Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Membidik Michelle*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


Kiarra yang tidak ingin kehilangan waktunya di Bumi karena tersisa 6 hari lagi, membuatnya harus bergerak cepat untuk menuntaskan misi. Ryota, Rein dan Chiko kini bergabung untuk membantu Kiarra. Mereka mendatangi Michelle yang ingin diajak untuk bekerja sama. Hanya saja, Kiarra yang memiliki insting kuat terhadap saudarinya itu, seperti bisa melihat gelagat lain dari Michelle ketika wanita cantik tersebut rela berjalan keluar dari gedung kantor menuju ke suatu tempat seraya membawa sebuah tas dan berpakaian serba hitam.



"Apa yang kaupikirkan, Ara?" tanya Chiko.


"Ada yang aneh dengan dia, ya?" tanya Ryota.


"Hem. Michelle. Apa yang kalian tahu tentangnya?" tanya Kiarra dengan mata terfokus pada pergerakan Michelle yang masih berjalan menyusuri trotoar layaknya seorang model.


"Cantik, cukup pintar dan ...."


"Dia terobsesi padaku. Ingin sepertiku. Apa yang kupakai hari ini dan terpublikasi oleh media, tak berapa lama, dia melakukan hal yang sama. Pernah aku bertanya, katanya, ide fashion-ku sama dengannya. Dia bahkan sering mengaku jika akrab denganku. Nyatanya ... tidak. Aku bahkan tak tahu makanan kesukaan Misy, siapa artis idolanya, bahkan lagu favoritnya. Kini, lihatlah dia. Dia ... sepertiku," ujar Kiarra yang ingat betul dengan gaya fashion-nya karena ditiru oleh salah satu saudari tiri.


"Wow, aku baru tahu hal itu," ujar Rein terkejut.


"Ya. Aku rasa ada benarnya. Cara berpakaiannya memang mirip, tapi ... watak kalian berbeda. Dia ... sangat senang sekali bicara, sedang kau, pelit suara," sambung Ryota.


Kiarra melirik saudaranya yang duduk di bangku tengah bersama Rein. Namun, Ryota seperti sudah tahu dengan tanggapan Kiarra padanya. Pria itu hanya menunjukkan senyum.


"Oh, lihat! Itu ... itu asisten Jasper!" pekik Chiko histeris.


"Pelankan suaramu dan tak usah menunjuk. Kenapa kau selalu mengacungkan telunjuk? Kau bisa menyakiti mata seseorang," gerutu Kiarra.


"Telunjuk ini terjulur begitu saja. Aku tak memiliki kendali atasnya!" balas Chiko dengan suara besar.


"Ya Tuhan," keluh Rein langsung menutup wajah dengan dua tangan. Ryota terbahak melihat kehebohan di dalam mobil SUV hitam yang terparkir di pinggir jalan tersebut.


"Hem. Ryota. Siapkan gas halusinasi. Jujur, sudah sejak lama aku ingin menginterogasi Michelle. Sikapnya, cukup membuatku terusik," pinta Kiarra dengan wajah datar.


"Yes, Mam!" jawab Ryota mantap.


Para agent bersiap. Kiarra mengawasi dari dalam mobil. Kamera mini terpasang pada pakaian para agent saat mereka mulai mencurigai Michelle karena bertemu dengan asisten Jasper—Regen. Michelle dan Regen berbicara dalam mobil seperti menyembunyikan sesuatu. Saat Rein yang bertugas untuk menyelidiki, tiba-tiba saja ....


"Oh!"


Rein meringis begitu saja saat apa yang dilihatnya kepergok oleh Regen karena menoleh ke arah kaca dudukkan belakang. Regen yang mengenali Rein langsung keluar. Michelle ikut panik dan membuka kaca jendela dengan tergesa.

__ADS_1


"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Michelle menatap Rein tajam yang sudah melepaskan kaca mata hitam.


"Aku ingin membeli oleh-oleh sebelum pulang ke Jakarta, tapi ... apa yang kalian lakukan? Kalian sangat mencurigakan," ceplos Rein to the point dengan wajah lugu.


Praktis, ucapan Rein membuat dua insan itu gelagapan. Rein langsung didorong untuk masuk ke dalam mobil oleh Regen. Chiko dan Ryota bersiap jikalau adik mereka disakiti. Rein terlihat gelisah saat ia duduk di samping Michelle dan Regen di depan dengan posisi kursi bisa berputar ke belakang. Mata mereka menatap Rein tajam.


"Kau melihat yang kami lakukan?" tanya Michelle terlihat pucat.


Rein mengangguk dengan wajah polos. "Hem, kalian berciuman."


Sontak, pengakuan Rein membuat Regen dan Michelle langsung memalingkan wajah terlihat panik. Rein tetap terlihat tenang dengan wajah lugu.


"Apa kalian akan membunuhku jika hal ini sampai bocor?" tanya Rein.


"What? Kau gila!" pekik Michelle yang ternyata jawabannya tak seperti yang Rein harapkan.


"Lalu ... apa ... kalian akan mengancamku atau semacamnya?"


"Sepertinya otakmu tak beres, Rein. Tentu saja, tidak. Hanya saja ... kami khawatir jika dianggap terjadi persengkongkolan yang menyebabkan perusahaan rugi dan semacamnya," jawab Regen yang membuat Rein membisu.


"Em, begitu. Aku mengerti," jawab Rein dengan polosnya.


Saat Michelle dan Regen sedang dirundung kebingungan, Rein tiba-tiba keluar dari dalam mobil dengan jendela yang tertutup rapat sepenuhnya. Kemudian, BUZZ!


