Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Monster Iblis Bii*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Para makhluk yang dikurung dalam botol terlihat serius ketika Kiarra menanyakan tentang bagaimana cara menumbuhkan kembali pohon jembatan. Namun, ia tak serta merta percaya atas semua informasi yang akan diberikan oleh monster-monster itu. Ia ingin memastikan hal tersebut kepada para penyihir agung yang dirasa mengetahui cara menumbuhkan pohon jembatan.


"Jadi, tak tahu, ya? Ya, sudah. Selamat menikmati sampai akhir hidup di dalam botol. Sampai jumpa," ucap Kiarra seraya berpaling dan melangkah menuju pintu rahasia.


Pintu tersebut terlihat di dalam ruangan berdinding batu, tetapi tak tampak pada bagian luar. Saat Kiarra akan membuka pintu, seorang monster langsung memanggil namanya. Wanita cantik itu tersenyum miring karena usahanya memancing berhasil. Kiarra yang cukup jago berakting menoleh dengan wajah malas terlihat seperti tak tertarik.


"Aku tahu caranya," ucap makhluk dengan gumpalan gas berwarna merah. Kiarra mendekati botol tersebut yang diletakkan pada sebuah rak menempel pada dinding batu.


"Tak usah basa-basi."


"Buktikan jika kau akan menepati janji jika kuberitahu caranya," balasnya.


"Kubebaskan begitu pohon jembatan tumbuh dan bisa dihuni lagi oleh monster iblis penjaga. Jika gagal, nasihatmu kuanggap sesat," ucap Kiarra tegas.


"Aku setuju," jawab monster dengan suara seperti orang berbisik. "Bawa aku bersamamu. Akan kutunjukkan caranya selama kau berusaha menumbuhkan pohon-pohon itu."


Kiarra diam sejenak terlihat serius. "Siapa namamu?"


"Bii."


"Oke, Bii. Kita sepakat," jawab Kiarra lalu mengambil botol tersebut dengan hati-hati.


Ia melihat Bii menyeringai. Kiarra sadar jika caranya sangat berisiko dan menganggap Bii seperti See. Namun, Kiarra tak bodoh. Ia melapisi botol itu dengan kristal biru dan membuatnya seperti buah pear.


"Apa yang kau lakukan!" pekik Bii gusar karena merasakan sihir kuat dari kristal biru tersebut.


"Bukankah kau ingin jalan-jalan keluar? Akan lebih nyaman membawamu dalam bentuk cantik ini. Wajahmu seram dan akan menakuti semua orang. Jangan cerewet dan terima saja nasibmu sekarang!" tegas Kiarra melotot.


"Harghhh!" raung Bii, tetapi membuat Kiarra tersenyum miring.


Kiarra keluar dari pintu rahasia. Tentu saja, kemunculannya mengejutkan Lon, Owe dan Tej. Mereka langsung mendekati Kiarra yang mengaitkan sebuah benda cantik berlapis kristal biru di pinggul sebelah kanan.


"Itu ... apa?" tanya Lon menunjuk.


"Monster iblis bernama Bii," jawab Kiarra enteng, tetapi membuat Tej dan Owe mundur seketika.

__ADS_1


"Dia sangat buas!" pekik Tej dengan mata melotot.


"Ya! Aku pernah mendengar ceritanya! Dia sangat licik dan bentuknya menyerupai manusia. Dia bahkan bisa berubah wujud menjadi sosok lain dan memiliki kekuatan orang tersebut jika tubuh mangsanya terlahap olehnya! Kenapa kau bawa monster itu ke sini? Dan ... dan, di mana kau mendapatkannya!" pekik Owe panik.


"Aku ceritakan sambil jalan. Ayo," ajak Kiarra yang sudah menduga jika kawan-kawannya akan panik karena monster yang dibawanya.


Lon, Owe dan Tej dibuat tegang. Mereka mengikuti Kiarra sampai ke sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar tempatnya dulu tinggal dan menjadi ratu di Kerajaan Tur. Kiarra menceritakan temuannya yang tentu saja mengejutkan tiga lelaki itu.


"Berjanjilah tak beritahu siapa pun tentang temuanku kecuali para penyihir agung. Kalian mengerti?" tegas Kiarra seraya melangkah.


"Kami mengerti," jawab tiga lelaki itu mantap.


"Jika ada orang lain tahu selain para penyihir agung, Owe dan Tej, kalian bertiga yang akan kusalahkan. Aku tak segan memberikan hukuman yang sangat mengerikan," ancam Kiarra yang membuat tiga orang itu menelan ludah.


Bii terkekeh dan merasa Kiarra adalah orang yang cukup kejam, tetapi hanya melakukan hal keji saat terdesak. Ternyata, hanya Kiarra yang bisa mendengar bisikan Bii, tidak dengan Owe dan Tej, bahkan Lon sekalipun.


"Ara? Apa kau tahu yang akan dilakukan?" tanya Lon cemas saat melihat Kiarra mengambil sebuah kotak yang dihiasi ornamen unik dari sebuah rak kayu.


