Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kami Menemukannya*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Meskipun Kerajaan Ark digempur dari wilayah sungai oleh armada kapal Laksamana Noh dan juga Dra bersama pasukan Zen, tetapi pasukan merah tersebut masih mampu melakukan serangan balasan serta bertahan. Panglima Goo dan pasukannya yang tersisa kini kembali terancam karena serangan anak panah kembali untuk menjatuhkan mereka. Saat ketakutan mulai mengancam jiwa para pasukan Panglima Goo, tiba-tiba ....


SHUWW! BLUARRR!


"Oh!" kejut Goo dan prajuritnya saat melihat lontaran meriam dari belakang mereka.


Boh dan lainnya tertegun ketika melihat Laksamana Yoh datang bersama awak kapal yang sengaja turun dari kapal. Akan tetapi, mereka membawa meriam dengan menaikkannya di atas perahu yang dipasangi roda. Pasukan Yak yang ikut di bawah komando Yoh mendorong perahu-perahu bermuatan meriam tersebut.


"Hahaha! Jangan diam saja, manusia-manusia lemah! Pergi dan hancurkan mereka!" teriak Yoh lantang yang duduk di atas perahu dengan sebuah meriam siap ditembakkan kembali olehnya.


"Hah, cerdik sekali!" seru Goo yang tak menyangka jika ada ide gila dari Laksamana Tur dalam melakukan serangan.


Beberapa awak kapal di bawah komando Yoh mendorong perahu-perahu bermuatan meriam berikut amunisi untuk menjebol dinding pertahanan Ark. Sedangkan sisanya, menaiki perahu untuk melontarkan serangan meriam. Semangat pasukan Goo yang mulai surut kembali berkobar. Para prajurit itu berdiri tak takut jika hujan anak panah akan melukai mereka.


"Serang!" teriak Goo memimpin pasukan bahkan berani keluar dari tameng mayat yang melindungi mereka.


Boh tertegun melihat para lelaki yang terluka itu masih mampu berlari seraya menenteng perisai berikut pedang dalam genggaman. Boh melihat sekitarnya di mana perahu-perahu kayu beroda ikut melaju dengan meriam-meriam terus ditembakkan meskipun membuat perahu sempat terdorong mundur. Namun, sang Laksamana sepertinya sudah memikirkan hal tersebut sehingga awak kapal yang mendorong benda yang seharusnya terapung di air itu mampu melaju di daratan.


"Oh, aku tahu!" pekik Boh saat melihat kumpulan orang-orang dari kubunya mulai menyerang. Ia melemparkan mayat-mayat yang tertusuk kuku tajamnya ke sembarang tempat. Boh memejamkan matanya sejenak dan terlihat fokus untuk melakukan sesuatu. "Herrrggg ... Kemake le garata see!" teriak Boh lantang.


Seketika, asap hijau muncul dari telapak tangannya dan menutupi raga pasukan gabungan tersebut. Goo dan lainnya bingung karena tak bisa melihat tujuannya, termasuk lawan dari Kerajaan Ark. Namun, tiba-tiba ....


"Hahahaha! Hahahaha!" tawa Laksamana Yoh saat perahu yang ditumpanginya melayang seperti terbang. Boh memegangi perahu tersebut lalu melemparkannya ke arah benteng. "Rasakan meriamku, manusia lemah!" teriak Yoh ketika moncong perahunya kini mengarah ke sekumpulan pemanah yang melotot melihat musuhnya berada di hadapan.


BOOM! BLUARRR!!


"ARRGHHH!"


Yoh berpegangan kuat saat perahu miliknya mulai turun usai berhasil melontarkan meriam dan meledakkan bagian atas benteng sehingga puing-puing berjatuhan menimpa pasukan Ark di sekitar.


"Pendaratan darurat!" teriak Yoh berpegangan kuat pada pinggir perahu saat benda kayu tersebut siap menghantam sekumpulan orang yang menghunuskan pedangnya.


Yoh yang tak bisa melawan dan mungkin tertusuk pedang, sudah siap menerima risiko itu. Akan tetapi ....


