Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Makhluk Terkutuk*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Jantung Kiarra berdebar kencang. Ia bisa merasakan aura jahat dari makhluk yang baru saja ia lepaskan itu. Kiarra bergegas melangkah mundur dengan Pyu berdiri di sampingnya, siaga terhadap ancaman makhluk tersebut.


"Apa kau menipuku, See!" teriak Kiarra lantang.


"Hihihihi ... tidak juga. Apa yang kukatakan memang benar, tetapi ... tidak semuanya," jawabnya dengan seringai. "Pohon jembatan akan tumbuh karena aku telah terbebas, tetapi ...," ucapnya seraya menjulurkan lidah berujung runcing menatap Kiarra lekat.


Mata Kiarra membulat penuh. Dengan cepat, ia membuat senjata dengan melapisi dua tangan menggunakan kristal biru. Ujung dua tangannya meruncing, seperti sebuah pisau tajam yang siap melukai. Makhluk yang tak memiliki raga itu terkejut ketika melihat wanita di depannya seperti siap melawan.


"Ternyata apa yang kurasakan memang benar ... kekuatan bintang biru telah menjadi satu dengan dirimu. Kalau begitu, kau adalah wadah yang tepat untuk kugunakan sebagai penjaga pohon jembatan sampai ia tumbuh kembali! HARGHH!"


"Ratu!" teriak Pyu panik dan menarik tubuh Kiarra karena gumpalan besar seperti asap itu seperti ingin menghantamnya.


PRANGG!!


Kiarra jatuh terlentang dan merasakan sakit di tubuh bagian belakang. Kristal di dua tangannya pecah dan serpihannya berhamburan di lantai.


"Oh, Ratu! Ratu!" teriak Pyu panik karena wajah Kiarra berkerut seraya memegangi perutnya yang sakit.


"Apa itu? Aku bisa merasakan ada jiwa lain di dalamnya. Kau ... kau mengandung?" tanya See yang terbang melayang menatap Kiarra tajam.


"Ratu! Maafkan saya! Maafkan saya!" ucap Pyu menangis terisak merasa bersalah.


"Erghh ... arghh!" rintih Kiarra terlihat begitu kesakitan, meronta di atas lantai beralas karpet.


Tiba-tiba ....


BRAKK!!


"Kau?" ucap Raja Tur ketika melihat sosok makhluk berasap ungu balas menatapnya tajam.


"Itu See! Makhluk terkutuk itu terbebas!" seru manusia serigala langsung menarik pedang dari sarungnya.


Seketika, ruangan Kiarra dipenuhi oleh para prajurit Tur dengan sang Raja menatap makhluk tersebut tajam.


"Hiks, ratu ... ratu ...," panggil Pyu panik seraya memangku tubuh Kiarra yang berkeringat hebat.


Mata Raja Tur terbelalak lebar. Kuku di kesepuluh jarinya meruncing, siap mencabik makhluk itu.


"Kau telah berani menyakiti Ratuku! Kali ini, kupastikan kau akan musnah untuk selamanya! Harghh!" raung sang Raja murka dan berlari kencang ke arah makhluk seperti iblis itu.


Namun, bukannya takut, See tersenyum lebar.


"Hihihihi!"


"Tidak!" teriak sang Raja dengan mata melotot saat melihat makhluk ungu itu merasuki raga Kiarra.


Pyu panik dan kebingungan dengan hal ini. Ia berusaha menghalau gumpalan asap pekat itu dengan dua tangannya, tetapi tak bisa.


"Ogg, okk!" Mata Kiarra melebar saat tubuhnya dimasuki arwah See melalui lubang telinga, hidung dan mulutnya.


Pyu berteriak marah berusaha untuk menyerang makhluk iblis itu dengan pisau yang ia letakkan karena memangku sang Ratu, tetapi tak berhasil.


"Kia!" teriak sang Raja dengan wajah tegang termasuk semua orang.


Tiba-tiba ....

__ADS_1


"Hihihihi ...."


"Aaaaa!" teriak Pyu saat melihat Ratu yang seharusnya ia lindungi kini seperti See.


Pyu segera menyingkir dan berdiri di samping Raja Tur. Semua orang dibuat panik ketika Kiarra bangun perlahan dengan asap ungu keluar di sekitar tubuhnya.


