
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di sisi lain tempat Kenta berada.
Kenta yang berada dalam raga Panglima Wen, berenang mengikuti sebuah lorong bercahaya biru. Ajaibnya, tubuhnya seperti didorong oleh arus air sehingga ia meluncur cepat. Mata Kenta menyipit saat terlihat cahaya putih di ujung terowongan air. Pada akhirnya, SPLASH!
"Hah! Hah!"
"Oh!"
Kenta yang muncul di permukaan air sebuah kolam, mengejutkan sosok peri bersayap. Peri cantik itu terbang mundur dengan cepat. Matanya menatap sosok pria di hadapan yang sebagian tubuhnya masih tenggelam dalam air.
"Oh, hei. Maaf mengejutkanmu. Jadi ... kau sepertinya peri. Apakah ini ... hutan kabut putih?" tanya Kenta dengan mata melihat sekitar.
Tubuhnya mengambang dan terus menggerakkan tangan serta kaki agar tak tenggelam. Senyum Kenta terkembang karena tempatnya berada sekarang sangat memanjakan mata. Airnya jernih meskipun udara di sekitar tempat itu terasa lain dan tertutupi kabut. Namun, Kenta yang pernah mengalami hal-hal aneh dalam hidupnya, merasa tempat itu sangat menarik untuk dijelajahi.
Namun, bukannya jawaban yang Kenta dapat dari peri bersayap seperti capung itu. Wanita cantik tersebut terbang dengan wajah tegang meninggalkan kolam.
"Well, sepertinya aku akan membuat sedikit keributan. Okey," ucap pria itu santai lalu berenang menuju ke tepian.
Kenta dengan sigap naik ke daratan. Saat ia berdiri di tepian, tiba-tiba ....
KREKKK!
"AAAAA!" teriak Kenta terkejut bukan main saat dua kakinya tiba-tiba dijerat oleh sulur tanaman dan membuat tubuhnya terbalik.
Kenta tergantung di sebuah pohon tepi kolam. Napasnya tersengal. Bajunya yang basah kini membanjiri wajah. Pria itu sampai mengibaskan kepala karena air yang mengganggu.
Hingga matanya menyipit saat melihat pergerakan di permukaan tanah. Seketika, Kenta melotot karena muncul sebuah kepala dari kayu, tetapi memiliki wajah. Mata itu berkedip menatap sosok pria di depannya lekat. Kenta menatap sosok aneh itu tajam.
__ADS_1
"Aku mengenalmu. Kau Panglima Wen dari Vom," ucap seorang peri dengan kepala muncul dari dalam tanah.
"Ya. Oke, karena kalian sudah mengenalku, jadi tolong turunkan. Waktuku tak banyak. Naga hanya memberikanku 15 menit dan kurasa ... sudah kuhabiskan dengan basa-basi dalam gantungan ini," sahut Kenta yang mulai pusing karena darahnya mengumpul di kepala.
"Naga? Kau bohong. Tak ada yang pernah berhasil menemui naga," ucap seorang peri dengan tubuh manusia, tetapi kulitnya seperti serangga kepik karena berwarna hitam putih. Sayapnya kecil di punggung dan terbang perlahan mendekati Kenta.
"Lalu, kau pikir bagaimana caraku bisa kemari tanpa berurusan dengan prajurit Tur? Aku menceburkan diri ke kolam naga yang ternyata membawaku ke tempat ini. Jadi, berhenti membuang waktuku!" teriak Kenta marah.
"Pembohong! Kau datang kemari pasti ingin menyulut perang dengan Tur! Kau menggunakan kami untuk memenangkan pertempuran! Jangan harap kami sudi memihak!" jawab seorang peri daun.
"Aku tak butuh bantuan kalian! Aku hanya ingin menemui saudariku Kiarra! Aku tahu dia di sini, terkurung dalam telur kristal! Lepaskan aku atau kematian akan kubawakan pada kalian! Percayalah, aku tahu bagaimana rasanya mati," ancam Kenta dengan napas menderu.
Mata para peri menyipit. Kenta mulai memberontak. Ia mengayunkan tubuhnya di mana dua tangannya masih terbebas karena hanya pergelangan kaki saja yang terjerat.
"Heahhh!"
KRASS! BRUKK!
Para peri panik karena pria yang dikenal bernama Wen berhasil melepaskan ikatan di kaki dengan menebasnya menggunakan pedang. Senjata tajam yang selalu siap di pinggul kanannya ditarik oleh Kenta untuk meloloskan diri. Kenta jatuh cukup keras dengan punggung sebagai alas. Namun, pria itu dengan cepat berdiri seraya menggenggam pedang di tangan kanan. Sorot matanya tajam menatap para peri yang waspada dan siap menyerang jika ia dianggap ancaman.
KLANG!
"Oh!" kejut para peri saat Kenta menjatuhkan pedangnya.
Kenta lalu menarik liontin dari kalung yang selalu ia bawa setelah tahu perjuangan Kiarra di negeri itu. Kenta melepaskan kalungnya lalu menunjukkan kristal biru yang diikat berupa bongkahan kecil. Mata para peri menyipit.
"Jangan buang waktuku. Jika ingin tahu apa yang terjadi, sentuhlah kristal ini. Semua kisah Kiarra dan aku ada di dalamnya. Naga memasukkan bagianku karena ia tahu jika kalian akan mempersulit permintaanku," ucap Kenta seraya mengulurkan benda biru tersebut.
Wajah para peri tegang. Beberapa dari mereka saling berpandangan. Hingga akhirnya, salah satu peri berani mendekat. Kenta menatap sosok peri tanah karena ia tak memiliki kaki. Tubuhnya menyatu dengan tanah yang dipijak. Ia mengambil kalung itu lalu memegang kristalnya.
"Nym?" panggil peri tanah itu seraya bergerak ke tepi kolam.
__ADS_1
Kenta terkejut saat menyadari jika ada peri di air. Sosok seperti seorang wanita muncul lalu mengulurkan tangan untuk menerimanya. Seketika, air di kolam itu memunculkan isi dari kristal biru. Kenta ikut terkejut.
Para peri berkumpul dan mendekati tepi kolam. Mereka menyaksikan perjuangan Kiarra dan orang-orang agar bisa mewujudkan perdamaian. Sampai akhir kisah, Kiarra terjebak dalam telur kristal. Saat para peri serius menonton, mereka kembali dikejutkan saat melihat Panglima Wen tewas dalam peperangan.
Penyihir Rak membawa jasad Wen kepada sang naga. Mata para peri melotot melihat Wen yang telah mati kembali bangkit. Namun, jiwanya bukanlah Wen lagi, melainkan seorang pria dari dunia lain yang bernama Kenta. Para peri tegang seketika.
"Ka-kalian lihat itu?" tanya Nym seorang peri kupu-kupu sampai tergagap usai kristal biru menghentikan tayangan.
"Jadi ... dia bukan Wen? Dia adalah Ken— eh, mana dia?" tanya peri bersayap capung terkejut karena tak mendapati sosok Wen di sana.
Di tempat Kenta berada.
"Hah, hah, di mana dia? Ara! Ara!" panggil Kenta yang akhirnya nekat berteriak karena ia seperti berada dalam labirin di hutan tersebut. Kenta terus berlari mencari keberadaan sang adik. Hingga tiba-tiba, "Arghhh!"
"Kau, seperti tikus raksasa yang nakal," ledek seorang peri pohon yang berhasil menangkap Kenta dengan ranting pohonnya.
Tubuh Kenta terangkat dan terlilit kuat sehingga tak bisa bergerak.
"Lepaskan aku! Waktuku tak banyak! Argh!" teriak Kenta marah.
"Diam! Kau bisa membuat prajurit Tur yang berjaga di luar datang kemari!" pekik salah satu Nym berjalan dengan gusar mendatangi Kenta.
"Hah, hah, kalian pikir, aku suka diperlakukan seperti ini, ha? Aku sudah bicara baik-baik, tetapi kalian yang mempersulitnya," jawab Kenta geram melotot tajam.
Para Nym yang kini berkumpul mengelilingi Kenta menatap pria itu saksama. Tubuh Kenta bak kepompong karena terlilit ranting pohon, kecuali kepalanya. Pria tersebut balas menatap para peri. Saat suasana terasa tegang, tiba-tiba, rumput yang tumbuh terbentang di bawah kaki Kenta bergerak.
Mata Kenta terbelalak melihat rumput-rumput yang tumbuh lebat di permukaan tanah membelah. Retakan tanah semakin besar lalu membentuk sebuah lingkaran layaknya kolam kering. Perlahan, muncul sebuah benda dari dasar kolam itu. Bentuknya seperti telur berukuran besar berwarna biru berlapis kristal. Praktis, senyum Kenta terkembang.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAI)
__ADS_1