
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Padang rumput luas terhampar saat bulan ungu bercahaya terang. Pohon yang tadinya kering tanpa daun, berubah menjadi rindang dengan daun-daun berwarna keunguan seperti sinar bulan. Terlihat seekor makhluk Eee yang sedang asyik menggali tanah dengan cakar-cakar besarnya untuk mencari makanan di dalam sana. Sedangkan tuannya, masih tertidur lelap usai menikmati bekal terakhir yang ia bawa ketika kabur dari istana Zen.
"Kenta ... Kenta ... Kenta!"
"Hem?" jawab pria Jepang itu terkejut karena namanya dipanggil dengan suara seperti orang berteriak.
Kenta tertegun saat melihat sosok roh Kiarra muncul di depannya. Tubuh wanita cantik itu bercahaya biru dan tembus pandang. Kiarra melayang dengan menunjukkan wajah garang. Kenta sampai melongo kemudian mengucek matanya. Pria dengan rambut panjang itu segera duduk dan mengedipkan mata berulang kali untuk mengembalikan kewarasannya.
"Dasar pengecut! Beginikah caramu memperbaiki kesalahan? Kabur dari peperangan dan malah asyik berpiknik di tempat ini, hem?" tanya Kiarra dengan mata melotot.
Kenta berdecak kesal. Bukan ucapan menyakitkan hati seperti ini yang ingin ia dengar saat membuka mata. Kenta memalingkan wajah, tetapi roh Kiarra dengan cepat bergerak mengikuti arah matanya. Kenta mendesis kesal dan memutuskan untuk beradu argumen dengan saudarinya karena ia tahu watak Kiarra.
"Kau tak ada di sana saat itu, jadi kau tak tahu kesulitan yang aku hadapi!" jawabnya seraya melipat kedua tangan di depan perut sembari duduk bersila.
"Dan kau tak ada di sini saat aku harus menyelesaikan konflik di Negeri Kaa dan dendamku kepada Jasper!" balas Kiarra. Mata Kenta langsung menyorot Kiarra tajam. "Saat tahu kau ditarik kemari, aku sangat senang. Selama ini aku mengagumimu, Kenta. Kau tak pernah gagal. Namun, saat tahu kau tewas hanya karena melihat istrimu berselingkuh, lalu kemudian kalah berperang, sungguh, aku sangat kecewa. Kau seperti bukan sosok yang kuidolakan selama ini," ucap Kiarra terlihat sedih.
"Maaf mengecewakan," jawab Kenta ketus.
"Kau harus minta maaf kepada semua orang. Bukan hanya aku, tetapi saudara saudari kita ketika mereka nanti ditarik kemari. Itulah perjanjianku kepada sang Naga agar keluarga kita bisa bersatu kembali di sini," jawab Kiarra yang membuat Kenta berwajah serius seketika.
"Sungguh?"
Kiarra mengangguk pelan dengan wajah sendu. "Akan sangat disayangkan jika mereka hidup di sini dan kekacauan di Negeri Kaa belum selesai. Mereka akan mati dua kali dan setelahnya, kesempatan kita untuk kembali bersama sudah tidak mungkin lagi," jawab Kiarra lalu memejamkan mata sejenak.
Wanita cantik itu seperti akan menangis, tetapi tak ada air mata di sana. Tiba-tiba, Kenta berdiri tegap. Kiarra menatap saudaranya lekat dalam raga Wen.
"Apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Kenta yang membuat senyum Kiarra terkembang.
Kiarra kemudian menunjuk ke sebuah tempat. Kenta mengikuti pergerakan telunjuk itu. Lelaki tersebut diam sejenak lalu mengangguk pelan dengan senyuman.
"Kita akan bertemu di sana. Hati-hati. Negeri Kaa sedang kacau," terang Kiarra.
"Aku mengerti. Sampai jumpa," jawab Kenta mantap.
Seketika, roh Kiarra menghilang. Kenta segera mengemasi barang-barangnya. Ia lalu mengenakan pakaian emas pemberian sang Naga karena tahu, jika para pengikut Kiarra membutuhkan bantuannya. Kenta kembali menunggangi Eee untuk mengantarkannya ke tempat tujuan di mana ia dan Kiarra akan bertemu kembali.
__ADS_1
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kapten Rhi yang dulunya hanya sebagai seorang prajurit, kini diangkat oleh Raja Tur sebagai pemimpin pasukan. Manusia setengah badak itu bergerak untuk bergabung dengan pasukan Gor yang telah berhasil merebut benteng wilayah terluar Vom. Di sisi lain, Kapten Mos juga telah kembali dari tugasnya. Pria itu memasuki ruangan aula dengan penuh kebanggaan. Raja Tur menyambut dengan sebuah pelukan layaknya mereka bersaudara.
"Hebat! Kau tak pernah mengecewakanku, Mos. Setelah ini, kita akan menaklukkan Yak," ujar sang Raja seraya mengajak Mos untuk duduk di kursi dengan sajian lezat di atas meja panjang.
"Terima kasih, Paduka," jawabnya seraya duduk dengan sopan, berhadapan dengan sang Raja.
Sebuah gelas dari perak dituang cairan berwarna merah yang cukup memabukkan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Namun, baik Raja ataupun Kapten Mos, keduanya penggemar alkohol.
"Kudengar, Anda mengangkat Rhi untuk menggantikanku di lautan sementara waktu," ujar sang Kapten seraya memetik sebutir buah seperti anggur, tetapi memiliki warna beragam layaknya pelangi.
"Ya. Kita butuh banyak pengganti. Rhi berhasil, begitu pula dengan Rog dan Gor. Para prajuritmu sama hebatnya dengan sang pemimpin," ucap sang Raja memuji seraya mengajak bersulang.
Kapten Mos meraih gelasnya lalu mengangkat sebagai salam hormat. Keduanya minum bersama dan menikmati sajian sembari membahas strategi penyerangan berikutnya.
"Seperti rencana yang sudah kita bicarakan sebelumnya, pasukan Tur siap. Empat kerajaan kini terpecah belah karena mereka sibuk melenyapkan para iblis penjaga pohon jembatan. Kita bisa leluasa menggempur mereka dan merebut tahta," ucap sang Raja.
Sang Raja mengangguk puas lalu meneguk minumannya sampai habis. Kapten Mos dan Raja Tur tertawa bersama karena strategi mereka berjalan sesuai rencana. Apa yang mereka harapkan memang terwujud. Vom dibuat kocar-kacir karena serangan monster laut Wii yang menguasai lautan.
Kapten Mun yang tak ingin mengambil risiko, terpaksa menarik semua armadanya yang tersisa agar tak melaut. Wii kini menguasai seluruh lautan di Negeri Kaa. Manusia ubur-ubur juga tak bisa sembarangan melintas karena Wii tak segan memangsa mereka. Bahkan, jumlah hewan laut menurun drastis sejak lautan dikuasai oleh Wii.
Ditambah, lokasi yang berhubungan dengan pohon jembatan dijaga oleh para pasukan Tur yang diam-diam bergerak ke tempat teleportasi tersebut. Praktis, empat kerajaan terisolasi dan sulit untuk berkomunikasi. Mereka juga tak bisa mengirimkan bantuan. Keadaan ini, hampir persis seperti ketika mereka dulu bermusuhan. Namun, kali ini bukan karena mereka saling bertikai, tetapi Kerajaan Tur menginginkan empat kerajaan yang sudah bersekutu itu terpecah.
Tepat saat bulan merah kembali bercahaya, Kenta berhasil tiba di rumah sang Naga. Kali ini, sang Naga tak muncul untuk menyambutnya. Pria Jepang itu sudah menduga hal ini karena Naga tak ingin ikut campur dan hanya mengawasi. Ia ingin melihat bagaimana orang-orang yang terpilih menyelesaikan konflik di Negeri Kaa.
"Oke," ucap Kenta bersiap dengan berdiri di samping kolam naga. Ia mengenakan baju tempur pemberian sang Naga yang memancarkan kilau emas. Terlihat kokoh dan garang, tetapi terasa ringan dikenakan.
BYURR!!
Kenta menyelam dengan mata terpejam. Ia membiarkan dirinya tenggelam dan terus menahan napas. Pikirannya mulai berpetualang, membayangkan dirinya berada di hutan kabut putih. Seketika ....
"Emph!" erang Kenta ketika tiba-tiba saja ada arus yang menariknya kuat.
Kenta mulai membuka matanya meski beberapa kali terpejam karena tak bisa menahan gesekan air yang mengenai mata. Hingga akhirnya, terlihat sebuah cahaya di permukaan. Kenta berusaha keras menahan sisa oksigen di paru-parunya sebelum ia tersedak dan menelan air sangat banyak.
__ADS_1
SPLASH!
"Hah! Hah! Hah!" engahnya saat tubuhnya berhasil muncul di permukaan.
Kenta melihat sekitar sembari menggerakkan dua kaki dan tangannya agar tetap terapung. Matanya menangkap sosok berbentuk manusia, tetapi berupa air.
"Kau datang lagi," ucap seorang peri air yang bergerak di permukaan dengan tubuh menyatu dengan air kolam.
Kenta terlihat gugup karena ia kini ditatap tajam.
"Ya. Kiarra memanggilku. Di luar sangat kacau dan aku harus segera bertindak untuk menyelesaikan konflik di Negeri Kaa. Aku harus—"
SPLASH!
"Woahh!" seru Kenta terkejut saat tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh peri air.
Ternyata, peri tersebut bisa membuat tubuhnya menjadi besar sesuai kapasitas tampungan air di tempat tersebut. Kenta dinaikkan ke daratan. Peri itu mengibaskan rambut panjangnya kemudian kembali menyatu dengan air kolam. Seketika, sosoknya tak terlihat. Kenta yang basah kuyup memilih untuk membuka helm emas lalu menentengnya. Saat ia melangkah ....
DUKK!
"Argh!" teriaknya garang saat kepalanya tiba-tiba dilempar oleh sebuah batu seukuran genggaman tangan. Helm emasnya jatuh dan tergeletak begitu saja di atas rumput. "Sialan! Siapa yang berani melempari utusan Naga!" tanyanya dengan mata melotot seraya memegangi kepala sisi kanannya yang berdenyut nyeri.
"Ka-kau bilang apa? Titisan Naga? Wajahmu tak asing. Bukankah ... kau Panglima Wen dari Vom?" tanya seorang gadis kecil dengan sosok manusia setengah tikus.
Perempuan manis yang tak lain adalah putri Panglima Rat, menatap sosok berbaju emas di depannya dengan menggenggam erat sebuah batu. Kenta mendesis kesal. Ia akhirnya tahu siapa pelaku yang membuat kepalanya memar.
"Ceritanya panjang. Apa kau belum menyentuh batu kristal Kiarra?" tanya Kenta seraya mengusap kepalanya yang terasa memiliki benjolan. Gadis itu mengangguk. "Jika sudah, antarkan aku ke tempat telur Kiarra berada," jawabnya dengan wajah berkerut menahan sakit.
"Aku ... tak tahu itu di mana. Namun, jika kau ingin bergabung dengan para pengungsi Tur, kami persilakan," jawabnya seraya meletakkan batu yang digenggamnya perlahan ke tanah.
"Pengungsi Tur?" tanya Kenta mengulang. Gadis tikus itu mengangguk pelan. Kenta diam sejenak lalu tersenyum miring seraya mengambil kembali helm emasnya. "Oke. Aku pengungsi dari Vom. Ajak aku," pintanya.
Tar mengajak Kenta untuk bertemu koloninya yang berlindung di hutan kabut putih. Kenta tersenyum tipis. Ia akhirnya tahu alasan Kiarra memintanya datang ke sana. Kenta sudah memikirkan sebuah strategi baru. Pria itu melirik gadis tikus di sampingnya dalam diam. Kenta merasa jika lemparan batu barusan malah memberikan sebuah ide menarik di kepalanya.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1