"Heahhh!"


JLEB! JLEB! JLEB!


"Aggg!"

__ADS_1


"Hoh?" kejut Laksamana Yoh saat melihat prajurit-prajurit Vom ikut melayang sepertinya seraya melesatkan anak panah pembunuh.


BRAKKK!!


"Aghh!" rintih Laksamana Yoh saat perahunya mendarat ditumpukan manusia yang sedang merintih akibat terkena tusukan panah.


Mata Yoh terbelalak karena tak menyangka jika pendaratannya mulus. Bahkan, perahunya tak rusak. Meriam yang diikat pada bagian dalam perahu juga masih dalam posisi yang sama.


"Hahahaha! Naga memberkatiku! Mati kalian semua!" teriak Yoh dengan semangat memasukkan bola-bola meriam ke dalam lubang untuk melakukan serangan balasan.


Bola-bola itu dimasukkan dalam jaring di dalam perahu agar tak menggelinding. Yoh membombardir pasukan Ark yang ingin menyerangnya dari atas perahu. Siapa sangka, sihir Boh yang bisa membuat benda dan makhluk-makhluk ketika terkena sihirnya menjadi ringan, memberikan kesempatan bagus bagi pasukan Vom untuk menyerang. Mereka berhasil melewati benteng tanpa harus susah payah meruntuhkannya.


Pasukan Yak berhasil menerobos melalui lubang meski harus berhadapan dengan pasukan Ark yang telah menunggu. Mereka ikut dalam kapal bersama Laksamana Yoh. Orang-orang berambut putih tersebut melemparkan bola-bola es untuk membekukan tubuh lawan lalu menghancurkannya hingga menjadi kepingan. Suara ledakan, gesekan pedang, teriakan kematian dan semangat berjuang saling bersahut-sahutan di sekitar wilayah Kerajaan Ark.


Dra dan pasukan Zen juga berhasil masuk ke sisi lain kerajaan. Prajurit-prajurit gabungan dari beberapa kerajaan yang telah bersekutu dengan Vom, kini menyerang Ark bersama-sama untuk ditaklukan dan selanjutnya dijadikan koloni. Akan tetapi, sisa dari pemerintahan Raja Ark ternyata masih melekat di beberapa prajurit dan orang-orang yang setia padanya. Hal itulah yang menyebabkan Kerjaan Ark tak bisa dikuasai sepenuhnya. Peperangan dengan darah harus terjadi dan menjadi satu-satunya jalan karena Ark tak mau bersekutu.


"Kalian sudah kalah!" teriak Goo dengan ujung pedang siap menusuk.


"Sampai mati pun, kami hanya setia pada Raja Ark!" jawab seorang Panglima dari Kerajaan Ark yang kini berada dalam cengkeraman Goo, tergeletak di atas lantai batu.


"Harghhh! Keras kepala!"


JLEB!!


CRATT! BRUKK!


Goo terpaksa menghabisi nyawa panglima itu karena bersikukuh mengabdi pada Ark. Goo melihat sekitar di mana banyak pasukan Ark berguguran. Hingga ia sadar jika wilayah tersebut hanya dipenuhi oleh orang-orang bersenjata. Kening Goo berkerut dan bergegas mendekati Boh yang masih membantu pasukan dari kubunya untuk bisa naik ke benteng tertinggi tanpa harus melalui tangga.


"Boh, Boh!" panggil Panglima Goo dengan napas tersengal.


Boh menatap sang Panglima tajam usai menaikkan tiga orang dari Kerajaan Yak untuk menyerang menara.


"Ada yang aneh. Aku tak melihat adanya warga sipil. Lalu ... mata-mata seperti yang dikatakan oleh Dom. Di mana mereka?" tanya Goo yang membuat Boh juga baru menyadari hal itu.


Boh diam sejenak lalu berjongkok. Goo melihat Boh meletakkan telapak tangannya yang memiliki kuku runcing seperti sedang melakukan sesuatu.


