Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kerajaan Yak*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Selama proses penyembuhan Kiarra, warga Vom dengan giat membangun kembali rumah-rumah dan memperbaiki bangunan istana yang rusak usai pertempuran melawan Ram. Kiarra yang lebih menyukai kamarnya di menara, melihat warga Vom bekerja keras dari balkon. Para pejabat kerajaan mulai bisa menerima takdir baru mereka sebagai sipil. Kiarra yang dulunya menjadi CEO, mulai menyusun banyak rencana untuk perubahan dalam sistem kepemimpinan dan pemerintahan di Vom. Ia menjadikan empat dayangnya sebagai asisten untuk mensukseskan misi.


"Ratu! Dra dan Aaa sudah kembali!" seru Fuu yang membuat pandangan Kiarra terangkat seketika.


Kiarra segera berdiri dan meletakkan sehelai bulu yang dijadikan layaknya pena pada selembar kertas. Dra pergi selama satu hari bersama Aaa untuk menyelesaikan misi Kiarra dengan menceburkan kristal biru dari abu Ram ke kolam naga. Kiarra berasumsi jika Dra dan Aaa memanfaatkan kemampuan teleportasi pohon jembatan untuk mempersingkat waktu. Kiarra meninggalkan meja kerja dan berjalan mendekati salah satu dayangnya itu.


"Panggil saja Jenderal. Aku lebih nyaman dengan sebutan itu," pinta Kiarra saat berdiri di samping Fuu.


"Namun, Anda Ratu Vom."


"Belum dinobatkan, bukan? Sudah, menurut saja. Jangan berdebat denganku," ucap Kiarra menekankan.


"Baik," jawab Fuu menunduk.


Kiarra yang gemas akan sikap pria tampan di depannya meninggalkan kecupan di pipi. Fuu tersipu malu lalu berjalan di samping wanita pujaannya menuju ke pintu utama istana di mana Dra dan Aaa disambut.


"Kia!" seru Dra yang sudah tampak lebih bugar karena wajahnya berseri.


"Kau sepertinya senang sekali. Kejutan apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Kiarra seraya berjalan dengan anggun layaknya Ratu mendekati Dra.


"Aku bertemu naga! Maksudku ... Kaa!" serunya dengan wajah berbinar.


"Oh, benarkah? Kau juga?" sahut Lon yang kini tinggal di istana bersama penduduk Desa Gul.


"Hem! Lalu ... kau tahu apa yang kami bicarakan?" Kiarra menggeleng termasuk para pendengar yang lain. "Dia memintaku untuk menjadi penjaga Pohon Naga! Itu adalah sebuah kehormatan tertinggi bagi para penyihir sepertiku!" serunya senang.


Namun, entah kenapa, hati Kiarra tak merasa demikian. Ia sedih saat melihat Dra tampak begitu bahagia dan mendapatkan selamat dari banyak orang. Kiarra berpaling dan meninggalkan kerumunan. Saat ia melangkah pergi, ia merasakan jika diikuti. Kiarra menghentikan langkah saat ia melihat pergerakan besar di belakangnya dari bayangan di lantai batu.


"Jadi ... kau masih bisa memahami apa yang aku katakan, Jenderal?" tanya Kiarra.


"Akk!"

__ADS_1


"Kenapa kau tak protes pada naga dengan wujudmu yang sekarang?" tanya Kiarra heran masih memunggungi ayam besar itu.


Aaa tak menjawab. Saat Kiarra membalik tubuhnya, ia tersentak ketika Aaa meletakkan paruhnya di kepala sang wanita cantik itu. Seketika, Kiarra bisa melihat sosok sang Jenderal Kia yang berdiri di hadapannya seperti berada di suatu dimensi berbeda.


"Naga tahu keinginanku. Aku menerima takdirku dalam wujud Aaa. Dra juga telah mengetahui siapa aku sebenarnya. Nantinya, kami berdua akan tinggal di wilayah Pohon Naga untuk selamanya sebagai penjaga."


Praktis, ucapan sang Jenderal membuat Kiarra mematung. Kia menyentuh pipi Kiarra dan membuat wanita cantik itu mengangkat dagunya.


"Aku senang kau berada di negeri ini, Kia-rra. Selesaikan misimu. Aku dan Dra berjanji akan membantumu," ujar sang Jenderal dengan wajah serius.


Kiarra menatap lekat mata indah sang Jenderal yang kini raganya telah menjadi miliknya.


"Ayo selesaikan," jawab Kiarra tegas.


Seketika, Kiarra kembali ke dunianya tepat di koridor istana. Kiarra tersenyum dan berjalan meninggalkan Aaa di mana ayam besar itu masih berdiri gagah menatap punggung raganya yang telah ditinggalkan. Kiarra mendatangi tempat penyimpanan mayat Ron yang ia rencanakan untuk menjadi salah satu raga dari keluarganya ketika mati kelak.


"Hem, tubuhmu cocok untuk siapa, ya?" ujar Kiarra saat melihat tubuh Ron yang direndam dalam cairan khusus berwarna ungu dipenuhi bunga-bunga hasil ramuan dari Dra.


Air itu bisa mengawetkan Ron selama 3 hari sebelum lelaki tersebut membusuk. Kiarra juga mulai mempelajari kemampuan sihir kristalnya. Dra mengajarinya banyak hal dari ilmu pengetahuan yang didapat dari naga.


"Kau tak perlu melafalkan mantra. Sihir yang akan kau keluarkan, cukup dipikirkan dan selanjutnya, sihir tersebut menjadi seperti yang kau harapkan," jelasnya.


"Hem. Jika demikian, kenapa saat aku mengamuk kala itu, ada mantra yang kuucapkan?" tanya Kiarra teringat kejadian masa lalu.


"Oh, soal itu. Aku juga sempat menanyakan pada naga. Katanya, hal itu terjadi karena kau belum sepenuhnya menjadi bagian dari Negeri Kaa. Meskipun rohmu masuk dalam raga Kia, tetapi jiwamu bukanlah berasal dari sini. Oleh karena itu, saat kau ingin mengeluarkan sihir dan kuyakin kau tak begitu mengingat bagaimana hal tersebut bisa terjadi, munculah campuran dalam diri sehingga kau mengucapkan mantra," jawab Dra yang duduk bersila di hadapan Kiarra.


Mantan CEO itu mengangguk paham. Ia mulai teringat saat dirinya seperti tak sadarkan diri ketika mengucapkan mantra itu. Namun, ketika dirinya dalam telur naga sebelum akhirnya berubah, banyak ingatan dan juga penglihatan yang didapat olehnya. Kiarra mulai memahami bagaimana kehidupan Negeri Kaa. Ia bisa merasakan auranya berbeda usai menetas dari telur naga kristal di mana naga kecil itu telah menyatu dengannya.


"Dra," panggil Kia dengan pandangan tertunduk melihat api biru ciptaannya dalam sebuah bejana berisi air. Api biru itu mengambang di atasnya dan tak padam. Kiarra sendiri heran bagaimana hal itu bisa terjadi.


"Ada apa?"


"Kau selama ini ... apakah ... kau tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Kia?"

__ADS_1


Praktis, ucapan Kiarra membuat Dra tertegun. "Apa maksudmu?"


"Aku bertemu dengan Kia, kakakmu. Rohnya berada dalam tubuh Aaa. Dia ... eh, Dra!" pekik Kiarra karena penyihir itu langsung berlari begitu saja dengan tergesa meninggalkan kuil.


Kiarra bingung dan ikut mengejar. Wanita cantik berambut panjang itu berkerut kening saat Dra menangis seraya memeluk leher Aaa. Ayam besar itu diam saja, seperti tahu jika adiknya bersedih.


"Ahh ... kau menipuku ya, Aaa. Kau bilang Dra tahu tentangmu, ternyata," sindir Kiarra memasang wajah masam dengan dua tangan menyilang depan perut.


Aaa menoleh ke arah Kiarra dan mengedipkan satu mata. Kiarra tertegun karena baru tahu jika ayam bisa melakukan hal itu. Sayap Aaa terkembang, seperti memeluk Dra yang menangis terisak usai mengetahui jika Aaa adalah kakaknya. Kiarra yang tak ingin merusak kehangatan itu memilih pergi dan meninggalkan kakak beradik tersebut.


Kiarra mendatangi aula tempat berkumpulnya pasukan. Para kesatria Vom terlihat telah bersiap untuk diberangkatkan esok menuju Kerajaan Yak sembari membawa muatan berupa jasad Ron untuk didinginkan di wilayah itu. Ada sebuah titik beku di wilayah Yak di mana tanahnya bisa membekukan benda apa pun. Kiarra bermaksud untuk mengumpulkan semua jasad yang dirasa olehnya cocok untuk keluarganya nanti di wilayah tersebut.


"Baiklah, saatnya berburu. Aku penasaran, seberapa tangguh kekuatan tempur kerajaan-kerajaan musuh," ucap Kiarra di hadapan para prajurit dengan perlengkapan tempur siap digunakan.


"Kami akan membantumu menuntaskan misi dari naga, Jenderal," sahut Wen dan diangguki oleh Kiarra.


Hari berikutnya, saat bulan ungu bercahaya terang. Pasukan Vom bergerak keluar istana. Kiarra mempercayakan para dayang dan Lon untuk mengamankan kerajaan selama mereka pergi. Dra dan Aaa ikut dalam misi karena mereka telah berjanji. Sesudahnya, dua makhluk itu akan mengabdi pada sang Naga untuk selamanya.


"Semuanya bersiap! Kita tak tahu, apakah pasukan musuh menunggu kita di tempat pohon jembatan berada atau tidak. Jangan lengah, dan fokuslah pada pemimpin kerajaan zalim!" seru Kiarra di depan pohon jembatan yang akan membawa rombongannya ke Kerajaan Yak.


"Baik, Jenderal!" jawab semua orang serempak.


Kiarra mengulurkan tangan, siap untuk membawa pasukannya yang saling menyentuh pundak kawan agar energi teleportasi terhubung. Ingatan Kia tentang Kerajaan Yak di mana sang Jenderal pernah melakukan penyerangan sebelumnya, tetapi berbuah kegagalan, membuat Kiarra memiliki banyak rencana cadangan dalam strategi penyerangan. Istana es Yak membuat senyum Kiarra terkembang karena bangunan itu seperti istana negeri dongeng.



Benar saja, begitu Kiarra dan rombongannya berhasil melakukan teleportasi ....


"Itu Jenderal Kia dan pasukannya! Habisi!" teriak salah satu prajurit dari Kerajaan Yak yang ternyata telah menunggu di sekitar pohon jembatan.


"Serang!" balas Kiarra dengan pedang kristal dalam genggaman, siap menuntaskan misinya.


Praktis, teriakan demi teriakan saling bersahutan. Pasukan Kerjaan Yak ternyata seperti manusia albino karena kulit mereka putih semua. Mata mereka berwarna biru dan rambut berwarna putih. Kiarra melihat ekspresi dingin dan bengis dari prajurit musuh. Namun, tak sedikit pun rasa takut mengusiknya. Malah, ia semakin bersemangat untuk segera mengeksekusi mereka semua karena dirinya memanglah seorang Dewi Kematian.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2