Kiarra meraba kotak yang terdapat lilitan rantai besi terlihat kokoh. Ia membuka penutup tersebut lalu mengambil isinya. Kening Kiarra berkerut saat menatap benda itu saksama.



"Bagian batang pohon jembatan!" pekik tiga lelaki itu serempak.


Kiarra melirik dengan wajah masam. Lon dan lainnya langsung terdiam. Kiarra mengambil kayu biru itu dengan hati-hati dari dalam kotak kayu yang disegel sebuah mantra. Beruntung, Kiarra bisa membukanya karena wanita cantik tersebut adalah orang terpilih.


"Bii. Pohon jembatan ini ada di wilayah mana?" tanya Kiarra seraya mengamati potongan kayu tersebut.


"Wilayah Tur," jawab Bii tenang.


Lon dan lainnya yang tak bisa mendengar, merasa jika monster iblis yang terkurung itu hanya bisa berkomunikasi dengan Kiarra saja.


"Pangeran Owe. Tolong berikan aku kain dan tas," pinta Kiarra.


"Oh, ambil saja punyaku," ucap Pangeran Owe seraya memberikan tas kain yang selalu ia bawa kepada Kiarra.


Wanita cantik tersebut lalu menerimanya dan mengambil sebuah kain putih dari dalam tas. Kiarra membungkus bagian dari pohon jembatan lalu dimasukkan dalam tas.

__ADS_1


"Lalu, apa selanjutnya?" tanya Kiarra seraya melirik Lon.


"Aku ... tak tahu. Aku masih awam sebagai seorang penyihir agung!" jawab Lon panik.


"Dia tak bertanya padamu, Bodoh," sindir Bii yang membuat Kiarra tersenyum tipis.


"Pangeran Owe, Tej. Tugasku di sini telah selesai. Aku dan Lon harus segera pergi agar kewajibanku menghidupkan pohon jembatan segera terlaksana," ucap Kiarra berpamitan.


"Baik, Ratu. Kami akan mengabarkan kepadamu begitu kerajaan Tur telah ditata ulang," jawab Owe yang diangguki Kiarra.


Kiarra dan Lon berpamitan. Penyihir cilik yang penasaran dengan cara Kiarra untuk menghidupkan pohon jembatan, selalu mengekor di belakangnya. Kiarra ternyata pergi ke tempat di mana sebuah pohon jembatan tumbang akibat ulah Raja Tur kala itu yang membangkitkan para monster magma. Namun, ada yang aneh. Saat ia tiba di lokasi tersebut, monster-monster itu tak muncul. Lon terlihat waspada karena telah mengetahui cerita seram tersebut.


"Kenapa ... kita tak diserang, Ara?" tanya Lon bingung. Kiarra menggeleng tidak tahu.


"Itu karena kekuatan bintang biru dalam dirimu," ucap Bii yang mengejutkan Kiarra.


"Jika yang datang orang lain, apakah monster-monster itu akan muncul?" tanya Kiarra penasaran yang berdiri di depan sebuah pohon jembatan yang tumbang.


"Ya. Mereka bisa mengetahui isi hati manusia. Para monster tahu tujuan kedatanganmu. Ditambah, kau memiliki kemampuan bintang biru dan juga darah naga. Kau orang terpilih yang diberkati," ucap Bii yang membuat Kiarra terdiam dan terlihat serius.


"Beritahu aku cara menumbuhkan lagi pohon jembatan di depanku ini," pinta Kiarra tegas. Lon yang tak bisa mendengar pembicaraan mereka hanya bisa menyimak.


"Bagian itu, berasal dari pohon ini. Tanamlah kayu tersebut tepat di samping pohon yang tumbang. Ketika pohon jembatan yang baru tumbuh, maka pohon yang telah rusak akan mati dengan sendirinya. Saat itulah, kehidupan baru muncul."


Kiarra lalu berjalan mendekati pohon jembatan yang telah tumbang. Ia berjongkok di sampingnya lalu menggali menggunakan dua tangan. Ia membuka tasnya lalu mengambil kayu biru tersebut. Kiarra memasukkan serpihan besar dari pohon tersebut lalu menguburnya. Entah kenapa hatinya mempercayai Bii. Lon mendekati Kiarra dan menatapnya lekat dalam diam.


"Lalu, apa?" tanya Kiarra menatap gundukan di depannya saksama.


"Setiap hari, kau harus datang untuk memantrai benih itu sampai muncul tunas. Ketika daun pertama tumbuh, sirami pohon jembatan dengan air dari kolam naga setiap hari satu kali sampai pohon menjadi besar. Ketika daunnya menyala biru terang, saat itulah pohon jembatan bisa dihuni oleh seekor monster iblis penjaga," jawab Bii yang membuat senyum Kiarra terkembang.


"Ara, apa yang dikatakan oleh Bii? Apakah hal buruk?" tanya Lon cemas.


Kiarra menatap Lon saksama lalu mengelus kepalanya seraya berdiri. "Sudah cukup hari ini. Akan kuceritakan saat di Vom nanti. Ayo pulang," ajak Kiarra dan diangguki Lon dengan senyum terkembang.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2