
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Kiarra yang sudah membulatkan tekad, segera mencari cara untuk keluar ruangan. Sayangnya, tempat itu tertutup rapat. Kiarra melihat sekitar untuk mencari sesuatu agar bisa pergi dari ruangan itu. Hingga ia menyadari jika tabung miliknya memiliki sistem keamanan karena terdapat peledak di dalamnya.
Kiarra bersusah payah menggeser benda tersebut sampai ke pintu. Wanita tersebut mengaktifkan peledak dari dalam tabung dengan menekan panel. Kiarra bergegas mundur ke belakang dengan jalan tergopoh di mana dirinya yakin jika tulang di kaki kanannya patah dan terasa seperti ada pen yang terpasang. Terlihat banyak bekas jahitan pada luka besarnya. Kiarra tak sanggup melihat tubuhnya yang sempurna menjadi memiliki banyak cidera karena kecelakaan terakhir yang merenggut nyawanya. Kiarra berlindung di balik tabung Dexter saat suara alarm peledak aktif.
PIPIPIPIPIPI ... DUWARRR!!
Kiarra yang tak lagi merasakan sakit di tubuh, diam saja ketika melihat serpihan dari tabung miliknya hancur berkeping-keping, tetapi berhasil membuat dinding terbuka lebar untuknya. Kiarra kembali berdiri dan menatap Dexter sendu. Ia tersenyum tipis seraya mengusap kaca tabung.
"Akan kuterapkan yang telah kau ajarkan padaku, Dexter. Meski aku tak pernah mengatakan hal itu, tetapi ... aku sangat berterima kasih atas kehadiranmu di keluargaku. Meski kau orang lain dan bukan ayah kandungku, tetapi ... aku menyayangimu. Maaf jika terlambat untukku mengakuinya. Aku lelah menyesal dan tak ingin terulang," ucap Kiarra sendu yang kemudian pergi meninggalkan ruangan tempat tabung mayat diawetkan.
Kiarra menyusuri koridor panjang bangunan tersebut. Ia heran, ke mana perginya para penjaga karena tempat itu sepi seperti tak berpenghuni. Kiarra yang berhasil keluar dari markas penyimpanan tabung, menatap langit malam bercahaya bulan dengan senyum terkembang.
"Aku kembali, tetapi ... hanya sementara," ujarnya kembali sedih.
Kiarra akhirnya tahu di mana dirinya berada. Markas Hashirama yang berada di pedalaman Jepang, membuatnya kesulitan untuk tiba di Markas Hashirama di Kyoto. Kiarra melihat kondisi ruangan dari markas tersebut. Ia mencari kendaraan yang mungkin bisa digunakan untuk membawanya kembali ke rumah. Saat ia menuju garasi, Kiarra terkejut ketika melihat para penjaga terlelap dan mendengkur usai pesta arak. Kiarra akhirnya tahu ke mana perginya orang-orang itu. Mantan CEO tersebut membiarkan para manusia itu terlelap dan kembali fokus pada tujuannya.
"Ahh," ucapnya saat melihat sebuah mobil.
Kiarra bergegas mendatangi, tetapi tak menemukan di mana kunci kendaraan tersebut disimpan. Wanita itu kembali kesal dan mendatangi semua jenis kendaraan yang terparkir, tetapi tak menemukan satu pun kunci. Saat Kiarra pasrah, ia melihat kendaraan terakhir yang tak terkunci dan bisa ia kendarai.
"Oke, tak masalah," ucapnya seraya berjalan mendatangi benda tersebut.
Kiarra yang tak ingin membuat kegaduhan, menuntun sepeda model klasik keluar dari markas. Kiarra yang sudah mati, tak takut jika bertemu dengan makhluk sejenisnya. Ia mengayuh sepeda di kegelapan malam di mana wilayah itu memang jarang sekali ada manusia yang tinggal karena semua berpusat di kota-kota besar seperti Tokyo dan Kyoto. Kiarra yang tak merasakan lelah, terus mengayuh dalam kegelapan menyusuri jalanan hingga bertemu aspal. Ia yang lupa jika telah menjadi mayat dan mengenakan pakaian tipis tembus pandang, didatangi sebuah mobil yang memepet sepedanya.
"Halo, can— setan!" teriak pria itu saat ia menurunkan kaca mobil dan Kiarra menoleh dengan wajah datar.
BROOM!
Kiarra sampai hampir terjatuh dari sepeda karena ikut kaget akibat deru mesin mobil dan asapnya yang mengganggu konsentrasi.
"Setan?" gumam Kiarra bingung saat ia menghentikan kayuhan. Kiarra diam sejenak dan kemudian terkekeh geli. "Ya, ya, wajar jika dia panik. Aku memang telah mati. Hah, pasti kota akan heboh. Apakah dia mengenaliku? Bagaimanapun, aku kan terkenal dulunya," ucapnya bangga dan kembali mengayuh sepeda dengan santai.
__ADS_1
Kiarra sedih, tetapi tak ingin menambah kepedihannya. Ia teringat jika waktunya tak lama untuk menyelesaikan sumpahnya yang tertunda. Sepanjang perjalanan, Kiarra teringat akan kenangan bersama keluarganya dulu. Ia begitu merindukan mereka, tetapi takut jika orang-orang itu menganggapnya seperti zombie atau makhluk terkutuk.
Kiarra tak bisa membayangkan kehebohan jika mereka melihat dirinya kembali dalam wujud mayat. Jiwa Kiarra kembali berkecamuk. Wanita itu berhenti mengayuh dan menatap bulan dengan wajah sendu.
"Kenapa takdir hidupku harus tragis seperti ini? Apakah ... terlalu banyak dosa saat aku hidup dulu? Apakah kesalahan itu tak bisa dimaafkan?" tanya Kiarra mengutarakan perasaan.
Lama Kiarra terdiam hingga ia melihat cahaya lampu sorot di kejauhan tertuju ke langit. Wanita malang itu menatap sorot lampu tersebut dengan saksama di mana ia menduga jika ada festival di pusat kota. Kiarra yang tak ingin membuat kehebohan karena akan berdampak pada keluarga dan misinya, memilih jalan sulit menghindari jalan utama. Hingga ia teringat akan jalanan yang dulu sering digunakan untuk berpetualang bersama saudara-saudarinya.
"Aku mengenali jalan ini!" serunya mantap dan mengayuh dengan semangat melalui jalanan setapak membelah hutan.
Benar saja, jalanan itu ternyata membuatnya memasuki wilayah dari Kastil Hashirama di bagian paling terluar. Senyum Kiarra terpancar. Ia memandangi kastil megah itu dengan senyuman karena masih banyak lampu berpijar di beberapa ruangan. Saat Kiarra akan kembali mengayuh, ia melihat dari balik kegelapan jika ternyata ada acara di kastil tersebut.
Kiarra tak bisa mendekat dan memilih untuk bersembunyi sementara waktu sampai suasana tenang. Sayangnya, waktu yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia merasa telah membuang waktu yang begitu berharga di mana hanya diberikan 7 hari saja oleh sang Naga. Kiarra akhirnya mencoba mencari jalan lain dengan tetap menggunakan sepeda karena itulah satu-satunya transportasi yang bisa ia andalkan.
Hanya saja, Kiarra mulai kesulitan karena kawasan itu masih dipenuhi oleh batuan terjal sehingga ia terjatuh berulang kali. Meski tak merasakan sakit, tetapi Kiarra melihat kulitnya yang telah dipenuhi banyak bekas luka, kini semakin bertambah.
"Agh! Kenapa ini bisa menjadi begitu sulit!" teriaknya marah dan menendang sepeda tersebut.
Napas Kiarra memburu. Ia meremat kuat kepala karena mentalnya jatuh. Kiarra menangis meski air mata tak menetes karena fungsi organnya memang sudah mati. Kiarra yang berduka atas kehidupannya, tak sadar jika kakinya terus melangkah mendekati kastil.
"Nona, Anda tak apa? Kenapa berada di luar sini sendirian? Apakah ... itu sepeda Anda?" tanya seorang pria yang suaranya Kiarra kenali.
Sontak, Kiarra spontan membalik tubuhnya. Namun, hal yang ia takutkan membuat mata pria itu melotot lebar dan terhuyung ke belakang.
"Ki-Ki-Kiarra!" teriaknya panik seraya menunjuk.
"Jangan berteriak! Aku tahu kau terkejut dan takut akan kemunculanku! Namun, aku juga demikian. Tolong, jangan berteriak. Aku sudah cukup berduka atas apa yang terjadi padaku, Chiko ...," ucap Kiarra sedih yang duduk di atas kerikil tepi sungai.
BRUKK!
Napas Chiko tersengal. Ia sungguh bingung menyikapi hal ini. Pandangan pria itu tak menentu seperti mencoba untuk mengembalikan kewarasannya atas apa yang dilihatnya. Pria itu sampai ambruk karena tulangnya mendadak seperti meleleh.
__ADS_1
"Kau ... kau Kiarra? Kiarra adikku? Adikku yang telah mati?" tanyanya memastikan dengan wajah tegang. Kiarra mengangguk dengan wajah sedih, masih menjaga jarak agar Chiko tak histeris. "Na-namun, bagaimana bisa? Apakah kau dibangkitkan? Bagaimana caranya?" tanya Chiko sampai tergagap.
