Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Penyesalan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Aula Kerajaan Zen.


Kenta yang mendapat kabar mengejutkan itu tentu saja membuatnya langsung terdiam membatu. Ia ditatap tajam oleh semua orang usai mata-mata susulan dari Zen dikirimkan untuk mencari tahu kondisi di Tur. Orang itu menjelaskan jika Jenderal Gom dan Panglima Rat tewas digantung. Para Www yang seharusnya dilepaskan untuk menyerang pasukan Tur malah masuk ke pemukiman warga dan menewaskan penduduknya.


Kenta berdiri perlahan dalam diam dengan pandangan tertunduk di hadapan petinggi lima kerjaan. Meja panjang dari kayu dengan kursi diduduki orang-orang dari perwakilan kerajaan kini dipandangi oleh Kenta yang berdiri di hadapan. Ketegangan menyeruak dan tak terlihat wajah keramahan dari orang-orang tersebut. Mereka tak sabar menunggu pembelaan Kenta atas kegagalan strateginya.


"Tak ada kata yang bisa kuucapkan selain minta maaf. Aku menyesal dan sangat menyayangkan hal ini. Oleh karenanya, segala bentuk urusan yang menyangkut dengan Negeri Kaa, aku kembalikan kepada orang-orangnya. Aku di sini hanya tamu dan menumpang pada raga seorang Panglima besar pada masanya. Aku tak bisa mengemban tugas dengan baik. Jadi ... aku akan pergi," ucap Kenta lalu meletakkan segala atribut kebesaran dari jabatannya sebagai pemimpin strategi lima kerajaan di atas meja.


Orang-orang tertegun, tetapi mereka merasa jika hal yang dilakukan Kenta tepat. Mereka diam saja saat Kenta hanya mengenakan pakaian biasa tanpa jubah dan emas-emas yang menghiasi raganya. Kenta lalu beranjak dari ruangan dan menyusuri koridor dalam diam. Lon marah pada saudara Kiarra itu, tetapi ia juga sadar jika Kenta masih dibutuhkan dalam misi kali ini.


"Naga percaya padanya," ucap Lon kemudian.


"Kematian dan kekalahan dalam sebuah pertempuran biasa terjadi. Aku rasa, Ken-ta patut mendapatkan kesempatan kedua," sahut penyihir Boh.


"Beberapa pertempuran berhasil ia menangkan dan Ken-ta baru kalah satu kali. Hanya saja tak bisa dipungkiri jika sangat merugikan," imbuh Putri Xen.


"Aku akan membujuknya," sahut Dra dan semua orang mengangguk setuju.


Dra bergegas menyusul Kenta. Namun, ia tak menduga jika kakak Kiarra tersebut tak ada di kamarnya. Hanya ada Rak sedang tertidur pulas di sana. Dra segera beranjak mencari keberadaan Kenta. Herannya, para penjaga koridor tak melihat pria yang sangat terkenal di kerajaan itu. Sontak, hilangnya Kenta secara tiba-tiba, mengejutkan semua orang, dan tentu saja, menimbulkan kepanikan bagi Rak.


"Maaf, Rak. Namun, itu keputusan Ken-ta sendiri untuk mundur," ucap Pangeran Owe.


"Apakah Ken-ta meninggalkan pesan padamu sebelum pergi?" tanya Tej.


Rak menggeleng karena Kenta tak membangunkannya usai persatuan tubuh. Rak yang diliputi kecemasan, bergegas mencari keberadaan sang kekasih. Ia sampai terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar kegaduhan di luar kamar. Saat ia mendapat kabar mengejutkan dari penjaga, Rak bergegas menemui Dra untuk memastikan kabar tersebut dan ternyata, benar adanya.


Di Kerjaan Tur.


Pesta besar dilangsungkan di kerajaan meski beberapa bangunan rusak akibat penyerangan. Korban peperangan yang tewas ditumpuk menjadi satu dan nantinya akan dikubur secara masal. Hanya saja, orang-orang yang dianggap pengkhianat oleh sang Raja, sengaja digantung pada dinding benteng agar disaksikan oleh kelompoknya dengan tujuan menjatuhkan mental mereka. Selain itu, serangan balasan dan taktik Tur dengan berpura-pura meninggalkan kerajaan membuahkan hasil. Hal yang diharapkan oleh sang Raja terwujud.


"Paduka! Kami berhasil memperbaikinya!" ucap Gor manusia gorila yang selamat dari serangan Eee kala itu karena ia jatuh di atas tumpukan jerami.

__ADS_1


"Hahaha! Kerja bagus. Tunjukkan padaku!" ucap Raja Tur seraya berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju ke halaman seraya membawa gelas berisi minuman.


"Kembangkan!" teriak Gor memberikan titah.


Para prajurit Tur tampak memenuhi halaman utama kerajaan. Mereka mengelilingi sebuah benda yang ternyata adalah balon udara milik pasukan Kiarra. Senyum sang Raja terkembang. Ia akhirnya bisa memiliki benda terbang yang pernah membuat pasukannya kalah.


"Hahahaha! Hahaha! Benda ini menjadi milikku! Kemenangan kita sudah di depan mata! Saatnya menjajah!" teriak Raja Tur gembira ketika melihat tiga balon udara di hadapannya melayang di atas permukaan tanah meskipun tali masih terlilit agar benda tersebut tidak meninggalkan posisinya.


"Hidup Raja Tur! Hidup sang Raja!" seru prajurit Tur mengelu-elukan pemimpin mereka.


Di sisi lain. Hutan Kabut Putih.


Kelompok Fuu berhasil membawa orang-orang dari Tur yang selamat sampai ke hutan. Namun, mereka dihalangi oleh utusan Tur yakni manusia setengah burung bernama Neo sehingga harus melakukan perlawanan sengit untuk mengusirnya.


"Harghh!" raung Neo yang ditugaskan oleh Raja Tur untuk mengawasi Pyu dan telur Kiarra dalam hutan.


Pria itu terkena tusukan anak panah yang dilesatkan oleh Hem dari atas punggung Eee. Lelaki bersayap itu mulai terbang tak menentu karena salah satu sayapnya terluka. Kem yang tak ingin buruannya lepas, dengan sigap mengayunkan pedangnya dari atas punggung Eee saat lawan berusaha kabur dari kejaran.


"Heahhh!"


"Arghhh!" raung pria burung itu ketika punggungnya berhasil dilukai oleh ujung pedang Kem.


"Cepat! Cepat!" seru Fuu lantang menggiring orang-orang agar segera masuk ke hutan saat melihat kesempatan.


Akan tetapi, saat warga Tur melintasi kabut putih di hutan, tiba-tiba saja mereka tersandung dan jatuh dengan keras di atas tanah. Fuu langsung menghentikan langkahnya seketika. Matanya melotot ketika melihat warga Tur terlilit oleh akar yang muncul dari dalam tanah. Fuu dan tiga pemberontak yang bertugas melindungi warga tertegun. Sekumpulan manusia setengah binatang itu panik karena ditarik ke dalam tanah setelah dijadikan seperti kepompong.


"AAAA!" teriak salah satu warga saat seluruh tubuhnya tertutupi akar pohon dan memerangkapnya kuat.


"Apa yang terjadi?" tanya Fuu gelisah dengan mata melihat ke arah hutan kabut putih.


"Para Nym pasti tak mengizinkan kita!" sahut Zeb dengan napas tersengal seraya melangkah mundur menjauhi hutan.


Namun, Fuu yakin jika para peri dalam hutan bukanlah musuh. Kenta mengatakan jika mereka sekutu. Fuu berlari mencoba memasuki hutan. Saat ia akan menerobos kepulan kabut putih bagaikan dinding asap itu, tiba-tiba ....

__ADS_1


DUAKK!!


"Agh!"


"Fuu!" teriak Zeb ketika tubuh Fuu ditampar kuat oleh sebuah akar yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah.


Tubuh Fuu terhempas dan jatuh dengan keras di lapangan depan hutan. Tiga pemberontak dari Tur kebingungan karena mereka tak bisa masuk ke hutan seperti ada sebuah dinding tak terlihat yang menghalangi mereka. Fuu berusaha bangkit usai ditolong oleh Zeb dan dua lainnya dari kelompok pemberontak. Mereka melihat warga Tur ditelan oleh hutan kabut putih ke dalam tanah hingga tak terlihat lagi.


"Apakah mereka mati?" tanya seorang pemberontak dengan wujud manusia setengah kerbau bernama Buf.


"Entahlah. Aku tak menduga jika akan terjadi hal seperti ini," jawab Fuu bingung.


"Cepat pergi! Jangan hiraukan kami!" ujar Kem dari atas langit karena Neo si manusia burung kabur.


Kem dan Hem mengejar pria itu karena dikhawatirkan akan memberi kabar ke Raja Tur.


"Kita tak bisa memasuki hutan, Fuu. Sebaiknya, kita pergi. Pasukan Tur pasti mengejar kita. Tempat ini tak aman," ajak Buf.


Fuu kembali melihat ke arah hutan. Ia merasa jika para peri tak mungkin membunuh manusia-manusia yang membutuhkan pertolongan itu.


"Kita pergi," ajak Fuu dan diangguki tiga kawannya.


Fuu dan tiga pemberontak Tur berlari menuju ke arah sungai di mana manusia ubur-ubur masih berjaga di sana meski terhalangi oleh pagar air. Mereka berharap, mantan nelayan-nelayan Tur tersebut bisa membawa mereka keluar dari tanah terkutuk itu. Tanpa disadari, Pyu yang sedari tadi bersembunyi di balik batu besar mengamati pergerakan orang-orang itu dalam diam. Ia lalu dengan sigap mengikuti Fuu dan lainnya menuju ke sungai.


Di tempat Kenta berada.


Pria Jepang itu berhasil kabur dari Kerajaan Zen tanpa ketahuan dengan memanfaatkan kemampuan dari Eee. Ia tak meninggalkan pesan atau mengucapkan selamat tinggal kepada siapapun. Pria yang sedang terpuruk itu memilih untuk berdiam di sebuah wilayah dan membiarkan bulan merah menunjukkan kekuasaannya. Eee yang ikut bersamanya tertidur karena makhluk itu hanya beraktivitas saat bulan ungu bercahaya. Kenta termenung memikirkan banyak hal dalam kesendirian.



"Kenapa aku bisa seceroboh itu?" tanyanya pada diri sendiri yang memilih duduk bersila di depan sebuah pohon kering tanpa daun. "Ara pasti akan marah besar padaku," imbuhnya lagi yang kini menundukkan wajah. Kenta yang frustasi menggaruk kepalanya kasar. Ia bingung harus bagaimana karena keteledorannya ini. Akhirnya, pria Jepang itu memilih untuk tidur karena tak bisa berpikir. "Ah, sudahlah. Solusi akan datang dengan sendirinya saat pikiran tenang," ucapnya dengan mata terpejam. Ia menjadikan tubuh Eee sebagai sandaran.


***

__ADS_1


ILUSTRASI : SOURCE : GOOGLE (WallpaperSafari)


__ADS_2