"Hihihi ... oh, lihat wajah kalian. Aku bebas! Ragaku sempurna! Aku mendapatkan calon penguasa Negeri Kaa! Hihihihi!" tawa See puas dengan dua tangan direntangkan.


Saat semua orang dilanda kepanikan, tiba-tiba ....


"Enak saja!" ucap See yang suaranya terdengar seperti Kiarra.


"Argh! Aggg!" raung See dengan tubuh Kiarra seperti memberontak.


Para prajurit mengepung Kiarra dalam formasi melingkar. Raja Tur berdiri gagah menatap wanita cantik di depannya seperti melakukan perlawanan terhadap See di tubuhnya.


"Jika aku tak bisa mengeluarkanmu, kau akan kukurung selamanya! Heahhh!" teriak Kiarra lantang yang tiba-tiba memeluk tubuhnya.


Sontak, mata semua orang melotot. Tubuh Kiarra perlahan berlapis kristal biru. Wajah Kiarra sampai berkerut dengan mata terpejam rapat, seperti berusaha agar See tak keluar dari raganya.


"Ratu!" panggil Pyu yang ingin mendatangi Kiarra, tetapi ditahan oleh sang Raja.


Pyu menatap Tur tajam yang wajahnya tampak serius melihat tubuh Ratunya perlahan terselimuti batu kristal biru seperti sebuah patung.


"Ra-ra-ratu! Ratu Kia!" teriak Pyu dengan wajah basah air mata.


Tubuh Kiarra terselimuti batu kristal biru yang tampak kokoh. Saat sang Raja melepaskan genggaman di tubuh Pyu dan berjalan mendekat dengan wajah sedih, lagi-lagi ....


KREKK ... KREKKK!


Semua orang terdiam melihat keajaiban itu. Sebuah kristal biru berukuran besar berdiri di atas lantai batu, mengurung arwah See dan sang Jenderal. Pyu berjalan tergopoh mendekati batu itu dan memberanikan diri menyentuhnya.


"Hiks, ratu ... Ratu Kia," panggil Pyu merasa bersalah karena membuat Kiarra terluka.


Ia juga mencemaskan keselamatan janin sang Ratu karena Kiarra sempat merintih sakit. Para prajurit Tur dibuat bingung dengan senjata masih dalam genggaman. Sang Raja terlihat sendu saat mendekati telur kristal itu dan menyentuhnya.


"Apakah ... apakah Ratu mati?" tanya Pyu berusaha menghentikan tangisannya.


Sang Raja memejamkan mata. Keheningan terjadi di ruangan tempat istirahat sang Ratu.


Deg ... deg ... deg ....


"Oh!" kejut sang Raja saat membuka mata.


"Ada apa, Paduka?" tanya Gor seraya mendekat.


"Kia ... dia masih hidup. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Namun, bagaimana kita menyelamatkannya?" tanya sang Raja bingung.


Tiba-tiba, Pyu menatap sang Raja lekat. Mata Tur menyipit melihat pelayannya itu.


"Kita harus membawa Ratu kembali ke kerajaannya. Hanya para penyihir yang tahu tentang hal ini. Dra, dia pasti tahu bagaimana mengembalikan Ratu Kia!" ucap Pyu mantap.


"Tidak bisa! Jika kita membawa Ratu Kiarra kembali ke kerajaannya, itu sama saja Tur menyerah!" seru manusia setengah serigala yang menjabat sebagai panglima kerajaan.


"Gor, diam. Aku setuju. Satu-satunya jalan adalah membawa Kia kembali ke Vom, tapi tak semudah itu Tur ditaklukkan. Akan banyak perjanjian yang harus disepakati sampai Kia diselamatkan dan See makhluk terkutuk dibinasakan," ucap Raja Tur mantap.


"Baik, Paduka. Segera akan saya laksanakan," ujar Gor seraya pamit keluar bersama para prajuritnya.

__ADS_1


Senyum Pyu terkembang. Ia memeluk telur kristal itu erat dengan perasaan lega.


"Anda akan baik-baik saja, Ratu Kia. Aku akan selalu disampingmu. Kali ini, tak akan kubiarkan satu pun orang jahat melukaimu, sebagai penebusan dosaku," ujar Pyu mantap.