Rein berdiri diam di samping mobil saat keduanya berusaha untuk keluar, tetapi, Chiko dan Ryota dengan sigap berdiri di samping pintu sehingga dua orang itu tersekap.


"Apa yang kalian lakukan!" teriak Regen karena tak bisa membuka pintu yang tertahan dan memutuskan untuk membuka jendela. Namun, gas yang sudah terhirup, membuat mereka linglung seketika dan duduk dengan lemas.


"Ryota," ucap Chiko melirik ke dalam mobil.


Ryota mengangguk usai memasukkan sebuah pil dalam mulut lalu mengunyahnya seperti memakan kacang. Pria itu masuk ke dalam mobil di dudukkan belakang. Chiko dan Rein kembali ke posisi untuk mengawasi, menjauh dari mobil.


"Ohh, aku ingin sekali melakukannya sejak dulu," ujar Ryota seraya mengusap dua tangannya.


"Waktu kita tak banyak, Ryo. 1 menit berlalu," sahut Kiarra mengingatkan.


"Yes, Mam!" jawabnya mantap. "Michelle, Regen, kalian mendengarku?" Dua orang itu mengangguk dengan mata melirik ke kanan ke kiri karena terkena dampak. Ryota tersenyum. "Apa kalian berpacaran?" Dua orang itu mengangguk pelan. "Apa kalian bersekongkol untuk menghancurkan perusahaan?" Dua orang itu menggeleng bersamaan. Para agent dan Kiarra yang mendengar hal itu terlihat serius menyimak. "Apa ... kalian memiliki dendam kepada Jasper?" Tak disangka, dua orang itu mengangguk bersamaan. Praktis, hal ini membuat para pendengarnya terkejut. "Apa dendammu pada Jasper, Regen?"


Kepala Regen bergerak ke sana kemari seperti orang mabuk. "Jasper ... dia ... tak memperlakukanku dengan pantas. Dia ... memintaku memilih target dari keluarga Tora untuk dimangsa. Para gadis dari keturunan yakuza itu ... ia ingin mengambil seluruh aset mereka, yang selanjutnya ... target terakhir adalah ... Kim Arjuna."

__ADS_1


Praktis, pengakuan Regen membuat mata para pendengar terbelalak lebar.


"Michelle mulai berliur. Cepat, Ryo!" seru Kiarra yang memperhatikan reaksi dari Gas Halusinasi.


Ryota langsung mengincar Michelle yang mulai menutup dan membuka matanya seperti orang menahan kantuk. "Michelle. Apa dendammu pada Jasper?"


"Dia ... menjebakku ... dia mengatakan ... Regen mengajakku makan malam di sebuah yacht. Aku datang dan ... Regen tak ada .... Dia ... dia tahu hubunganku dengan Regen dan melakukan ancaman. Minumanku diberikan narkoba olehnya. Jasper memiliki penawarnya sehingga aku tak perlu direhabilitasi dan ... dia mengancam akan membunuh Regen jika aku menolak," ucapnya terlihat sedih.


"Apa yang dinginkan Jasper dari Michelle? Tanyakan, Ryo! Cepat!" titah Kiarra.


"Apa yang Jasper minta darimu, Michelle?" tanya Ryota cepat.


"Akses ... seluruh akses di perusahaan Kim Arjuna dan ... perusahaan Kiarra. Jasper ... dia mengincar perusahaan Nyonya Naomi di Jakarta ...."


"Keparatt kurang ajar!"


KREKK!


Kiarra marah besar dan spontan memukul layar tablet yang menunjukkan proses interogasi itu. Earphone di telinganya langsung dilepas dan dilempar ke dudukan sopir. Kedua tangannya mengepal dengan kebencian menyelimuti jiwa.


"Berikan penawar, cepat!" titah Rein panik saat melihat dua orang itu mulai menggelengkan kepala dengan cepat, bola mata bergerak tak beraturan dan berliur.


Ryota dengan sigap menyuntikkan serum penawar di leher Michelle dan Regen bersamaan dari tempatnya duduk. Chiko dan Rein panik saat mengawasi dari luar mobil di balik dinding.


"Ryota, cepat keluar! Sekitar mulai ramai!" titah Chiko panik.


Jalanan dan trotoar tadi masih cukup sepi karena belum banyak pekerja memadati kawasan perkantoran. Saat interogasi dilakukan, waktu masih menunjukkan pukul 7.30 pagi. Namun, Michelle sudah datang ke kantor, tetapi setelahnya keluar yang ternyata menemui Regen.


Ryota, Chiko dan Rein kembali ke mobil usai melakukan tugas. Tiga orang itu terkejut saat melihat Kiarra seperti baru saja melampiaskan amarah karena layar tablet retak dan padam. Mereka diam, tetapi tiba-tiba, Kiarra turun dan berjalan menuju ke mobil tersangka.


"Ara! Kau gila! Apa yang dia lakukan!" pekik Chiko berusaha menghentikan adiknya, tetapi sudah terlambat karena Kiarra langsung masuk di bangku samping Michelle.


"Ya Tuhan! Bagaimana ini?" tanya Rein panik karena tak bisa menghubungi Kiarra.


"Kita tunggu saja. Kulihat sekitar masih aman," ujar Ryota dengan mata sibuk memindai sekeliling.


Namun, tak dapat dipungkiri jika Chiko, Rein dan Ryota panik setengah mati. Mereka tak tahu, apa yang akan dilakukan Kiarra pada pasangan kekasih itu.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


Syudah hari senin. Jangan lupa vote vocernya ya keburu angus dan sedekahkan poin serta koinmu. lele padamu💋


__ADS_2