
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Senyum Kiarra terkembang saat ia bisa melihat kegembiraan di wajah penduduk Kerajaan Zen. Dra dan Rak juga segera menjalankan tugas untuk memberi tahu siapa Kiarra serta tujuannya. Batu kristal lainnya kembali diletakkan, tetapi kini di pekarangan depan istana agar semua orang bisa menyentuh dan melihat perjuangan pemimpin baru mereka. Sayangnya, penyihir di kerajaan itu memang telah tiada karena terkena tipu muslihat dan kekuatannya diserap oleh Ram.
"Jangan sedih. Penyihir baru akan lahir di kerajaan ini," ujar Dra.
"Ya, aku tahu," jawab pelayan sang penyihir yang ikut diumpankan untuk menjadi tumbal oleh Raja bernama Nek, tetapi berhasil digagalkan oleh Kiarra.
"Oh iya. Aku masih belum tahu tentang bagaimana mengetahui lahirnya penyihir pengganti," tanya Kiarra dengan wajah lugu karena dalam ingatan Kia tak ada penjelasan tentang pertanyaannya itu.
"Anda tak tahu?" tanya Rak sampai berkedip.
Namun, Kiarra menjawabnya dengan wajah masam.
"Banyak hal yang bisa menunjukkan jika orang itu adalah calon penyihir. Beberapa bisa melakukan hal-hal unik tanpa harus melafalkan mantra. Misalnya sepertiku yang saat itu bisa menyalakan api hanya dengan menjentikkan jari," jawab Dra tenang.
"Ya, aku juga. Aku bisa membekukan suatu benda hanya dengan meniupkan udara ke objek itu," sahut Rak.
"Namun, untuk memastikannya dengan pohon jembatan. Hanya penyihir dan orang-orang terpilih yang bisa menggunakan pohon jembatan karena ilmu sihir didapat dari berkah sang Naga," imbuh Dra.
Kiarra mengangguk paham seraya menatap telapak tangannya dengan saksama. Hingga ia kembali fokus akan sesuatu.
"Oh iya. Di mana jasad wanita itu?" tanya Kiarra kepada Nek.
"Aku mengamankannya dengan merendam tubuhnya dalam larutan khusus. Aku memang bukan penyihir, tetapi tahu bagaimana meramu obat dan menyembuhkan penyakit. Hanya saja, penyihir Dam menutup rapat kemampuanku dari Raja agar tak dijadikan budaknya. Aku berhutang budi pada Dam," ucap gadis berambut panjang cokelat itu dengan mata berlinang.
Kiarra kini semakin yakin jika para raja di Negeri Kaa memang memiliki sifat egois dan tamak. Kiarra berambisi untuk segera menyelesaikan tugasnya. Namun, membuat beberapa kerajaan dengan jumlah penduduk yang banyak, tentu saja membuatnya kerepotan untuk mengayomi mereka. Beruntung, ia memiliki orang-orang yang bisa diandalkan untuk membantunya.
__ADS_1
"Jadi ... kau seorang dokter? Tabib?" tanya Kiarra memastikan.
"Apa itu dokter dan ta-bib?" tanya gadis itu bingung.
"Ya, itu sebutan di duniaku tentang profesi tersebut. Anggap saja kau seorang tabib. Butuh ilmu kedokteran dan sertifikasi khusus untuk menyebutmu seorang dokter. Sayangnya, di Negeri Kaa hal semacam itu tak ada," jawab Kiarra seraya memalingkan wajah.
"Aku ... sungguh tak mengerti dengan apa yang Anda katakan. Bisa tolong disederhanakan?" tanya Nek polos.
Dra dan Rak tersenyum. Keduanya lalu mengajak penduduk Kerajaan Zen untuk berkumpul di aula kerajaan memberikan pengarahan akan nasib mereka selanjutnya usai ketiga kerajaan bergabung. Kiarra pergi ditemani oleh Nek dan dua panglima Vom ke tempat penyihir Dam diistirahatkan untuk selamanya.
"Oh, dia cantik dan masih muda," ujar Kiarra saat melihat seorang wanita direndam dalam kolam dengan air berwarna kuning keemasan. "Aku akan menggunakan jasadnya untuk dihuni oleh anggota keluargaku," ucap Kiarra yang mengejutkan Nek.
"A-apa maksud Anda?" tanya Nek terlihat panik.
GRAB!!
"Ahh!" kejut Nek saat Kiarra tiba-tiba memegang kepalanya dengan tangan kiri.
