Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Hukuman Sang Ratu


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra memimpin pasukan Vom dengan target utama sang Raja. Penduduk dibuat panik saat melihat Jenderal mereka memasuki wilayah kerajaan dengan pasukan bersenjata lengkap seperti ingin melakukan kudeta. Kiarra membagi pasukannya dalam beberapa kelompok untuk menangkap para pejabat kerajaan dan menyandera mereka di aula. Praktis, aksi pemberontakan ini membuat para petinggi kerjaan menolak, tetapi berakibat lebam pada tubuh mereka.


"Cepat! Kau akan diadili!" seru Panglima Goo seraya menyeret penasihat Raja yang ditemukan bersembunyi di kamarnya.


"Kalian akan dihukum mati!" teriaknya murka, tetapi baik Goo ataupun prajurit Vom lainnya tak menggubris. Mereka tetap melakukan penangkapan dan mengumpulkan orang-orang itu di aula seperti perintah Kiarra.


Sedang sang Jenderal, terlihat sibuk mencari sang Raja yang entah bersembunyi di mana. Hingga ia teringat akan kamarnya di menara dan bergegas menuju ke sana. Namun, pintu kamarnya terkunci. Kecurigaan Kiarra makin menyudut dan nekat mendobraknya.


BRAKK!!


"Hah, Jenderal!"


"Eur!" teriak Kiarra saat melihat salah satu dayangnya digantung oleh sang Ratu tanpa busana dengan luka di sekujur tubuh, termasuk dayang-dayang lainnya.


Napas Kiarra memburu saat melihat seorang dayang perempuan sang Ratu memegang cambuk. Sedang Ratu sendiri memegang belati di tangan kanan, seperti siap menusuk dayangnya yang tak berdaya.


"Kau ...," geram Kiarra membidik sang Ratu.


"Mereka membantumu melarikan diri dari istana, Jenderal. Mereka adalah pengkhianat kerajaan. Kau akan lihat, bagaimana para kekasihmu akan mati mengenaskan karena membelamu," ucap sang Ratu dengan belati diarahkan ke kejantanan Eur, siap untuk ditusuknya.


"Awalnya aku ingin menggunakan tubuhmu untuk saudariku, tetapi ... lupakan saja!" teriak Kiarra murka.


Seketika, "Ratu, awas!" teriak salah satu dayang wanitanya yang dengan sigap menarik tangan sang Ratu usai melihat mata sang Jenderal menyala biru terang.


Kelima dayang Kiarra tertegun ketika tuan mereka menggunakan semacam sihir karena tubuhnya terselimuti api biru yang berkobar.


"Matilah!" teriak Kiarra seraya mengarahkan tangan kirinya ke tubuh sang Ratu.


WHOOM!!


"Agh!" rintih salah satu dayang Ratu ketika wanita nomor satu di kerajaan itu malah menggunakan pelayan setianya sebagai tameng agar ia tak terkena serangan api biru Kiarra.


Pelayan itu meraung kesakitan dengan tubuh menggelepar terpanggang api biru. Sang Ratu panik dan berusaha kabur dari ruangan. Namun, Kiarra tak mengizinkannya.


"Harghh!"


"AAAA!"

__ADS_1


PRANGG!!


"Jenderal!" seru Ron saat melihat majikannya berlari dengan cepat seraya menghunuskan pedangnya ke tubuh sang Ratu.


Fisik Ratu yang lemah, membuatnya menjadi bidikan empuk Kiarra. Sang Ratu pasrah menerima takdir ketika ujung pedang kristal Kiarra menembus perutnya. Mata sang Ratu terbelalak lebar saat tubuhnya terdorong hingga menabrak jendela dan memecahkannya.


BRUKK!!


"Jalangg," umpat Kiarra menatap mayat sang Ratu sadis saat ia melemparkannya sampai terjatuh dari balkon menara.


Tubuh sang Ratu yang tergeletak di lantai batu dan disaksikan oleh penghuni istana, praktis membuat kehebohan.


"Je-Jenderal membunuh Ratu Vom!" teriak salah satu pelayan dengan mata melotot lebar.


"Aku tak segan membunuh orang-orang yang berkomplot dengan Raja hanya untuk keserakahan! Tunjukkan diri kalian dan aku akan datang sebagai Dewi Kematian!" teriak Kiarra lantang yang berdiri di atas pagar batu balkon menara.


Sontak, orang-orang dibuat panik. Mereka melarikan diri karena takut menjadi incaran kebuasan sang Jenderal. Kiarra segera melompat turun dan mendatangi kelima dayangnya yang terluka parah dengan tubuh penuh luka disertai darah.


"Apa yang dia lakukan pada kalian?" tanya Kiarra miris melihat para pria tampan itu sekarat.


"Heh, Ratu cemburu padamu, Jenderal. Dia marah, hanya karena aku mengatakan bahwa dia payah saat bercinta. Ia lantas menghukumku seperti ini," jawab Eur dengan mata sayu, tetapi ucapannya membuat Kiarra terkekeh.


"Dia selalu memaksaku untuk memasak untuknya, tetapi aku menolak. Ia memintaku memperlakukannya seperti aku memperlakukan Anda, Jenderal. Ergh, hah ... hah .... Ia ... ia lalu menyiramkan masakan yang baru saja matang ke tubuhku hingga menjadi seperti ini," ujar Ben seraya meringis menahan tubuhnya yang melepuh.


Wajah Kiarra berkerut. Ia begitu pilu melihat dayang-dayangnya kehilangan ketampanan dan pesona mereka akibat kebiadaban ratu.


"Kaa ... Kaa," lengking sang Naga kecil tiba-tiba.


Para dayang tertegun karena baru menyadari jika di kepala sang Jenderal adalah naga sungguhan. Tadinya, mereka mengira jika itu adalah hiasan kepala karena naga kecil memejamkan mata dengan sayap terkembang menutup bagian atas kepala. Kiarra melihat naga kecil terbang mendekati Ben yang menatapnya penuh kekaguman. Namun, tiba-tiba ....


CURR!


"Hei!" teriak Kiarra karena naga kecil malah mengenciingi tubuh Ben hingga lelaki itu memejamkan mata.


Tubuh Ben basah kuyup. Namun, ada hal aneh terjadi. Luka lepuhan itu tiba-tiba mengering usai terkena kencing naga. Tubuh Ben menjadi keras layaknya tanah kering yang retak. Kiarra berjalan mendekat lalu menyentuhnya.


KREK!!


"Oh!" kejut Kiarra karena retakan itu remuk saat ia sentuh. Kiarra lalu menyarungkan pedang kristal dan kemudian meremukkan seluruh lapisan kulit yang mengering itu dengan dua tangannya. "Kau ... kau sembuh! Hahaha, kau sembuh, Ben!" teriak Kiarra senang karena kulit Ben menjadi mulus lagi.

__ADS_1


"Benar! Rasa sakitnya juga telah sirna!" ujar Ben dengan tubuh masih tergantung.


Para dayang Kiarra pada pergelangan tangan diikat dengan tali tambang dan tubuh ditelanjangii. Mereka digantung pada balok kayu besar sebagai penyangga atap menara. Kiarra memotong tali yang menjerat Ben, begitupula dayang lainnya. Ben membantu memegangi tubuh kawan-kawannya yang masih terluka lalu direbahkan perlahan di lantai.


"Hei, kau bisa sembuhkan yang lainnya? Please," pinta Kiarra penuh permohonan menatap naga ungu yang terbang itu.


"Kaa ... Kaa," jawabnya seraya terbang mendekati Ron.


Ternyata, naga kecil mau membantu, meski cara pengobatannya berbeda. Hanya Ben yang ia kencingi. Eur yang mengalami luka cambuk, mendapatkan jilatan dari lidah naga. Lalu Ron yang tubuhnya seperti dicap menggunakan besi panas, mendapatkan tiupan udara dari naga kecil. Sedangkan Pop yang menjadi gundul karena rambutnya dicukur habis dan tubuhnya terpasang ratusan jarum, mendapatkan bersin dari sang naga. Namun, bersin sang Naga membuat jarum-jarum itu langsung terjatuh begitu saja. Bekas tusukan jarum juga menghilang, berikut rambut gondrongnya yang tumbuh kembali usai naga ungu meletakkan dua tangan dan kaki di kepala serta anggota tubuhnya.


"Ini sangat hebat, Jenderal. Kami sembuh dan tak merasakan sakit lagi!" seru Pop bahagia seraya menyentuh tubuhnya yang sudah lepas dari jarum.


Hanya saja, Fuu terlihat begitu lemah. Ia hampir tak sadarkan diri karena matanya terbuka dan tertutup. Kiarra iba melihat kondisi tubuhnya yang diukir dengan benda tajam sehingga kulitnya robek dan darah sudah menggenangi tubuhnya. Kiarra memegang tubuh Fuu dengan tangan gemetar. Ia seperti ditato dengan cara yang kasar.


Kiarra menangis membayangkan penderitaan Fuu yang selama ini begitu baik padanya. Tak diduga, tetesan air mata Kiarra yang jatuh di tubuh Fuu ternyata memberikan dampak seperti serum penyembuh. Kiarra yang tak menyadari hal itu, terus menangis seraya memeluk Fuu. Namun, para dayang lainnya tertegun saat melihat tubuh Fuu berangsur pulih dan luka goresan dengan gambar asal itu tertutup oleh kulit baru. Hanya tertinggal bekas darah yang masih menutup tubuhnya.


"Je-Jenderal. Fuu ... dia ...," ucap Eur yang merangkak mendekati Kiarra.


Kiarra menaikkan pandangan dan melepaskan pelukan. Ia menatap Eur saksama dengan mata berlinang. Hingga ia menyadari saat lengannya dipegang lembut oleh seseorang.


"Anda kembali, Jenderal. Anda kembali untuk menyelamatkan kami," ucap Fuu dengan wajah sayu.


"Fuu!" teriak Kiarra terkejut dan kembali memeluk dayangnya erat.


Fuu terlihat gembira begitu pula dayang-dayang lainnya. Kiarra dipeluk beramai-ramai dan hal itu membuat air mata kesedihannya telah berganti menjadi air mata kebahagiaan.


"Jenderal! Kami sudah menangkap Raja!" seru Panglima Goo yang tiba-tiba muncul di pintu kamar.


"Aku mengerti. Ayo, selesaikan," titah Kiarra yang dengan sigap berdiri.


"Kami ikut! Raja Vom selama ini adalah pemimpin yang lalim. Ia harus diadili!" tegas Ron ikut berdiri.


"Hem, persiapkan diri kalian!" sahut Kiarra dan diangguki kelima dayangnya dengan mantap.


***



Makasih tipsnya jeng Riana❤️ Wah lele dapat lagi tapi ini yg terakhir karena gak ada yg kasih tips lagi. Kwkwkw😆Ada yg mau sedekah gak nih mumpung Ramadhan lho dan bentar lagi lebaran😁 Adeh doain lele cepet sembuh ya. Bengek parah uyy mana mau mudik lagi 😩

__ADS_1


__ADS_2