
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Perlahan, bulan merah mulai menunjukkan dirinya. Langit berubah menjadi seperti campuran warna saat hal itu terjadi. Kepala Noh dan Yoh spontan mendongak. Yoh tersenyum karena bisa melihat bulan merah muncul lagi setelah sekian lama ia terjebak dalam kabut hijau bagaikan kutukan itu. Saat para awak kapal Tur sedang melihat kejadian silam dari Kiarra melalui sentuhan di batu kristal biru, tiba-tiba ....
"Jangan biarkan Vom mencuci otak kalian! Laksamana Yoh, hentikan mereka!" seru Raja Tur yang tiba-tiba muncul terlihat begitu marah.
Yoh dan Noh terkejut. Yoh yang tak ingin membantah perintah raja, bergegas menarik tubuh awak kapalnya hingga sentuhan mereka terlepas. Para pelaut itu tertegun dan terlihat bingung untuk sementara waktu. Mata biru mereka padam seketika dan kembali normal. Orang-orang itu mencoba beradaptasi kembali sampai mata mereka mendapati sang Raja di hadapan.
"Raja Tur!" seru para prajurit langsung membungkuk.
"Raja. Apa yang terjadi?" tanya Yoh bingung karena rajanya terlihat marah.
Mata Noh menyipit saat melihat telur kristal biru yang dipercaya berisi Kiarra dibawa kembali oleh sang Raja. Telur raksasa itu dinaikkan ke atas gerobak kayu dan dijaga ketat oleh para prajurit Tur bersenjata.
"Raja Tur!" panggil Dra terlihat tergesa saat berlari diikuti oleh orang-orang kepercayaan Kiarra keluar dari istana.
"Hentikan dia! Jangan biarkan Vom mendapatkan telur kristal Kia!" teriak Raja Tur dengan pedang kristal biru Kiarra dalam genggaman.
"Anda tak pantas memegang pedang itu! Benda itu milik Ratu Kia-rra!" teriak Penyihir Rak marah.
"Tidak lagi! Kia adalah ratuku, dan semua hal yang ada pada dirinya akan menjadi milikku!" teriak Tur bersikeras.
Sontak hal itu mengejutkan semua orang.
"Argh! Rebut telur itu!" seru Lon geram dengan tangan batu kembali muncul.
Mata Raja Tur melebar. Laksamana Noh dan Yoh saling bertatapan tajam. Keduanya diam hingga akhirnya ....
"Heahhh!"
"Serang!"
Praktis, pertempuran tak terduga kembali terjadi. Laksamana Noh dan Yoh kembali bertarung meski tak di lautan. Warga dengan cepat di evakuasi oleh para dayang Kiarra agar menjauh dari wilayah istana. Sontak, tempat yang tadinya tenang dan damai terusik. Lon yang tak ingin pedang Kiarra diambil oleh Tur, nekat berlari menghampiri dengan tangan batu mengepal kuat.
"Pencuri!"
BUAKK!! JLEBB!!
"Aghh!" rintih Tur terkena serangan Lon yang tak ia duga karena sibuk mengamankan telur Kiarra.
Pedang Kiarra terlepas dan jatuh menancap di tanah saat Lon berhasil memukul wajah Raja Tur hingga pria macan itu terlempar dengan keras. Seorang Jenderal yang ikut bersama rombongan Raja Tur—Kol—segera mendatangi sang Raja yang mengerang kesakitan dan membantunya berdiri. Tur tak sudi mengembalikan Kiarra ke kampung halamannya lagi meski ia ditawarkan kapal perang baru dan pasokan untuk kerajaannya. Ia menganggap Kia lebih berharga dari itu semua. Namun, Dra dan lainnya yang mengetahui siapa See, berusaha menyelamatkan Kiarra dari mahluk terkutuk itu. Dra dan lainnya mengerahkan seluruh kemampuan demi merebut telur kristal.
__ADS_1
"Hekoma! Wemage!" teriak Dra dengan mata menyala ungu terang saat dua tangannya mengeluarkan asap ungu yang menyeruak di sekitar.
"Hati-hati! Asap ungu ini pasti akan menyakiti kita!" teriak Kol lalu menutup mulut serta hidungnya. "Pergi dari sini!" serunya lantang.
Panglima Wen yang mengawasi dari langit, dengan sigap menukik untuk mengambil telur kristal itu. Sayangnya, gerakan Wen terbaca.
"Terkutuklah kalian semua. Hargghh!" teriak Raja Tur lantang seraya mengeluarkan sebuah benda dari balik jubah kebanggaannya.
PRANG!! WUSS ....
"A-apa ini? Aura ini ...," ujar Penyihir dari Tur yang tak lain adalah Boh.
"Raja melepaskan Xii!" teriak Rak yang membuat mata Dra melebar seketika.
"Hergghhh!"
"AAAAA!" teriak Lon histeris dan langsung kabur menyelamatkan diri saat melihat kepulan asap kuning itu tiba-tiba berubah menjadi seperti putaran angin yang besar.
Dari lubang pusaran layaknya tornado, muncul sosok monster berkepala layaknya ular besar yang siap memangsa. Mata semua orang melebar. Raja Tur melihat kebuasan Xii yang dulunya sebagai penjaga pohon jembatan perbatasan Zen dan Ark. Sayangnya, para roh penjaga pohon jembatan yang tak memiliki wadah alias pohon berdaun biru tersebut, akan menjadi teror bagi siapa pun yang memasuki wilayah perbatasan pohon.
Mereka ibarat para makhluk iblis dan bisa menjadi keji tak berbelas kasih. Raja Tur memanfaatkan kekacauan tersebut dengan mengajak anak buahnya untuk segera membawa telur Kiarra pergi. Dra dan lainnya disibukkan untuk menyegel makhluk tersebut di mana hal itu bisa merenggut nyawa. Sayangnya, Xii terlalu kuat dan mustahil dikalahkan.
"Rak!" teriak Dra yang berusaha membuat Xii tak menyerang pemukiman warga dengan melempari bola-bola api ungu.
"AAAAA!" teriak pria berambut putih itu histeris ketika melihat wujud Xii muncul di hadapannya.
Kepala Yoh langsung menoleh. Matanya melebar melihat mulut ular raksasa itu siap menelannya. Yoh mematung karena tak menyadari adanya kepanikan di sekitar karena fokus dengan musuhnya.
"Hergghhh!"
BRUKK!
"Agh!" rintih Yoh karena didorong oleh Noh sehingga keduanya jatuh tersungkur, lolos dari santapan Xii.
"Cepat berdiri! Aku tak sudi kau mati dimakan olehnya! Hanya aku yang boleh merenggut nyawamu!" teriak Noh seraya berdiri lalu menarik pakaian tempur Yoh untuk dibangunkan.
Yoh menatap Noh lekat dengan napas tersengal, tetapi kemudian tersenyum tipis.
"Baiklah, kita taruhan! Yang bisa mengalahkan monster jelek itu, dialah pemenangnya!" seru Yoh dengan mata menatap tajam monster ular yang kini menyerang pasukan Vom.
"Kuterima! Heahhh!" teriak Noh dengan pedang dalam genggaman seraya berlari kencang.
__ADS_1
Sedangkan pasukan lainnya, dibuat tak berdaya karena Xii tak bisa dibunuh. Xii yang tak memiliki raga, membuatnya hanya merasakan sakit, tetapi tak melenyapkannya.
"Dra! Bagaimana mengalahkannya!" teriak Goo panik saat datang dengan pasukan berkuda ketika bulan berubah merah dan membuat keadaan terlihat makin mencekam.
Napas Dra tersengal. Untuk mengalahkan para monster penjaga pohon jembatan hanya bisa dengan sihir. Sayangnya, meskipun sihir dari Rak, Lon, dan Boh digabung, tetap saja tak bisa menaklukkan Xii. Saat Dra dilanda kebingungan, Lon kembali datang seraya membawa pedang Kiarra.
"Dra!" teriaknya sembari berlari.
Mata Dra melebar. Ia baru sadar jika pedang kristal Kiarra menyimpan kekuatan sang pemilik, meski wanita cantik itu terperangkap dalam telur kristal ciptaannya sendiri.
"Panglima Goo! Kami butuh bantuanmu!" teriak Dra seraya menunjuk Lon.
Goo mengangguk paham dan dengan sigap memacu kudanya menuju ke arah Lon. Bocah penyihir itu melemparkan pedang Kiarra saat melihat Xii siap menerjangnya.
"Heerrghh!"
BUAKKK!!
"Arghhh!" rintih Lon saat tubuhnya dihantam dari samping dan membuatnya terlempar jauh.
BRUKK!
"Lon!" teriak Wen ketika melihat bocah lelaki itu tak sadarkan diri.
Wen bergegas mengarahkan burungnya menuju ke tempat Lon berada. Beruntung, Goo berhasil menangkap pedang itu. Dra, Rak, Boh dan Goo, dengan sigap berkumpul dengan sorot mata tertuju pada makhluk buas Xii.
"Sekarang, bagaimana?" tanya Goo dengan napas tersengal di atas kudanya.
"Kau lawanlah Xii dengan pedang Kia-rra. Aku, Rak dan Boh akan menyegel Xii. Hanya saja, kita butuh wadah untuk mengurungnya," ucap Dra menatap Xii lekat yang menyerang pasukan Vom.
Goo terlihat bingung hingga matanya mendapati sesuatu. Ia teringat akan Kiarra dan perjuangannya.
"Gunakan batu kristal besar itu seperti yang Kia-rra lakukan untuk menyegel See! Kau bisa melakukannya?" tanya Goo seraya menunjuk batu kristal peninggalan Kiarra di halaman istana.
"Dia benar! Kita pasti bisa. Hanya saja, kita butuh orang-orang kuat untuk menahan batu kristal itu sampai roh Xii terkurung di sana!" sahut Boh cepat.
"Akan kami bantu!" jawab Fuu yang diikuti tiga dayang Kiarra lainnya usai mengevakuasi warga.
Dra tersenyum lebar dan mengangguk mantap. Matanya kembali tertuju pada Xii yang kini juga membidiknya.
"Kita selesaikan!" seru Dra dengan sorot mata tajam.
"Hoi!" teriak semua orang bersiap dengan posisi masing-masing.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE