
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Putri dan lainnya berenang menyusuri terowongan air hingga mereka tiba di sebuah gua yang sangat besar. Jenderal Gom dan lainnya dibuat terkejut karena gua itu terlihat seperti memiliki aura mistis. Sang Putri meminta mereka agar tak berisik karena tempat itu sangat sunyi. Gom dan lainnya keluar dari kolam perlahan meski bulu-bulu basah kuyup, tetapi dengan cepat kering dengan dikibaskan. Mereka berjalan mengendap mengikuti sang putri yang membawa kelompoknya ke suatu tempat mengikuti cahaya api merah di tebing.
"Lihat," ucap sang Putri berbisik.
Gom dan lainnya tertegun. Mereka melihat ada banyak sekali manusia berkumpul di sebuah ruangan dalam gua seperti aula. Tangan mereka diikat ke belakang dengan mulut disumpal layaknya sandera. Orang-orang berbaju merah itu terlihat ketakutan karena banyak prajurit bersenjata yang mengawasi di sekeliling.
"Itu pasti warga Ark. Mereka menjadi tahanan di kerajaan sendiri. Gila," pekik salah satu manusia setengah binatang seperti rubah.
"Stt, jangan berisik. Kita harus membebaskan mereka. Namun, hati-hati. Kita kalah jumlah dan pastinya orang-orang itu berbahaya. Mereka terlihat tangguh dan ... putri! Putri!" pekik Jenderal Gom dengan suara tertahan karena sang putri malah menampakkan diri.
Praktis, sosoknya yang mengerikan karena setengah ular, membuat warga Ark panik dengan teriakan tertahan.
"Ada apa!" tanya seorang prajurit penjaga dengan pedang dalam genggaman.
"Errghhh! Eggg!" teriak salah satu warga Ark dengan mata melotot ketika melihat wanita di belakang prajurit itu menjulurkan lidah.
"Arghhh! Monster ular!" teriak salah satu prajurit yang menyadari sosok sang putri.
"Harghhh!"
"Arrghhh!" teriak prajurit itu ketika sang putri dengan cepat melilitnya meski tubuh lawan lebih besar.
Dua taring beracun sang putri mencuat di antara giginya dan menusuk leher pria itu dengan cepat. Seketika, pria bertubuh besar itu mengejang dengan mata melotot tak bisa melawan karena tubuhnya terlilit dua tangan ular sang putri.
BRUKK!!
"Bunuh dia!" titah seorang prajurit yang dengan sigap berlari seraya mengayunkan pedang.
__ADS_1
Mata sang putri melebar melihat dirinya kini menjadi target. Namun, hal itu tak dibiarkan oleh Gom dan kawan-kawannya.
"Goarrr!"
"Arghhh!"
KRAUKK!
Senyum sang putri terpancar ketika melihat Tej si manusia setengah harimau menyerang dengan cepat dan menggigit tubuh lawan. Warga Ark panik dan berusaha menjauh dari pertarungan antara manusia melawan manusia setengah binatang di hadapan. Gom dan lainnya yang tak mau kalah, ikut melawan pasukan Ark meski kalah jumlah.
"Gunakan kemampuan binatang kalian!" teriak Tej yang dulunya adalah seorang tukang jagal di Kerajaan Tur.
Pria itu membunuh orang-orang yang melawan perintah Raja Tur. Namun, usai ia disadarkan oleh Gom, sang putri dan pangeran jika perbuatannya selama ini salah, Tej memilih meninggalkan sang raja dan bersekutu dengan Kiarra. Mulanya, penduduk Ark menganggap kemunculan para manusia setengah binatang itu adalah ancaman. Namun, usai melihat mereka berhasil mengalahkan para prajurit Ark, orang-orang itu mulai tenang meski masih berkumpul menjaga jarak.
"Jangan takut. Kami seperti ini karena kutukan pohon jembatan akibat ditebang. Kami tak tahu apakah bisa menjadi manusia lagi atau tidak. Namun, kami datang kemari untuk menyelamatkan kalian. Tur, Yak, Zen, dan Ark bagian luar telah bergabung bersama Vom untuk Negeri Kaa," ucap sang putri mencoba menjelaskan di hadapan orang-orang.
"Herg?" sahut seorang warga yang ingin bicara, tetapi mulutnya disumpal.
Gom berjalan mendekat dengan hati-hati karena khawatir manusia itu akan takut padanya. Namun, pria itu seperti bisa mengendalikan ketakutannya. Ia ikut melangkah maju sedikit demi sedikit saat manusia setengah hewan di depannya menjulurkan tangan seperti ingin membantu melepaskan sumpalan di mulutnya.
"Ya. Kau siapa? Kau tahu tentang Dom? Jangan-jangan ... kau mata-mata yang diceritakan Dom!" pekik Gom dengan mata membulat penuh.
"Ya, kau benar. Aku Veg. Aku menyamar untuk mengetahui seluk-beluk istana Ark. Namun, aku ketahuan. Seharusnya aku mati terbunuh. Akan tetapi, nasib baik berpihak padaku ketika istana mendapatkan laporan jika akan diserang. Mereka langsung memindahkan kami ke sini sebagai sandera jika sampai Kerajaan Ark kalah," ucap sosok mata-mata yang pernah diceritakan oleh Dom.
"Bagus. Kalian semua di sini. Kita segera pergi. Aku khawatir jika akan ada prajurit lainnya datang meski kuyakin jika orang-orang itu sedang sibuk di luar karena gempuran dari seluruh kerajaan yang bergabung," ujar Gom yang mengejutkan semua orang di ruangan itu.
Tej dan lainnya mendekati warga lalu membantu melepaskan ikatan tali serta sumpalan mulut. Orang-orang itu berterima kasih meski tampak gugup melihat sosok manusia setengah hewan di hadapan.
"Jadi benar, jika Ratu Kia-rra dari Vom melakukan gempuran bersama seluruh kerajaan di Negeri Kaa?" tanya warga Ark yang ternyata mendengar kabar tersebut.
"Ya, begitulah. Akan kuceritakan detailnya saat di luar. Ayo, dan ambilah napas yang dalam karena kita akan menyelam," jawab Tej yang membuat wajah beberapa orang tegang seketika.
__ADS_1
Jenderal Gom mengajak warga Ark untuk meninggalkan gua menuju ke hutan, di mana para pemberontak Tur telah menunggu. Mereka berenang secara berurutan hingga orang terakhir. Beberapa yang takut dengan air karena tak bisa berenang, dibantu oleh sang putri karena kecepatannya dalam bergerak dalam air. Orang-orang itu menurut saat diminta memejamkan mata dan menahan napas selama mungkin. Sang Putri memegangi satu orang di kanan kirinya untuk diajak berenang bersama menyusuri terowongan sampai ke permukaan.
SPLASH!
"Hah, hah!"
"Mereka berhasil!" pekik sang Pangeran saat melihat Gom muncul bersama orang-orang berpakaian merah yang tak lain adalah warga Ark.
Penduduk Ark terkejut saat melihat ada banyak manusia setengah binatang yang berkumpul di tepi sungai menunggu mereka. Satu per satu orang-orang itu dinaikkan meski dengan tubuh basah kuyup. Penduduk Ark lega dan saling berpelukan karena diselamatkan. Gom bergegas mengajak kumpulan besar itu meninggalkan hutan menuju perbatasan Ark dan Vom yang kini telah dikuasai oleh kerajaan ungu. Mereka berlari dengan tubuh basah kuyup penuh kewaspadaan karena takut diserang oleh prajurit Ark.
Perbatasan Ark dan Vom. Dua menara.
"Lon! Ada pergerakan besar dari dalam hutan!" seru seorang penjaga perbatasan saat melihat adanya kumpulan orang-orang berlari meski tak terlihat wajahnya karena tertutup rimbunan pohon.
Lon yang ditugaskan untuk menjaga perbatasan bersama para dayang, segera menaiki menara untuk melihat langsung hal tersebut. Para dayang menunggu di gerbang perbatasan dengan senjata siap digunakan.
"I-itu Jenderal Gom! Dia berhasil menyelamatkan penduduk! Sambut mereka dan amankan!" titah Lon dan diangguki semua orang.
Dayang-dayang Kiarra yang kini lebih mahir dalam bertempur, dengan sigap menyambut kedatangan orang-orang tersebut. Mereka menyarungkan kembali senjata untuk membantu. Baju warga Ark yang tadinya basah oleh air, kini telah bercampur dengan keringat. Para dayang Kiarra yang telah menyiapkan kereta-kereta kuda, bergegas mengangkut kumpulan orang-orang itu dalam beberapa kelompok menuju Vom.
"Kerja bagus, kalian hebat. Lalu ... di mana lainnya? Apakah mereka masih bertempur?" tanya Lon cemas.
"Ya. Lalu, kalian sendiri bagaimana? Adakah serangan susulan?" tanya Tej dengan mata mengawasi sekitar.
"Di sini aman, kerajaan aman. Kapten Mun menjaga istana dengan baik. Semua terkendali," jawab Lon mantap.
"Bagus. Kalau begitu, aku akan pergi mengamankan rombongan sampai ke kerajaan," ucap Tej dan diangguki oleh Lon.
Senyum Lon dan para prajurit penjaga perbatasan terkembang. Meskipun terdengar suara ledakan di kejauhan seperti terjadi peperangan besar, tetapi mereka yakin jika pasukan gabungan Kiarra tak akan kalah untuk merebut Ark selama-lamanya.
"Kalian pasti bisa. Berjuanglah!" ucap Lon mantap menatap ke depan.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE