
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Kiarra yang diberitahu oleh Rein perihal kehebohan atas kebangkitannya, membuat dirinya sedikit was-was. Namun, ia memberikan saran agar Aiko segera diterbangkan ke Jakarta mengingat saudaranya itu masih mengalami trauma jika bertemu mantan suami yang menghancurkan hidupnya.
"Oke. Aku akan terbang ke Jakarta besok bersamanya untuk mengamankan Aiko agar kau bisa lebih leluasa bertindak," ujar Rein dalam sambungan telepon saat ia sudah kembali ke rumah.
"Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mencemaskanku," jawab Kiarra yang kini tinggal di rumah Chiko untuk sementara waktu.
"Ara. Apa kau khawatir jika Jasper mulai waspada atas kebangkitanmu? Kau berpikir jika dia menjadi target?" tanya Rein cemas.
"Hem, begitulah. Jasper tak bisa dianggap remeh. Orang itu berbahaya. Dia berani mengincar Arjuna, pastilah dia sudah memiliki strategi untuk menjatuhkannya. Aku sudah melakukan yang perlu dilakukan agar Tuan Kim sadar. Setelahnya, hanya kebijaksanaannya sendiri untuk membuat dirinya selamat. Semoga ia tak senaif yang kita pikir selama ini," jawab Kiarra saat teringat akan usahanya menyusup ke perusahaan mantan yakuza itu.
"Aku mengerti."
Rein menutup panggilan telepon dengan mengembuskan napas panjang. Ia ikut tegang karena merasa ucapan Kiarra ada benarnya. Ia menjadi cemas mengingat perusahaan yang dia kelola juga diincar Jasper karena pria itu menanamkan saham di sana. Saat Rein sedang memikirkan cara untuk menyingkirkan Jasper, tiba-tiba ....
GREEKKK
"Aku mendengarnya."
Sontak, kedatangan Aiko membuat Rein mematung seketika. Wanita itu terlihat gugup saat saudari lain ayah mendekat padanya.
"Dengar apa?"
"Kiarra. Apakah selama ini kau tahu tentang kebangkitannya? Apakah ... kau berhubungan langsung dengannya?" tanyanya menatap Rein tajam. Wanita berwajah manis itu terlihat ragu, tetapi kemudian mengangguk. Aiko terkejut. "Kenapa tak melibatkanku lebih jauh?"
"Jasper."
"Kenapa dengan orang itu?"
"Meskipun Dayana mengatakan kau sudah sembuh, tetapi nyatanya yang kulihat tidak demikian. Saat kau tadi bertemu dengannya, aku masih melihat kau takut. Bagaimana bisa kau terlibat lebih jauh lagi? Kau bisa menggagalkan rencana Kiarra yang sudah susah payah ia bangun. Waktunya tak lama lagi sebelum ia ditarik lagi ke alam kematian," ujar Rein yang membuat mata Aiko terbelalak lebar.
"What? Maksudmu ... Kiarra ... dia akan kembali menjadi mayat lagi? Maksudku ... mayat yang sesungguhnya?" Rein mengangguk dengan wajah sedih.
"Tiga hari lagi. Tinggal empat hari lagi dan kita akan kehilangan dia untuk selamanya."
Aiko terlihat shock. Entah kenapa ia tak ingin Kiarra pergi darinya. Meskipun mereka tak begitu akrab semenjak wabah monster dianggap sirna, tetapi melihat Kiarra memperjuangkan perasaannya untuk menghukum Jasper, Aiko ingin membantu.
"Libatkan aku, please. Aku berjanji bisa kuat saat menghadapi Jasper. Aku ingin membantu Kiarra!" teriaknya penuh ambisi.
"Tidak bisa."
"Ryota ...."
"Kiarra tak mengizinkan. Dia ingin melakukan eksekusi langsung, bukan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan dukungan dan informasi seperti yang diminta. Kita tak boleh terlibat karena hukuman berat di Era Evolusi ini. Kiarra ... dia masih memikirkan nasib kita jika sampai dianggap oleh Pengadilan Dunia, kitalah pembunuh Jasper. Meskipun pada kenyataannya, kita memang berkomplot. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi, Kiarra sedang mengumpulkan bukti untuk menolong kita," ujar Ryota menegaskan dengan Chiko berdiri di sampingnya.
"Kalian ... tahu semua hal ini?"
Chiko, Rein dan Ryota mengangguk.
"Michelle dan Regen ikut membantu," sambung Chiko.
Aiko terlihat seperti memikirkan sesuatu dengan serius karena matanya bergerak-gerak meski pandangan tertunduk. "Aku bisa. Percayalah padaku. Aku ingin membantu Kiarra!" pintanya seperti akan menangis. "Kalian semua terlibat bahkan Regen dan Michelle. Apakah ... ada yang lain? Bagaimana dengan ibu?"
"Ibu tak dilibatkan. Kehilangan Kiarra, lalu kau yang menjadi seperti ini, cukup membuat ibu terguncang. Kiarra sangat mengerti kondisi kita, Aiko. Oleh karenanya, kita jangan mempersulitnya," jawab Rein memberikan pengertian.
"Ya, aku mengerti," jawab Aiko terlihat lesu.
Chiko, Ryota dan Rein saling memandang. Mereka tahu jika Aiko tak kalah bencinya kepada Jasper. Namun, mengingat hukuman di Era Evolusi yang bisa membuat mereka hidup susah, membuat orang-orang itu menahan diri agar tak menyentuh Jasper.
"Aku akan hubungi, Ara. Semoga dia memiliki solusi atas keinginanmu, Aiko," ucap Rein yang kembali menggunakan ponselnya. Senyum Aiko terpancar dan mengangguk cepat. Panggilan itu di-speaker agar semua bisa mendengar.
"Ya?"
"Aiko sudah tahu semua, Ara. Maaf," ucap Rein seraya melirik Aiko sekilas.
__ADS_1
"Hem, begitu. Baiklah. Jadi, kau ingin terlibat lebih jauh, Aiko?"
"Ya! Libatkan aku, Ara-san! Aku tak akan mengecewakan dan mempersulit misimu. Percayalah!" pintanya menggebu.
"Ya, baiklah. Kau bisa membantuku dengan mengalihkan perhatian Jasper saat kukumpulkan bukti tindak kejahatannya untuk menyeretnya ke Pengadilan Dunia nanti," pinta Kiarra yang membuat senyum keempat saudaranya merekah. "Kau sanggup?"
"Tentu saja. Kali ini, akan kubalas dia," jawab Aiko dengan penuh kebencian.
"Bagus. Lakukan besok. Bawa dia menjauh dari perusahaan. Berikan aku waktu satu jam. Minta agar Regen tak ikut serta bersamanya. Hanya kalian berdua," pinta Kiarra.
Aiko menarik napas dalam lalu dihembuskan, tampak tegang.
"Jangan khawatir. Kami akan melindungimu," ujar Ryota dan Aiko mengangguk pelan.
"Oke, aku bisa."
"Kau memang adikku yang cantik, Aiko. Sudah cukup menjadi wanita lemah dan tertindas. Jangan membuat malu ayah kita, Dexter. Hati-hati dengan rayuan Jasper. Jangan sampai kau terpancing lagi. Tak masalah jika kau sebut namaku untuk mengancam atau menakut-nakutinya. Semakin dia berusaha untuk kabur dan mengelak dariku, hal ini akan semakin seru."
Semua orang tampak serius mendengarkan. "Bagaimana jika ia menyakitimu?" tanya Aiko sedih.
"Dia sudah melakukannya. Dia juga berhasil membuatmu terpuruk. Saatnya membalas dendam. Jangan menjadi orang bodoh dengan melakukan kesalahan yang sama. Kau sudah tahu seperti apa Jasper, dan seharusnya kau bisa menjatuhkan orang itu, bahkan tanpaku." Entah kenapa, ucapan Kiarra seperti menjadi motivasi bagi Aiko. Wanita cantik itu terlihat bersemangat. "Berdandanlah yang cantik dan seksii untuk Jasper, seperti yang kuajarkan padamu ketika menjadi model dulu. Korek informasi sebanyak-banyaknya dari dia, tapi jangan terkesan seperti menginterogasi. Lakukan seperti sebuah obrolan dan buat dirimu seolah sudah memiliki pengganti Jasper. Puji pria itu. Anggap saja lelaki itu seperti suami impianmu. Buat dirinya tersaingi karena kita membutuhkan pengakuannya."
"Aku mengerti. Aku bisa melakukannya. Aku menyayangimu, Kiarra," ucap Aiko dengan senyuman.
"Aku juga menyayangimu. Aku menyayangi kalian semua. Jaga diri kalian."
Ryota, Rein dan Chiko mendukung aksi Aiko kali ini. Mereka bertiga akan melindungi Aiko dari kebusukan Jasper jika berusaha menyakiti adik mereka lagi. Sedang Kiarra yang tak bisa tidur, melihat Arjuna keluar dari kantor menuju ke rumahnya. Kamera-kamera yang terpasang pada beberapa peralatan persenjataan Vesper, membuat Kiarra memiliki mata di beberapa lokasi untuk melihat pergerakannya.
"Apa yang akan kaulakukan selanjutnya, Tuan Kim?" tanya Kiarra yang duduk di kamar dengan layar TV 50 inch di depan. Layar-layar kecil dari kamera pengawas Critical Drone dan BabyTank, memberikannya visual yang dibutuhkan.
Keesokan harinya. Hari keempat dari masa tujuh hari misi Kiarra di Bumi.
Aiko menghubungi Regen karena Jasper mengganti nomor teleponnya. Tentu saja, Jasper tampak terkejut karena mantan istrinya menagih tawarannya kala itu untuk minum teh.
"Kudengar dari perawat tempat Nyonya Aiko direhabilitasi, dia masih belum bisa melupakan Anda, Tuan. Sepertinya, Nyonya Aiko sangat mencintai Anda. Oleh karena itu, dia berusaha untuk kembali dekat. Terlebih, Anda dikabarkan belum menjalin kasih dengan wanita manapun usai perceraian itu," jawab Regen tenang.
"Heh, tentu saja. Siapa yang bisa menolak pesonaku? Bahkan, Kiarra saja sampai mati dan tak bisa menolak perjodohan. Itulah kenapa, orang kaya dan berkuasa sepertiku, sangat dibutuhkan di Era Evolusi ini," ucapnya seraya menatap Regen tajam.
"Anda salah satu manusia yang terpilih, Tuan. Anda sangat beruntung," puji Regen dengan kepala menunduk kemudian.
"Dunia yang beruntung karena memilikiku. Baiklah, katakan pada Aiko aku akan menemuinya di Tea House milik Kim Arjuna. Pastikan keluarganya yang cerewet itu tak ikut serta," jawab Jasper lalu kembali melihat map yang berisi laporan kenaikan penjualan dari perusahaan milik Aiko ketika ia berhasil mengakuisisinya.
"Baik, Tuan," jawab Regen yang kemudian pamit dari ruangan.
Siang itu, sebuah ruangan private sudah diisi oleh Aiko dan Jasper. Regen yang mengeluh sakit perut karena salah mengkonsumsi menu sarapan, tak bisa menemani sang majikan. Regen berjanji akan menjemput usai ia berobat ke dokter. Meskipun Jasper kesal, ia mengizinkan tangan kanannya itu untuk menyembuhkan diri.
"Perasaanku saja atau kau makin cantik, Aiko-chan?" tanya Jasper seraya menuang teh untuk mantan istrinya itu.
"Aku akan kembali menjadi model lagi, Say— maaf, Jasper-san," jawab Aiko tersipu malu.
Jasper tersenyum. "Sepertinya, kau belum bisa melupakan kenangan manis kita dulu, Aiko-chan. Aku bisa melihat dari wajah cantikmu," ucap Jasper seraya menyentuh dagu Aiko lalu menaikkannya karena wanita cantik itu menundukkan wajah.
Aiko tersenyum. Keduanya lalu bersulang minum teh dan menikmati kudapan yang disediakan oleh pelayan.
"Kudengar, perusahaanku yang kini kau jalankan berkembang pesat. Entah kenapa, aku senang mendengarnya. Selama karyawanku bisa kau sejahterakan, aku rela," ucap Aiko dengan pandangan tertunduk.
Jasper menatap Aiko lekat. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan hal itu membuat Aiko menjadi tegang. "Kudengar, kau dekat dengan seorang pengusaha yang sudah memiliki anak. Apa itu benar?"
Aiko langsung menaikkan pandangan. Ingin rasanya ia menghajar Jasper tepat di wajah, tetapi amarahnya ditahan. Ia sudah pernah terjebak olehnya karena pertanyaan penuh fitnah itu. Aiko tersenyum.
"Kau mendengarnya? Baguslah. Pria itu cukup membuatku nyaman," jawab Aiko yang membuat Jasper tertegun karena awalnya ia hanya asal bicara untuk menjatuhkan mental wanita itu lagi.
"Oh, ya? Siapa namanya?"
"Kukira kau bertanya padaku karena cukup mengenalnya. Yang jelas, dia memiliki usaha yang hampir sama denganmu," jawab Aiko tenang dan terlihat manis seraya memegang cangkir tehnya.
__ADS_1
Jasper terlihat tegang. Senyumnya sirna. "Apakah kau bermaksud menggunakan pria itu sebagai sarana untuk membalasku?"
"Entahlah. Namun, dia mengatakan jika ingin bersaing denganmu. Aku penasaran saja bagaimana hasilnya. Kau yang menang atau dia?" jawab Aiko lalu menyeruput tehnya dengan anggun.
"Siapa pria itu?" tanyanya melotot tajam.
"Aku ... tak bisa mengatakannya," jawab Aiko manja seraya meletakkan tehnya lagi ke atas meja.
"Jangan mengujiku, Aiko. Kau tahu apa yang bisa kulakukan," ucapnya tegas.
"Lakukan saja. Sudah kubilang 'kan, dia ingin bersaing denganmu. Jadi, silakan saja lakukan apa yang kauinginkan untuk menjatuhkannya. Dia saja tak masalah dengan hal itu."
Praktis, ucapan Aiko berhasil membuat amarah Jasper meluap. Ia yang sangat penasaran dengan pria saingannya, membuatnya hilang fokus dan terus mengejar mantan istrinya itu. Kini, Aiko bisa tersenyum. Ia tak menyangka bisa membalas Jasper dengan mudah usai mengikuti saran dari Kiarra. Aiko tetap mencoba untuk terlihat polos dan lugu di depan mantan suaminya itu.
"Harg! Lihat saja, akan kujatuhkan pria yang ingin merebut perusahaanku. Akan kulakukan cara apa pun dan kusingkirkan dia ke negara terbuang!" geramnya.
Aiko tersenyum tipis. Ia berhasil merekam ucapan Jasper di mana Rein, Kiara, Ryota, Regen, Michelle, dan Chiko ikut mendengar melalui earphone teleconference. Senyum mereka terkembang. Orang-orang itu tak menyangka jika Jasper bisa mengatakan hal tersebut secara blak-blakan.
"Dia memiliki keluarga, Jasper. Kasihan anaknya. Dia bahkan sudah memanggilku ibu selama dirawat di Italia," ucap Aiko terlihat memelas.
Jasper melirik Aiko terlihat seperti menyadari sesuatu. Jantung Aiko berdebar kencang, tetapi tetap berusaha untuk tenang. "Italia? Apakah dia warga negara sana? Kau cukup lama di Italia, Aiko. Jika sampai anaknya bisa menghubungimu, pastilah dia orang yang memiliki kuasa di Elios Laboratory."
"Em, kau bisa menebaknya? Aku tak tahu jika kau sangat peka," jawab Aiko malu-malu padahal ia bingung, siapa pria yang dimaksud.
Senyum Jasper terpancar. Ia sepertinya tahu siapa pria yang dimaksud oleh Aiko. Pria itu meneguk teh sampai habis dan mengelap bibir dengan tisu. "Yah, kuakui dia memiliki pengaruh besar di sana. Namun, tak masalah. Aku juga memiliki rekanan yang bisa diandalkan untuk menyingkirkan orang itu. Akan kugantikan posisinya. Persaingan kuterima," tegasnya tersenyum penuh kemenangan.
"Oke. Aku akan sampaikan padanya," jawab Aiko dengan senyum tipis.
Namun, entah kenapa. Sikap Aiko membuat Jasper juga ingin merebut mantan istrinya itu dari pria yang berniat ingin menyingkirkannya. Aiko yang sekarang lebih manis ketimbang sebelumnya. Jasper terus menatap wajah ayu Aiko saat ia mentraktirnya makan siang hingga Regen datang menjemput.
"Aku antar kau pulang. Kenapa tinggal dengan Rein? Dia racun bagimu."
"Keparatt sialan. Kau itu racun!" geram Rein karena dihina oleh Jasper. Orang-orang yang berada di sekitar Rein terkekeh geli.
"Aku tak memiliki tempat tinggal lagi. Rein baik padaku," jawabnya seraya menenteng tas jinjing persegi berwarna merah muda, yang senada dengan yukata miliknya.
"Masuklah. Aku akan izinkan kau tinggal di rumahmu yang dulu. Tempat itu kosong, jadi kau bisa menempatinya," ucap Jasper yang membuat Aiko diam sejenak.
"Akan kupikirkan."
"Kau pasti akan minta pendapat pada Rein dan lainnya. Tak perlu. Ini hidupmu. Mereka tak perlu ikut campur. Bagaimana? Aku akan berikan kuncinya padamu," tawar Jasper.
"Mm, baiklah," jawab Aiko tersenyum manis.
Regen diam saja selama menyetir. Ia melihat bosnya tampak begitu bersemangat untuk bisa dekat lagi dengan mantan istrinya itu. Aiko menjawab pertanyaan Jasper dengan sebuah teka-teki yang membuat pria itu semakin berambisi untuk mendapatkan hati sang mantan istri.
"Aiko. Apa kau percaya dengan kebangkitan Kiarra? Benarkah dia hidup kembali untuk membalas dendam padaku?" tanyanya tiba-tiba.
"Entahlah. Aku tak percaya takhayul seperti itu. Jika ia sungguh bangkit, pasti dia akan menemuimu 'kan? