Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Dia Memberikan Petuah


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Jenderal Kol yang kini menjadi satu-satunya orang pemilik kemampuan bertempur sampai dibuat tak berdaya dengan serangan para Www di kerajaannya. Manusia setengah macan kumbang itu shock depan pembantaian para makhluk buas kepada warganya. Kol malah gemetaran dan terhuyung. Punggungnya bersandar pada tembok menara dengan pandangan tak menentu karena jiwanya berkecamuk.


"Aku ... aku gagal," ucap pria itu merasakan kecewa pada dirinya sendiri.


Suara jeritan penduduk Tur saling bersahut-sahutan di segala penjuru. Beberapa orang memilih melarikan diri berusaha menyelamatkan nyawa agar tak mati dimangsa para Www. Sisanya, nekat melawan para makhluk bergigi tajam itu demi melindungi orang-orang terkasih meski tak memiliki kemampuan tempur layaknya prajurit. Saat suasana pemukiman di Kerajaan Tur kacau balau, tiba-tiba ....


"Ayah! Ayah!" panggil salah satu anak Panglima Rat di kejauhan yang membuat kepanikan Kol memudar.


Pria itu langsung berdiri tegap dan menoleh ke asal suara. Ia melihat dari atas menara saat Tar si putri Panglima Rat mendongak ke atas dengan wajah berbinar. Spontan, kepala sang Jenderal mendongak. Ia tertegun ketika mendapati benda besar terbang di atas istana Tur dengan beberapa orang di dalamnya.


"A-apa itu?" tanyanya dengan mata melotot.


"Lumpuhkan mereka semua!" teriak seorang pria yang parasnya ia kenali karena dalam beberapa kurun terakhir ini, sebagian warga Vom terkenal setelah terjadi perubahan dalam Jenderal Kia.


Seketika ....


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


JLEB! JLEB! JLEB!


"Horghh!"


Mata Kol terbelalak melihat anak-anak panah melesat ke bawah dengan cepat dari benda besar yang dinaiki oleh beberapa orang. Sang Jendral berasumsi jika orang-orang tersebut dari Kerajaan Vom karena kain menggembung benda terbang itu berwarna ungu—ciri khas dari Vom. Para Www yang terkena serangan anak panah tewas seketika saat tubuh mereka tertembus tajamnya anak panah. Lesatan anak panah terus diluncurkan dari atas benda dengan bagian atas menggembung dan memiliki wadah pada bagian bawahnya.


Jenderal Kol terperangah melihat keunikan benda tersebut hingga ia teringat dengan pengakuan Kapten Mos tentang serangan orang-orang Yak yang membuat pasukan Kapten Kee kalah. Hingga ia menyadari, jika kedatangan Vom malah menjadikan bantuan itu sebagai petaka bagi mereka. Saat Kol membatu di tempatnya berdiri, tiba-tiba ia seperti melihat sosok Jenderal Kia muncul di hadapan dengan cahaya biru mengelilinginya. Kol terdiam dengan mata melotot.


"Kau bisa selamatkan mereka, Kol," ucap Kiarra yang wujudnya bagaikan dewi karena mengenakan gaun indah berwarna putih dan rambut panjangnya menari-nari seolah ada angin di sekeliling. Kol terhenyak untuk sesaat hingga bayangan Kiarra menghilang.


"Jangan-jangan ...," gumam Kol dengan napas memburu. Dengan sigap, ia memegang tongkat pemukul lonceng.


TENG! TENG! TENG!


Kening salah satu dayang Kiarra menyipit. Ia melihat seorang manusia macan kumbang berada di atas menara dan sedang membunyikan lonceng. Fuu yang ditugaskan untuk melakukan aksi penyelamatan usai mendapatkan kabar dari mata-mata Zen yang mengikuti pergerakan para Www, meneropong ke arah menara. Jenderal Kol dengan sigap memanjat jendela menara lalu melambaikan salah satu tangannya.


"Pergi dari sini! Pergi dari sini! Ini jebakan!" teriaknya lantang.


Fuu tertegun saat mendengar teriakan dari sang Jenderal. Benar saja, tiba-tiba dari arah hutan ....


SWOOSH! BLUARRR!


"Kita diserang!" teriak salah satu prajurit Zen yang berada di balon udara lain.


Benda terbang milik mereka mendapatkan serangan ketapel atau sering disebut catapult dari dalam hutan. Bola-bola api yang terbuat dari batu dan dilumuri minyak itu terlontar dari dalam hutan dan menyerang tiga balon udara di atas langit kerajaan Tur. Mata Kol terbelalak lebar karena baru menyadari jika Raja Tur dan kelompoknya hanya berpura-pura. Ia menduga, jika peti-peti besar yang diangkut oleh Ggg sebenarnya adalah perlengkapan bertempur sang Raja.


Kol semakin tertekan dan kembali lesu. Punggungnya menyender pada dinding menara dengan pandangan tertunduk karena merasa gagal. Saat suara teriakan dan juga dentuman dari lontaran ketapel membuat suasana semakin mencekam, tiba-tiba ....


"Kol! Kol!" teriak seseorang yang mengejutkan sang Jenderal.

__ADS_1


Pria itu menoleh ke asal suara. Ia mendatangi jendela tanpa penutup di menara dan mencari keberadaan orang yang memanggilnya. Seketika, mata Kol terbelalak melihat anak lelaki Panglima Rat berhasil menaiki dinding benteng dengan memanfaatkan tali yang mengikat pergelangan tangannya. Kol tertegun menyaksikan anak lelaki itu tak menyerah dan bersusah payah hingga akhirnya ia tergeletak tak berdaya di lantai atas benteng dengan napas tersengal.


"Bantu aku! Kita masih bisa menyelamatkan lainnya!" pintanya dengan napas tersengal dan menatap ke arah menara.


Kol tak menyangka jika dirinya bisa dikalahkan oleh seorang bocah lelaki. Kol memejamkan mata dan menarik napas dalam. Ia segera turun dari tangga menara untuk membantu Mor. Akan tetapi, saat ia fokus menuruni tangga menara, seekor Www muncul.


Kol langsung menghentikan langkah dengan mata melotot. Ia menyaksikan hewan buas itu sedang memangsa tubuh seorang penduduk dengan rakus. Lagi-lagi, Kol mematung. Namun, bayangan Jenderal Kia kembali muncul di belakang tubuh Www yang sedang lahap menyantap.


"Amati dia dan cari tahu kelemahannya. Kau pejuang yang hebat, Kol," ucap Kiarra yang membuat sang Jenderal langsung menatap Www saksama.


Sesaat kemudian, bayangan Kiarra menghilang. Namun, seketika, pria macan kumbang itu seperti menyadari sesuatu.


"Harghhh!" raung Kol marah.


"Horghh!" balas makhluk bergigi tajam itu ketika sosok macan kumbang yang berdiri dengan dua kakinya menuruni tangga dengan cepat. Kol menggenggam sebuah belati yang ditarik dari samping sepatu besi.


"Heahhh!" teriak Kol yang dengan sigap mengacungkan belatinya ke depan.


Namun, Www tersebut sangat gesit. Ia dengan sigap berkelit ke samping meski tubuhnya menghantam dinding menara. Kol yang tak ingin dikalahkan, dengan cepat mengayunkan tangan kanannya untuk melukai tubuh lawan. Akan tetapi, Www bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Makhluk itu tak kenal takut dan malah melompat ke arah sang Jenderal.


KLANG!


Belati dalam genggaman Kol terlepas dan jatuh di lantai karena serangan tak terduga dari Www.


"Arghh!" raung Kol ketika moncong buaya itu siap mengunyah kepalanya.


Kol terpaksa menjatuhkan dirinya di tangga lalu bergulung. Kini, tubuh Www berada di bawahnya. Kol menahan mulut besar itu dengan satu tangan kiri di mana tangan kanan menahan salah satu tangan lawan yang ingin mencabik tubuhnya. Beruntung, Kol mengenakan pakaian tempur sehingga serangan Www tak langsung mengenai kulitnya. Namun, kekuatan Www yang cukup besar membuat Kol kewalahan. Terlebih, saat ujung ekor makhluk itu berusaha untuk menusuk tubuhnya.


Sang Jenderal bertahan sekuat tenaga menahan serangan lawan saat tubuhnya yang berada di atas Www mulai terperosok dari tangga. Benar saja, tubuh keduanya terguling dan membuat Kol serta Www berguling dengan cepat menuruni anak tangga. Kol merintih ketika tubuhnya harus menghantam tangga batu menara sampai akhirnya mereka sampai di lantai dasar.


BRUKK!!


"Horrghh!" raung Www saat tubuhnya dinaiki oleh Kol dengan cepat.


Kepala sang Jenderal berdarah karena sempat menghantam ujung pijakan tangga batu. Namun, ia berhasil menggunakan tubuh Www sebagai alas ketika mereka jatuh dari tangga dan pada akhirnya bergulung bersama. Kol yang tak lagi memiliki senjata menangkap dua tangan berkuku tajam milik Www di mana sedari tadi makhluk itu ingin mencabik.


"Senjata makan tuan, Www!" teriak Kol seraya memegangi dua tangan Www lalu mengarahkan tangan berjari tajam tersebut ke dua kakinya.


KRAKK!!


"HORRGHH!"


CRATT! CRATT!


"Horrghh! Hoorghh!" raung Www ketika kuku-kuku tajam pada jari-jarinya merobek kulit di kaki sendiri.


Kol terpaksa mematahkan dua tangan makhluk buas itu agar tak menyerangnya. Beruntung, ekor runcing Www tak menyerang karena tertindih tubuhnya sendiri. Kol lalu meninggalkan hewan itu yang kini berdarah dan mengalami patah sehingga kesulitan bergerak. Www merintih kesakitan di atas lantai batu. Kol segera keluar meninggalkan lawannya dan mengunci makhluk itu di dalam menara.


"Mor!" panggil Kol lantang saat melihat putra sang Panglima dengan dua tangan masih terikat kini bersusah payah menarik tali yang menggantung tubuh sang adik sendirian.

__ADS_1


Kol berlari kencang mendatangi bocah malang itu lalu bergegas membantunya. Tar menangis terisak ketakutan. Tubuhnya gemetaran saat Kol berhasil menarik tubuh ringkih itu lalu mengangkatnya.


"Kita selamat, Tar! Kita selamat!" seru sang kakak lalu mendekati sang adik yang meringkuk di atas lantai batu atas benteng.


Tar menangis terisak saat sang kakak menempelkan dahi berlapis bulu cokelat itu ke dahinya. Sang Jenderal lega dan segera membantu Kun yang masih tergantung. Akan tetapi, saat lelaki itu ditarik ke atas, betapa terkejutnya jika tubuh bagian bawah manusia rakun telah terkoyak akibat dimangsa Www. Tar dan Mor tersentak. Mereka shock melihat pria rakun yang ikut digantung bersama mereka telah tewas dengan mengenaskan. Kol segera mendatangi dua anak itu lalu membangunkan mereka.


"Ayo, aku bawa kalian. Aku tak memiliki senjata untuk melepaskan ikatan ini. Sebaiknya, kita amankan diri," ucap Kol menatap dua anak itu lekat.


Mor dan Tar mengangguk. Mereka lalu diangkat oleh Kol yang memiliki tubuh besar dengan memanggulnya di atas bahu kiri dan kanan.


"Kol, awas!" teriak Mor saat melihat seekor Www berhasil menaiki benteng melalui tangga meski tubuhnya sudah penuh luka.


"AAAA!" cepat pergi dari sini!" teriak Tar panik.


Namun, Kol malah meletakkan mereka kembali. Tar dan Mor kebingungan. Kol tersenyum tipis seperti mengisyaratkan agar percaya padanya. Kol berdiri tegak seperti menguatkan hati dan fisiknya.


"Harghhh!" teriaknya lantang lalu berlari kencang.


"Horrghh!" raung Www yang kemudian melompat, siap mencabik tubuh lawannya.


Tiba-tiba, bayangan Jenderal Kia muncul tepat di samping Www. Kiarra melakukan semacam gerakan untuk menjatuhkan makhluk itu. Kol mengangguk paham, dan seketika ....


"HARRGHH!"


BUKK! BRUKK!


"Oh! Dia berhasil menjatuhkannya dengan sekali pukulan!" teriak Mor kagum.


Mor melihat kepalan tangan kanan Kol yang diluncurkan ke depan mengenai dada Www. Lalu kepalan tangan kirinya mengenai perut makhluk itu. Seketika, Www tersebut ambruk dengan mata terbuka dan tak bergerak.


"Seranganmu hanya membuat makhluk ini pingsan. Namun, kau bisa menggunakan kuku tajamnya untuk melepaskan tali dua anak malang itu. Setelahnya, pergilah ke hutan kabut putih. Kalian akan aman di sana," ucap Kiarra yang kemudian sosoknya menghilang.


Kol bingung dengan keadaan ini karena tiba-tiba saja ia didatangi roh Jenderal Kia. Padahal, ia sangat yakin jika Jenderal dari Vom tersebut masih terkurung dalam telur kristal karena dirinya sendiri yang mengantarkan ke sana bersama dengan Pyu.


"Kol! Kol!" panggil Mor yang membuyarkan lamunan pria macan kumbang itu.


Kol bergegas mendatangi Www yang tak sadarkan diri dengan tubuh mematung. Ia lalu menarik tubuh besar makhluk itu ke arah dua anak sang Panglima. Tentu saja hal tersebut mengejutkan mereka. Namun, Kol meyakinkan jika makhluk itu tak akan menyerang. Mor dan Tar memejamkan mata rapat ketika ikatan di tubuh mereka dilepaskan menggunakan kuku tajam Www bagaikan pisau.


"Kita bebas!" seru Mor gembira saat akhirnya ia bisa bergerak leluasa lagi.


"Kita pergi dari sini," ajak Kol seraya melihat sekitar di mana kekacauan masih terjadi.


"Ke mana?" tanya Tar menatap Kol lekat.


"Hutan kabut putih," jawabnya mantap dan diangguki dua anak itu.


***


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya Jeng Sofia❤️ Lele padamu 💋 Merdekaaa🇮🇩 lomba 17-an pada menang apa aja nih😁 lele tepar uyy sampai skg makanya up lama😩


__ADS_2