
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Saudara-saudari Kiarra tak keberatan ketika mereka harus berpisah untuk ditempatkan di beberapa kerajaan demi membantu kemajuan tempat tersebut. Tora memilih untuk tetap bersama putrinya karena ia ingin dekat dengan sang cucu. Kiarra tak keberatan, malah ia merasa begitu bahagia.
"Aku ... apa?" tanya Kiarra memastikan lagi ucapan sang ayah ketika rapat telah usai dan para tamu kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Cepatlah menikah. Melihatmu akan menikahi empat pria, aku tak terkejut. Aku saja menikahi tiga wanita. Begitupula Vesper-sama yang menikahi dua pria. Malah menurutku, kau lebih hebat ketimbang Vesper-sama. Tampaknya, keluarga besar kita memiliki kebiasaan unik dengan menikahi banyak calon," ujar Tora santai yang kini menempati kamar Raja Vom dulu.
"O ... key," jawab Kiarra malah gugup, terlebih empat dayang Kiarra yang berada di ruangan tersebut. Meski demikian, empat lelaki itu begitu senang karena direstui oleh pria yang kini dianggap paling berpengaruh di Negeri Kaa.
"Pergilah, siapkan segera. Kristal akan tidur denganku. Bulan merah dan ungu di negeri ini sedikit membingungkan. Kapan tepatnya kita bekerja dan beristirahat tak diketahui. Sebaiknya kau mulai membuat peraturan tentang pergantian bulan itu," ujar Tora seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan bayi Kristal telah tertidur lelap usai disusui sang ibu.
"Oke, oke. Selamat malam, Ayah," ujar Kiarra yang mulai mencicil kebiasaan hidup di Bumi di Negeri Kaa.
"Hem, selamat malam," jawab Tora lalu menyelimuti tubuh kecil bayi berambut biru itu kemudian tidur di sampingnya.
Kiarra menutup pintu perlahan saat ia dan empat dayangnya telah berada di luar. Lima orang itu saling berpandangan terlihat gelisah.
"Jadi ... pesta pernikahan. Baiklah, tolong persiapkan. Untuk hal ini, aku percayakan pada kalian berempat," ucap Kiarra gugup karena tiba-tiba merasa belum siap untuk menikah.
"Laksanakan, Ratu," jawab empat dayang serempak.
CUP! CUP! CUP! CUP!
"Eh?"
Kiarra sampai terperanjat ketika dicium oleh empat dayangnya secara bergantian di wajah. Empat pria tampan itu lalu pergi sambil berbincang. Kiarra yang mendadak merasa gugup memilih untuk kembali ke kamar seraya membuka gulungan-gulungan hasil tulisan para dayangnya. Tak disangka, banyak hal yang harus segera ia tunaikan agar kehidupan di Negeri Kaa berkembang pesat. Kiarra berharap, saat putrinya besar nanti, si cantik Kristal cukup melanjutkan perjuangannya.
"Hempf, pekerjaan rumah ini membuatku mengantuk," ucap Kiarra seraya menguap. Wanita cantik itu memilih untuk segera membaringkan tubuh dan tidur.
Sepeninggalan Kiarra, para dayang dibuat sibuk untuk menyiapkan pesta pernikahan. Mereka ingin segera diselenggarakan sebelum para warga dari kelima kerajaan pulang ke rumah masing-masing. Mengingat sebelumnya, keinginan untuk pulang selalu gagal akibat banyaknya hal tak terduga datang silih berganti di Vom.
"Kami akan membantu kalian!" ujar Pyu semangat.
"Ya, libatkan kami juga," sahut Tar dan diangguki Mor.
Para dayang Kiarra begitu senang. Warga dari kelima bangsa bersedia untuk direpotkan oleh mereka demi melaksanakan pesta pernikahan yang meriah. Pesta itu akan dihadiri oleh seluruh warga di Negeri Kaa tanpa terkecuali. Saat Kiarra terlelap tanpa mimpi datang menghampirinya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Kiarra membuka matanya yang malas. Bulan ternyata telah berganti ungu, tetapi rasa lelah itu belum juga sirna.
"Ara? Kau masih tidur? Mau ikut rapat tidak?" tanya seseorang yang suaranya Kiarra kenali dan tak lain adalah Kenta.
"Rapat apa?" jawab Kiarra malas masih berbaring di ranjang besarnya.
"Azumi dan lainnya sudah memutuskan akan tinggal di kerajaan mana. Cepat bangun atau keputusan yang kami buat harus kau terima dengan suka rela!"
__ADS_1
"Enak saja! Tunggu!" jawab Kiarra langsung melotot dan bergegas bangun.
Kenta terkekeh saat melihat saudarinya membuka pintu dengan wajah garang. Namun, pria itu malah mencubit dua pipi saudarinya gemas. Kiarra yang masih mengantuk, tetapi tak ingin melewatkan rapat penting itu akhirnya bergabung.
Di ruang rapat Kerjaan Vom. Tempat itu disulap bagaikan jamuan makan karena banyak sajian terhidang di meja.
"Maaf mengganggu istirahatmu, Ara," ucap Aiko sungkan.
"Tidak masalah. Hem, aku lapar," sahut Kiarra lalu mencomot sebuah roti yang tampak familiar karena seperti makanan di Bumi. Namun, saat ia mengunyahnya, rasa roti itu malah seperti daging panggang. Kiarra sampai melotot saat mengamati roti tersebut.
"Oke! Karena Kiarra lapar dan masih mengantuk, aku yang akan memimpin rapat," ucap Kenta semangat, tetapi tidak dengan para tamu undangan yang dihadiri oleh raja dari masing-masing kerajaan. Kiarra terlihat cuek dengan roti dalam genggaman.
"Hem, kupersilakan," jawab Kiarra santai dan kembali mengunyah.
Kenta terlihat bersemangat saat memberikan informasi kepada Kiarra dan para raja tentang keputusan saudara serta saudarinya atas pilihan untuk bertugas di kerajaan mana. Tentu saja, para pemimpin menyambut baik kehadiran anggota keluarga Kiarra tersebut.
"Bagus, pilihan tepat. Ha, kita akan berlomba. Bagaimana?" tawar Kenta.
"Oo, aku tahu isi pikiran licikmu itu. Pasti kau ingin membuat semacam kompetisi. Kerajaan mana yang unggul lebih dulu selama satu tahun, maka dia pemenangnya. Benar begitu, bukan?" tanya Chiko menunjuk.
"Hahaha, kau pintar! Ya, begitulah. Bagaimana?" sahut Kenta dengan senyum terkembang.
"Apa hadiahnya?" tanya Michelle terlihat tertarik.
"Pemberian komoditi bagi yang kalah ke si pemenang tunggal. Bagaimana?" usul Azumi.
"Oh, ide bagus. Wah, jika Tur menang, aku akan meminta sepeti emas kepada Zen!" ujar Hiro yang memilih untuk tinggal di Kerjaan Tur karena baginya tempat itu sungguh unik.
"Heh, tak masalah," ucap Lon enteng. Michelle tersenyum. Entah kenapa sosok Lon bagi wanita cantik itu sangat menarik.
"Baik, kita putuskan! Jika Zen kalah, maka satu buah peti berisi emas akan diberikan!" seru Kenta dan diangguki Lon. "Anda setuju, Raja Noh?" tanya Kenta memastikan keputusannya.
"Emas di Zen menumpuk. Sepeti tak akan membuat Zen miskin," jawabnya santai, tetapi membuat beberapa orang bertepuk tangan kagum. "Vom bagaimana, Ratu Kia-rra? Apa yang akan kalian berikan?"
"Kalau begitu, Vom akan memberikan hewan tunggangan. Kudengar dari Hem dan Kem jika burung Eee sedang dikembangbiakkan. Bangsa Vom akan menjadi satu-satunya penunggang Eee terbesar di Negeri Kaa," sahut Kiarra mantap.
"Wow, itu keren," sahut Raiden yang memilih untuk bergabung bersama Kiarra. Ia yang ingin mengenal Tora lebih dekat, akan mengabdi di kerjaan ungu tersebut.
"Oh, begitu, ya? Oke, oke. Diterima!" jawab Kenta cepat.
"Tur sendiri bagaimana?" tanya Rak menatap Aiko yang memilih untuk berada di tempat itu bersama Hiro.
__ADS_1
"Mm, apa, ya? Aku belum tahu dengan detail apa saja yang dimiliki Tur," jawab Aiko polos.
"Haish," keluh orang-orang karena wanita cantik itu malah memasang wajah lugu.
"Bagaimana dengan senjata? Saat aku berperang melawan Tur, kulihat mereka memiliki banyak sekali senjata-senjata untuk berperang. Para prajurit Tur membuat banyak meriam, pedang, dan semacamnya," tanya Kenta.
"Kau ingin menyulut perang lagi, ha?" sindir Kiarra dengan wajah masam. Kenta langsung terdiam. Ia kini ditatap tajam semua orang.
"Oke, hapuskan. Lewati bagian itu," jawabnya tenang mencoba menyelamatkan diri dari amukan saudara saudarinya.
"Hem, bagaimana jika sebuah kapal penangkap ikan atau kapal pengangkut barang? Jangan lupa, Tur dulunya adalah kerajaan yang memiliki armada kapal terbesar di Negeri Kaa," ucap Boh tak ingin bangsanya diremehkan.
"Setuju!" sahut Hiro cepat. Ia dan Boh melakukan tos kepalan tangan. Hiro dan Boh kini semakin akrab layaknya sahabat. Raja Owe mengangguk setuju.
"Ark bagaimana, Raja Bum?" tanya Owe penasaran.
"Hem, kapal sudah, emas sudah. Hewan juga sudah. Kalau begitu, bagaimana dengan getah pohon Wek yang biasa digunakan untuk merekatkan batu bangunan? Pohon-pohon itu tumbuh di wilayah Ark hampir di seluruh penjuru. Akan kuberikan 100 tong jika kerajaan merah kalah," ucap Bum yang membuat Kiarra ber-Oh karena akhirnya mengetahui bagaimana cara merekatkan batu tanpa semen itu.
"Oke!" jawab Kiarra dengan anggukan.
"Yak, apa yang akan kalian tawarkan jika kalah?" tanya Chiko melirik Kenta.
"Kami tak akan kalah. Aku adalah inovator di negeri ini," jawabnya mantap, tetapi mendapat sambutan wajah malas dari saudara saudarinya.
"Cepat katakan. Jangan basa-basi," tegur Ryota. Para wanita menahan senyum.
"Hem, Yak, ya?" jawabnya terlihat berpikir dengan pandangan menatap langit-langit ruangan. "Menurutmu apa, Rak sayang?"
"Heleh," keluh Chiko. "Ara, apa kau yakin menjadikan dia raja? Aku sungguh prihatin dengan kerajaan es itu."
"Hei!" teriak Kenta marah, tetapi dengan cepat diredakan oleh Rak. Kenta melirik Chiko tajam.
"Bagaimana dengan bola-bola es? Di wilayah Yak ada yang dinamakan salju abadi atau titik beku. Es di sana tak akan mencair. Kudengar dari Ken-ta jika ada semacam minuman yang menggunakan es. Jujur, kami tak pernah mencampur minuman dengan es," ujar Rak yang mendapat jawaban 'Oh' dari keluarga Kiarra.
"Ya, itu benar! Aku bisa membuat semacam lemari es bagi kerajaan pemenang untuk menyimpan bahan-bahan makanan sehingga tetap awet dan terjaga kesegarannya. Ha? Ha? Keren, bukan?" tawar Kenta yang ucapannya sudah seperti orang marketing.
"Ya, boleh juga," sahut Rein dengan anggukan. Kenta terlihat bangga dan merasa tak rugi sama sekali jika ia kalah sekalipun.
"Baiklah, kita semua sudah sepakat. Jadi, saatnya pengesahan agar tak ada sengketa antar kerajaan," ujar Kenta dan diangguki semua peserta rapat.
Para pemimpin kerajaan menandatangani kesepakatan di atas gulungan yang disaksikan oleh peserta rapat di ruangan tersebut. Cap jari dilakukan oleh para saksi sebagai bukti mereka datang pada kompetisi tersebut.
"Ingat. Satu tahun dan kita akan melihat siapa yang terhebat," ujar Kiarra dan diangguki semua orang yang yakin bila akan menang.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE