tinggal di tempat tersebut. Setiap harinya, mereka berusaha untuk meningkatkan kemampuan demi mengalahkan Raja Tur sampai waktunya tiba untuk membalas serangan.



***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2