Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kapten Mun VS Kapten Mos*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Boh tak bisa menutupi ketegangan di wajah saat ujung pedang Rog siap untuk menusuknya.


"Boh!" teriak Bum panik yang ikut dilanda kekhawatiran karena anak buahnya juga terluka.


Akan tetapi, .....


JLEB! JLEB! JLEB!


"Ohok!"


Mata Bum dan anak buahnya terbelalak lebar. Para manusia ubur-ubur yang berenang di tepian usai menyelamatkan prajurit Tur dibuat terkejut. Kubu Kiarra melihat tubuh manusia setengah babi hutan tersebut tertusuk belasan kristal biru berbentuk seperti ujung tombak sampai menembus tubuh. Kiarra lalu terbang mendekat dan membiarkan pemimpin pasukan Tur itu muntah darah akibat serangannya. Kiarra fokus untuk menyelamatkan Boh yang terluka akibat senjata cakar besi tertancap di pundak.


BRUKK! WHOOM!


Rog terbakar bersama dengan kapalnya. Bum bernapas lega karena Boh berhasil diselamatkan meski terluka. Kapal Bum yang rusak parah tak bisa digunakan lagi. Benda terbang itu akhirnya berlabuh di daratan usai menurunkan penumpangnya. Kiarra berdiri di tepi sungai setelah mendudukkan Boh di atas batu.


"Horr ... horr ...."


"Apakah ... monster itu tidur?" tanya Rim si manusia ubur-ubur gugup.


Bum dan pasukannya ikut dibuat tegang meski melihat Okk di kejauhan.


"Ya. Dia tak akan terusik. Hanya saja, jika sampai satu buah saja kristal biruku tercabut atau pecah, pelindung untuk mengurung dan menidurkan Okk akan lenyap. Oleh karena itu, aku percayakan pada kalian semua untuk memastikan makhluk itu tak bangun sampai tugasku selesai," jawab Kiarra tenang.


"Memangnya ... kau masih memiliki tugas apa, Ratu?" tanya Bum penasaran.


"Menumbuhkan kembali pohon jembatan yang dulu ditebang oleh raja-raja bodoh di masa lalu. Pohon-pohon itu adalah rumah bagi para monster iblis penjaga. Wajar saja jika mereka marah karena rumahnya direnggut. Kalian paham maksudku?" tanya Kiarra dengan satu alis terangkat.


"Tentu saja. Kami akan menjaga Okk dari siapapun yang berusaha untuk mengusiknya," tegas Boh yang ternyata sedang berusaha menyembuhkan lukanya seorang diri menggunakan ramuan ajaib.


"Aku pergi," ucap Kiarra dan diangguki semua orang.


"Kami akan membereskan tempat ini," ujar Bum dengan senyuman.


"Emph, aku ikut. Tugasku di sini untuk menyadarkan prajurit Tur selesai. Aku khawatir kelompok lain mengalami kesulitan dan mereka butuh bantuan. Aku akan kembali ke Ark untuk menjaga Okk jika kekacauan di Negeri Kaa benar-benar usai," ujar Boh seraya mengambil tongkatnya yang tergeletak di samping lalu digenggam erat.


"Kau yakin?" tanya Kiarra seraya melirik luka di bahu Boh yang tak lagi mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Ya. Aku memang ceroboh, tetapi ... aku mampu," jawabnya seraya menggerakkan bahu meski sesekali meringis menahan sakit.


"Semoga Naga melindungi kalian," ucap Rim dan diangguki Kiarra serta Boh.


Dua penyihir itu terbang meninggalkan wilayah Ark yang sudah terbebas dari belenggu pasukan Tur. Sang Raja zalim telah mati, kini tinggal menuntaskan para pengikutnya yang bersikukuh mempertahankan kejayaan Tur. Kiarra yang disibukkan untuk menidurkan para monster iblis, tak menyadari jika Dra tewas. Ia dan Boh memanfaatkan pohon jembatan untuk segera tiba di wilayah Zen, di mana Lon dan pasukan Kapten Mun sedang bertarung sengit dengan para prajurit Kapten Mos.



Kapten Mos dan pasukannya bergerak meninggalkan Zen karena melihat tanda berupa cahaya hitam dari Raja Tur di atas langit. Mereka bergegas meninggalkan istana Zen. Akan tetapi, saat mereka melewati perbatasan, betapa terkejutnya karena pasukan musuh telah menanti dengan sebuah kapal balon udara.


"Perisai!" teriak Kapten Mos saat ia menyadari adanya ancaman dari insting hewan.


Dengan sigap, pasukan Tur mengangkat perisai besi mereka ke atas tubuh seraya berjongkok. Benar saja, hujan anak panah dilesatkan oleh anak buah Kapten Mun yang menjadi pemimpin pasukan untuk merebut Zen dibantu oleh Lon. Penyihir cilik itu terbang dengan gesit menggunakan tongkat sihir barunya.


"Kalian pikir bisa menghindar dari seranganku? Rasakan!" teriak Lon lantang.


Penyihir asal Zen tersebut tiba-tiba melompat dari atas tongkat sihir yang terbang di udara seraya mengepalkan dua tangan. Begitu dua kaki memijak daratan, dua tangannya menjadi berlapis batu dengan mata menyala kuning terang bagaikan emas. Lon memukul kuat ke tanah.


DUNGG!! KRAKK!!


"ARGHHH!"


"Aku lupa! Aduh, bagaimana ini? Bagaimana bunyi mantranya!" teriak Lon panik yang membuat mata kuningnya lenyap berikut tangan batu.


"Serang!" teriak Kapten Mos ketika melihat penyihir cilik itu seperti orang kebingungan.


"Horrghh!" raung para prajurit Tur yang berhasil menghindar dari retakan dan kini berlari kencang untuk menghabisi remaja itu.


"AAAA!" teriak Lon panik lalu sigap menaiki tongkat sihirnya dan terbang.


Akan tetapi, KRANG! BRUKK!


"Argh!" rintih anak lelaki berwajah Asia itu saat dirinya jatuh dengan keras ke tanah akibat tongkat sihir berhasil dijerat oleh sebuah tali lalu ditarik kuat.


Tongkat sihir Lon terlepas. Remaja itu berusaha bangkit meski lengan kirinya sakit. Saat ia berhasil bangun, betapa terkejutnya ketika melihat tongkat sihir digenggam oleh Kapten Mos si manusia beruang putih. Sontak, mata Lon terbelalak lebar.


"Hahahaha! Kau akan mati di tanganku, bocah ingusan! Kau pikir, dengan menjadi penyihir lantas bisa mengalahkan Mos si hebat? Salah besar!" teriak Mos yang membuat Lon terlihat waspada seketika. "HORGGG!"


Kapten Mos berlari kencang dengan tongkat Lon sebagai senjata. Kening Lon berkerut saat melihat manusia setengah beruang putih tersebut seperti tak bisa menggunakan sihir dari tongkatnya. Lon sedikit bernapas lega, tetapi manusia beruang yang ukuran tubuh tiga kali darinya membuat nyali ciut. Anak itu bingung menggunakan sihirnya.

__ADS_1


"Harghh!"


Kapten Mos mengayunkan tongkat sihir Lon, siap untuk memukul tubuh ringkih itu dan menghempaskannya jauh. Namun, tiba-tiba ....


DUK!


"Hah?"


"Lawanmu adalah aku! Heahhh!" teriak Kapten Mun saat ia datang tepat waktu untuk menggagalkan aksi bunuh Mos.


Kapten Mun menahan ayunan tongkat yang hampir mengenai tubuh Lon dengan dua pedang dalam genggaman. Lon tertegun, tetapi dengan cepat bergerak mundur seraya memegangi lengannya yang sakit.


KLANG! TANG! TANG!


Mata Lon terpaku pada pergerakan dua kapten yang sedang beradu menunjukkan kehebatan masing-masing. Tongkat Lon begitu kuat, bahkan tak terkikis saat bilah pedang Kapten Mun mengenai gagangnya. Kapten Mun terus menyerang dan berusaha melukai tubuh lawan yang begitu besar. Namun, Mos memang tangguh dan gesit. Semua serangan Mun bisa ditangkisnya.


"HEAHHH!"


"Rak!" panggil Lon dengan mata berbinar saat penyihir agung dari Yak itu muncul lalu mengarahkan dua tangannya ke tubuh Mos.


"Hergggg!" erang Mos yang dengan sigap mengarahkan tongkat sihir Lon ke semburan salju dingin Rak.


Ternyata, tongkat sihir Lon mampu menahan sihir es Rak. Tangan kiri pria itu memegang tongkat sihir dan tangan kanan terus bergerak menahan serangan Mun yang tak berkesudahan. Hingga akhirnya, pedang dalam genggaman tangan kanan Mun terlepas akibat tersayat ujung pedang lawan.


"Harghhh!"


"Argh!"


"Kapten Mun!" teriak Lon panik saat Mos menggerakkan tongkat sihir Lon ke arah Mun sehingga serangan sihir salju Rak malah mengenainya.


Rak tertegun dan menyudahi serangannya begitu melihat setengah tubuh Mun membeku. Mata Kapten Mun terbelalak lebar. Tubuh bagian kirinya terkurung lapisan es, tetapi tubuh bagian kanan tidak. Hanya saja, Mun tak bisa bergerak sembarangan atau tubuh esnya akan hancur berkeping-keping dan ia mati.


"Hahaha! Mati kau!" teriak Mos yang dengan sigap mengayunkan pedangnya, siap untuk menebas tubuh Mun yang membeku.


Mata Mun terbelalak lebar karena tubuhnya tak bisa bergerak. Tangannya yang terbebas telah kehilangan pedang. Tangan kosong itu tak mampu menghentikan serangan lawan.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAI)

__ADS_1


__ADS_2