Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Rak*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra tak main-main dengan ancamannya. Semua orang dibuat tegang saat sang Jenderal mulai menghitung.


"Satu ... dua ... ti ...."


"Hah, hah, baik, baik! Akan kukatakan! Akan kukatakan! Tolong, jangan bunuh aku. Semua yang kulakukan karena permintaan ayah ibu," ucap bocah lelaki itu dengan air mata bercucuran. Terlihat jelas ketakutan di wajahnya.


"Anak pintar. Tunjukkan. Jika sampai ada satu saja anak buahku tewas, kau akan ku kirim untuk menemaninya ke neraka," ujar Kiarra bengis.


Anak lelaki berkulit pucat itu mengangguk. Kiarra melepaskan sihir kristal yang mengurung anak tersebut. Kiarra berjalan mengikuti tahanannya menuju ke dalam istana. Para prajurit Vom berjaga di sekitar dengan senjata siap dalam genggaman. Panglima Wen mengikuti di belakang dengan pedang siap untuk dicabut dari sarungnya.


GREKK ....


"Tempat apa ini?" tanya Panglima Wen dengan mata terbelalak lebar.


Awalnya, mereka melewati koridor panjang usai memasuki dapur istana. Ternyata, ada tangga pada ujung koridor itu yang membawa mereka ke ruang bawah tanah.



Anak laki-laki berkulit pucat itu kemudian bersiul. Mata Kiarra mengawasi sekitar karena tempat tersebut seperti gua yang terselimuti es.


Tiba-tiba ....


"Ba-batu itu bergerak, Jenderal!" seru Panglima Wen saat batu-batu es di dalam gua itu bergoyang. Mereka lalu berubah menjadi bentuk manusia dan berkumpul di dekat tangga es.


"Otoko ... mee wulage, hego-hego," ucap bocah lelaki itu yang membuat Kiarra langsung menoleh ke arahnya dan menatap tajam.


Seketika, es-es yang membungkus tubuh para manusia itu retak dan pecah sedikit demi sedikit. Kening Kiarra berkerut dengan mata terfokus pada kumpulan manusia es yang berubah menjadi seperti warga Yak berciri khas kulit pucat dan rambut putih.


"Kau penyihir?" tanya Kiarra menatap anak lelaki itu lekat.


"Hem. Sebenarnya ... aku seorang gadis, seusia Dra dan bukan laki-laki. Aku berubah karena menggunakan sihir terlarang. Semakin aku kembali muda, semakin cepat aku akan mati. Aku terpaksa melakukan keinginan raja agar warga Yak tak mati. Aku keturunan terakhir dari jenisku," ucap bocah laki-laki itu sedih dengan wajah tertunduk.


"Keturunan terakhir?" tanya Kiarra menyipitkan mata.

__ADS_1


"Dia penyihir agung seperti Dra. Saat seorang penyihir mati, akan hidup penyihir baru di tanah kerajaan itu. Namun, akan sangat sulit mengenalinya karena seorang penyihir pun, belum tentu bisa mengeluarkan kemampuan sihirnya sampai ia benar-benar bisa menguasai dan mengendalikan. Oleh karenanya, begitu Rak diketahui adalah titisan penyihir pengganti, raja langsung mengurungnya dan dijadikan alat demi memperluas kekuasaan," ucap seorang pria tua dengan keriput di wajah.


Kiarra menatap anak lelaki itu lekat. Pantas saja firasatnya mengatakan agar tak membunuh bocah lelaki itu. Beruntung, Kiarra masih memiliki belas kasih karena tak ikut membakarnya. Panglima Wen mendekati Kiarra dan menatapnya saksama.


"Jenderal. Aku menunggu perintahmu," bisik Panglima Wen di mana sebenarnya, jabatan dia lebih tinggi ketimbang Kiarra. Namun, karena sang Jenderal kini telah diakui sebagai seorang ratu meski belum dinobatkan, Panglima Wen tetap menghormati status itu.


"Jalankan sesuai rencana. Aku akan kembali ke Vom bersama pasukan yang terluka. Kau menyusulah bersama Dra usai menyelesaikan masalah di sini," jawab Kiarra lirih dengan mata terfokus pada kumpulan warga Yak di hadapan.


"Aku mengerti," jawab Wen dengan anggukan.


Kiarra segera berpaling dan pergi meninggalkan ruang es bawah tanah itu. Mata semua orang kini terfokus pada pria gagah di hadapan mereka yang tampak tegas.


"Dengarkan dan kalian harus mengakuinya! Kini, Kerajaan Yak ada dalam kekuasaan Ratu Kia dari Vom. Raja, ratu dan para pejabat zalim di kerajaan kalian telah tewas. Jenderal Kia yang kini akan memimpin Kerajaan Yak!"


Praktis, pengumuman dari Panglima mengejutkan semua orang. Wen melirik bocah lelaki yang berdiri di sampingnya tajam. Anak yang mengaku bernama Rak menarik napas dalam lalu diembuskan.


"Itu benar. Aku bisa merasakan kekuatan besar dari Jenderal Kia. Ia mendapatkan berkah dari Ooo. Ia juga mendapatkan misi dari sang Naga. Selain itu, ia juga memiliki kemampuan dari bintang biru," ujar Rak yang membuat semua orang kembali tercengang.


"Benarkah itu? Jenderal Kia mendapatkan kehormatan berlimpah seperti yang kau sebutkan tadi?" tanya seorang pria yang mengenal sosok Kia.


Orang-orang terperangah. Mereka tak pernah tahu jika mitos tersebut benar adanya. Rak yang mendengar hal tersebut ikut terpaku karena tak tahu semenjak ia dikurung dan menjadi tangan kanan kezaliman sang Raja.


"Dra akan mengabdi pada sang Naga?" tanya Rak menatap Panglima lekat di mana pria itu juga menceritakan banyak hal tentang Dra dan Kiarra.


"Ya. Itulah yang kudengar dari Dra. Oleh karena itu, Ratu Kia-rra, Dra dan kami, akan ikut berjuang untuk menyelesaikan tugas dari sang Naga meskipun sebenarnya, hal tersebut hanya dibebankan pada Jenderal. Namun, melihat pengorbanan Ratu Kia-rra, akan sangat memalukan jika kami hanya menjadi penonton saja. Jadi, apakah kalian akan ikut mendukung?"


"Ya, tentu saja. Libatkan aku!" sahut Rak cepat dan mendapat sambutan berupa senyuman dari Panglima Wen.


"Kami juga! Penduduk Yak siap untuk mengabdi pada Ratu Kia-rra!" timpal salah satu pria berambut putih tergerai bersemangat.


"Bagus. Kalau begitu, bersiaplah. Tunggu komando dariku. Sekarang, keluar dari tempat ini," titah Panglima.


Wajah orang-orang itu berbinar. Saat Rak akan pergi, Panglima Wen menangkap pergelangan tangan penyihir tersebut dan menghentikan langkahnya. Rak terkejut dan menatap Wen lekat.


"Musnahkan sihir yang sudah kau ciptakan. Lakukan atau Ratu Kia-rra tak memberikan ampun lagi padamu," tegasnya.

__ADS_1


Rak tampak gugup dan mengangguk cepat. Wen mengikuti Rak yang berjalan tergesa meninggalkan lorong. Rak menaiki tangga dan terus diikuti oleh Panglima. Hingga akhirnya, mereka tiba di menara yang sudah kehilangan atap karena serangan Wen kala itu. Panglima menatap Rak lekat yang melakukan gerakan tangan seperti orang menari sembari mengucapkan mantra.


"Kola gee ... Yak, Yak! Rega mela jee ... Yak! Yak! Kaa geko beja cota ...."


Seketika, kabut putih yang menyelimuti wilayah tersebut menghilang. Warga Yak yang berhambur keluar istana dan memenuhi halaman tampak takjub saat melihat bulan ungu bersinar terang dihiasi langit berwarna keunguan yang indah.


"Sudah lama sekali aku tak melihat hebatnya langit Negeri Kaa," ucap seorang kakek sampai kepalanya mendongak dan tubuhnya berputar.


Senyum Wen dan lainnya terkembang. Penyihir itu tampak lelah dan ambruk begitu saja. Wen dengan sigap menangkap tubuh lunglai anak lelaki itu. Wen menatap bocah laki-laki itu lekat yang perlahan terlihat perubahan di wajah dan tubuhnya. Wen tertegun, tetapi tetap memegangi tubuh anak tersebut yang semakin membesar hingga akhirnya berubah menjadi wanita.


"Oh! Ka ... kau ...," ucap Wen sampai tergagap karena penyihir itu terlihat cantik sekali meski wajahnya sayu.


"Aku tak bohong. Inilah wujudku yang sebenarnya. Aku sudah melakukan hal yang benar. Aku siap dijemput oleh sang Naga," jawab Rak yang membuat Wen tertegun.


"Jika kau mati, jasadmu akan digunakan untuk adikku, Rein Mikha. Apakah kau bersedia?" tanya Kiarra tanpa basa-basi yang ternyata menyaksikan hal tersebut di balik dinding dengan terbang diam-diam.


"Ya, gunakan saja, Ratu. Hidupku ... ada di tanganmu ...," ucap penyihir tersebut lirih.


Kiarra diam menatap wajah Panglima Wen yang terlihat iba pada penyihir cantik tersebut.


"Panglima! Istirahatkan Rak!"


"Ba-baik, Jenderal," jawab Wen gugup, tetapi dengan sigap mengangkat tubuh wanita cantik itu untuk menuruni menara.


Kiarra berjalan ke tepi lantai menara yang sudah kehilangan dindingnya sehingga pemandangan bersalju kerajaan Yak terlihat jelas.


"Hempf, tinggal sedikit lagi," ucapnya dengan senyuman.



***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


doain lele cepet sembuh ya🙏 sariawan ini sungguh menyiksa gaes😩

__ADS_1


__ADS_2