Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Pyu*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra tertegun. Ia sangat yakin jika suara seperti orang berbisik itu dari dalam toples kaca. Saat ia memberanikan diri untuk mengambilnya, tiba-tiba ....


"Beri hormat untuk Raja Tur!" seru seorang pria dari arah ruangan kamar.


Kiarra panik, dan bergegas keluar dari ruangan itu. Bahkan, ia memadamkan api lilin dengan ujung tangan berlapis kristal biru.


"Sial! Si macan mau apa sih?" gusarnya seraya menutup pintu perlahan.


"Jenderal Kia!" panggil Raja Tur dengan suara besarnya yang membuat Kiarra langsung memejamkan mata sejenak karena kaget. "Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanyanya yang ternyata melihat wanita cantik tersebut keluar dari ruangan.


Kiarra mengembuskan napas kesal dan menatap sang Raja tajam.


"Kau memberikanku ruangan yang lama tak terpakai. Kau ingin aku tidur dalam tumpukan debu?" tanya Kiarra kesal.


Raja melihat sekeliling lalu menjentikkan jari. Pria serigala yang tadi menghalangi Kiarra saat hendak keluar kembali masuk. Raja berbisik padanya dan lelaki itu mengangguk pelan.


"Sembari menunggu kamar Anda dibersihkan, silakan nikmati sajian bersama Raja di ruang jamuan," ucap lelaki itu dan Kiarra mengangguk pelan. Bagaimanapun, ia memang lapar.


Kiarra merangkul lengan berbulu sang Raja saat meninggalkan ruangan tanpa baju tempur, tetapi tetap membawa pedang kristalnya. Kiarra disapa oleh banyak orang yang bekerja dalam istana. Hingga keningnya berkerut saat memasuki ruang makan dan melihat salah seorang pelayan yang mirip dengan sosok manusia rakun di hutan tadi.


"Pastikan Jenderal Kia menikmati jamuan kita!" ujar sang Raja dengan suara besarnya.


"Baik, Paduka!" jawab para pelayan dengan tubuh membungkuk.


Kiarra mulai menikmati hidupnya di istana itu. Ia dilayani bak seorang Ratu. Siapa sangka, makanan Kerajaan Tur sangat nikmat. Kiarra makan dengan lahap dan hal itu membuat para pelayan senang karena usaha mereka untuk memanjakan calon Ratu baru berhasil.


"Kau suka?" tanya Raja menatap Kiarra lekat.


"Hem! Ini enak," jawab Kiarra cepat tanpa melihat pria berbulu hitam di depannya.


"Setelah ini, mandikan dan dandani Ratu kalian. Jenderal Kia tak diperkenankan memakai pakaian tempur dan membawa pedang lagi. Ia kini seorang Ratu dan dilarang bertempur!"


Mata Kiarra melebar. Ia terkejut saat pedangnya diambil pria serigala dan dipegangnya kuat. Mata Kiarra memindai sekitar saat ia merasa privasinya diusik.


"Tur dengar—"

__ADS_1


"Raja Tur! Meskipun kau calon istri dan Ratu kerajaanku, tak berhak memanggilku tanpa sebutan Raja. Kali ini kumaafkan, terjadi lagi, kau akan tinggal di penjara!" tegasnya yang membuat mulut Kiarra terbuka lebar.


Nafsu makan Kiarra sirna. Ia berdiri dengan wajah dingin menatap semua orang.


"Aku suka mandi sendiri. Tak perlu memandikan dan mendandaniku. Siapkan saja yang kubutuhkan. Sisanya, kulakukan sendiri," ucap Kiarra dengan sorot mata tajam menatap Raja.


Semua orang terdiam terlihat tegang. Mata mereka bergantian melihat sang Jenderal dan Raja seperti berselisih paham.


"Lakukan yang dia minta. Pastikan Jenderal Kia tak kabur dari tempat ini, atau orang yang terlibat dalam kesalahannya, akan dihukum mati."


Sontak, hal itu membuat ketakutan di hati para pendengar. Kiarra ikut tertekan. Raja Tur tampak tak ingin diganggu karena ia sibuk menikmati santapannya. Kiarra pamit kembali ke kamar dan dipersilakan. Saat ia kembali ke tempat istirahatnya, Kiarra terkejut karena baju perangnya sudah tak ada. Ia bertolak pinggang dan terlihat kesal, meski ruangannya rapi seperti yang diinginkan.


"Sialan!" teriaknya marah dan siap mengamuk.


Namun, ia teringat akan kehamilannya. Kiarra mencoba bersabar dan memilih kembali ke ruangan tempat ia menemukan toples aneh itu. Akan tetapi, ia kembali terkejut saat toples-toples itu tak ada ditempatnya. Kiarra mencoba mencari ke segala tempat, tetapi tetap tak menemukannya.


"Pasti diambil! Agh! Aku penasaran dengan isinya," gerutunya kesal.


Kiarra yang ingin mendinginkan kepala, bergegas menuju ke tempat pemandian pribadi. Kali ini, ia menikmati waktunya dengan berendam air hangat dan terdapat beberapa wewangian dalam mangkuk-mangkuk untuk membuatnya santai.


Sedang di tempat Lon dan lainnya berada.


Raja Tur seperti membiarkan armada kapal perangnya untuk bertempur, entah menghasilkan kekalahan atau kemenangan, ia seperti tak peduli. Laksamana Noh dan Yoh sama-sama terluka dengan luka sayatan di beberapa bagian tubuh. Darah mengalir menodai kulit yang sudah bercampur keringat.


"Kenapa kau tak mati saja! Kau membuat semuanya menjadi sulit!" teriak Noh kesal dengan tubuh menyender pada tiang kapal karena kakinya terkena tusukan pedang.


"Hah, hah, kenapa harus aku? Lebih baik kau menyerah dan mati dengan terhormat di tanganku!" jawab Yoh seraya memegangi lengannya yang berdarah hebat dan darah mengucur deras dari luka robekkan.


"Hah, uhuk! Sekali lagi dan kita selesaikan di sini!" teriak Noh kembali berdiri tegap meski menahan sakit luar biasa di tubuhnya.


Yoh dengan sigap menguatkan tubuhnya lagi. Keduanya sama-sama mengerang dengan pedang dalam genggaman. Kapal sudah tak bisa melaju lagi bahkan hampir tenggelam karena lubang besar pada lumbung akibat lontaran meriam Kerajaan Vom. Saat keduanya saling berteriak dan berlari untuk menyabetkan pedang, tiba-tiba ....


"Akk! Akk!"


"Arghhh!"


"Hah? Hei! Kembali ke sini, Pengecut!" teriak Yoh karena musuh bebuyutannya ditangkap oleh Eee dan membawanya pergi dari peperangan.

__ADS_1


Mata Laksamana Noh terbelalak ketika melihat Wen sebagai penunggang burung besar tersebut.


"Ada hal buruk dan kita harus segera kembali ke Vom," ucap pria itu dengan wajah serius menatap pria berambut putih panjang tersebut lekat.


"Aku maafkan kau kali ini, tapi tidak lain kali. Kau mengganggu pertempuran terakhirku dengan keparatt itu," gerutu Laksamana Noh yang melihat kapal perang Vom berhasil membombardir kapal-kapal Tur sehingga mereka tak bisa berlayar lagi.


Senyum Noh terkembang melihat kemenangan dari kubunya. Sayang, pria tua itu tak tahu jika pemimpin mereka tertangkap dan tak bisa kembali.


Setibanya di Istana Vom.


Bukan sorakan atau pesta merayakan kemenangan dari orang-orang yang bertempur saat itu. Lon tak berhenti meneteskan air mata saat mendengar informasi mengejutkan dari dua manusia ubur-ubur yang mengintai.


"Aku kenal Jenderal. Dia pasti sengaja menyerahkan diri dengan mengorbankan dirinya. Ia pasti memiliki rencana selama menjadi tawanan Tur," ujar Eur mantap ketika kumpulan orang-orang itu bersedih.


"Kau ... hiks, kau berpikir demikian?" tanya Lon dengan wajah sudah basah air mata.


"Ya, itu benar. Masalahnya, kita harus tahu kapan waktunya bergerak untuk menyelamatkan Ratu Kia-rra. Aku tak tahu seperti apa wilayah Tur. Selain itu, wujudku bukan manusia setengah binatang. Aku pasti akan langsung dicurigai. Buruknya, aku akan ditangkap dan mati," sahut Pop yakin.


"Kita harus lakukan sesuatu. Jenderal sedang hamil. Aku khawatir jika Raja Tur akan memperlakukannya dengan buruk sehingga bayinya bisa tewas," ucap Ben yang membuat semua orang cemas.


"Jangan khawatir. Masih ada mata-mata kami di sana. Pyu, sangat bisa diandalkan," ujar Jenderal Gom yang diangguki oleh kaumnya.


"Pyu?" ulang Dra memastikan pendengarannya.


"Ya. Sampai kita mendapatkan sinyal kapan harus melawan Raja, Pyu dan para manusia ubur-ubur bisa menjadi penyambung informasi antara pemberontak dengan Ratu Kia-rra di Istana Tur," sahut sang Pangeran yang membuat kening orang-orang Vom berkerut.


"Baiklah, kami percaya padamu. Besok, kita mulai strategi baru untuk memastikan keselamatan Jenderal sembari menunggu informasi penyerangan darinya," ujar Panglima Goo dan diangguki semua orang.


"Selama menunggu. Kita juga harus selesaikan usaha Jenderal untuk merebut wilayah Ark seutuhnya," imbuh Wen mantap dan semua orang setuju dengannya.



***



Tengkiyuw tipsnya ❤️ lele padamu 💋

__ADS_1


__ADS_2