Raja Tur diam saja mendengar hal itu. Ia lalu keluar dari kamar dan meminta agar telur Kiarra tak disentuh oleh siapapun. Hanya dia dan Pyu saja yang diizinkan. Proses pemindahan telur kristal besar itu dilakukan dengan hati-hati. Laksamana Yoh kembali ditugaskan dan ia siap untuk membawa telur tersebut sampai ke Vom meskipun luka belum pulih sepenuhnya. Selain itu, ia juga memiliki dendam yang belum terselesaikan dengan Noh.


"Pastikan Tur aman saat kutinggalkan, Gor!" seru sang Raja yang sudah berdiri di atas kapal bersama orang-orang kepercayaannya.


"Anda bisa mengandalkanku, Raja! Tak akan kubiarkan siapapun merebut Kerajaan Tur. Aku akan tetap di sini sampai Anda kembali," ucap Gor mantap.


Sang Raja mengangguk terlihat serius. Laksamana Yoh memerintahkan awak kapal dari armada yang tersisa untuk segera membentangkan layar. Perjalanan yang cukup memakan waktu itu tak membuat kewaspadaan prajurit Tur dan Laksamana menurun. Mereka tetap fokus dengan sekitar hingga akhirnya kapal tersebut keluar dari perbatasan.


"Oh, kita ... kita berada di wilayah Vom," ucap salah seorang awak ketika melihat langit bercahaya ungu meskipun bulan tak tampak karena terhalangi awan-awan yang berkelompok.


Sudah lama sekali orang-orang Tur terperangkap dalam kabut hijau kutukan Kerajaan Tur. Saat semua orang terperangah penuh kekaguman, tiba-tiba ....


"Kapal Kerajaan Vom!" seru salah satu awak kapal Kerajaan Tur ketika melihat sebuah kapal di kejauhan mulai mendekati mereka.



"Hehehe, Laksamana Noh, kita akan bertemu lagi untuk menyelesaikan pertempuran yang tertunda," ucap Laksamana Yoh bersemangat.


Saat semua orang bersiap untuk menghalau serangan karena membawa muatan berharga, lagi-lagi ....


"Ekkk! Ekkk!"


"Itu pasukan burung Panglima Wen! Kita pasti akan diserang! Bersiap!" teriak Laksamana Yoh ketika melihat sekumpulan burung Eee, siap menyerang mereka.


Raja Tur yang mendengar hal tersebut langsung keluar dari kabin tempat telur Kiarra disimpan. Pyu menjaga telur kristal itu dengan memeluknya kuat agar tak rusak. Suasana tegang kembali terjadi ketika Raja Tur menggenggam pedang kristal biru Kiarra ketika menunjukkan dirinya di geladak kapal.


"Wen!" teriak Raja Tur yang membuat mata Wen melebar karena mengenali pedang Kiarra.


"Berhenti!" teriak sang Panglima di mana pasukan burungnya kini mengepung kapal tersebut dalam lingkaran besar. "Kau apakan Jenderal Kia!" teriak Wen marah.


"Turun kemari dan akan kutunjukkan padamu!" seru sang Raja seraya mengarahkan pedang Kiarra ke tubuh Wen.


Mata sang Panglima kebanggan Vom menyipit. Ia melirik ke prajurit burungnya. Para pria itu mengangguk dan paham dengan apa yang harus dilakukan.


"Ekkk! Ekkk!" lengking burung Eee saat ia mendarat di geladak kapal di mana semua senjata awak kapal Tur terarah padanya.


"Jika sampai aku mati di sini, kapalmu berikut semua orang di dalamnya akan dimusnahkan," tegas Wen.


"Kalian tak akan berani melakukan hal itu," jawab Tur tegas.


Mata Wen menyipit saat Raja Tur membalik tubuhnya lalu melangkah menuju ke sebuah pintu. Wen mengikuti dengan mata melirik memindai sekitar. Para awak termasuk Laksamana Yoh tetap berdiri di tempat mereka berada. Saat Raja Tur membuka pintu kayu tersebut, seketika, mata Wen terbelalak lebar.


"Apa itu?"


"Jenderal Kia terkurung dalam telur kristal biru bersama makhluk iblis See," jawab sang Raja yang membuat Wen mematung seketika. "Jadi ... kau masih ingin menenggelamkan kapal?"


"Kita harus segera menemui Dra," jawab Wen cepat dan Raja Tur mengangguk membenarkan.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


Adeh lele capek banget jadi novel TDR up Senin aja ya. Met rehat semua. Lele padamu 💋

__ADS_1


__ADS_2