"Hah, hah, luar biasa! Aku tak pernah tahu hal seperti itu bisa terjadi!" kejut Nek dengan napas tersengal.
"Begitulah. Inilah yang kusuka dari keajaiban Negeri Kaa," jawab Kiarra dengan senyuman. "Jadi, boleh?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
"Tentu saja!" jawab Nek antusias.
Panglima Goo dan Wen segera mengangkat jasad itu. Kiarra membungkusnya dengan kristal biru. Nantinya, Dra yang akan membawa jasad itu untuk dikumpulkan bersama lainnya di titik beku. Selama tiga hari, Kiarra menghabiskan waktunya di Zen untuk mengubah beberapa peraturan kerajaan.
Tak disangka, perubahan yang dilakukan oleh Kiarra bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Harta para pejabat dikumpulkan lalu dibagikan secara merata ke penduduk. Semua istana di tiap kerajaan yang berhasil direbut Kiarra dikosongkan dan hanya dihuni oleh para pelayan agar bangunan megah itu tetap terjaga keindahannya karena selalu dirawat. Di hari keempat, Kiarra kembali ke Yak bersama penduduk baru dari Zen agar mereka saling mengenal yang kemudian ke Vom sebagai tujuan terakhir.
"Benar-benar dingin! Bagaimana kalian bisa hidup di tempat ini?" tanya Nek saat ia dan warga Zen datang ke Yak.
__ADS_1
"Menurut Rak, itu karena jenis kulit dan darah kami sedikit berbeda. Sejak lahir, kami sudah berada di tempat ini. Sehingga tubuh kami telah beradaptasi dengan baik berikut sistem metabolisme tubuh," jawab salah seorang pria yang memiliki profesi sama dengan Nek, seperti tabib.
"Ah, begitu. Hebat sekali," ucap Nek yang tampak begitu penasaran dan ingin tahu banyak hal karena tak sungkan memegang rambut putih warga Yak.
"Hehe, dia lucu," kekeh Lon karena mata Nek sampai membulat penuh ketika membandingkan dirinya dengan seorang warga Yak dari segi fisik.
Kiarra yang sudah tahu dari mana asal usul manusia di planet itu memilih diam. Ia yang fokus dengan misinya, bersiap untuk kembali ke Vom bersama warga gabungan dari Yak dan Zen. Di hari kelima, warga Vom dibuat terkejut lagi saat Jenderal Kia membawa koloni baru ke kerajaan tempatnya dilahirkan.
"Perkenalkan, mereka adalah warga Kerajaan Zen. Koloni kita semakin besar dan tersebar di beberapa penjuru. Kini, saatnya menaklukkan Ark! Demi kedamaian sejati di Negeri Kaa, doakan kami mampu menyelesaikan misi dari naga!"
"Yeah! Hidup Ratu Kia-rra!" teriak para penduduk yang kini telah bercampur antara Vom, Yak dan Zen.
Kiarra mengangguk mantap. Ia terbang meninggalkan aula menuju ke tempatnya beristirahat di menara. Para dayang sudah paham betul apa yang harus mereka lakukan saat sang majikan pulang dari berperang. Kiarra sungguh merindukan pijatan lembut dan perlakuan manja dari para dayang. Selain itu, mereka sangat mampu memuaskan gairah sang Jenderal yang diakui sangat kuat dalam bercinta.
"Jenderal. Maaf jika terdengar lancang. Hanya saja, kami juga ingin ikut bertempur bersama Anda. Bolehkah?" tanya Pop saat menggosok punggung Kiarra di tempat pemandian khususnya.
"Tak kuizinkan."
"Kenapa?"
"Sudah cukup kematian merenggut Ron. Aku tak ingin yang lain pergi menyusulnya. Jangan membantah. Kalian sangat diperlukan di sini," tegas Kiarra.
"Ka-kami mengerti," jawab Fuu dan lainnya dengan wajah tertunduk.
Kiarra tahu jika para dayangnya sangat menginginkan bisa ikut bertempur layaknya prajurit. Hanya saja, kemampuan mereka belum mumpuni karena memang tak dilatih layaknya tentara. Kiarra tak ingin mengambil risiko dan memilih untuk merelakan prajurit Vom jika tewas ketimbang keempat dayangnya.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
gini nih kalo dari kemarin up eps dari hp. gak bs panjang nulisnya. kapan kelarnya kalo gini? adeuh😩 sabar ya LAP. lele padamu 💋