
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra menatap sekumpulan anak-anak itu dengan penuh harap. Lon tertunduk tampak berpikir serius untuk mengambil keputusan. Sang Jenderal masih menggendong Dra di punggung dengan tubuh basah dan sudah bercampur darah sang penyihir. Hingga tiba-tiba, BRUKK!
"Dra!" pekik Kiarra karena Dra jatuh dari gendongannya dengan mata terpejam.
Kiarra panik dan segera berjongkok. Ia memegangi wajah Dra yang pucat dengan tubuh dingin seperti ajal siap menjemput.
"Apa bedanya kalian dengan para prajurit Vom? Kalian tak berperikemanusiaan seperti mereka!" teriak Kiarra marah yang mengejutkan semua anak di tempat itu. "Jika tak mau menolongnya biar kulakukan sendiri. Aku tak butuh belas kasih kalian lagi. Mungkin inilah hukuman Tuhan pada kalian sehingga hidup miskin dan terlantar di Negeri Kaa," sindir Kiarra tajam yang kemudian membopong Dra di depan.
Saat Kiarra melangkah keluar pintu, ia terkejut melihat penduduk Desa Gul menatapnya dengan wajah sendu.
"Kami akan merawatnya. Dia sekarat dan kehilangan banyak darah. Kami merasa apa yang kau ucapkan benar, Ara. Kami dikutuk oleh Naga sehingga hidup sengsara di tempat ini," ucap ibu Lon dengan pandangan sedih.
Kiarra diam tak menjawab, tetapi membiarkan tubuh Dra diambil oleh para lelaki di desa itu. Dra digeletakkan pada sebuah gerobak kayu lalu didorong menuju sebuah rumah di mana sudah banyak orang berkumpul di sana. Kiarra sudah tak menunjukkan keramahannya lagi. Ia terlalu marah dan takut jika membuka mulutnya, hanya umpatan keji yang akan didengar.
"Ara ... terima kasih. Berkat kau, kami masih hidup," ujar Lon seraya membawa patung Ooo dalam genggaman.
Kiarra tak menjawab dan berjalan mendekati Dra yang kini dibaringkan pada sebuah ranjang lusuh dengan dua orang wanita seperti dokter di tempat itu.
"Dia kehilangan banyak darah. Aku bisa menutup lukanya, tetapi ... aku tak bisa menjamin hidupnya akan bertahan lama," ujar wanita dengan lilitan kain merah di kepala.
"Sebenarnya bisa dilakukan dengan transfusi. Hanya saja, untuk melakukan itu butuh banyak metode yang harus dilakukan. Di tempat ini, mana bisa hal itu terjadi. Argh, sial!"
BRAKK!
Semua orang terperanjat dengan wajah tegang ketika wanita cantik itu memukul sebuah meja dan membuatnya retak pada bagian atas. Sebagian orang menelan ludah dan tahu jika sang Jenderal marah.
"Buah naga ...."
"Ha?" sahut Kiarra menoleh.
"Itu benar, buah naga!" seru Lon antusias.
"Apa itu?" tanya Kiarra bingung menatap orang-orang yang heran melihatnya.
"Kau tak tahu?" tanya Lon dengan kening berkerut. Kiarra menggeleng karena ia sungguh tak tahu.
Kiarra mendekati Dra yang kembali sadar meski sangat lemah.
"Kenapa kau ingin menolongku, Kia-rra ... aku bahkan bukan adik kandungmu," tanyanya dengan suara parau.
"Kau harus hidup karena berhutang banyak penjelasan padaku. Aku masih ingin kembali ke Bumi dan bertemu keluargaku. Hanya kau, yang bisa membawaku kembali," tegasnya menatap Dra tajam.
Sang penyihir tersenyum kecil. "Oh, begitu rupanya. Hem ... baiklah. Jika kau berhasil menyembuhkanku, akan kucari cara untuk membawamu kembali, tetapi ... bukan sebuah janji," jawabnya lirih dengan mata terpejam.
__ADS_1
Kiarra diam karena merasa jika Dra seperti tak tahu cara membuatnya kembali. Namun, Dra yang mengatakan akan mengusahakan hal tersebut, membuat Kiarra tetap berusaha.
"Katakan di mana aku bisa mendapatkan buah itu," ucapnya seraya berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dra.
Tangan Dra bergetar saat meletakkan telapak tangannya di antara mata Kiarra. Seketika ... Kiarra bisa melihat sebuah wilayah dan rute yang harus ditempuh untuk bisa tiba di sana. Mata Kiarra melebar mencoba mengingat tempat itu karena ia yakin jika Dra tak bisa mengulanginya lagi.
"Hahh ...."
"Dra!" seru sang dokter karena penyihir itu tiba-tiba tak sadarkan diri.
Tubuh Dra panas dan menggigil. Kiarra yang sudah mendapatkan penglihatan, tetapi belum sempurna segera berdiri lalu melihat sekitar. Kiarra mendapati sebuah kertas dalam lembaran besar tertempel di dinding lalu menariknya. Ada sebuah gambar di sana. Kiarra membalik kertas berwarna cokelat tebal itu lalu menggunakan lembar kosong tersebut untuk melukis. Ia mengambil pena bulu dan mulai membuat rute sesuai ingatannya.
"Wah, lukisanmu indah sekali," ujar Lon dengan mata berbinar.
"Kau orang keseribu yang memuji lukisanku," jawab Kiarra menyombong dan terus melukis.
"Benarkah? Banyak sekali yang memujimu. Bahkan kau sampai menghitungnya. Luar biasa!" puji Lon.
Kiarra menahan senyum. Padahal, ia hanya asal sebut saja sebagai obrolan ringan karena hatinya tegang. Kiarra yang sudah selesai melukis lalu menempelkan karyanya di dinding dengan memasukkan bekas lubang pada paku di dinding.
"Oh, tunggu. Kenapa ... bentuknya seperti bintang?" tanya Kiarra heran sampai kepalanya miring.
"Bintang?" tanya Lon ikut mengamati yang ternyata juga dilakukan orang-orang sekitar.
"Hem, lihatlah," ujar Kiarra seraya membuat pola bintang dan lokasi buah naga berada di tengah-tengah.
"Vom, Ark, Tur, Yak, dan Zen. Apakah ... ini jumlah kerajaan di Negeri Kaa?" tanya Kiarra menoleh ke arah Lon. Bocah lelaki itu mengangguk.
"Bukankah kau seorang jenderal? Kau berperang dengan kerajaan-kerajaan itu selama ini. Kenapa kau tak tahu?" tanya seorang pria heran.
Kiarra mendesah malas. "Anggap saja aku lupa ingatan. Bisakah kalian jawab saja pertanyaanku tanpa kembali bertanya?" tanya Kiarra melirik sadis.
"Maaf," jawab pria itu lalu melangkah mundur.
Kiarra kembali fokus dengan gambar dan penglihatannya dari ingatan Dra.
"Buah naga berada di tengah-tengah bintang. Dra memintaku untuk pergi ke tempat pohon jembatan yang berada di wilayah kerajaan-kerajaan ini. Gila! Mereka ada banyak dan tersebar di beberapa lokasi. Hah ...," keluhnya, tetapi kemudian kembali fokus. "Aku harus mengambil salah satu bagian dari pohon itu lalu kukumpulkan saat sudah di pohon terakhir. Setelahnya ... aku akan tiba di tempat buah naga berada," gumamnya mengingat akan rute yang sangat jauh dan rumit itu.
"Kau bisa berpindah tempat dengan pohon jembatan? Sungguh?" tanya Lon yang membuat kening Kiarra berkerut.
"Ya. Aku tiba di sini karena menggunakan pohon jembatan yang berwarna biru itu. Memang kenapa?" tanya Kiarra heran.
"Oh, Dewa! Kau sungguh diberkati Ooo! Hanya penyihir dan orang-orang terpilih yang bisa menggunakan pohon jembatan!" jawab Lon semangat.
"Benarkah? Seingatku, saat aku menyentuh pohon jembatan, aku selalu bersama Dra," ujarnya seraya melirik sang penyihir yang sedang dikompres dan masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Apa Dra menyentuh pohon itu? Apa dia sadar saat melakukan perpindahan?" tanya ibu Lon. Kiarra menggeleng karena seingatnya pada kejadian terakhir, ia yang melakukannya sendiri.
"Kau diberkati, Ara! Kau pasti punya semacam sihir yang mungkin tak diketahui. Namun, setahu kami. Hanya orang-orang berkemampuan sihir yang bisa melakukan perpindahan dengan pohon jembatan!" ucap Lon masih bersemangat.
Kiarra diam sejenak dan teringat akan ucapan Dra kala itu yang menanyakan soal mantra terlarang. Kiarra akhirnya mengakui jika ia seperti memiliki kemampuan sihir meski tak mengerti bagaimana menggunakannya karena saat itu tidak sengaja.
"Perjalananmu sangat jauh dan berisiko. Sebaiknya, kau pergi esok saja ketika bulan ungu. Banyak penjahat muncul saat bulan merah bersinar. Kami percaya jika bulan merah membawa kejahatan," ucap seorang lelaki tua.
Kiarra mengangguk setuju. Ia mengambil kembali kertas lukisannya lalu digulung. Saat ia akan beranjak dari ruangan, Kiarra teringat hal penting akan misinya itu.
"Oh iya. Seperti apa wujud buah naga?" tanya Kiarra karena Dra tak menunjukkan rupa buah tersebut.
"Kami tak tahu."
"Kalian tak tahu? Lantas kenapa bisa memintaku untuk mencari benda yang wujudnya saja tak ada diketahui!" tanya Kiarra memekik.
"Kami memang tak pernah melihat wujud aslinya. Namun, konon buah itu bersisik seperti kulit naga dan berwarna keemasan. Dia tak bisa dipotong, dikupas, atau dihancurkan," ucap seorang wanita paruh baya.
"Lalu bagaimana Dra akan memakannya?" tanya Kiarra melotot.
"Buah itu tidak untuk dimakan. Buah itu akan menyerap penyakit di tubuhmu. Kulitnya kau oleskan pada bagian yang terluka. Kulit buah akan berubah menjadi hitam saat racun atau sihir terkuat di tubuhmu telah terserap olehnya," sahut ayah Lon.
"Wow! Buah itu sangat berbeda dengan buah naga di tempat asalku," celetuk Kiarra membandingkan.
"Vom memiliki buah naga? Jika, ya, kau cukup kembali ke sana tanpa harus susah payah memasuki wilayah musuh!" seru Lon salah kaprah.
Kiarra mengembuskan napas panjang. Ia bingung bagaimana menjelaskan hal ini mengingat Dra dan dirinya kini menjadi buronan Vom. Kiarra yang enggan membahas hal itu segera pergi dari ruangan tempat Dra dirawat. Ia segera menyiapkan perbekalan dan perlengkapannya untuk pergi mendapatkan buah naga di rumah Lon di mana hari itu akan menginap di sana.
Lon terus mendampingi Kiarra seraya membantunya menyiapkan banyak barang. Kiarra merasa jika sikap Lon mirip dengan adiknya yang bernama Rein Mikha. Penakut, tetapi baik hati. Senyum Kiarra terukir begitu saja saat menatap wajah anak lelaki yang sedang giat mengikat kain buntalan untuk dibawa olehnya.
"Rein eh Lon," panggil Kiarra sampai salah sebut.
"Apa itu Re-in?" tanya Lon dengan wajah lugunya.
Kiarra menatap Lon saksama seperti ingin mengutarakan sesuatu.
"Kau percaya sihir, bukan?" tanya Kiarra. Lon mengangguk mantap. "Bagaimana jika aku mengatakan jika namaku sebenarnya adalah Kiarra. Aku berasal dari planet bernama Bumi, dan di kehidupanku sebelumnya, aku telah mati. Arwahku ditarik oleh Dra untuk menghuni raga Kia, Jenderal Perang Kerajaan Vom karena ia tewas pada peperangan sebelumnya. Apa kau percaya dengan apa yang baru saja kukatakan?"
Lon mematung, tanpa komentar, berwajah datar dan hanya mengedipkan mata. Kiarra tak tahu apa yang dipikirkan bocah lelaki itu karena Lon kembali membuka buntalan lalu pergi menuju sebuah almari kayu seperti mengambil sesuatu. Mata Kiarra menyipit saat Lon meletakkan 5 buah kain dengan warna berbeda ke dalam buntalan lalu mengikatnya kuat.
"Untuk apa?" tanya Kiarra bingung.
"Untuk menyelamatkanmu saat memasuki kerajaan lain," jawabnya serius. Kiarra terdiam. "Kain warna ungu saat kau memasuki wilayah Vom. Merah wilayah Ark. Hijau wilayah Tur. Biru wilayah Yak dan kuning wilayah Zen. Hati-hati, Kia-rra. Namun, aku percaya pada ceritamu. Kau mengatakan banyak hal aneh sejak kedatanganmu pertama kali ke sini. Pulanglah dengan selamat membawa buah naga dan ceritakan kehidupanmu sebelumnya," ucap Lon tenang, tetapi hal itu membuat Kiarra tertegun karena bocah lelaki itu percaya begitu saja dengan pengakuannya.
"O ... ke, oke!" jawabnya dengan anggukan. Lon tersenyum.
__ADS_1
***
sayangnya lele gak bisa gambar. pdhl pengen banget bisa kasih liat peta sesuai imajinasi lele. tapi ya sudahlah😩