Kiarra menatap saudaranya lekat seperti menaruh harapan besar padanya. "Chiko, aku percaya padamu. Aku sangat berharap kau juga akan mempercayai kisahku meski akal sehatmu sulit menerima. Namun, percayalah, aku juga sama herannya denganmu saat melihatku dalam kondisi seperti ini. Akan tetapi, yang terjadi ini sungguh nyata."
Chiko mengangguk dengan wajah tegang. "Oke. Aku akan mencoba mempercayaimu. Katakan," pintanya terlihat serius dan masih duduk di atas rumput karena kakinya terasa seperti tak bertulang.
Kiarra akhirnya menceritakan tentang kebangkitannya di Negeri Kaa meski dalam tubuh orang lain. Chiko tak berkomentar apa pun. Namun, wajahnya sudah menjelaskan semua dari setiap kisah yang Kiarra sampaikan. Chiko tampak serius sampai pada akhirnya Kiarra menyampaikan alasannya bisa sampai kembali ke Bumi.
"Oke, oke. Padahal aku sudah berniat untuk tak minum karena tak mau mabuk. Hanya saja, melihat dan mendengar kisah yang ... entah bagaimana aku harus mengatakan, tetapi ... aku butuh sake," ujarnya lalu berdiri perlahan seperti orang yang mengalami pusing. Kiarra diam masih dalam keadaan duduk saat kakaknya berdiri. "Ingin minum bersamaku? Kau pasti haus," tawarnya.
Kiarra menggeleng. "Aku sudah mati, Chiko. Orang mati, akan kehilangan kenikmatan yang didapatkan oleh orang hidup," ucapnya terlihat sedih.
Chiko mengangguk pelan. Ia masih sulit menerima dengan apa yang barusan datang padanya. Chiko mengusap wajahnya kasar dan kembali menatap Kiarra yang terlihat begitu menyedihkan.
"Aku tak bisa membawamu ke kastil. Orang-orang pasti akan heboh. Di sana juga ada Jasper si keparatt. Sebaiknya, kita pergi ke tempat lain. Ayo!" ajaknya seraya bertolak pinggang.
"Ke mana?" tanya Kiarra yang mulai berdiri perlahan, tetapi hal itu membuat Chiko melangkah mundur karena merasa ngeri.
"Rein. Kita akan mengunjungi Rein Mikha. Dia sedang berada di Jepang. Dia dan ibu, adalah dua orang yang paling merasa berduka atas kematianmu. Aku juga, tetapi mereka ... begitulah. Sulit bagiku menjelaskan. Hanya saja, saat kau bertemu Rein, tolong, aku mohon dengan sangat, jangan membuatnya pingsan," ucap Chiko menegaskan sambil menunjuk.
Kiarra mengangguk dengan senyuman. Chiko lalu mengajak Kiarra untuk ikut dengannya, tetapi diminta menunggu di luar kastil. Kiarra paham kondisinya dan tetap bersembunyi sampai Chiko datang. Sang kakak menepati janjinya. Sebuah mobil yang Kiarra kenali dan tak lain milik saudara lelakinya itu menepi. Kiarra segera naik di bangku belakang karena dirinya tahu, jika Chiko masih belum terbiasa dengan penampilannya.
"Kiarra, maaf. Hanya saja, sungguh, aku takut. Kau tahu aku sangat takut hantu. Meski kau adikku, tetapi ... wajah dan tubuhmu yang demikian membuatku merinding. Jadi ... pakailah pakaian di sampingmu itu dan gunakan kacamata. Aku tak sanggup bertatapan dengan matamu," pinta Chiko takut-takut saat melirik Kiarra dari kaca spion tengah.
"Tampangmu saja yang sangar, tetapi nyalimu ciut!"
"Hei!" teriak Chiko langsung memasang wajah garang dari pantulan kaca spion tengah.
Kiarra terkekeh dan mengangguk paham. Ia segera mengenakan mantel panjang berwarna cokelat muda sampai selutut. Sebuah topi berwarna hitam dan kacamata yang berwarna serupa. Kiarra menyarungi dua tangannya dengan sarung tangan kulit warna hitam dan memakai sepatu boots sampai selutut terbuat dari bahan bludru.
"Heh, better," puji Chiko saat melihat Kiarra telah berubah meski wajah pucatnya masih terlihat. Kiarra seperti manekin hidup dengan rambut panjang hitam tergerai meski terlihat sedikit kusam. "Oke, kita berangkat," ujar Chiko yang mendapat anggukan dari Kiarra.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE