
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di tempat Hem dan Kem berada.
Dua orang itu berusaha keras menghentikan Neo si manusia setengah burung yang berusaha kabur dari kejaran mereka. Pria tersebut sudah terluka, tetapi tak menyerah agar tiba di Kerajaan Tur di mana sang Raja tinggal.
"Hem! Jatuhkan dia! Sudah tak ada waktu lagi!" teriak Kem lantang karena 500 meter lagi, mereka akan bertemu dengan penjaga wilayah Tur.
"Ingat ajaran Panglima Wen?" tanya Hem. Kem mengangguk dengan senyuman. Mereka mengikat perut dengan sebuah tali yang dililitkan pada pergelangan kaki Eee. Dua orang itu berdiri di atas punggung Eee, seperti siap untuk melakukan sesuatu. "Hitungan tiga. Satu, dua, tiga!" teriak Hem lantang.
"Heahhh!" teriak Kem seraya mengayunkan pedangnya.
Neo terkejut dan menoleh. Matanya melotot saat melihat dua musuhnya melompat dari punggung Eee seraya mengarahkan senjata tajam ke tubuhnya. Seketika, KRASS!
"ARGHHH!"
"Yeah!" teriak Hem gembira dengan tubuh tergantung pada tali usai usahanya bersama Kem berhasil.
Ayunan pedang mereka sukses menebas sayap besar Neo dan membuat manusia burung itu kehilangan kemampuan terbang. Neo jatuh bergulung-gulung di udara sampai akhirnya menghantam permukaan dengan keras. Saat Hem dan Kem memutuskan untuk melihat kondisi Neo, tiba-tiba serangan anak panah meluncur pesat dari sebuah menara.
"Pergi dari sini!" teriak Kem dan diangguki Hem di mana dua orang itu masih bergelantungan di tali.
Dua Eee terbang menjauh untuk kembali ke hutan kabut putih. Sepeninggalan Hem dan Kem, Neo tergeletak dengan darah menyeruak dari lengan bersayapnya yang putus, segera didatangi oleh pasukan Tur penjaga menara. Mereka tertegun melihat kondisi Neo yang sekarat di mana ajal siap untuk menjemput.
"Hu-hutan kabut putih. Hah ...," ucap Neo lalu memejamkan mata setelah embusan napas panjang sebagai akhir hidupnya.
"Sampaikan pada Raja!" seru pria setengah beruang hitam usai mendengar laporan terakhir dari utusan raja.
Dua prajurit penjaga segera berlari. Mereka menunggangi hewan seperti kuda, tetapi dengan kulit berwarna merah. Makhluk itu berlari kencang memaksimalkan empat kakinya untuk membawa dua penunggang ke istana.
Di Kerajaan Tur.
__ADS_1
Raja Tur dan pasukannya siap untuk menggempur kerajaan-kerajaan yang berani menentangnya. Sang Raja ingin memecah belah persatuan empat kerjaan yang telah bersekutu. Raja Tur yang telah mendapatkan armada terbang milik kerajaan musuh, kini siap mengobarkan peperangan di Negeri Kaa.
"Gor. Kau kini kuangkat menjadi Jenderal untuk memimpin pasukanku. Bawakan kemenangan untukku dan kujanjikan, kau akan mendapatkan kemewahan yang tak pernah didapatkan oleh para pendahulumu di jabatan ini," ucap Raja Tur di aula kerajaan.
"Siap, Paduka Raja. Aku tak akan mengecewakanmu," ucap manusia setengah gorila itu mantap saat memberikan sumpah setianya kepada sang Raja. Gor yang tadinya berlutut dengan kaki kiri ditekuk dan tangan kanan menopang di lutut kanan, kini berdiri tegap. "Hidup Raja Tur!" serunya lantang.
"Hidup sang Raja!" jawab semua prajurit di aula besar istana tersebut.
Seringai muncul di wajah sang Raja. Ia percaya jika Gor bisa memberikan kemenangan untuknya. Gor memimpin pasukan Tur dengan armada baru yakni balon terbang. Mereka akan memasuki wilayah kerajaan Vom dan merebut menara di perbatasan agar pasukan susulannya nanti bisa menguasai kerajaan tersebut dengan mudah. Saat sang Raja bersiap kembali masuk ke istana, tiba-tiba ....
"Paduka! Paduka! Kami membawa kabar dari Neo!" seru seorang prajurit dengan napas tersengal karena berlari mengejar Tur.
Sang pemimpin kerajaan langsung membalik tubuh dan menghentikan langkah usai mengantarkan kepergian Gor serta pasukannya ke halaman utama. Dua utusan dari menara pengawas langsung membungkuk memberikan hormat kemudian berdiri tegak terlihat tegang.
"Neo?" tanyanya. Dua pria dengan tubuh setengah binatang itu mengangguk. "Di mana dia?"
