
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Saat suasana bahagia sedang menyelimuti hati semua orang, tiba-tiba mata Kiarra melotot. Para dayang Kiarra menyadari ada hal tak beres dengan Ratunya mereka.
"Ada apa, Jenderal?" panggil Ben yang masih menganggap jika jabatan Jenderal melekat pada sosok Kia.
"Pohon jembatan! Aku lupa tak memantrainya!" pekiknya yang ikut mengejutkan sebagian orang.
"Heh, Bii tak sepenuhnya jujur padamu, Ara," ujar Rak seraya memegang kristal biru berbentuk layaknya pear besar di samping pinggul wanita cantik tersebut.
Kiarra menatap Rak saksama yang sepertinya tahu tentang Bii.
"Aku sudah menceritakan kepada Boh dan Rak begitu mereka tiba. Ya ... seperti katamu saat perjalanan kemari," ujar Lon tenang.
"Informasi apa yang Bii tak sampaikan padaku?" tanya Kiarra memasang wajah kesal.
"Tak harus kau. Siapa saja bisa menumbuhkan pohon jembatan. Namun, syarat utama adalah ketika ditanam, memang hanya penyihir agung yang bisa melakukannya. Setelahnya, bisa siapapun selama orang tersebut mengetahui mantra itu," jawab Rak.
Kiarra berdecak kesal. "Mengingat kau tak memberikan informasi detail padaku, Monster Jelek. Masa kurunganmu dalam kristal ini kuperpanjang."
"Harghhh! Tidak bisa!" teriak Bii marah, tetapi Kiarra tak peduli.
"Berdoalah aku berbaik hati untuk melepaskanmu sesuai perjanjian," ujar Kiarra yang membuat Bii meraung.
Orang-orang menatap Kiarra saksama karena hanya dia yang bisa berkomunikasi dengan monster tersebut.
"Kau bilang apa tadi? Melepaskan Bii? Kau gila!" pekik Boh panik.
"Jika pohon jembatan sudah tumbuh, ia akan kutempatkan di pohon tersebut. Aku cukup yakin, bagian pohon jembatan yang sedang kutanam adalah rumahnya dulu," jawab Kiarra yang membuat amarah Bii reda seketika. "Tebakanku benar?"
__ADS_1
"Gerrr," erang Bii yang membuat Kiarra tersenyum tipis.
"Jadi ... kapan pemakaman dimulai?" tanya Kiarra seraya mengelus pipi putrinya lembut yang terasa begitu halus.
"Besok, bersama para pejuang yang tewas di tanah ini," jawab Kenta yang diangguki Kiarra.
Kiarra kemudian kembali ke kamar lamanya. Ia begitu merindukan tempat bermanja-manja bersama para dayangnya itu. Meskipun istana Vom rusak dibeberapa bagian karena peperangan terakhir, tetapi masih banyak tempat yang bisa dihuni. Pembersihan dilakukan besar-besaran di segala tempat. Para sipil yang tinggal sementara waktu di rumah penduduk juga ikut melakukan perbaikan.
Tepat saat bulan ungu bersinar, orang-orang telah berpakaian rapi sesuai dengan ciri khas kerajaan masing-masing. Warna-warna indah memenuhi halaman istana sampai ke tempat peristirahatan terakhir. Bayi Kiarra digendong oleh Eur saat beberapa pemimpin kerajaan berjalan mengikuti Kiarra yang memimpin rombongan di depan. Mereka berjalan menuju ke hutan di mana tempat tersebut telah dimakamkan para pejuang Negeri Kaa yang gugur saat peperangan.
Kiarra melewati jalan setapak menuju ke batu-batu nisan putih sebagai penanda jika ada makam di sana. Kiarra menaburkan kristal biru ciptaannya ke atas gundukan tanah itu seraya mendoakan. Para pelayat menyanyikan lagu duka sebagai penghormatan terakhir bagi mereka yang gugur dalam perang, baik dari kubu musuh atau pun kawan.
"Nera mo ... tema. Nee yage ... tema. Geka loo we see tema. Kaa lika ree ... tema."
Akhir kisahmu ... di sini. Kenanganmu tersimpan ... di sini. Luka bahagia dukamu bersama kami di sini. Kaa akan menuntunmu kembali ... di sini.
Cukup panjang jalan setapak itu karena banyaknya manusia yang gugur dalam perang terakhir. Jasad Dra telah dibungkus dalam kristal biru Kiarra di kuilnya. Laksamana Noh dan para penjaga Vom menunggu di tempat tersebut sebelum akhirnya tubuh Dra dibawa ke kolam naga saat bulan ungu berikutnya bersinar.
"Ratu Kia-rra. Kita telah menunaikan pemakaman terakhir bagi para pejuang Negeri Kaa. Saatnya kembali ke istana," ujar Kapten Kee dan diangguki Kiarra.
Rombongan itu lalu kembali ke istana Vom. Mereka berkumpul di aula untuk menikmati jamuan duka. Susasana tak semeriah layaknya pesta karena acara makan tersebut, ditujukan sebagai bentuk pengingat saat orang-orang yang telah mati berada bersama mereka.
"Kenta," panggil Kiarra seraya menyuapi mulutnya dengan seiris daging makhluk Uuu yakni jenis unggas yang diternakkan.
"Apa?" jawab Kenta seraya mengunyah.
"Soal pertanyaanmu yang tertunda karena lupa. Tentang apa?" tanya Kiarra penasaran lalu melirik putrinya yang tertidur pulas.
__ADS_1
Kristal dibaringkan dalam bak terbuat dari anyaman ciptaan para Nym sebagai hadiah kelahiran Kristal. Benda itu dititipkan pada Pyu ketika manusia setengah panda merah tersebut mengunjungi hutan kabut putih sebelum ke Vom.
"Oh, ya! Nah, tentang ini. Kenapa nama orang-orang di Negeri Kaa hanya tiga huruf, termasuk hewan dan para monster?" tanya Kenta yang membuat beberapa orang berkedip.
"Mudah. Itu karena Naga yang memberikannya," jawab Boh cepat.
"Ha?" sahut Kenta berkerut kening.
"Anggaplah seperti ini. Dra meninggal. Nama Dra bisa digunakan lagi oleh orang lain. Bedanya, Dra yang meninggal sebelumnya adalah seorang penyihir. Bisa jadi Dra berikutnya adalah seorang tukang masak," imbuh Rak.
"Oh. Jadi ... nama Rak bisa digunakan oleh orang lain?" tanya Kenta lagi.
"Hanya bisa digunakan jika orang itu sudah mati. Jika masih hidup, tidak bisa," tegas Rak. Kenta ber-Oh karena baru mengetahui hal tersebut. "Namun, nama itu diberikan kepada bayi yang baru lahir. Orang-orang akan mendatangi penyihir agung di kerajaan masing-masing untuk menanyakan nama bagi bayi mereka," imbuh Boh.
"Jadi ... saat bayi lahir, ibu atau ayah dari anak tersebut akan mendatangi kalian, begitu? Tahu dari mana jika orang tersebut telah mati atau belum?" tanya Kenta yang belum puas dengan pertanyaannya.
"Naga yang memberikan nama melalui kami," jawab Boh dan Rak serempak. Kenta kembali ber-Oh.
"Seperti yang dilakukan Ara kemarin. Bayi yang datang pada kami akan disentuh kepalanya. Saat kami memejamkan mata dan mencoba berkomunikasi dengan Naga, sebuah nama akan muncul seperti sebuah bisikan. Setelahnya, kami memberitahukan kepada orang tua bayi. Lalu ... begitulah. Mereka akan memiliki nama tersebut," jawab Boh menjelaskan dengan wajah masam karena pertanyaan tak berkesudahan.
"Ah, keren," puji Kenta sampai mengangguk-anggukan kepala. Kening para penyihir berkerut karena tak memahami bahasa aneh itu.
Tak lama, Hem dan Kem muncul. Semua kepala langsung menoleh ke dua pria perkasa yang terlihat seperti kakak beradik karena selalu bersama. Kiarra menatap mereka lekat.
"Sudah tiba waktunya, Ratu Kia-rra," ucap Hem yang diangguki Kem dengan senyuman.
"Okey! Hah, ini adalah waktu yang dinantikan. Ayo, Ara. Kau pantas mendapatkannya," ujar Kenta yang mendapat senyuman dari sang adik. Ia tersipu malu.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Adobe Stock)