Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Memburu Ram


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Rombongan Kiarra melaju kencang menuju hutan. Siapa sangka, jika pergerakan mereka ternyata diketahui oleh pasukan yang melakukan penyisiran dalam desa. Praktis, pasukan Vom yang belum terkena sihir Dra mengejar pasukan Kiarra.


"Itu Dra dan Jenderal Kia!" seru salah satu panglima yang dengan sigap memacu kudanya.


"AAAA! Mereka mengejar kita!" teriak Lon panik saat melihat anak panah siap dilesatkan oleh para kesatria berkuda.


Kiarra yang berboncengan dengan Dra dengan menunggangi Aaa, sigap berbalik arah. Mereka siap untuk berhadapan langsung dengan pasukan berkuda Vom. Kiarra tak gentar saat menarik pedang kristal untuk melawan para pasukan Vom yang ingin menangkapnya. Aaa berdiri gagah, menunggu terjangan dari serangan pasukan yang mengenakan baju zirah warna hitam itu.


"Yee meraka seka lega, ne gale-gale ... yee meraka seka lega, ne gale-gale."


Lagi. Dra menggunakan sihir untuk menghipnotis para prajurit Vom. Anak-anak yang menunggang kuda bersama para prajurit sebelumnya tampak kagum karena melihat kehebatan Dra. Panglima Goo menghentikan laju kuda bersama pasukannya. Meskipun mereka dalam pengaruh hipnotis, tetapi orang-orang itu masih sadar dengan keadaan sekitar. Hanya saja, tujuan mereka berbalik untuk menyerang kerajaan seperti perintah sang Jenderal.


"Bagus, Dra. Sebaiknya setelah ini kau pejamkan mata sampai kuminta dibuka. Aku khawatir kau akan menghancurkan strategiku jika terlalu banyak berkedip," tegas Kiarra.


"Baik," jawab Dra malah berkedip.


Sang Jenderal lalu mengarahkan Aaa untuk melangkah maju. Kiarra memberikan perintah kepada para pasukan yang linglung itu.


"Dengarkan aku! Kalian pergilah bersama anak-anak Desa Gul untuk membebaskan para penduduk yang disekap oleh Raja. Bawa mereka keluar dari istana menuju ke pohon jembatan di hutan daun merah wilayah Ark. Amankan orang-orang itu dari segala jenis serangan. Kalian mengerti?"


"Mengerti, Jenderal!" jawab para pria itu serempak dengan warna mata menyala ungu terang.


"Good. Ayo, Dra!" ajak Kiarra dan diangguki penyihir itu.


Anak-anak bergegas untuk pindah tunggangan karena misi mereka untuk membebaskan penduduk yang disekap. Kiarra dan pasukannya akan mengalihkan perhatian para pasukan kerajaan saat anak-anak memasuki terowongan yang dulu digunakan oleh wanita cantik itu ketika melarikan diri dibantu salah satu dayang. Kiarra memanfaatkan pohon jembatan agar segera tiba di wilayah Vom. Namun, dia memiliki firasat jika pasukan Vom lainnya sudah menunggu di sana.


"Kau yakin, Panglima Goo?" tanya Kiarra memicingkan mata saat mengintrogasi salah satu panglima Kerajaan Vom.


"Semua pasukan yang tersisa menjaga kerajaan, Jenderal. Hanya dua pasukan yang ditugaskan melakukan pencarian," jawabnya tegas.


Kiarra melirik Dra dan penyihir itu mengangguk meyakinkan. Kiarra akhirnya membawa pasukan pertama bersama dirinya. Lalu Dra akan membawa pasukan kedua bersama anak-anak.


"Woah! Ini hebat sekali! Kita berpindah tempat!" seru Lon senang.


"Jangan gembira dulu. Fokus pada misimu. Kalian semua harus berhati-hati dan ikuti instruksi yang sudah kuberikan. Kalian paham?"


"Ya, Jenderal!" jawab anak-anak serempak.


"Bagus. Kalian anak-anak yang pintar. Sampai jumpa di hutan pohon merah. Pergilah!" titahnya.


"Heyah!"


Pasukan kedua bergegas pergi seperti perintah Kiarra sebelumnya. Lon dan anak-anak lainnya akan pergi untuk membebaskan penduduk yang disekap. Sedangkan Kiarra, Dra, Panglima Goo dan pasukan Vom kelompok pertama akan menyerang kerajaan. Ternyata, kuda dengan mata merah telah dipersiapkan oleh Goo sebagai antisipasi jika Bulan Merah muncul di hutan dekat pohon jembatan. Aaa yang tak terkena dampak pergantian bulan, sudah siap dengan strategi berikutnya.


Hingga akhirnya, bulan ungu kini telah digantikan oleh bulan merah. Kiarra bisa merasakan pertumpahan darah akan terjadi di daratan itu. Warna baju perangnya pun ikut berubah menjadi merah mengikuti perubahan dari sang bulan. Benar saja, saat sosok sang Jenderal muncul berikut Dra di gerbang kerjaan seraya menunggangi Aaa, para penjaga dengan sigap mengarahkan senjata mereka.

__ADS_1


"Kami berhasil menangkap Jenderal dan Dra! Buka gerbangnya!" titah Goo sebagai pemimpin pasukan.


Saat para penjaga gerbang akan membuka pintu, tiba-tiba ....


"Hentikan! Mereka dalam pengaruh sihir Dra!" seru seorang lelaki yang muncul di salah satu menara pengawas.


"Ram!" teriak Kiarra lantang yang membuat mata lelaki itu melebar.


"Sudah kuduga. Wanita itu berhasil lolos dari kematian," gumam Ram yang matanya kini beradu dengan Kiarra.


"Dra! Jatuhkan Ram!"


Seketika, Dra membuka mata. Ram terkejut dan langsung menghindar dengan menuruni tangga menara. Amarah Kiarra memuncak karena telah mengetahui kebusukan Ram.


"Kemari kau pengecut!" teriak Kiarra marah dan melepaskan ikatan palsu di pergelangan tangannya berikut tangan Dra. "Serang!"


"Heyahhh!"


Kuda-kuda dari pasukan Panglima Goo dengan cepat berlari menuju ke arah pintu benteng, begitupula Aaa yang tak ingin tertinggal untuk ikut berjuang. Suara terompet membahana yang menandakan jika kerajaan diserang. Praktis, pasukan penjaga kerajaan dengan sigap mempersenjatai diri.


"Awas panah! Tameng!" teriak Kiarra ketika melihat pasukan pemanah berdiri di balik benteng yang menjulang tinggi, mengarahkan bidikan mereka ke tubuh pasukan Kiarra.


Dengan sigap, pasukan Kiarra mengangkat perisai berbentuk segi lima dari besi itu ke atas, melindungi wajah dan tubuh bagian depan dari ketajaman ujung panah pembunuh. Ram berhasil kabur karena sosoknya tak terlihat di menara. Kiarra yang melihat pintu memasuki benteng ditutup rapat dan jembatan kayu dinaikkan sehingga tak bisa menyeberang, membuat pasukannya seperti memasuki ladang pembantaian.


"Tak akan kubiarkan!" teriak Kiarra seraya memutar-mutar pedangnya ke atas seperti sebuah baling-baling.


"Tembak!" seru pemimpin pemanah kerajaan.


"Heahhh!" teriak Kiarra saat ia melemparkan gumpalan biru seperti pusaran angin itu ke arah para pemanah dengan pedangnya.


Seketika, ratusan anak panah yang melesat siap menembus pertahanan pasukan Kiarra terhempas oleh pusaran angin biru. Anak panah itu malah berganti menyerang tuannya dan berhasil menjatuhkan pasukan pemanah Vom.


JLEB! JLEB! JLEB!


"Arghh!"


"Hahaha! Kau hebat, Ara!" puji Dra yang tak menyangka jika wanita penolongnya mampu melakukan hal tersebut.


Praktis, kejadian itu membuat pasukan kerajaan Vom panik dan bersiap melakukan serangan susulan. Dra yang tak mau kalah dan hanya menjadi penonton, ikut menunjukkan kemampuan sihirnya.


"Mamose! Mamose! See lemoka ... regale!" serunya dengan tangan terlentang yang kemudian ia angkat ke atas. Dra mengarahkan kedua tangannya ke atas benteng.


Seketika, "Wow! Wow! Wow!" teriak Kiarra karena Aaa tiba-tiba melayang seperti terbang melewati kumpulan pasukan Vom penjaga benteng yang sedang bersiap untuk melakukan perlawanan kembali.


Kiarra yang tertegun, menoleh ke bawah dan melihat para pasukan Kerajaan Vom melebarkan mata. Mereka sama terkejutnya dengan Kiarra karena tak menyangka bisa terbang melompati benteng.


"Hergghhh!" erang Dra yang tampak begitu berusaha menjaga kekuatannya. Otot-otot di tangan dan wajahnya menegang karena mengkonsumsi banyak energi demi bisa membawa masuk pasukan Kiarra ke dalam benteng tanpa harus menjebol gerbang. Akan tetapi, "Hah ...."

__ADS_1


"Shitt! Semuanya, lompat!" titah Kiarra karena ia bisa merasakan sihir Dra melemah.


"Heyahh!"


Panglima Goo dan pasukannya melompat dari atas punggung kuda saat tunggangan mereka berada di atas kumpulan pasukan kerajaan.


"Hikkk!" Kuda-kuda melengking saat mereka juga merasakan hal buruk terjadi.


BRUGG!


"Agh!" rintih pasukan kerajaan karena tertimpa tubuh kuda-kuda yang tak bisa mendarat dengan mulus di permukaan lantai batu.


Pasukan Kiarra berhasil mendarat meski beberapa di antara mereka jatuh ditumpukan tubuh lawannya.


"Dra!" seru Kiarra.


Dra yang berhasil mendarat karena Aaa dengan sigap memantapkan kakinya, meski harus menginjak beberapa tubuh pasukan penjaga benteng, membuat sang Jenderal dan penyihir itu tak perlu melakukan lompatan seperti prajurit Vom. Kiarra bergegas turun dan menyabetkan pedang kristalnya lalu melemparkan prajurit penjaga benteng dari atas dinding yang menjulang tinggi itu.


"Yee meraka seka lega, ne gale-gale ... yee meraka seka lega, ne gale-gale."


Dra menggunakan sihir hipnotisnya lagi untuk membuat pasukan kerajaan Vom memihak Kiarra. Namun, hal itu membuat Dra lemas dan langsung roboh. Penyihir itu tampak kelelahan dan membuat matanya berkedip.


"Pasukan Vom, dengarkan aku! Tangkap Raja, Ratu dan pejabat tinggi kerajaan. Bawa ke aula untuk diadili!" titah Kiarra bersuara lantang di atas benteng.


"Baik, Jenderal!" jawab pasukan Vom penjaga benteng yang akhirnya turut menjadi pasukan Kiarra.


Dra mengedipkan matanya berulang kali, mencoba untuk tetap sadar dari kondisinya yang mulai rentan. Namun, tiba-tiba ....


DUAKK! BRUKK!


"Maaf, Dra. Kau sebaiknya istirahat sejenak. Aku selesaikan dari sini," ucap Kiarra yang malah sengaja membuat Dra pingsan dengan memukul kepalanya. Aaa menatap Kiarra tajam dan wanita itu hanya menaikkan dua alis sebagai jawaban. "Lindungi dia, Aaa!" titah Kiarra.


"Akk!"


"Pasukan Vom! Tangkap Raja dan petinggi kerajaan!" seru Kiarra.


"Yeah!"


Segera, pasukan Vom kini beralih pihak. Kiarra memimpin para lelaki itu menyerbu Raja mereka, di mana Kiarra sekarang tahu kenapa Kia menjadi Jenderal yang kejam. Itu semua, karena ambisi sang Raja yang ingin menaklukan seluruh kerajaan di Negeri Kaa di bawah naungannya. Firasat Kiarra terhadap Raja ternyata benar adanya.


Lelaki tua itu sangat haus akan kekuasaan. Raja juga tega mengancam sang Jenderal ketika masih muda dengan menumbalkan kedua orang tuanya sebagai persembahan Grr kala itu demi menaklukkan wilayah perbatasan. Tentu saja, Kia muda yang saat itu tak memiliki kekuatan untuk membangkang menurut. Akan tetapi, kedua orangtuanya tetap dijadikan korban karena Kia kalah berperang.


Hal itulah yang membuat Kia menjadi begitu tangguh dan kuat. Supaya orang yang disayanginya tak mati lagi karena dia lemah. Apabila tugas berikutnya gagal, maka Dra yang akan menjadi target penumbalan berikutnya. Kiarra yang tak ingin sang adik tewas, menjadikan dirinya penyuka perempuan. Ia membuat kesepakatan dengan Raja. Apabila dirinya kalah berperang, maka para dayangnya yang akan menggantikan kematian Dra. Sayang, hal itu malah tidak pernah terjadi.


***


__ADS_1


uhuy makasih tipsnya jeng shiskašŸ˜ wah banyak amat lho sampai gak abis2. tapi ini yg terakhir😁kuy yg lain jangan lupa dukungannya ya. ditunggu. tengkiyuwšŸ’‹


__ADS_2