"Dia tewas, Paduka. Kami melihat Neo diserang oleh dua orang dari kerajaan musuh menunggangi Eee. Mereka berhasil kabur usai menebas dua sayap Neo," ucap prajurit dengan wujud manusia setengah rusa. Kening sang raja berkerut.
Mata Raja menyipit lalu mengangkat tangan kanannya ke atas. Tak lama, muncul Kapten Mos dengan langkah cepat mendatangi pemimpinnya.
"Siapkan kapal. Bunuh semua penghalang. Kita tak memberikan ampun kepada pemberontak dan pengkhianat," ucap sang Raja.
Kapten Mos mengangguk mantap lalu bergegas pergi meninggalkan istana. Dua utusan itu diminta untuk segera kembali ke menara untuk mengamankan wilayah. Raja yakin, jika pasukan dari kerajaan lain telah bersiap untuk menyerangnya dari segala sisi. Sebelum itu terjadi, Tur ingin melumpuhkan pertahanan terluar lawan sebelum akhirnya menggempur kerajaan utama.
Di Hutan Kabut Putih.
Beberapa manusia setengah binatang tergeletak di atas rumput dalam kondisi tak sadarkan diri. Akar-akar pohon yang melilit mereka lalu menarik ke dalam tanah, kini melepaskan cengkeraman. Perlahan, mata orang-orang itu terbuka. Mereka terkejut karena berada di sebuah tempat yang terlihat sejuk dan udara tak pekat seperti di Tur. Mata mereka memindai sekitar dan mencoba mengingat kejadian terakhir hingga berakhir di tempat tersebut.
"I-ini di mana?" tanya Mor bingung.
__ADS_1
"Hutan kabut putih," jawab Kol yang membuat orang-orang di sekitarnya tertegun.
Beberapa dari mereka langsung bangun dan berkumpul dengan orang-orang yang dikenal. Kol melihat anak-anak yang ikut bersamanya ada di sekeliling. Mereka kebingungan karena berada di suatu tempat tak dikenal. Hal terakhir yang mereka ingat adalah saat akan memasuki hutan, tiba-tiba saja akar-akar pohon muncul dari dalam tanah lalu melilit tubuh.
Mereka tak dapat melawan saat ditarik kuat ke dalam tanah hingga yang terlihat hanya kegelapan. Entah apa yang terjadi, mereka seperti pingsan saat hutan melakukan tugasnya. Kol meminta agar semua orang berkumpul dan jangan melakukan pengerusakan hutan. Warga Tur mengangguk paham karena mereka tahu apa yang dibisa diperbuat oleh para peri itu jika mereka membuat makhluk-makhluk sakral tersebut marah.
"Selamat datang di hutan kabut putih," ucap seseorang yang membuat sekumpulan manusia setengah binatang itu tertegun.
Pohon-pohon besar berlumut di belakang mereka tiba-tiba saja bergerak. Tak lama, muncul seorang wanita cantik dari retakan batang pohon besar menyapa mereka. Warga Tur langsung berlindung di belakang Kol di mana manusia macan kumbang itu diharapakan bisa menyelamatkan mereka.
"Salam, Nym. Terima kasih sudah mengizinkan kami masuk kemari untuk berlindung," ucap Kol membungkuk dengan kepala tertunduk.
Mor kagum karena ini pertama kalinya ia melihat peri. Selama ini, ia hanya mendengar kisah mereka dari cerita orang-orang yang mengaku pernah memasuki hutan kabut putih. Ternyata, wujud para peri tak semengerikan yang dikatakan orang-orang. Mor menatap peri berambut panjang yang tubuhnya menyatu dengan pohon itu saksama.
"Berterima kasihlah pada Kia-rra. Dia yang membuat kalian diizinkan masuk kemari," ucap peri itu yang membuat warga tercengang.
"Maksud Anda, wanita yang dijadikan istri oleh Raja Tur, lalu secara ajaib terkurung dalam telur kristal bersama iblis See?" tanya seorang warga memberanikan diri bertanya.
"Ya, itu benar. Keajaiban terjadi baru-baru ini di hutan kabut putih. Entah sihir hebat apa yang membuat roh Kia-rra seperti keluar dari telur. Kami melihatnya terbang keluar dari hutan dalam cahaya biru terang lalu kemudian kembali dalam telur," jawab Nym tersebut.
"Benarkah?" tanya Kol terkejut, tetapi hal itu membuatnya semakin yakin jika sosok Kiarra yang muncul di depannya kala itu adalah benar. Nym mengangguk pelan. "Apa yang dikatakan Jenderal Kia padamu?"
Nym tersenyum. "Kol akan datang bersama warga Tur meminta perlindungan. Izinkan mereka masuk dan lindungi."
Sontak, ucapan Nym membuat orang-orang yang mendengarnya begitu terharu.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Adobe Stock & Deep Dream Generator)
__ADS_1