Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Ancaman Kapten Tom*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Tentu saja, ancaman dengan menggunakan sandera sebagai salah satu cara untuk merebut wilayah ikut diterapkan oleh Kapten Tom. Ia melihat jika Gor dan Rhi berhasil melakukannya kala itu. Pria burung tersebut tahu jika di balik wajah garang bertaring Tej, pria setengah harimau itu masih memiliki belas kasih.


"Wii!" lengking monster laut Wii tak sabar untuk segera menyantap daging manusia yang siap dijatuhkan dari ketinggian oleh bangsa Tur.


Para sandera menangis. Mereka tak menyangka jika akhir kehidupan adalah dimangsa hidup-hidup oleh monster iblis Wii. Tom yang tak sabar menunggu jawaban, mulai memberikan isyarat kepada pasukan burung di atas laut.


"Selamat menikmati penyesalan, Tej," ujar sang Kapten dengan jari tangan berlapis bulu bergerak ke bawah.


"Tidak!" teriak Tej lantang ketika melihat seorang manusia setengah burung melepaskan cengkeraman cakar besarnya dan menjatuhkan salah satu sandera.


Mata semua prajurit Tej melebar. Orang-orang Yak yang ikut dalam penyergapan itu marah besar dan langsung membidik para manusia setengah burung di atas langit.


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


"Argh!" erang salah satu manusia burung saat kakinya tergores anak panah yang melesat tiba-tiba ketika pandangannya tertuju pada Wii.


Monster laut itu melompat saat melihat seorang sandera dijatuhkan dari ketinggian. Ia membuka mulutnya lebar dan melahap manusia malang itu. Para sandera lainnya dibuat panik dan ketakutan. Mereka berusaha memberontak melepaskan diri, tetapi cengkeraman cakar para manusia burung sangat kuat.


"Jatuhkan mereka semua! Yak memilih perang!" teriak Kapten Tom memberi perintah.


"Tidak!" teriak Tej lantang saat melihat para sandera dijatuhkan ke lautan di mana monster Wii siap menyantap mereka lagi.


Sontak, kejadian itu membuat para penyerang dari Yak terpaku. Rasa bersalah menyelimuti hati mereka karena membuat kawan-kawannya tewas akibat keputusan untuk tak menyerah. Monster Wii begitu puas karena mendapatkan santapan hari itu. Ia tak langsung memakan mereka, tetapi sengaja membuat orang-orang yang melihat ketakutan. Ia mengunyah mereka hingga terdengar suara tulang-tulang diremukkan. Darah menetes di antara celah gigi tajam. Wii memakan bagian per bagian dengan manusia dalam genggaman.


"Eeekkk!" lengking para prajurit Tom yang tiba-tiba menukik dan menyerang pasukan Yak.


Persembunyian orang-orang itu terbongkar saat melesatkan anak panah. Tubuh mereka ditangkap lalu dijatuhkan dari ketinggian sehingga menghantam daratan bersalju dengan keras. Tej dibuat panik saat melihat anak buahnya diserang oleh para manusia burung yang sengaja tak membunuh, tetapi melukai hingga cipratan darah menodai tumpukan dingin berwarna putih itu.

__ADS_1


"Hentikan! Aku menyerah! Kami menyerah!" teriak Tej mengejutkan para prajurit Yak yang masih bertahan.


Tom menyeringai. Ia lalu melengking dengan suara burungnya seperti memberikan isyarat. Para manusia burung penyerang akhirnya menghentikan aksi penyerangan. Namun, masih ada 5 sandera di punggung para manusia burung. Tej meminta mereka dibebaskan. Tom berbaik hati dan melakukannya meski ia sengaja menjatuhkan orang-orang itu dari ketinggian. Para sandera merintih karena tubuh menghantam permukaan tak berlapis salju tebal.


"Wilayah ini telah menjadi milik kami. Pergilah sejauh mungkin. Jika kami melihat kalian bergerak mendekati Yak, aku tak segan melemparkan siapa pun warga Yak untuk menjadi santapan Wii," ancam Tom.


Tej terpaksa menyanggupi karena tak ingin orang-orangnya terluka. Mantan tukang jagal Raja Tur tersebut membawa 29 orang bersamanya termasuk para sandera yang terluka akibat serangan pasukan manusia burung. Mereka berjalan tertatih menjauh dari wilayah Yak. Orang-orang itu memilih berjalan menyusuri tepian pantai meski berisiko jika akan menjadi santapan Wii mengingat monster laut tersebut gemar memakan daging manusia.



Jika mereka memasuki wilayah hutan, ancaman lain adalah bertemu pasukan Tur karena kumpulan manusia setengah binatang tersebut telah menguasai sebagian wilayah. Tej memimpin kelompok itu dan terpaksa tak melanjutkan pertempuran. Tom dan pasukannya tertawa puas karena usaha mereka berhasil. Bendera Tur dikibarkan di wilayah yang sangat sulit ditaklukkan itu, tetapi kini dengan mudah dikuasai.


Lima prajurit burung menjaga wilayah tersebut saat Tom dan pasukan lainnya melanjutkan misi dengan terbang menuju ke istana. Meskipun kali ini, mereka tak membawa sandera, tetapi ia telah memiliki strategi lain. Salah seorang prajurit burung kembali ke Tur untuk menginformasikan kepada sang Raja jika wilayah terluar Yak berhasil direbut.


Di Kerajaan Yak.


"Mereka muncul! Tej pasti sudah dikalahkan!" teriak Pangeran Owe yang mengintai dengan teropong di balik menara istana.


Suara terompet dari tanduk Ggg terdengar dari wilayah utara bagian menara. Praktis, suara peringatan itu membuat sisi lainnya ikut meniupkan terompet sebagai tanda jika musuh telah memasuki wilayah kerajaan. Putri Xen tampak tegang. Dua tangannya yang berkepala ular terus menjulurkan lidah dan membuat para prajurit Yak sedikit takut karena hal tersebut.


Kali ini, sang Putri tak akan kabur karena memilih untuk bertempur. Ia bahkan berpikir lebih baik mati di tempat itu ketimbang ditangkap dan diseret pulang hanya untuk melihat kegilaan sang ayah. Owe juga berpendapat demikian. Ia akan selalu berada di sisi sang adik melawan kekejaman sang ayah.


"Lebih baik mati ketimbang menjadi budak Tur!" teriaknya lantang, "hidup Yak!" seru sang Putri memimpin pertahanan.


"Hidup Yak!" jawab semua prajurit yang berkumpul di aula istana.


Seketika, benteng istana yang tadinya terlihat sepi langsung dipadati oleh beberapa prajurit Yak berpakaian putih. Mereka menyiapkan ketapel-ketapel kayu untuk melontarkan bola-bola es pembeku.


"Bersiap! Yak akan melakukan serangan!" tegas Kapten Tom.

__ADS_1


"Hoi!" jawab prajurit pasukan burung mantap.


SWINGG!


"Berpencar!" titah sang Kapten saat melihat bola-bola es terlontar.


Para manusia setengah burung dengan berbagai jenis itu menghindar dengan gesit. Para pelontar ketapel dibuat bingung karena burung-burung besar tersebut terbang dengan cepat dan melakukan manuver apik menghindari bidikan. Saat salah seorang prajurit Yak siap melontarkan bola es, tiba-tiba saja ....


"Arghh!" erangnya ketika dari samping muncul manusia burung yang dengan cepat menangkap bahunya lalu diangkat ke udara.


Pria itu dijatuhkan dari atas benteng dan menghantam permukaan dengan keras. Satu per satu, para prajurit penjaga benteng Yak berhasil dilumpuhkan karena mereka kesulitan membidik musuh. Sedangkan para pemanah yang bertugas di menara, tetap fokus melesatkan anak panahnya untuk menjatuhkan lawan. Mereka berhasil melukai musuh, tetapi para manusia burung itu masih bisa terbang akibat serangan tak mematikan.


"Incar kepala mereka! Baju besi prajurit Tur tak bisa ditembus dengan anak panah!" titah Pangeran Owe yang melihat jika ujung anak panahnya terpental.


Saran dari sang pangeran didengarkan oleh pasukannya meski dengan pesan berantai. Owe terus mengamati dengan teropongnya untuk melihat pergerakan pasukan burung milik sang ayah. Napasnya memburu jika teringat pria yang disayanginya dulu kini telah menjadi iblis seperti monster-monster di Negeri Kaa. Putri Xen keluar dari persembunyian saat melihat para manusia burung berhasil memasuki istana untuk menghabisi para penjaga Yak.


"Heahhh!" teriak Xen lantang saat ia melihat seorang manusia burung berhasil menerobos jendela istana yang tak memiliki kaca.


"Pengkhianat!" teriak prajurit itu saat melihat sosok yang harus ditangkap untuk diadili di tempat asalnya.


"Lebih baik berkhianat ketimbang menjadi budak sepertimu!" jawab sang Putri yang dengan cepat menjulurkan dua tangan berkepala ularnya.


Pria itu tertegun karena tak mengira jika kepala ular itu bisa memanjang. Leher manusia burung tersebut dengan cepat digigit oleh kepala ular dari tangan kanan sang putri. Tangan kiri prajurit yang sedang mengayunkan pedang digigit oleh kepala kiri ular sang putri.


"Erghh!" erang lelaki itu ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Taring dari dua kepala ular dengan cepat menyebarkan bisa beracun. Tubuh pria burung itu tersentak-sentak. Matanya melotot dan tiba-tiba busa muncul dari paruhnya. Tak membutuhkan waktu lama, lelaki itu ambruk dengan tubuh menggelinjang hebat. Sang Putri tersenyum miring lalu dengan cepat bergerak meninggalkan korbannya yang sekarat itu.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Pinterest)


__ADS_2