"Oh, ada suara dan pergerakan di bawah lantai istana ini," ucapnya saat membuka mata.


"Maksudmu ... warga Ark yang tersisa berlindung di ruang bawah tanah?" tanya Goo menduga.


"Hem, mungkin demikian," jawab Boh yakin.

__ADS_1


"Kirimkan pesan dan minta pada orang-orangmu untuk menyelamatkan mereka. Kita fokus pada wilayah luar," titah Goo dan diangguki penyihir berbulu tersebut.


Boh bersiul dan membuat burung berbulu warna-warni seperti kolibri itu kembali datang padanya. Boh berbisik dan burung tersebut terbang menjauhi peperangan entah ke mana. Goo dan Boh saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Lagi, tenaga mereka digempur habis-habisan di luar istana untuk meruntuhkan pertahanan pasukan Ark yang tersisa.


Namun, di sisi lain. Burung kiriman Boh berhasil tiba di tempat pasukan cadangan telah menunggu instruksi untuk diberangkatkan.


"Pwitt ... pwitt!"


"Ah, aku mengerti. Terima kasih," ucap sang putri saat menerima pesan itu di hutan tak jauh dari istana Ark berada.


"Ayo!" ajak Jenderal Gom dan diangguki pasukan pemberontak dari Tur yang siap menyusup untuk mencari keberadaan warga Ark yang berada di bawah tanah.


Beruntung, kumpulan orang-orang itu memiliki kemampuan dari berbagai jenis binatang. Mereka memanfaatkan kemampuan indera yang semakin tajam untuk melakukan pencarian.


"Aku mendengar suara-suara di bawah tanah ini," ucap sang pangeran saat ia berjalan seperti merangkak dan mengendus di tanah.


"Ya, aku juga. Kita cari jalan masuknya," ajak sang putri dan diangguki semua orang.


Jenderal Gom dan pasukan bersenjata mengamankan sekitar jikalau mereka diserang mengingat tempat persembunyian itu pastilah dijaga ketat. Hidung dan telinga orang-orang setengah binatang itu terus bergerak hingga tiba di sebuah aliran sungai dalam hutan yang jauh dari peperangan. Mereka terus bergerak hingga indera hewan menghentikan langkah di tepi sungai.



"Tak terdengar lagi," ucap sang pangeran saat suara orang-orang itu tersamarkan oleh pergerakan sungai.


Sang Putri tiba-tiba mendekati sungai dan masuk ke dalam. Pangeran dan lainnya dibuat bingung ketika melihat putri dari Raja Tur berenang di aliran jernih yang menjadikan sosoknya terlihat. Ia bergerak menjauhi kumpulan dan melawan arus. Hingga tiba-tiba, sosoknya hilang di bawah sebuah pohon besar yang berada di tengah-tengah sungai.


"Ke-kemana dia?" tanya sang pangeran panik karena saudarinya menghilang.


Praktis, kumpulan manusia setengah binatang itu bergerak ke tempat sang putri menghilang. Mereka mencoba mencelupkan kepala ke dalam air sungai, tetapi sosoknya tak terlihat. Lama putri menghilang dan membuat mereka semakin cemas jika hal buruk terjadi. Saat semua orang kebingungan mencari keberadaan putri mereka, tiba-tiba ....


SPLASH!


"Di sini! Ada jalan yang menembus sebuah gua dalam aliran sungai seperti terowongan! Jalan itu menuju ke tempat orang-orang disekap!" pekik sang putri yang akhirnya muncul setelah semua orang nekat menceburkan diri ke sungai untuk mencarinya.


"Temuan bagus, Putri! Lainnya bersiaga! Hanya yang bisa berenang ikut ke dalam. Kita harus cepat!" ajak Jenderal Gom dan orang-orang itu segera membagi tugas sesuai kemampuan.


Sang Pangeran diminta untuk tetap berada di permukaan saat Gom, sang putri dan lima orang dari kumpulan itu berenang menuju ke tempat persembunyian.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


yey si embul lagi anteng! Ngebut ngebut ngenggg ... kwkwkw😆


__ADS_2