
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Mata Kiarra terbelalak lebar. Warga Tur dibuat panik saat tiba-tiba saja muncul kapal berukuran besar yang melayang di udara. Ditambah, tampak orang-orang berpakaian perang menjatuhkan batu-batu terselimuti api dalam ember besi.
"Tidak!" teriak Lon panik saat melihat orang-orang dalam kubunya malah ingin melukai para warga Tur.
"Harghh! Ojate!" teriak Kiarra lantang dengan mata menyala biru terang.
Seketika, muncul lapisan kristal biru dari ujung pedang Kiarra. Lapisan bagaikan dinding tersebut meluas dan membentuk tempurung. Warga Tur yang awalnya panik dibuat kagum saat melihat dinding kokoh itu menahan hujan batu disertai lesatan anak panah api. Tej dan Pangeran Owe yang melakukan penyerangan dibuat terkejut. Mereka langsung meminta agar para prajurit dalam kubunya menghentikan aksi tersebut.
"Itu Kia-rra dan Lon!" teriak Pangeran Owe saat melihat sosok Kiarra di balik lapisan kristal biru.
"Hentikan! Hentikan! Mereka sekutu kita!" imbuh Tej bergegas.
Para prajurit Kiarra yang tak tahu hal tersebut melongok dari tepi geladak. Tej langsung mendaratkan kapal balon udara di tanah lapang. Pangeran Owe mendekati dinding kristal yang berukuran sangat besar itu, mengurung warga Tur agar tak terluka akibat serangan mereka.
"Pangeran Owe!" panggil Lon dari dalam dinding.
"Kami minta maaf! Kami kira mereka adalah prajurit Tur yang menjaga wilayah kerajaan," jawab Owe bersalah.
Terlihat jelas warga Tur ketakutan. Mereka saling berpelukan karena mengira akan diserang dan tewas. Kiarra lalu menghancurkan kristalnya menjadi butiran-butiran bagai hujan yang lembut karena tak menusuk. Bahkan, beberapa anak memunguti serpihan berbentuk bola-bola kecil ke dalam saku pakaian dengan wajah gembira.
"Ratu Kia-rra, saya sungguh minta maaf," ucap Tej seraya membungkuk.
"Masih bisa diatasi. Bukan masalah besar," jawab Kiarra tenang seraya terbang turun.
"Jadi ... Kerajaan Tur sudah diamankan?" tanya Owe penasaran.
"Ya. Kerajaan hanya tersisa para sipil. Tak ada prajurit penjaga. Tampaknya Raja Tur membawa semua sisa prajurit ke hutan kabut putih. Namun, untuk memastikan, kita harus memeriksanya," tegas Kiarra.
Pangeran Owe dan kelompoknya bergegas mendatangi kerajaan. Para sipil diminta untuk tak memasuki istana. Namun, seorang wanita setengah kucing mendekati Kiarra saat sang Ratu hendak masuk.
__ADS_1
"Ratu, maaf. Namun, sebelumnya kami sudah menyusuri istana setelah kepergian sang Raja dan para prajuritnya," ucapnya terlihat gugup.
"Oh, begitu. Lalu?" tanya Kiarra langsung menghentikan langkah. Diikuti para pengikutnya.
"Kami telah mengurung para penjaga ke istana bawah tanah. Itu karena, mereka menggila. Perilaku dan cara bicara orang-orang itu aneh. Bahkan, sebagian dari para prajurit adalah suami dan ayah. Namun, mereka seperti tak mengenali keluarga sendiri. Malah, kami diserang. Akhirnya, kami terpaksa melakukan perlawanan dan mengurung mereka," jawab wanita kucing sembari mengusap-usap dua tangan berbulunya.
Kiarra melirik Lon dan anak lelaki itu mengangguk paham.
"Antarkan aku ke sana," pinta Kiarra dan wanita itu dengan sigap mengantarkan.
Benar saja, saat Kiarra dan orang-orang kepercayaannya berada di penjara bawah tanah, terlihat para pria setengah binatang dimasukkan dalam sel-sel. Mereka meraung dengan mata merah dan napas memburu. Lon terlihat takut karena orang-orang tersebut tampak buas.
"Mereka dimantrai," ujar Lon dan Kiarra mengangguk setuju.
"Dimantrai?" tanya wanita kucing terkejut.
"Jangan khawatir, Sei. Ratu bisa menyembuhkan mereka," ujar Pangeran Owe yang membuat Kiarra gugup.
"Fujaho hee ... man-ja, man-ja hee ... weroga!" ucapnya dengan dua tangan terjulur ke depan.
Seketika, asap warna biru muncul dari telapak tangan Kiarra. Semua orang panik lalu menutup mulut dan hidung. Namun, Lon menggeleng. Memberikan isyarat jika hal itu tidak diperlukan. Malah mereka diminta untuk ikut menghirupnya.
Owe dan pasukannya dibuat ragu, tetapi akhirnya menurut. Mereka menghirup asap biru itu perlahan, termasuk Lon. Benar saja, Owe bisa merasakan hatinya tenang dan pikirannya bersih. Seolah, tekanan yang selama ini menghantuinya karena menjadi anak seorang penguasa zalim, ditambah kematian Xen dan ibu, sirna seketika. Owe tersenyum dengan mata terpejam dan dua telapak tangan terbuka. Merasakan kebebasan.
"Jenderal Kia?" panggil seorang manusia badak yang tak lain adalah salah seorang prajurit Tur yang dimantrai. Kiarra tersenyum dan mengangguk.
"Lepaskan mereka. Sihir jahat Raja Tur tak sekuat prajurit-prajurit yang pergi bertempur dengannya. Mereka bisa diselamatkan," ujar Kiarra dengan mata kembali normal.
"Jak!" panggil wanita kucing bernama Sei senang karena suaminya telah sadar dari pengaruh jahat.
Para prajurit itu keluar dari sel dengan wajah gembira. Mereka berpelukan dan menyalami orang-orang terkasih. Kiarra lega karena hal ini telah berakhir. Hingga tiba-tiba, ia mendengar ada suara sayup memanggilnya.
__ADS_1
"Kia-rra ... Kia-rra ...."
"Ara?" panggil Lon dengan kening berkerut karena wanita yang dikenalnya tersebut tiba-tiba berjalan menjauh dari kerumunan.
Lon, Owe dan Tej yang curiga mengikutinya. Kiarra terlihat serius saat menaiki tangga keluar dari terowongan penjara bawah tanah. Langkahnya berhenti di sebuah dinding batu. Mata wanita cantik itu berkerut. Suara aneh masih memanggilnya hingga ia teringat cerita Boh.
"Jangan-jangan ...."
"Ara?" panggil Lon cemas yang kini berdiri di belakang Kiarra bersama Owe dan Tej.
Namun, Kiarra mengangkat tangan kanan di samping wajah. Lon tahu jika Ratu Kerajaan Vom tersebut meminta agar ia tak ikut. Kiarra meletakkan dua telapak tangan ke dinding batu. Seketika, mata birunya menyala dan muncul sebuah pintu. Lon dan lainnya tertegun. Kiarra masuk seorang diri dan pintu tersebut menghilang lagi.
"Ara? Ara!" panggil Lon panik yang berusaha untuk masuk ke ruangan rahasia tersebut, tetapi tidak bisa karena pintunya menghilang. Lon langsung menatap Owe tajam.
"Aku tak tahu tentang ruangan aneh itu, termasuk jalan lain masuk ke sana," ucap Owe.
Lon berdecak kesal dan langsung melangkah mundur. Tej, Owe dan Lon memilih untuk menunggu di luar sampai Kiarra muncul.
Di dalam ruangan rahasia.
Jantung Kiarra berdebar kencang. Ia melihat ada banyak sekali botol-botol berisi makhluk-makhluk yang disegel sejenis See dan lainnya. Makhluk-makhluk tersebut memanggil-manggil namanya meminta dibebaskan. Kiarra menenangkan hati dan terlihat berpikir keras akan sesuatu hingga senyumnya terbit.
"Akan kubebaskan. Namun, dengan satu syarat," ucapnya tenang.
"Katakan," sahut makhluk-makhluk seperti gumpalan gas dengan warna dan bentuk beragam layaknya monster dalam botol-botol berornamen.
"Bagaimana cara menumbuhkan kembali pohon jembatan?" tanya Kiarra yang membuat mata para makhluk itu lalu menatapnya tajam.
***
__ADS_1
wah tengkiyuw tipsnya lele padamu 💋💋💋