Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Wilayah Tur*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.



Jantung Eur berdebar kencang. Sang Jenderal tak terlihat dari permukaan. Ia juga baru menyadari jika telah memasuki wilayah Tur karena tempat tersebut diselimuti kabut hijau dan air laut ikut berubah warna. Kepala pria tampan itu lalu menoleh ke arah lain di mana orang-orang yang berhasil selamat dari gempuran kapal Kerajaan Tur karena berlayar hijau, sengit melakukan serangan balasan.


"Tembak!" seru Jenderal Gom dari kemudinya.


BOOM!


"Oh!" kejut Eur saat melihat sang Pangeran menembakkan meriam ke arah kapal musuh yang tak lain adalah dari kerajaannya sendiri.


Eur panik dan bingung dalam bersikap. Ia melihat kawan-kawannya terluka karena serangan meriam lawan. Fuu dan lainnya mengerang kesakitan di atas geladak kapal. Eur ingin menceburkan diri ke laut, tetapi khawatir jika sang Jenderal tak ditemukan mengingat warna air yang pekat. Eur berusaha menahan kesedihannya dan berjuang untuk bertahan membantu orang-orang melakukan serangan balasan.


"Eur! Jenderal!" seru Pop yang mengalami luka di kepala hingga berdarah.


"Aku tahu. Namun, aku yakin jika Jenderal akan baik-baik saja. Kita yang harusnya waspada karena tak memiliki keberuntungan sebanyak Jenderal," jawab Eur seraya membantu kawannya berdiri.


"Mereka datang!" teriak sang Putri yang berada di ujung geladak saat melihat kapal Kerajaan Tur siap menghantam mereka di mana ukurannya lebih besar.


Semua orang berpegangan pada badan kapal yang kokoh dan berharap benda mengapung tersebut tak hancur karena tabrakan. Saat jantung semua orang serasa ingin meledak, tiba-tiba ....


SPLASH!!


"Heahhh!"


"Ara!" teriak Lon dengan mata berbinar saat Kiarra muncul dari dalam air dengan sayap kristal biru dan mata bersinar terang.


"Gunakan sihir kalian! Kita tak bisa melawan mereka. Cepat pergi dari perairan ini, kita kalah jumlah!" seru Kiarra yang melihat ada banyak kapal berlayar hijau di kejauhan, yakni armada gelombang kedua.


"Sial!" pekik Gom marah dan langsung memutar kemudi sehingga kapal berbelok.


Di kapal Kerjaan Tur yang dipimpin oleh seorang Laksamana berwujud manusia setengah binatang bernama Yoh.


"Mereka berusaha kabur! Raja sudah memberikan perintah. Bunuh mereka semua, tenggelamkan!" seru Laksamana Yoh.

__ADS_1


"Laksanakan!"


Segera, meriam-meriam kembali terisi penuh dan siap untuk dilontarkan ke kapal yang ditumpangi tim Kiarra. Wanita yang tengah hamil itu tak akan membiarkan musuh menenggelamkan kawan-kawannya. Kiarra terbang sembari melakukan serangan dengan bola-bola api birunya.


"Heahhh!"


WHOOM!!


"Agh!"


"Dia pasti penyihir kerajaan Yak! Matanya biru!" teriak salah satu awak kapal Kerajaan Tur melihat sosok Kiarra.


Mata awak kapal kerajaan musuh menatap Kiarra tajam yang terus melakukan serangan pada mereka dengan berusaha membakar kapal.


"Apakah ... Yak bekerjasama dengan Ark? Gila, tak bisa dibiarkan!" pekik sang Laksamana menduga.


"Laksamana! Di kapal itu ada putri dan pangeran! Bahkan, penyihir Boh ikut bersama mereka dan Jenderal Gom yang menahkodai kapal!" teriak awak kapal yang meneropong dari atas menara.


Sontak, hal tersebut mengejutkan orang-orang dari kapal Kerajaan Tur. Laksamana Yoh segera memanjat karena dirinya manusia setengah monyet. Matanya terbelalak lebar ketika melihat orang-orang di kapal berlayar merah itu seperti kumpulan dari beberapa kerajaan.


"Laksamana! Wanita terbang itu, dia seperti Jenderal Kia dari Vom!" seru seorang awak lainnya yang mengejutkan sang Laksamana.


Pria itu terlihat bingung dengan kondisi yang tak diduga. Hingga tiba-tiba, KREKK!!


"A-apa yang terjadi?" tanya Laksamana karena tiba-tiba saja kapal mereka berhenti seperti tersangkut sesuatu.


"Es! Wanita berambut putih itu membekukan air di sekitar kapal! Kita terjebak!" jawab seorang awak yang berdiri di samping geladak.


Sang Laksamana diam sejenak dengan kening berkerut. Ia kembali meneropong dan melihat satu per satu orang-orang dari kapal berlayar merah itu. Perlahan, pria itu menyadari jika kapal yang ditumpangi oleh empat orang dari kerajaannya adalah salah satu armada Tur. Kapal tersebut dicuri, tetapi Yoh tak menyangka jika pelakunya adalah para keturunan Raja.


"Laksamana, apa yang harus kami lakukan?" tanya seroang awak karena kapal yang mereka incar mulai berlayar menjauh dan ada kabut berwarna ungu menutupi sosok kapal berlayar merah itu.


"Hancurkan es-es ini! Minta kapal lainnya untuk mengejar! Mereka ada di perairan kita. Putri dan pangeran tak bisa kabur ke mana pun!" jawab Yoh yakin.


"Baik!" jawab seorang awak yang kemudian memberikan sinyal ke kapal di belakangnya.

__ADS_1


Sontak, hal tersebut mengejutkan armada lain. Mereka bergegas mengejar kapal yang ditumpangi pangeran dan warga asing kerajaan lain di mana sang Laksamana yakin jika orang-orang itu akan memasuki wilayah Tur yang berada di kawasan terluar. Akan tetapi, hal tak terduga terjadi. Saat kapal dari Kerajaan Tur menerobos asap ungu yang menghalangi pandangan, tiba-tiba ....


BRAKK! KRAKK!


"Arghh!" erang para awak karena kapal mereka tertabrak batu kristal yang besar dan membuat orang-orang itu jatuh dari atas kapal akibat benturan hebat.


Para manusia setengah binatang itu tercebur ke lautan. Beruntung, mereka bisa berenang, tetapi kapal tak lagi bisa mengejar. Rak, Dra dan Kiarra menyatukan kekuatan dengan membuat pagar dari ombak. Dra yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan air, membuat cairan itu bergerak ke atas layaknya kerucut. Rak membekukan ombak itu dan membuatnya seperti sebuah pagar es. Kiarra menambah kekuatannya dengan sihir kristal biru yang kokoh agar kapal musuh rusak saat menabrak dinding ciptaan mereka.


Praktis, senyum orang-orang di kapal milik putri dan pangeran Tur terpancar karena usaha mereka untuk lolos sekaligus melumpuhkan armada kerajaan berhasil. Hanya saja, baik Dra, Rak ataupun Kiarra, mereka merasakan jika energi terkuras habis. Eur yang panik setengah mati segera membopong Kiarra dan membawanya masuk ke dalam.


"Cepat perbaiki kapal sebelum tenggelam. Jarak menuju ke wilayah terluar masih cukup jauh dan kita akan tiba saat bulan berganti. Lakukan!" titah Jenderal Gom yang bisa merasakan kapalnya rusak parah.


"Baik!" jawab para dayang Kiarra mantap.


Segera, mereka memperbaiki kapal dibantu oleh Lon, Boh, putri dan pangeran. Dra dan Rak terlihat begitu letih. Mereka menyender di dekat Jenderal Gom yang fokus menahkodai kapal menuju ke titik terakhir berlabuh.


"Terima kasih," ucap pria setengah binatang itu.


Dra dan Rak tersenyum tipis disertai anggukan. Sedang Kiarra, kembali dibaringkan di kamar. Eur terlihat begitu cemas karena tubuh sang Jenderal basah kuyup dan terlihat pucat.


"Jenderal, sebaiknya Anda jangan ikut bertindak. Aku tahu keadaan kita terdesak dan sulit. Namun, kehamilan Anda yang utama. Aku tak ingin calon anak kita terluka. Percaya padaku, aku bisa melindungi kalian berdua," ucap Eur meyakinkan.


Kiarra tersenyum dengan wajah berkerut. Ia tak ingin Eur merasa diremehkan sebagai seorang lelaki. Kiarra meraih wajah Eur dan mencium bibirnya lembut.


"Tolong jaga kami berdua, calon ayah. Aku berharap padamu."


Sontak, ucapan Kiarra membangkitkan semangat seorang pelindung layaknya suami dalam diri Eur. Pria itu mengelus perut Kiarra lembut lalu pergi meninggalkannya untuk membantu memperbaiki kapal agar bisa bertahan sampai tujuan akhir. Kiarra merasa jika Eur adalah sosok yang bertanggung jawab layaknya suami siaga. Meskipun Kiarra gugup dengan kehamilannya, tetapi ia bahagia. Sang Jenderal memilih memejamkan mata untuk beristirahat dan mempercayakan keselamatannya pada Eur.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE



oke gaes eps dan novel TDR udah lolos review. semoga epsnya gak ngacak ya dan jangan lupa utk fav segera novel baru lele biar gak ketinggalan updatenya. up tgl 15 hari Senin jam 7 pagi, 2 siang dan 7 malam. tengkiyuw❤️

__ADS_1


__ADS_2