Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Mundur*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kenta dan Rak semakin waspada karena mereka diserang. Namun, pasangan itu ternyata mampu menandingi kemampuan para manusia setengah burung dari Tur yang ingin melukai mereka.


"Kau hebat, Sayang! Jangan berikan ampun pada mereka! Jatuhkan semua!" seru Kenta lantang seraya menyabetkan pedangnya ketika kawanan tersebut berhasil lolos dari serangan es Rak.


Rak yang selalu dimotivasi oleh Kenta, membuat sihirnya menjadi lebih kuat. Serangan-serangan Rak semakin dahsyat bahkan bisa merubah udara menjadi es.


"Hesasa! Hesasa kee!" teriaknya meluncurkan serangan.


Tangan Rak seperti menangkap beberapa udara lalu ia bentuk menjadi gumpalan di depan dada. Rak menjulurkan kedua tangannya ke depan seperti sedang mendorong. Ternyata, hal tersebut membuat ratusan jarum es melesat bagaikan anak panah dilontarkan. Praktis, serangan tersebut membuat manusia burung itu terkena tusukan dan menjatuhkan mereka dari langit dengan sangat keras.


"Oh! Aku bisa melakukannya!" pekik Rak terkejut dengan kemampuannya dalam mengendalikan sihir es.


"Itu karena kekuatan cinta, Rak sayang," ucap Kenta menggombal.


Rak tersipu malu dan semakin gencar melakukan serangan. Kenta teringat akan ucapan mantan istrinya dulu yang mengatakan ia kaku dan tak romantis. Kenta mulai sadar, jika sang istri selingkuh bisa jadi karena apa yang diharapkan dari sosok seorang suami tak didapatkan dari dirinya. Kenta yang sibuk dengan bisnis, keluarga dan teman-temannya, lebih banyak menghabiskan waktu di luar ketimbang bersama sang istri. Kenta terdiam termenung memikirkan masa lalunya, hingga tiba-tiba ....


"Ken-ta!" teriak Rak yang mengejutkan pria itu saat melihat tubuh sang penyihir terjerat tali dan membuatnya jatuh dari punggung Eee.


"Rak!" panggil Kenta lantang sampai tak menyadari jika sang kekasih diserang.


Kenta yang tak ingin kehilangan kesempatan di kehidupan keduanya, memacu Eee untuk terbang menukik agak bisa menggapai wanita berambut putih tersebut. Mata Kenta terfokus pada Rak yang tangannya terjulur ke depan, meminta untuk digapai. Saat usaha Kenta hampir berhasil, tiba-tiba muncul dua manusia burung dari sisi kiri dan kanan menyergap.


"AAAAA!" teriak Rak histeris, merasa jika nyawanya tak akan terselamatkan karena Kenta sibuk membalas serangan dua musuhnya.


Aku akan menyusulmu, Wen, ucap Rak pasrah dengan akhir hidupnya.


Penyihir itu memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya jatuh ditarik gravitasi. Namun, tiba-tiba ....


"Rak! Rak!" teriak Kenta yang membuat mata penyihir itu terbuka lebar. "Jangan diam saja! Gunakan sihir es untuk menyelamatkan nyawamu! Aku bersumpah akan membencimu seumur hidup jika pasrah dengan kematian!"


DEG!


Entah kenapa, ucapan Kenta begitu menghujam jantungnya. Rak terlihat shock dan membuat kepalanya spontan menoleh. Ia melihat wilayah dengan aliran sungai tak jauh dari tempatnya jatuh. Namun, jika ia salah memprediksi, bisa saja tubuhnya menghantam permukaan tanah, bukan tercebur ke sungai. Rak memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan mental.


"Erako gegesa!" teriaknya lantang dengan tangan direntangkan. Seketika, mata Rak menyala terang dan membuat sekitarnya menjadi terlapisi oleh es. "Hugeso eska!"


Mata Kenta melebar melihat Rak memeluk dirinya sendiri dan mengubah tubuhnya menjadi terlapisi telur seperti penglihatannya pada Kiarra. Tubuh Rak terbungkus di dalam telur es yang tebal untuk melindunginya agar tak remuk saat jatuh dari ketinggian. Akan tetapi, tetap saja ....


"Rak!" teriak Kenta panik usai usahanya untuk menyingkirkan dua makhluk terbang dengan dua sabetan pedangnya di atas punggung Eee berhasil.


Dua manusia setengah burung itu terluka dan terbang menjauh. Kenta memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali terbang menukik, berusaha menangkap telur es Rak yang siap menabrak permukaan es.

__ADS_1


DUAKK!! SREKK ....


"Oh!" kejut Kenta hingga matanya melotot lebar saat melihat telur Rak tak pecah dan tergelincir di atas permukaan es sampai ke wilayah rerumputan.


Kenta dengan sigap melompat dari punggung Eee saat burung itu berhasil mendarat, tak jauh dari lokasi Rak berada. Pria Jepang tersebut berlari kencang untuk melihat kondisi sang kekasih yang terkurung dalam telur. Saat Kenta akan menyentuhnya, tiba-tiba ....


KREKK ... KREKK ... KLAK!


"Rak!" seru Kenta dengan wajah berbinar ketika melihat kekasihnya selamat. "Oh, kau sangat menggemaskan. Kau seperti bayi baru menetas dari telur, tetapi ... dalam ukuran besar. Hahahaha!" tawa Kenta di mana penyihir rambut putih itu membalasnya dengan napas tersengal dan badan lesu.


Saat Kenta akan meraih tubuh kekasihnya untuk dibangunkan, lagi-lagi ....


"Ken-taaa!" teriak Rak dengan mata membulat penuh melihat dua burung yang dilukai Kenta kembali untuk menyerang.


Mata Kenta terbelalak lebar karena menyadari hal tersebut. Sayangnya, ia tak secepat itu untuk membalas serangan. Namun, hal tak terduga kembali terjadi.


JLEB! JLEB!


"Aakkk!" raung dua manusia burung itu saat punggungnya terkena lemparan benda tajam dari arah sungai yang tak membeku akibat sihir Rak.


Mata Kenta membulat penuh ketika melihat manusia berbentuk aneh yang tak lain adalah kumpulan manusia ubur-ubur. Orang-orang itu melesatkan anak panah dari dalam sungai. Siapa sangka, usaha mereka berhasil dan membuat dua manusia burung yang tersisa tewas akibat tertusuk panah mematikan.


"Woah, ada makhluk aneh lainnya!" pekik Kenta terheran-heran.


"Oh, syukurlah. Mereka sekutu kita, Ken-ta," ujar Rak seraya berdiri lalu berlari mendatangi orang-orang bertubuh transparan itu.


"Kami mendengar apa yang kalian katakan dari pesan dalam botol. Beruntung, botol itu ditemukan oleh kalian. Kami terlalu sibuk mengamankan perbatasan sehingga tak menyadari jika ada informasi penting ini. Untuk itulah, kami menyusul. Hanya saja, kami tak bisa mendekati aliran sungai yang menembus wilayah hutan kabut putih. Air di sana seperti memiliki racun sehingga membuat tubuh kami perih," ucap salah satu manusia ubur-ubur.


"Aku mengerti. Kalian sebaiknya segera kembali ke laut. Aku tahu jika kalian tak bisa berlama-lama di dalam air sungai yang berakibat penurunan fungsi tubuh. Kami akan baik-baik saja dan tunggulah kabar terbaru melalui pesan dalam botol," ujar Rak yang akan mengikuti cara Pyu dalam mengirimkan pesan.


"Kami mengerti. Baiklah, hati-hati," jawab manusia ubur-ubur lainnya.


Kenta diam saja mengamati sekumpulan manusia bertentakel itu berenang di dalam aliran sungai menuju ke lautan di mana ia menemukan surat dalam botol. Rak terlihat lega dan mengajak Kenta untuk bergegas mendatangi hutan kabut putih, tetapi tangan Kenta menahan lengan sang kekasih.


"Kita diserang, Rak. Itu berarti, wilayah tersebut dijaga ketat oleh pasukan Tur. Mereka pasti sudah mengirim pesan kepada pihak kerajaan tentang kita. Maaf jika terdengar tak konsisten, tetapi ... lebih baik jika kita pergi ke tujuan awal. Perang di Ark," tegas Kenta menatap Rak saksama.


"Lalu ... bagaimana dengan telur Kia-rra?" tanya Rak bingung.


"Percayakan pada Pyu. Jika kita tetap nekat pergi, belum tentu akan selamat dan lolos dari serangan kerajaan Tur. Dari pada mati mengenaskan dan mayat kita ditemukan dalam kondisi mengerikan, lebih baik mundur untuk menang, meskipun harus ditunda. Kau paham maksudku?" Namun, Rak menggeleng. Kenta terkekeh pelan lalu mengelus kepala Rak lembut. Penyihir itu tertunduk malu. "Intinya, kita pergi dari sini. Hanya saja, gunakan pohon jembatan agar tiba lebih cepat. Kau bisa?" tanya Kenta, dan Rak mengangguk menyanggupi.


Hari itu, Kenta terpaksa meninggalkan wilayah Tur karena khawatir dengan serangan brutal dari Kerajaan Tur yang bisa saja merenggut nyawanya. Ternyata, dugaan tersebut memang benar. Pasukan Tur berbondong-bondong mendatangi wilayah hutan kabut putih. Pyu terlihat panik ketika Raja Tur tampak waspada melihat sekitar usai mendapatkan kabar jika Wen dan Rak memasuki wilayah Tur dengan tujuan hutan kabut putih dari salah satu manusia burung sebagai pengintai.


"Ke mana pengecut itu? Seharusnya mereka sudah berada di sini sejak tadi," tanya Raja Tur dengan mata memindai sekitar.

__ADS_1


"Mungkinkah mereka mundur setelah tahu jika diserang?" tanya Jenderal Kol.


"Kurang ajar! Meskipun hutan kabut putih memang tak bisa diserang, tetapi mereka tetap bisa masuk ke dalam jika diizinkan oleh para peri sialan itu. Jika demikian, kita harus pindahkan telur Kia. Tempat ini sudah tidak aman lagi!" tegas sang Raja dan diangguki orang-orang yang sependapat.


Pyu terlihat gugup ketika diminta untuk masuk ke dalam hutan. Wanita itu mendorong gerobak kayu tanpa membawa senjata untuk menjemput sang Ratu. Pyu berulang kali menoleh ke belakang karena tak yakin dengan hal tersebut. Benar saja, ketika langkah kaki Pyu akan memasuki jalan masuk hutan, tiba-tiba saja ....


DUK!


"Agh!" kejut Pyu ketika ujung dari gerobak kayunya seperti menabrak sebuah dinding tak terlihat.


Pyu mencoba mendorong gerobaknya lagi, tetapi tidak bisa. Kol yang merasa jika ada hal tak beres segera mendekat untuk memastikan.


"Ada apa?" tanyanya menatap Pyu lekat seperti orang kebingungan.


"A-aku tidak bisa masuk," jawab Pyu gugup yang membuat para pendengar di sekitarnya melebarkan mata.


"Mustahil! Seharusnya kita bi— oh!" kejut Kol karena tubuhnya menabrak sesuatu seperti dinding yang keras sehingga tak bisa melintas.


Praktis, hal itu membuat Raja Tur murka. Ia mendatangi hutan dengan langkah gusar, memaksa masuk.


DUKK! DUKK!


"Harghhh! Dasar peri-peri tak tahu diri! Aku sudah memberikan imbalan tak ternilai untuk kalian! Kembalikan telur Kia padaku!" teriak Tur marah dengan napas memburu di tepi hutan.


Seketika, muncul sosok peri yang terbungkus akar dari dalam tanah. Mata semua orang terpaku pada peri berwajah murung yang duduk memeluk kakinya. Kabut putih yang biasanya menyelimuti hutan tersebut berubah menjadi hijau. Tur dan lainnya tertegun karena bisa merasakan adanya perubahan dalam hutan tersebut.



"Perjanjian tetap perjanjian, Raja Tur. Kau tak bisa mengambil telur Kia sebelum bintang biru bercahaya. Itu pun hanya Pyu yang diizinkan masuk, bukan kau. Jadi, pergilah dan datang lagi ketika bintang biru bersinar," ucap peri berkuku tajam itu dengan wajah dingin.


Para makhluk setengah hewan pasukan Tur tampak gugup karena kabut-kabut hijau di sekitar hutan bergerak seperti memiliki jiwa. Pasukan Tur melangkah mundur dengan mata memindai sekitar. Tur menatap peri itu tajam dari tempatnya berdiri.


"Kalau begitu, pastikan tak ada yang masuk ke hutan ini untuk mengambil telur Kia. Jika sampai telur itu hilang dari tempat ini, aku tak segan menghancurkan hutan dengan cara apa pun sampai kalian semua menjadi abu," ancam Tur yang membuat semua orang tercengang, termasuk peri hutan.


"Pergilah," tegas wanita berambut putih itu.


Napas Tur memburu dan pergi meninggalkan kawasan hutan. Pyu bingung karena ia dibiarkan tak diajak pulang oleh sang Raja.


"Kau tetap di sini berjaga. Kirim pesan jika ada hal mencurigakan. Kutinggalkan Neo untuk mengawasimu," ucap sang Raja yang membuat Pyu tertegun.


Wanita setengah panda merah itu langsung melihat ke arah pohon di luar wilayah kabut putih di mana terdapat seorang manusia setengah burung. Pria itu yang mengirimkan pesan pada Tur jika Wen dan Rak terlihat memasuki wilayah Tur. Pyu merasa jika dirinya tak bebas lagi mengingat ia kini diawasi. Neo menunjukkan seringainya di mana ia mulai mencurigai sosok Pyu.


***

__ADS_1


jangan lupa vote vocer, poin, dan koin ya biar lele semangat tamatin novel Kiarra season 1 🎉


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2