
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Owe tersenyum tipis. Baginya, sang ayah tewas di tangan sang Naga lebih baik ketimbang di tangan orang-orang yang ia kenal. Kenta menepuk pundak Owe dan lelaki itu mengembuskan napas panjang.
"Kurasa, memang begitulah takdir ayahmu, Pangeran Owe. Bijaklah," ucap Kenta, dan Owe mengangguk pelan.
Saat semua bersuka cita, Kiarra terbang dengan sayap kristal birunya di tengah-tengah kerumunan. Praktis, tawa itu lenyap seketika.
"Kita belum menang sepenuhnya. Pasukan Tur yang menguasai empat kerajaan sedang datang kemari. Kita harus memastikan jika mereka bukan ancaman di masa depan! Datangi dan selesaikan hari ini juga!"
"Yeah!" jawab semua orang serempak.
"Para penyihir agung!" panggil Kiarra. Dra, Boh, Lon dan Rak segera terbang ke atas menggunakan tongkat. "Pastikan, pasukan Tur yang akan kalian hadapi telah terbebas dari sihir Raja. Jika mereka tetap memberontak, habisi. Kita harus segera mewujudkan perdamaian!" tegas Kiarra.
"Baik, Ratu!" jawab empat orang itu serempak.
"Para kapten!" panggil Kiarra lantang.
Segera, para kapten pasukan kapal balon udara berkumpul di samping Kenta dan Owe. Mereka memberi hormat dengan meletakkan kepalan tangan kanan di dada kiri.
"Pastikan Negeri Kaa tak memiliki musuh lagi. Begitu selesai dengan pengikut Raja Tur, segera kuasai kerajaan. Aku akan pergi mendatangi para monster iblis," tegasnya.
"Siap, Ratu!" jawab semua kapten serempak.
"Dan kalian!" panggil Kiarra seraya menunjuk para prajurit Tur yang terlihat gugup. Mereka membungkukkan badan. "Kubur semua prajurit yang tewas di tanah ini. Tempat ini akan menjadi pengingat perang besar di Negeri Kaa."
"Baik, Ratu!" jawab para manusia setengah binatang serempak.
"Bagus. Pergilah kalian semua! Kerjakan segera untuk mewujudkan perdamaian sejati Negeri Kaa dan jangan biarkan siapa pun menghalangi!" titah Kiarra dengan pedang kristal terangkat ke atas.
"Yeah! Hidup sang Naga! Hidup Negeri Kaa!" jawab semua orang serempak.
Para Nym ikut bergembira karena akhirnya Tur dikalahkan dan pertempuran di tempat itu berakhir. Kiarra mempercayakan para Nym untuk mengawasi para prajurit Tur yang mulai memihak sang Naga. Ratu Nym mendoakan Kiarra agar berhasil untuk menidurkan para monster iblis sampai pohon jembatan berhasil dihidupkan kembali.
Di tempat pasukan di bawah kepemimpinan Kapten Kee dan Rak.
DUNG! DUNG! DUNG!
"Kat! Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Kapten Kee saat melihat manusia setengah kucing yang berjaga di menara kapal menjatuhkan batu krikil dari atas sana.
"Pohon-pohon di depan sana bergerak! Sepertinya, pasukan dari Gor datang! Bukankah prajurit mereka adalah para manusia setengah monyet?" tanya Kat lantang dengan hidung bergerak-gerak seperti mengendus.
__ADS_1
"Bersiap!" titah Kee yang langsung mengamankan kemudi kapal dibantu oleh prajurit lain yang bertugas untuk memastikan layar dan balon udara kapal tak diserang.
Benar saja ....
"Uk! Uk! Uk!"
"Mereka datang!" teriak Kat yang melihat sekumpulan prajurit Tur dengan sosok manusia setengah monyet muncul dari balik rimbunan pohon berusaha untuk memanjat kapal.
"Jangan biarkan mereka naik! Jatuhkan!" titah Kee.
"Bekute!"
KREKK!
"Ak! Ak! Ak!" lengking para manusia monyet saat melompat untuk menggapai bagian bawah kapal dari atas pohon.
Anak buah Kee melesatkan anak panah untuk menjatuhkan mereka. Rak berdiri tegap di anjungan kapal dengan menggenggam tongkat sihirnya tak terlihat gentar. Beberapa prajurit Tur berhasil lolos dari serangan anak panah. Namun, saat mereka menyentuh badan kapal, orang-orang itu tergelincir karena bagian luar kapal dilapisi es. Para manusia monyet jatuh dari ketinggian dan menghantam permukaan dengan keras.
"Aku pergi!" ucap Rak lalu terbang dengan tongkat kayunya.
Kapten Kee mengangguk paham. Rak menggunakan mantra untuk menghapus hipnotis Raja Tur di kepala para prajurit Tur. Kiarra yakin jika prajurit-prajurit tersebut masih bisa diselamatkan. Rak menyemburkan udara dingin di tengah-tengah kumpulan manusia setengah binatang yang berusaha menjatuhkan kapal. Prajurit Tur tiba-tiba terdiam usai menghirup udara aneh di sekeliling mereka. Seketika, suasana sunyi. Kapten Kee menghentikan serangan, menunggu aba-aba dari Rak yang sedang membacakan mantranya untuk orang-orang malang itu.
KLANG! KLANG!
Akan tetapi, "HARGHHH!"
"Itu Gor!" teriak Kat dengan mata melotot seraya menunjuk di kejauhan saat muncul manusia setengah gorila dari dalam semak hutan.
BUAKK!
"Argh!" rintih Rak saat tongkat sihirnya terkena lemparan sebuah batu seukuran kepala.
Gor melemparkan benda keras itu hanya dengan satu tangan saat melihat yang Rak lakukan kepada prajuritnya. Rak jatuh dari ketinggian dan tongkat sihirnya terlepas. Beruntung tongkat itu tak patah.
"Dia tak bisa disembuhkan! Bunuh Gor!" teriak Kee lantang saat melihat Gor berlari kencang dengan sebuah kapak dalam genggaman, siap untuk membelah kepala Rak yang jatuh tersungkur di atas tanah.
Rak yang lengan kirinya sakit akibat benturan keras, menjulurkan tangan kanannya ke depan, berusaha untuk mempertahankan diri.
"Re-re, hah, hah!" ucapnya dengan suara tercekat karena Gor sudah melompat ke arahnya dengan sebuah kapak diangkat tinggi seperti ingin membelah.
Rak memejamkan matanya rapat, tak siap menerima kematian.
"Haaaa!"
__ADS_1
KRASS! GLUNDUNG! DUK!
"Hah!" kejut Rak karena merasakan ada cipratan di wajahnya. Benar saja, ketika penyihir berambut putih itu membuka mata, ia terkejut karena melihat sebuah kepala manusia gorila di kakinya tanpa tubuh. "AAAAA! AAAAA!" teriak Rak panik dan langsung merangkak mundur.
"Maaf," ujar Kat meringis.
Rak tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Kee terlihat bangga kepada salah satu prajuritnya karena nekat melompat dari kapal untuk menghentikan aksi Gor. Saat Kat bisa membaca pergerakan Gor, manusia setengah kucing tersebut menarik dua pedang dari pinggul kiri dan kanan lalu menyabetkannya dalam posisi menyilang tepat di belakang manusia gorila. Gor tak melihat jika ia telah dibidik oleh Kat, hanya fokus untuk melenyapkan Rak. Naas, takdir berkata lain.
"Pemimpin kalian telah mati! Bergabunglah bersama kami untuk menciptakan perdamaian di Negeri Kaa seperti harapan sang Naga!" teriak Kee dari atas kapal.
Tak terlihat keraguan, sekumpulan manusia setengah hewan tersebut tampak yakin akan sesuatu.
"Kami adalah pengikut Naga!" jawab para prajurit Tur serempak.
Rak bernapas lega karena peperangan itu cepat berakhir. Kee mengajak pasukan Tur tersebut untuk ikut dengannya mengamankan Vom. Sedangkan Rak, ia harus bergegas menuju Zen untuk memastikan pasukan yang ditugaskan untuk membebaskan kerajaan tersebut berhasil melaksanakan tugasnya. Rak memanfaatkan pohon jembatan untuk berteleportasi agar segera tiba.
Di sisi lain. Ternyata pasukan di bawah kepemimpinan Rhi bergerak ke arah berlawanan. Beruntung, tim dari Dra telah mengantisipasinya. Penyihir agung itu melihat pergerakan pasukan musuh yang melewati tepian laut setelah mengetahui jika Wii tertidur karena makhluk laut tersebut tak muncul dan terdengar dengkuran dari dalam laut.
"Serang!" titah Dra saat melihat pasukan Rhi mulai mengarahkan anak panahnya ke kapal.
"Jatuhkan kapal itu!" balas Rhi lantang.
Dra yang ikut dibidik langsung menjauh. Serangan anak panah dari kelompok Rhi begitu ambisius dan hampir tak berjeda karena mereka melakukannya secara bergantian. Laksamana Noh dan awak kapalnya berlindung di balik badan kapal dengan perisai terangkat di depan tubuh.
"Dra! Lakukan sesuatu!" teriak Laksamana Noh mulai kesal karena anak panah menghujani kapal sampai memenuhi geladak.
Dra yang menggunakan sihir pelindung, membuat anak panah itu tak bisa mengenai tubuhnya. Sayangnya, Dra tak bisa melakukannya untuk melindungi seluruh tubuh kapal karena ukuran yang besar.
"Dra! Kami bisa mati di sini! Jangan diam saja!" teriak Noh kesal.
Dra yang terdesak, kembali menggunakan mantranya. Namun, hal itu membuat dinding pelindung lenyap.
"Otala gemoka! Lekale!"
Seketika, air laut menjadi gelombang besar dan langsung menerjang pasukan Tur yang berada di pantai. Orang-orang itu terseret arus sampai ke lautan. Dra menuntaskannya dengan menenggelamkan mereka termasuk sang pemimpin pasukan Rhi. Laksamana Noh dan awak kapalnya keluar dari persembunyian dan melongok ke bawah saat menyadari jika serangan panah tak lagi menghujani mereka.
"Hahahaha! Kau hebat, Dra!" puji Noh senang.
Dra yang memunggungi pasukan Laksamana Noh tiba-tiba jatuh dari tongkat sihirnya. Mata Laksamana Noh terbelalak lebar ketika melihat sebuah anak panah menembus perut penyihir agung Vom tersebut. Dra mengedipkan matanya cepat dengan napas tersengal di atas pasir pantai. Ia meringkuk dengan lautan luas sebagai pemandangan terakhirnya.
"DRA!" teriak Noh panik dan bergegas minta diturunkan.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAI)