Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Jasper?*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Akhirnya, bulan ungu menampakkan wujudnya. Tumbuhan dan hewan yang memiliki warna khusus ketika terpapar cahaya itu, membuat keanekaragaman layaknya pelangi memanjakan mata. Kiarra mendapatkan banyak pelajaran singkat dari Lon di mana bocah lelaki itu tampak percaya dengan asal mula wanita yang ingin dipanggil Ara.


"Jadi ... jika aku sungguh bisa memiliki sihir, hewan-hewan bisa kukendalikan? Maksudmu ... aku seperti bisa berkomunikasi dengan mereka dan meminta bantuan darinya?" tanya Kiarra seraya mengenakan jubah berwarna merah karena ia akan memasuki wilayah Ark.


"Ya. Seperti Ooo yang bisa menjilatmu. Kurasa, Ooo melihat hal menakjubkan darimu, Ara. Tak semua orang beruntung sepertimu. Bahkan aku yakin, Dra sendiri tak pernah dijilat olehnya," jawab Lon mantap seraya mengikat buntalan pada hewan yang akan Kiarra tunggangi sampai pohon jembatan di balik hutan.


"Aku mengerti. Terima kasih, Lon. Kau memberiku banyak pengetahuan baru. Jenderal sialan ini menutup rapat pengetahuannya. Aku jadi buta dengan Negeri Kaa. Padahal aku akan pergi untuk menyelamatkan nyawa adiknya. Sungguh egois," gerutu Kiarra yang kemudian naik ke atas pelana seekor hewan seperti burung unta, tetapi memiliki ekor merak dan berwarna hijau kebiruan.


Lon hanya tersenyum kaku tak mengomentari hal itu. Bocah lelaki bermata sipit seperti keturunan Asia Timur itu mengantarkan Kiarra sampai ke pintu terluar dari desanya. Orang-orang ikut mengantarkan kepergian Kiarra dengan wajah tegang.


"Kalian hati-hatilah. Tetap bersembunyi seolah desa ini telah ditinggalkan. Ingat perkataanku sebelumnya. Pasang jebakan dan pastikan, orang yang masuk perangkap tewas. Jika dia tetap hidup, orang itu akan melarikan diri lalu memberikan informasi kepada Raja untuk membantai kalian semua. Paham?" tegasnya.


"Kami mengerti, Ara. Terima kasih atas ilmu berperang yang kau berikan pada kami walau singkat. Setelah ini, kami akan membentengi diri. Bagaimanapun, Desa Gul sekarang adalah rumah kami," tegas ayah Lon.


"Yeah! Kami akan berjuang mempertahankannya!" sahut pria lain dan disoraki warga lain yang mendukung.


Kiarra tersenyum karena sikap pengecut penduduk Desa Gul telah sirna dan digantikan dengan semangat untuk berjuang. Kiarra segera melaju hewan seperti ayam raksasa itu menuju ke hutan tempat ia dan pasukannya kala bersembunyi sebelum menyerang. Kiarra ingat ketika ia memberikan sebuah ide gila agar penduduk Desa Gul tak tewas akibat informasi palsu dari mata-mata Kerajaan Vom.


Waktu itu, Kiarra meminta agar seluruh warga berpura-pura mati. Mereka merelakan ternak untuk disembelih dan darah mereka digunakan untuk melumuri tubuh agar terlihat seperti pembantaian sesungguhnya. Saat warga desa sedang sibuk mempersiapkan aksi bunuh diri palsu, Kiarra mengajak Lon dan anak-anak menuju ke hutan sebagai bukti jika pasukan Kerajaan Vom sungguh di sana. Tentu saja anak-anak itu terkejut. Beruntung, para kesatria itu masih dalam pengaruh sihir Dra sehingga tertidur lelap.


Kiarra meminta mereka mengambil semua perlengkapan milik para kesatria sebagai kompensasi. Buntalan-buntalan berisi makanan dan juga persediaan serta perlengkapan penunjang bertempur diambil lalu dibawa ke desa. Beruntung, Desa Gul memiliki sebuah ruang rahasia di bawah tanah tempat Dra disembunyikan. Di sanalah, anak-anak berkumpul tak ikut dalam aksi bunuh diri palsu. Hanya para remaja dan orang tua yang mengikuti instruksi Kiarra demi keselamatan nyawa mereka dari kekejaman pasukan Kerajaan Vom. Sebagai balas budi, mereka merawat Dra selama Kiarra pergi mencari buah naga.

__ADS_1


Siapa sangka, hewan seperti burung unta itu berlari cukup cepat seperti kuda. Mereka tiba di hutan tempat Kiarra dulu mengintai Desa Gul menggunakan serangga. Hewan berkaki dua itu berjalan dengan santai ketika melintasi bagian dalam hutan hingga akhirnya bertemu pohon jembatan. Kiarra turun dari hewan itu perlahan dan mendekati sang pohon.


"Jika aku menyentuhnya, pasti akan teleportasi ke tempat para bandit sialan itu. Dalam instruksi Dra, aku harus mengambil salah satu bagian dari pohon jembatan. Hem, baiklah, aku mengerti," ujar Kiarra menatap rimbunnya pohon tersebut lalu mengambil tali yang telah dipersiapkan.


Kiarra mengikat gagang pedangnya dengan tali. Ranting pohon itu cukup tinggi dan tak bisa digapai kecuali memanjat. Kiarra yang belum siap berteleportasi, harus mengumpulkan bagian dari tiap pohon jembatan yang ditemuinya agar bisa tiba di tempat buah naga berada.


"Oke," ujar Kiarra mantap dengan mata membidik sebuah ranting pohon berdaun biru lebat.


Kiarra mulai memutar-mutar tali dalam genggaman tangan kanan, dan tangan kiri memegang sisa tali tersebut. Kiarra mengambil jarak dan dengan sigap, WUSS! KRASS! BRUKK!


"Hahahaha! Berhasil! Kuakui, pedangmu sangat tajam, Kia," ujar Kiarra senang karena sekali tebas, ranting pohon jembatan itu patah.


Tangan tangkas Kia dengan tepat menangkap gagang pedangnya usai melaksanakan tugasnya dengan baik. Kiarra melepaskan tali pengikat itu dan menyarungkan kembali pedangnya. Saat Kiarra menggulung talinya kembali, ia berjongkok dan mengamati daun dari pohon jembatan yang berkilau. Ia mengambilnya dengan hati-hati lalu dimasukkan dalam wadah khusus terbuat dari anyaman kulit pohon pemberian ibu Lon.


Kiarra kembali merapikan perlengkapannya dan tetap waspada dengan sekitar. Matanya sibuk memindai jikalau bertemu musuh karena dirinya menganggap masih penduduk Vom. Sifat setia Kia melekat kuat pada jiwanya dan Kiarra tak bisa menepis itu. Kiarra akhirnya tahu di mana letak tato kupu-kupu di tubuhnya yang ternyata berada di telapak kaki.


"Aku yakin jika keberadaanku di Negeri Kaa bukan kebetulan semata. Terlalu banyak hal yang bersangkutan. Aku pasti sudah ditakdirkan dan aku akan menyelesaikannya sampai akhir," ujar Kiarra mantap dengan tangan kiri terulur ke arah batang pohon tersebut. Seketika ....


Mata wanita itu melebar. Ia tertegun karena usahanya benar-benar berhasil. Kiarra melihat tangannya di mana ia memang memiliki kemampuan untuk berteleportasi seperti Dra. Kiarra semakin penasaran dengan kemampuan tersembunyi yang sempat dipertanyakan oleh penyihir itu. Sayang, ia tak ingat dengan mantra yang pernah diucapkan berikut kemampuannya kala itu.


"Kenapa saat itu aku bisa menggunakan kekuatan sihir tersebut, ya?" tanya Kiarra mulai memikirkan hal tersebut dengan serius.


Namun, wanita itu baru sadar jika dirinya berada di wilayah musuh. Kiarra memindai sekitar di mana tempat yang tadinya bernuansa merah layaknya api membakar, kini menjadi sedikit berbeda. Ternyata, daun di tempat itu memang berwarna merah. Cahaya dari sinar bulan ungu yang menyusup, merubah warna di sekitar tempat itu menjadi lebih cantik dan teduh seperti ketika musim gugur.

__ADS_1



"Indah sekali," ucapnya dengan senyum terkembang seraya melihat sekitar.


Kiarra diam sejenak lalu kembali fokus. Ia membuka buntalan kemudian melihat peta yang sudah digambarnya. Ia lalu menggunakan sebuah batu seperti arang yang bisa meninggalkan warna hitam pengganti pena pemberian ayah Lon.


"Aku tadi berada di sini, dan sekarang ada di wilayah Ark. Sebaiknya aku berhati-hati. Aku sungguh awam dengan wilayah kerajaan ini," ujarnya yang kemudian menggulung peta buatannya dan memasukkan ke buntalan.


Kiarra turun dari tunggangannya lalu kembali melihat pohon jembatan tersebut. Ia merasa jika dahan pohon itu lebih tinggi. Matanya sampai menyipit karena paparan sinar dari bulan ungu yang menyelinap di antara daun membuatnya sulit membidik target.


"Jika hanya daun saja sepertinya tak masalah," ucapnya yang kembali menggunakan metode serupa untuk mengambil bagian dari pohon tersebut.


Kali ini, Kiarra harus mengambil jarak yang lebih jauh karena tingginya pohon. Saat ia berhasil menebas sebuah ranting dan menjatuhkan daun biru dari pohon jembatan, tiba-tiba saja terdengar suara seperti derap langkah menuju arahnya. Praktis, mata Kiarra terbelalak lebar. Kepanikan langsung menerjang jiwanya. Hanya saja, ia tak bisa kembali ke tempat semula karena tujuan selanjutnya adalah, ia meninggalkan hutan tersebut kemudian mencari pohon jembatan yang berada di perbatasan dengan Kerajaan Zen.


"Sial, sial, sial! Aku harus segera pergi dari sini," ujar Kiarra tergesa dan segera memasukkan potongan ranting kecil berdaun biru lebat ke dalam wadah anyaman.


Kiarra segera menaiki kendaraan berkaki duanya dan pergi berlawanan arah meninggalkan hutan berdaun merah. Wanita itu sesekali menoleh ke belakang karena takut dikejar. Terlebih, ia tak tahu bagaimana medan yang akan dilalui sampai menuju ke pohon jembatan berikutnya. Hingga ia menyadari jika tunggangannya memiliki warna mata hijau. Kening Kiarra berkerut.


"Hei, kau. Matamu hijau. Sedangkan sekarang bulan ungu bersinar terang. Apakah ... saat bulan merah datang, kau tetap bisa melaju, atau tertidur seperti hewan-hewan bermata ungu lainnya?" tanya Kiarra dengan tubuh condong ke depan. Namun, hewan itu tetap berlari tak memberikan kode atau isyarat apa pun pada Kiarra seperti memahami ucapannya. "Oke. Aku merasa bodoh karena percaya dengan perkataan Lon yang meyakinkanku jika bisa berkomunikasi dengan bintang. Great. Super idiot," gerutu Kiarra pada dirinya sendiri.


Saat ia sedang mengutuk dirinya, tiba-tiba, "Akkk!"


"Wow! Wow! Wow!" pekik Kiarra terkejut ketika tunggangannya akan menabrak seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik bebatuan tepat setelah keluar dari hutan. "You? Jas-Jasper!" pekik Kiarra dengan mata membulat penuh saat melihat sosok pria yang mirip dengan calon suaminya di Bumi.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2