
Makasih tipsnya buat Jeng Sofia😍Uhuy ss nya nangkring di eps ini💋 Itu dulu dari lele dan tengkiyuw❤️
----- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kerajaan Tur.
"Harghhh!" raung sang Raja dengan suara menggelegar menembus dinding-dinding istana.
Praktis, suaranya yang besar membuat para penghuni istana tertegun. Mereka tahu jika pemimpin mereka sedang murka. Orang-orang dengan sosok manusia setengah binatang tersebut memilih menjauh agar tak terkena amukannya. Naas, bagi sang pemimpin pasukan dengan wujud manusia setengah beruang putih. Leher pria itu dicekik usai memberikan kabar jika pasukan kapten Kee ditumbangkan.
"Kenapa kalian tak sadar jika ini jebakan, ha!" teriak sang Raja marah dengan mata membulat penuh dan kuku-kuku tajam mulai melukai kulit berbulu putih itu.
Sang kapten mencoba menahan rasa sakit di leher. Ia yakin jika darah mulai membasahi bulu putihnya.
"Mereka menggunakan sebuah kendaraan aneh, Pa-Paduka Raja. Kami belum pernah melihat benda terbang itu sebelumnya. Bahkan, saya yakin jika Paduka sendiri belum pernah melihatnya."
"Hargghhh!"
BRUKK!
Para prajurit yang berada di ruangan itu tegang. Mereka melihat pemimpin pasukan dihempaskan begitu saja ke tanah. Mereka tahu, jika kekuatan sang Raja sangat besar, meskipun tubuh kapten mereka jauh lebih besar dari majikannya.
"Benda terbang apa itu?" tanya Raja dengan napas memburu.
Sang Kapten yang roboh di lantai, menggerakkan tangannya memberi kode kepada salah satu prajurit yang telah membuat ilustrasi balon udara tersebut. Lelaki dengan tubuh setengah kucing itu gugup saat menyerahkan gulungan kertas. Raja langsung merebutnya dan menatap gambar itu saksama.
"Kami hanya melihatnya sekilas, Paduka. Namun, benda itu mampu membawa manusia dan barang. Pasukan Kapten Kee diserang dari atas benda menggembung itu dengan bola-bola es pembeku. Anak panah yang coba dilesatkan tak bisa menjangkau benda tersebut karena cukup tinggi," ucap sang Kapten menjelaskan seraya memegangi lehernya yang terluka.
Mata sang Raja menyipit. Ia tak berkata apa pun. Pria garang itu hanya mengayunkan tangan sebagai tanda agar semua orang keluar dari kamarnya. Para prajurit dengan sigap meninggalkan ruangan.
Mereka lega karena amukan raja reda. Akan tetapi, saat kapten beruang putih itu akan menyusul anak buahnya, sang Raja memanggil. Lelaki itu tak bisa menolak dan kembali berdiri tegap di depan pintu.
__ADS_1
"Tutup pintunya. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan," ucap sang Raja serius yang telah duduk di singgasananya.
"Baik, Paduka," jawab Kapten Mos lalu menutup pintu sesuai titah.
Di Kerajaan Yak.
Tentu saja, kemenangan besar itu membuat Rak dan pasukannya yang ditugaskan begitu gembira. Pasukan Tur yang terjebak dalam es masih hidup, tetapi seperti mengalami hypersleep. Rak meminta kepada prajuritnya agar semua tawanan dimasukkan dalam penjara bawah tanah. Beberapa sel telah dipersiapkan untuk mengurung prajurit Tur.
Para prajurit Yak dengan sigap membawa orang-orang itu untuk diamankan. Rak meninggalkan sebongkah batu kristal biru di masing-masing penjara dengan beberapa buah-buahan layaknya sajian. Makanan-makanan itu mengelilingi batu bercahaya tersebut. Prajurit Yak sengaja meninggalkan beberapa obor di sekeliling pasukan Tur yang membeku agar mereka mencair dengan sendirinya.
"Biarkan mereka tercerahkan. Tetap awasi dan kabari aku juga mereka telah sadar," ucap Rak.
"Laksanakan, Penyihir Agung!" jawab para penjaga penjara dengan pedang diangkat ke atas menggunakan satu tangan.
Rak kembali ke atas bersama orang-orang kepercayaannya. Ia menemui pemimpin baru Kerajaan Yak yakni putri dan putra Raja Tur.
"Aku percayakan mereka pada kalian, Putri, Pangeran," ucap Rak sopan.
"Serahkan pada kami. Tak akan kami biarkan ayah dan pasukannya mengambil prajuritnya lagi. Kami sudah muak dengan keegoisannya," tegas sang Pangeran geram.
Wanita cantik itu kembali mengendarai balon udara hasil kreasi Kenta bersama Boh, Jenderal Gom dan orang-orang yang ditugaskan untuk mengoperasikan balon udara. Wanita bermata biru itu semakin kagum dengan sosok Kenta karena baginya sangat cerdik dan memiliki banyak ide.
Bahasa Kenta yang unik seperti Kiarra, mulai ditiru oleh orang-orang. Gom dan Boh mendengarkan sembari duduk menyender pada bak kayu sebagai wadah pengangkut seraya menikmati buah.
"Begitulah. Kita tak perlu berjalan kaki lagi. Benda ini sangat luar biasa," jawab Rak senang yang berdiri sembari menatap sekitar.
"Anda benar. Selain itu, benda ini tak terpengaruh dengan adanya bulan ungu atau merah. Ia bisa terbang kapan pun selama bahan bakarnya tersedia," ucap salah seorang pria yang bertugas untuk memastikan balok-balok kayu sebagai bahan bakar kendaraan itu cukup selama penerbangan.
Rak mengangguk setuju. Orang-orang yang berada di dalam balon udara itu begitu senang. Mereka bisa melihat pemandangan langsung dari atas langit tanpa menggunakan burung di mana makhluk Eee semakin langka karena tewas saat pertempuran. Dari atas langit, Boh dan Gom juga membahas beberapa ide untuk diusulkan kepada Kenta nantinya. Rak tak sabar untuk bertemu sang kekasih agar bisa merealisasikan ide baru tersebut.
Kerajaan Vom. Tepat saat bulan merah bersinar.
Wajah Lon cemberut saat ia dijadikan semacam sekretaris bagi Kenta. Sedangkan para dayang Kiarra yang ternyata memiliki banyak kemampuan hebat tersembunyi, hanya bisa menahan senyum. Mereka berdiri di belakang Lon yang memegang selembar kertas, siap untuk menulis sesuatu.
"Mau sampai kapan kau mengunyah buah dum-dum?" tanya Lon sebal.
__ADS_1
"Namanya lucu. Apakah Ara pernah memakannya?" tanya Kenta melirik Lon sekilas.
Baginya, buah dum-dum seperti anggur, tetapi memiliki warna beragam layaknya pelangi. Rasanya juga bukan seperti anggur, melainkan buah kelengkeng.
"Aku tak mau menjawabnya sampai kau memberikanku tugas yang benar!" teriak Lon marah.
Kenta terkejut dengan mata terbelalak lebar. Wajah semua orang tegang seketika. Pria berambut panjang itu baru saja bangun tidur dan langsung makan buah. Kenta bahkan tak memakai baju dan hanya menyelimuti tubuh bagian bawahnya dengan kain. Pria Jepang tersebut masih bermalas-malasan di ranjang sambil makan.
"Apa kau tak melihat kantong mataku, ha? Aku begadang demi sebuah balon udara selama satu minggu! Aku melakukan sebuah terobosan, inovasi mutakhir di negeri ini di mana kalian semua tak pernah memiliki ide brilian sepertiku!" jawab Kenta kesal dengan buah dum-dum masih ia pegang di tangan kanan.
"Itu ide Kiarra," jawab Lon dengan wajah datar.
"Memang benar itu ide Ara, tetapi aku yang membuatnya!" jawab Kenta membela diri.
"Kau? Lalu bagaimana dengan empat lelaki tampan di belakangku ini? Bukankah mereka yang paling kau repotkan untuk membuat balon udara?" sahut Lon dengan wajah dingin.
Kenta mendesis kesal. Ia meletakkan buah yang disukainya itu ke wadah dengan kasar. Lon langsung duduk dengan dua kaki dirapatkan dan tubuh tegak. Para dayang Kiarra berdiri gagah karena tahu jika pemimpin baru mereka sedang kesal.
NGEKKK!
"Ken-ta, aku ... aaaa!" teriak Dra histeris saat tak sengaja melihat Kenta yang tak berbusana itu berdiri gagah di atas ranjang sambil bertolak pinggang.
Dra yang tadinya membuka pintu untuk memberikan laporan, langsung lari meninggalkan kamar. Penyihir cantik tersebut datang bersama para petinggi kerajaan, tetapi ia tinggalkan begitu saja. Kenta ikut panik dan langsung melompat ke samping ranjang. Pria itu menarik selimut lalu melilitkannya dengan asal ke tubuh agar keperkasaannya tak diintip lagi.
"Untung aku juga punya, jadi tak begitu kaget," ucap Lon masih duduk manis di samping ranjang.
Empat dayang Kiarra menahan senyum di mana pria Jepang itu memasang wajah tegang karena ditatap Kapten Mun dan lainnya.
"Ada laporan apa?" tanya Kenta mencoba untuk tetap bersikap profesional.
"Aku terpikirkan sebuah ide tambahan untuk balon udaramu. Mungkin akan memakan waktu lama, tetapi sepertinya bisa dilakukan," ucap sang Kapten yang membuat Kenta langsung mendekati pria berwajah garang itu cepat.
"Aku suka sebuah inovasi. Apa itu?" tanya Kenta menatap Kapten Mun lekat.
Dengan sigap, Hem memberikan sebuah gulungan. Kenta menerima gulungan itu dengan kening berkerut. Ia tampak serius saat membuka gulungan tersebut lalu membaca isinya. Semua orang terdiam menunggu keputusan pria dalam sosok Wen tersebut.
__ADS_1
"Hahaha! Aku suka, aku suka! Namun, baru bisa kita terapkan nanti saat Tur berhasil kita rebut. Ini akan jadi penemuan terbesar di Negeri Kaa!" ucapnya senang.
Kapten Mun dan lainnya ikut mengembangkan senyuman karena ide mereka diterima Kenta dengan antusias.