
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Semua orang tertegun saat melihat kedatangan monster yang saat itu dihadapi oleh Kiarra ketika di Kerajaan Zen. Seekor raksasa yang diketahui bernama Hoo muncul. Tubuhnya terbuat dari batu, memiliki tanduk besar dan bercabang yang tajam seperti rusa, serta mata merah menyala. Kaki makhluk itu masuk ke dalam tanah menyatu dengan daratan. Hanya setengah tubuhnya yang terlihat di permukaan.
"Jangan sampai lepas genggaman tangan kalian atau energi yang disalurkan akan hilang!" seru Dra bertitah dengan mata terfokus pada sosok raksasa Hoo.
"Baik!" jawab semua orang serempak.
Mereka terus melafalkan mantra yang membuat monster Hoo meraung dengan mata tertuju pada Ram. Pria itu panik di mana gigi-gigi tajam para Grr menancap di sekujur tubuhnya. Tubuh Ram kembali terluka karena gigitan Grr mengoyak daging. Darah pria berkulit ungu itu kembali membanjiri badan dibarengi rintihan kesakitan tak berkesudahan.
"Argh! Aku abadi! Aku tak akan mati!" teriaknya menunjukkan sisi bengis dan mulai melakukan perlawanan sengit terhadap para monster ular besar itu. "Hargh!"
Dua leher Grr ditangkap lalu dilemparkan ke tubuh sejenisnya hingga mereka saling menimpa. Ram mengambil puing berupa bongkahan batu besar di tanah lalu digunakan untuk memukul kepala ular-ular penjaga pohon jembatan itu tanpa ampun.
"Kalian akan mati di tanganku!" teriaknya keji saat melihat para ular raksasa itu tergeletak tak berdaya dengan luka di kepala.
Saat Ram siap menuntaskan aksinya, raksasa terbesar Hoo dengan sigap berlari seperti berselancar di dalam tanah. Makhluk raksasa tersebut menerjang punggung Ram dengan kuat.
JLEB!
"ARGHH!"
Ram meraung saat punggungnya tertancap tanduk runcing Hoo seperti rusa itu. Tubuh Ram terangkat dan batu besar di tangannya terjatuh. Senyum penduduk kerajaan Vom terkembang. Mereka bisa melihat Ram sekarat karena menyemburkan darah dari mulutnya.
"Hoo!"
BRUKK!!
"Yeah!" seru orang-orang saat tubuh Ram dilemparkan seekor monster Hoo hingga ia terlontar jauh.
Ram jatuh bergulung dengan keras disertai darah sudah menutupi tubuhnya. Perlahan, tubuh Ram menyusut. Pria itu seperti pingsan karena tak sadarkan diri.
"Apakah itu pertanda Ram sudah mati?" tanya salah seorang penduduk.
"Kita harus memastikannya! Ayo!" ajak warga lain yang dengan sigap berdiri dan keluar dari formasi seraya membawa pedang untuk menuntaskan petaka di kerajaan mereka.
"Jangan keluar dari formasi!" teriak Dra, tetapi tiga orang itu sudah berlari jauh.
Penduduk yang masih duduk melingkar panik karena mereka merasakan jika energi di tubuh meredup.
"Kembali!" teriak Lon, tetapi tiga orang itu sudah berdiri mengelilingi tubuh Ram yang tergolek lemah dengan mata terpejam. Tubuh Ram kini seukuran manusia normal karena kembali menyusut akibat serangan Hoo.
__ADS_1
"Periksa denyut dan napasnya. Siapa tahu ...."
"Aggg!"
"Di-dia masih hidup!" teriak salah seorang warga histeris karena mulut Ram tiba-tiba terbuka dan keluarlah lidah berwarna hitam terjulur cepat melilit leher penduduk itu.
Dua penduduk lainnya panik hingga mereka jalan tergopoh ke belakang. Saat mereka akan kabur untuk memberitahukan hal ini kepada warga lainnya, tiba-tiba ....
"Agh! Aaaa!" teriak dua penduduk itu saat lidah Ram bisa terbelah seperti bercabang dan melilit leher keduanya.
Mata Dra dan lainnya terbelalak lebar melihat kengerian tersebut. Tiga orang itu terangkat hingga kaki tak berpijak lagi di tanah. Mereka meraung saat terlihat aura muncul seperti gas berwarna ungu dari tubuh para lelaki itu.
"Dia menghisap jiwa mereka! Ram bukan manusia lagi. Dia iblis!" pekik Dra yang membuat penduduk histeris seketika.
"Kembali!" seru Panglima Goo karena warga membubarkan diri dan berlari meninggalkan formasi.
Mereka ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri. Dra terpaksa berdiri bersama orang-orang yang masih mengelilinginya dengan mata tertuju pada Ram. Tubuh tiga lelaki itu mengering dengan mata melotot dan mulut menganga. Lon ketakutan dan berlindung di balik tubuh Aaa. Ram melemparkan mangsanya begitu saja usai menghisap sari kehidupan mereka.
"Hoo!"
"Grr!
"Yeah! Binasakan dia!" teriak Fuu bersemangat karena Ram dikepung dari beberapa penjuru.
Ketika para monster itu siap menerjangnya, tiba-tiba ....
WUSS!
"Oh! A-apa yang terjadi?" pekik Ben terkejut karena para monster itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Lingkaran energi telah terputus. Mereka kembali ke tempat asal," jawab Dra dengan wajah serius menatap perubahan Ram yang sudah tak sebesar dulu, tetapi terlihat lebih berbahaya, bengis, dan seperti perwujudan iblis.
Tiba-tiba saja, bulan meredup. Cahaya di langit memudar. Perlahan, kegelapan menyelimuti langit. Praktis, fenomena mengerikan ini membuat semua orang panik seketika.
Tumbuhan yang biasanya memancarkan cahaya tiba-tiba layu. Jantung semua orang berdebar ketika hewan-hewan ambruk dan tergeletak begitu saja seperti pingsan. Hanya Aaa saja yang masih terjaga. Makhluk itu tak terkena dampak dari hilangnya bulan merah dan ungu.
"A-apa yang terjadi?" tanya Pop panik karena cahaya di daratan dan langit sirna.
"I-ini ...," jawab Dra terlihat serius akan sesuatu.
"Di-dia kemari!" pekik Lon dengan napas memburu.
__ADS_1
"Semuanya! Jangan takut, hadapi dia!" titah Panglima Goo yang diangguki semua orang, meski tampak jelas ketakutan di wajah mereka.
"Ka-kami kesulitan melihat, Panglima!" jawab seorang prajurit yang kebingungan mendapatkan senjata di atas tanah karena gelap.
"Hehehe, akan kuhisap semua aura kehidupan kalian. Kemudian, aku akan abadi! Aku akan menjadi pemimpin dan penguasa di Negeri Kaa! Hahahaha!" tawa Ram penuh kemenangan dengan tubuh bercahaya ungu dan mata merah menyala. Pria itu menjadi satu-satunya cahaya penerang dalam kegelapan.
"Dia kemari! Lakukan sesuatu!" teriak Lon panik dengan mata berlinang, siap menangis.
Praktis, gumpalan api berwarna ungu yang muncul di telapak tangan Ram, membuat kepanikan semua orang makin menjadi. Dra yang sudah kehilangan hampir seluruh sihirnya tak bisa berbuat apa pun. Wanita itu seperti pasrah dan diam saja sembari menyentuh telur kristal naga. Aaa berdiri gagah melindungi Dra tak takut akan serangan mematikan Ram.
"Hahahaha! Harghhh!" raung Ram yang membuat mata semua orang terbelalak lebar ketika lelaki itu melemparkan gumpalan api ungu ke kumpulan manusia yang berkumpul.
"Aaaaa!" teriak Lon dengan mata terpejam erat seraya memeluk telur naga Kiarra.
Para dayang Kiarra, prajurit Vom, Panglima Goo dan Wen, serta beberapa warga yang masih bertahan karena ingin ikut membantu mengalahkan Ram, kini memejamkan mata rapat. Mereka siap menerima serangan maha dahsyat yang bisa melenyapkan untuk selama-lamanya. Hingga tiba-tiba ....
"Bintang biru!" seru Dra dengan mata langsung tertuju pada langit di mana hanya dia satu-satunya yang masih membuka mata.
Tampak cahaya biru bersinar terang meskipun hanya satu titik di atas langit gelap. Ram yang hanya fokus pada serangannya untuk membuat orang-orang itu sekarat lalu menghisap energi kehidupan mereka, mengabaikan keberadaan bintang biru yang konon hanya muncul tiap 10 tahun sekali. Senyum Dra terkembang saat gumpalan api ungu dilemparkan dari telapak tangan Ram dan menuju dengan cepat ke arah mereka.
"Bangkitlah," ujar Dra tersenyum dengan wajah sendu sembari menyentuh telur kristal berisi Kiarra.
Benar saja, "Hah!" kejut Ram ketika bola api ungunya sirna begitu saja saat akan mengenai orang-orang.
"Ahh!" kejut Lon karena merasakan cahaya menyilaukan seperti menembus kelopak mata padahal ia terpejam.
Mata Lon dan semua orang yang berada di sekitar Kiarra terbuka. Bola mata Ram membulat penuh saat menyaksikan telur kristal tersebut pecah dan memancarkan cahaya biru. Gelombang besar dari pecahan telur menghempaskan benda-benda di sekitar hingga berterbangan.
"Aaaaa!" teriak orang-orang karena mereka ikut terkena dampak gelombang dan terbang jauh.
Ram menguatkan tubuhnya hingga otot-ototnya menegang. Pria itu menahan terpaan kuat dari gelombang pecahan telur naga berisi sang Dewi Kematian. Seketika, tumbuhan dan hewan yang awalnya seperti tertidur, tiba-tiba saja bangun. Cahaya biru terang tampak jelas di bola mata para hewan, begitupula pada daun-daun tanaman yang bercahaya biru seperti lampu.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
trims sudah sabar menunggu. ya ampun sinyal syusah sekali di sini. semoga bisa tamat tepat waktu ya. amin❤️
__ADS_1