
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Saat pasukan Kiarra dilanda kepanikan, tiba-tiba ....
"Heyahhh!"
"Itu Panglima Goo!" seru Lon yang membuat senyum semua orang terkembang meski suara teriakannya berada di luar perisai es.
"Jangan takut, serang!" sahut Panglima Wen yang siap bertempur meski kini jumlah prajuritnya hanya tersisa 8 orang dari pasukan terbang.
Lon dan lainnya dibuat tegang karena tak bisa melihat apa yang terjadi. Mata mereka tertuju pada getaran yang terasa di sekitar di mana orang-orang itu yakin, jika pasukan Wen dan Goo sedang melawan para monster iblis dan juga pasukan Ark yang berusaha membunuh mereka. Saat semua orang dibuat penasaran, tiba-tiba ....
BRAKK!!
"Ugh!"
"Lihat!" teriak Lon saat sebuah perisai yang berlapis es jebol dan membuat seorang prajurit tertindih.
Mata Lon dan lainnya melebar ketika melihat seekor monster iblis mati terkena tusukan sebuah tombak yang dikenali milik siapa.
"Kita jangan diam saja. Ayo, bantu mereka!" ujar Lon yang dengan sigap menaiki bangkai makhluk itu untuk memanjat ke atas.
"Aku tak mau dikalahkan oleh anak kecil!" sahut prajurit lain yang dengan sigap mengikuti Lon keluar dari dinding perisai es.
Rak dan Dra tersenyum. Mereka dibantu untuk memanjat keluar dari tempurung es yang melindungi dari serangan musuh. Namun, pemandangan di luar sungguh menyeramkan. Pasukan Kiarra terlihat kerepotan karena harus melawan pasukan iblis dan kerajaan Ark yang berjumlah hingga ratusan. Lon si penyihir cilik, juga dibuat sulit karena banyaknya musuh yang mengincarnya. Dra yang sudah berjanji untuk memenangkan pertempuran kepada sang kakak saat Kia sudah memejamkan mata selamanya untuk kedua kali, melupakan kesedihannya.
"Yee, samalo! Regage! Megaga!" teriaknya lantang dengan mata menyala ungu terang.
Seketika, api ungu muncul di telapak tangannya seperti yang dilakukan Ram kala itu. Bola-bola api ungu Dra lemparkan ke arah monster iblis laba-laba yang berusaha membunuh pasukan Kiarra.
"Manfaatkan api Dra! Bakar mereka semua!" teriak Goo lantang.
"Siap, Panglima!" jawab pasukan berkuda Goo yang dengan sigap, melemparkan bola-bola berisi minyak ke tubuh musuh.
Baik para monster atau pun pasukan Ark dibuat bingung karena bau menyengat dari cairan tersebut yang mengenai tubuh mereka.
"Sekarang!" seru Goo dengan pedang ia hunuskan ke arah langit ungu.
CRATT! CRATT!
__ADS_1
SHOOT! JLEB!
WHOOM!!
"Arghh!"
"Kiikkk!"
Pasukan Panglima Goo menambah serangan dengan melesatkan anak panah berujung api ungu Dra ke pasukan lawan. Api berkobar membakar raga pasukan Ark. Sorakan kegembiraan terdengar menyelimuti area peperangan. Sihir Dra yang berhasil kembali meski tak sekuat sebelumnya, memaksimalkan kemampuan yang tersisa untuk membantu Kiarra.
"Habisi mereka semua!" seru Panglima Wen yang kembali menjatuhkan bola-bola es ke kumpulan pasukan Ark yang tersisa.
Pasukan Ark yang kabur dan melarikan diri dari pertempuran, dikejar oleh pasukan Panglima Goo. Pasukan Panglima Wen mengincar tunggangan dari pasukan berkuda Ark untuk digunakan sebagai kendaraan pasukan Kiarra yang sejak awal memang dikhususkan untuk berperang di daratan.
"Ambil kuda-kuda itu! Cepat!" titah Rak yang berhasil membekukan kaki-kaki kuda saat hewan-hewan itu berlari karena telah kehilangan tuannya.
"Yeahhh!" seru prajurit Kiarra yang dengan sigap mendatangi kuda-kuda itu lalu menaikinya.
Rak ikut dibuat kewalahan karena banyaknya lawan yang harus ditangani sedangkan ia sendirian. Saat Rak sedang melelehkan es buatannya, tiba-tiba, "Rak!" teriak Panglima Wen dengan mata terbelalak lebar saat melihat seekor monster iblis laba-laba siap menusukkan kaki pisaunya ke tubuh penyihir berambut putih itu.
"Aaaaa!"
JLEB!
"Wen!" teriak Rak ketika melihat sang Panglima mengorbankan dirinya dengan melompat dari tubuh Eee yang terbang menukik.
Panglima Wen menjadikan dirinya tameng agar penyihir cantik itu tak terluka. Bahu Wen terkena tusukan tajam mematikan itu dan membuat dirinya mengerang kesakitan di atas tanah.
"Ekkk!"
Rak melihat kesempatan saat burung yang ditunggangi Wen melakukan perlawanan kepada makhluk iblis itu. Rak segera berlari mendatangi Wen dan mendudukkannya. Darah segar mengucur dari luka tersebut dan membuat sang Panglima berusaha keras menahan kesakitannya.
"Emph!" kejut sang Panglima ketika Rak tiba-tiba menciumnya. Mata pria itu melebar dan menatap sang penyihir yang terlihat gugup dengan perbuatannya.
"Aku pernah diberitahu jika ... ciuman bisa meredakan sakit," ucap Rak yang duduk bersimpuh di samping pria berwajah garang itu.
"A ... aku rasa ada benarnya. Hanya saja, aku belum merasakan efek berkelanjutan dari jenis pengobatan itu," jawab Wen yang membuat Rak menatapnya lekat.
"Rak, kau ada di— eh?" kejut Lon saat ia kebingungan mencari keberadaan sang penyihir karena tak ada di sebelahnya. Namun, ketika ia mendapati wanita berambut putih itu sedang berciuman dengan sang Panglima, hal tersebut membuat bocah penyihir itu memilih untuk memalingkan muka dan berlari menjauh. "Aku masih kecil, aku masih kecil," ucapnya gugup dan berlari mendekati Dra.
__ADS_1
Di sisi lain. Kiarra yang bertarung habis-habisan dengan Ark untuk membuktikan kehebatan sihir masing-masing, ternyata membuat sekitar mereka menjadi lautan api. Kobaran api biru dan merah dari sihir tersebut ternyata tak bisa padam. Mereka saling pukul di mana api sihir yang muncul dari tangan mereka, kini malah menjadi seperti melahap raga. Sihir di tubuh Kiarra dan Ark membuat keduanya seperti manusia api. Para monster iblis tak bisa mendekat karena api-api ciptaan Kiarra dan Ark ternyata bisa melukai mereka. Hanya saja, tunggangan Ark yang kebal terhadap api, membuatnya menjadi musuh sulit bagi Kiarra.
"Kau jangan ikut campur, anjiing jelek!" teriak Kiarra marah yang berusaha menyingkirkan hyena Ark karena terus mengganggunya.
"Itulah bedanya kau dan aku, Kia-rra! Kau tak memiliki peliharaan yang patuh pada tuannya! Kau sendirian! Hahaha!"
Entah kenapa, ucapan Ark yang disengaja atau tidak itu, berhasil membuat mental Kiarra jatuh seketika. Ia merasa ucapan Ark benar. Ia sendirian di tempat itu, tak memiliki saudara dan keluarga. Kiarra yang tiba-tiba termenung, membuatnya hilang fokus dan menjadi kemenangan besar bagi Ark.
JLEB!!
"Ara!" teriak Lon saat melihat Kiarra tertusuk belati milik Ark tepat di dadanya.
Mata Kiarra terbelalak lebar karena merasakan sakit luar biasa di tubuhnya. Api biru di tubuhnya padam seketika. Mulut sang Jenderal terbuka lebar tanpa rintihan kesakitan terdengar karena shock.
"Kau ... mati di tanganku, Kia-rra ... kau ... sama saja dengan Kia. Bodoh."
BRUKK!
"Ara!" teriak Lon berlari kencang meninggalkan Dra.
Kiarra jatuh terlentang dengan napas tersengal dan tubuh bergetar dengan sendirinya. Lon berlari dengan amarah menyelimuti jiwanya. Mata emasnya kembali menyala dengan tangan batu mengepal, siap menghajar Ark. Namun, hyena Ark dengan sigap menghadang Lon dan berlari dengan buas ke arahnya, siap menerkam.
"Goarr!"
BUAKK!
"Kau sama jeleknya dengan tuanmu!" teriak Lon marah yang berhasil memukul wajah makhluk itu dengan satu tangan.
Tunggangan Ark terlempar jauh dan langsung tak sadarkan diri. Ark terkejut, tetapi hal itu memicu amarah dan membuat api merah yang menyelimuti tubuhnya berkobar semakin besar.
"Akan kubunuh kalian semua! Harghh!" raung Ark yang kini berlari kencang dan menimbulkan kebakaran pada rumput yang dipijaknya.
"Aku tak takut padamu!" jawab Lon lantang, tak gentar menghadapi Ark yang siap merenggut nyawanya.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE.
__ADS_1