
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
"Xen!"
Pangeran Owe berteriak lantang dengan air mata langsung menetes dari dua mata berkelopak bulunya. Dua manusia burung yang menangkap sang Pangeran ikut terkejut karena tak menyangka jika Putri Xen dan sang Kapten akan tewas dimangsa oleh monster Wii. Ketika dua orang itu harus tetap menjalankan tugas untuk membawa sang Pangeran kepada Raja, tiba-tiba ....
SHOOT! SHOOT!
JLEB! JLEB!
"AAAAA!" teriak sang Pangeran saat tiba-tiba saja dua manusia burung yang membawanya dengan cara diikat lalu digantung pada cakar besar, jatuh.
Pangeran Owe panik karena tak bisa membebaskan diri. Wii melihat santapan lezat siap memuaskannya lagi hari itu. Ketika Wii bergerak cepat menuju ke tepian karena lokasi jatuh tiga orang itu tak jauh dari bibir pantai, tiba-tiba ....
"Singkirkan dia!" teriak salah satu orang yang membuat kepala Wii menoleh.
PYARR!
"Wiii!" lengking monster hijau tersebut saat wajahnya tiba-tiba dijatuhi oleh kantong-kantong berisi pasir kering.
Wii menjerit kesakitan dan berusaha menyingkirkan pasir-pasir yang mengenai tubuhnya. Namun, banyaknya kantong yang terus dijatuhkan dari ketinggian sebuah benda melayang di udara, membuat monster tersebut akhirnya memilih untuk kembali menceburkan diri ke laut.
"Yeah! Kita berhasil!" seru seorang prajurit dari atas kapal balon udara gembira usai usahanya bersama kawan-kawan untuk menyingkirkan Wii berhasil.
Sayangnya, Pangeran Owe yang terjatuh dari ketinggian mengalami patah tulang. Namun, dua manusia burung yang menangkapnya tewas terkena lesatan tombak dari Tej. Pria itu bersama kelompoknya ternyata ditemukan oleh anak buah Aim dan Cok si manusia setengah tikus tanah ketika dalam perjalanan ke Yak. Pangeran Owe akhirnya dinaikkan ke kapal, tetapi benda terbang itu belum bergerak ke istana. Benda tersebut melayang di udara dengan tali panjang menjuntai. Ujungnya seperti sebuah jangkar yang terkait pada sebuah batu besar sebagai penahan.
"Ada penjaga lima manusia burung di sisi lain dari wilayah ini. Mereka berhasil merebut kawasan yang seharusnya menjadi tempat penyergapan kelompokku," ucap Tej seraya menunjuk ke wilayah yang dimaksud.
"Soal itu, serahkan pada kami. Sebaiknya, kau fokus untuk menolong orang-orang yang terluka. Ramuan khusus dari para peri ini cukup ampuh untuk menyembuhkan luka meski membutuhkan waktu," ucap salah satu prajurit Aim seraya memberikan sebuah botol berisi cairan biru dengan kesan magis di dalamnya. Mata Tej menyipit saat menerima botol tersebut.
"Bagaimana bisa kalian mendapatkan benda dari peri?" tanya seorang anak buah Tej heran.
"Ken-ta," jawab seorang prajurit dengan garis ungu melintang di wajah sebagai tanda jika ia pemimpin kelompok itu.
"Terima kasih," ucap Tej. Prajurit dari kelompok Aim tersebut mengangguk. "Hanya saja, hanya aku yang tahu seluk-beluk istana berikut jalur pelariannya. Aku harus ikut dengan kalian. Soal orang-orang yang terluka, mereka bisa menolong," ucap Tej seraya menunjuk sekumpulan orang yang tadi ikut dalam kelompoknya.
"Percayakan pada kami," ucap seorang manusia setengah kelinci yang juga terluka, tetapi tak separah yang lain.
"Kalau begitu, ayo!" ajak pria bernama Sam, salah satu prajurit penunggang Eee kelompok Aim yang kini menjadi pemimpin.
__ADS_1
Kapal balon udara sengaja tak diikutkan dalam peperangan karena mengangkut banyak orang-orang yang terluka. Pangeran Owe tak sadarkan diri usai terjatuh dari ketinggian. Sedangkan Cok, Tej, berikut anggota pasukan burung Kapten Aim berjumlah 9 orang, pergi menuju ke lokasi lima manusia burung Tur berjaga. Tej menggunakan jalur lain untuk tiba di lokasi. Mereka akan melakukan penyergapan.
Saat mereka sudah di posisi dan melihat lima manusia burung sedang berkumpul mengelilingi api unggun di kejauhan, Tej memberikan isyarat. Cok dengan cepat melakukan penggalian di bawah tumpukan salju. Sam dan anak buahnya mengikuti Cok yang berhasil membuat sebuah terowongan. Beruntung, tanah di wilayah Yak gembur, tak sekeras wilayah lain sehingga dengan mudah digali.
Bahkan, bagian dalam tanah terasa hangat. Hanya bagian permukaan yang begitu dingin karena salju yang menumpuk. Tej melihat gerak-gerik lima manusia burung yang berpesta menikmati bekal, seperti tak peduli jika perang terjadi di Yak. Napas Tej memburu saat teringat perlakuan keji mereka.
"Tej," panggil Sam yang sosoknya muncul dari pintu lubang galian.
Tej si manusia harimau mengangguk paham. Ia menarik napas dalam lalu berdiri gagah menunjukkan diri. Ia melangkah dengan mantap sembari menggenggam sebuah pedang mendekati pasukan Tur tersebut.
"Hei, lihat! Dia tak jera rupanya!" seru seorang prajurit burung ketika melihat sosok Tej muncul dari balik sebuah batu besar tempat ia menyembunyikan diri.
Tej menghentikan langkah saat ia didatangi oleh para manusia burung itu. Saat mereka melangkah dengan pedang dalam genggaman, tiba-tiba, BRUKK!!
"Arghh!"
"Heahhh!"
JLEB! JLEB! JLEB! JLEB! JLEB!
Lima manusia burung yang tiba-tiba terperosok tanah hasil galian Cok dan kawan-kawan Sam, langsung dihujani dengan tusukan pedang tepat di leher. Sam dan kawan-kawannya muncul dari tanah samping galian untuk menyerang. Prajurit manusia burung Tur tewas seketika. Tej mendekat dan melihat ke dalam lubang reruntuhan seraya menunjuk tubuh seorang manusia burung.
"Lepaskan baju tempur mereka. Pakaian itu sangat kuat dan kita membutuhkannya," tegas Tej.
Sam dan empat orang dari kelompoknya mengenakan pakaian tempur prajurit Tur serta mengambil senjata mereka. Orang-orang itu bergegas maju menuju ke wilayah istana di mana masih terdengar suara peperangan. Saat mereka mengawasi di balik batu dan menilai jika Yak mampu memenangkan pertempuran, tiba-tiba, datang pasukan Tur dari kelompok lain. Mata Tej dan lainnya terbelalak. Jika demikian, Yak pasti akan dikalahkan.
"Mereka tak memiliki peluang. Mereka akan mati!" ucap Sam dengan mata melotot.
"Kalau begitu, kita harus pindahkan semua orang Yak ke tempat aman!" ujar Tej.
"Lakukan, Tej! Aku akan mengabarkan hal ini kepada lainnya di kapal. Temui kami di tempat galian untuk penjemputan!" sahut Cok.
Tej dan kelompok barunya mengangguk paham. Mereka bergegas pergi ke tempat tujuan masing-masing. Sam dan anggota kelompoknya melakukan gerakan isyarat yang membuat Tej berkerut kening.
"Sekarang!" seru Sam lantang.
Tej terus berlari bersama Sam di sisinya. Ia melihat empat anggota Sam membuat formasi untuk menyerang dan bertahan. Mereka berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan. Dua tangan mereka siap melesatkan anak panah untuk menyerang pasukan burung Kapten Tom yang tersisa. Sedangkan empat lainnya berlari ke berbagai arah. Mereka mengumpulkan senjata-senjata yang ditinggalkan oleh pemiliknya karena telah tewas. Mereka juga dengan sigap menggunakan pakaian tempur dari para manusia setengah burung yang telah mati.
SHOOT! SHOOT!
"Eekkk!"
__ADS_1
BRUKK!
"Ambil baju tempurnya, Tej! Kita kekurangan senjata! Ambil semua yang dibutuhkan!" seru Sam yang diangguki manusia setengah harimau itu.
Tej segera menyiapkan dirinya. Ia melihat empat anggota Sam dengan cekatan meluncurkan anak panah untuk menjatuhkan para manusia burung. Sedang empat lainnya seperti melakukan sebuah strategi lain karena meletakkan beberapa anak panah yang berhasil ditemukan dengan menumpuknya di beberapa lokasi. Tej yang sudah melapisi tubuhnya dengan pakaian tempur milik prajurit Tur karena dianggap lebih kokoh, kini mengumpulkan senjata-senjata berupa pedang dan tombak yang jatuh di halaman.
"Maju!" seru salah satu anak buah Sam saat usaha mereka untuk menjatuhkan beberapa manusia burung dengan memanah berhasil.
Empat orang dengan baju tempur Tur berlari mendekati kumpulan anak panah yang telah dipersiapkan kelompok lain dari hasil memungut senjata musuh. Empat pria itu kembali membentuk formasi untuk menjatuhkan musuh lagi dengan memanah. Tej akhirnya paham, jika strategi yang digunakan oleh anak buah Sam cukup unik dan baru tahu jika ada jenis formasi seperti itu.
"Tej, bawa semua senjata yang berhasil kau kumpulkan dan ikut denganku! Cepat!" ajak Sam usai meletakkan beberapa anak panah hasil temuannya di atas tumpukan salju seperti sengaja ditinggalkan.
Tej mendekap banyak senjata di depan dadanya. Ia menoleh dan melihat empat anak buah Sam berlari menuju ke tempat anak panah yang ditinggalkan oleh Sam.
"Tej! Di mana lokasi untuk membawa orang-orang kita keluar dari istana?" tanya Sam sembari menyabetkan pedang saat seorang manusia setengah banteng datang padanya.
"Di sana!" tunjuk pria itu saat melihat sebuah pintu menara yang tak dijaga.
"Persiapkan jalur penyelamatan!" teriak Sam sembari terus mengayunkan pedangnya.
"Baik!" jawab para anak buah Sam cepat.
JLEB! CRATT!
Manusia setengah banteng berhasil dikalahkan usai Sam menusuk lehernya. Sam melihat sekitar di mana orang-orang Yak masih berusaha keras untuk mengamankan istana karena bangunan megah tersebut mulai dimasuki pasukan musuh. Empat orang yang sejak tadi mengumpulkan senjata, menarik mayat-mayat dan menumpuknya seperti membuat sebuah barikade. Mereka membuat pertahanan sebagai jalur pelarian orang-orang Yak.
Tej diminta untuk meletakkan senjata-senjata hasil temuannya di balik tumpukan mayat. Pria harimau itu hanya membekali dirinya dengan dua pedang dalam genggaman. Kali ini, ia dan Sam akan berhadapan langsung dengan pasukan bantuan Tur yang datang dari arah hutan di depan barikade tumpukan mayat, tepat di depan sebuah pintu samping menara yang digunakan sebagai jalur pelarian.
"Tej!" panggil Boh yang ternyata melihat kawan-kawannya datang.
"Cepat tinggalkan istana! Pasukan bantuan Tur datang! Pergi ke arah pantai!" seru Tej lantang saat melihat Boh bersama orang-orangnya berada di samping pagar jembatan roboh.
"Kami mengerti!" jawab Boh lantang yang kini harus mencari cara untuk turun.
"Bersiap!" seru Sam berdiri gagah dengan dua pedang dalam genggaman. "Kita harus pastikan orang-orang Yak berhasil keluar dari istana. Kau mengerti!"
"Aku mengerti!" jawabnya mantap.
Delapan anak buah Sam telah bersiap dengan anak panah yang tersisa untuk melindungi dua orang yang berdiri sebagai pertahanan terdepan di balik tumpukan mayat. Pasukan bantuan Tur yang datang dari arah hutan, dengan cepat datang seperti terjangan angin topan. Tej tahu jika mereka kalah jumlah. Namun, baginya lebih baik mati dengan berjuang untuk menyelamatkan nyawa ketimbang kabur demi keselamatan diri sendiri.
"Majulah!" teriak Tej siap untuk melawan.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE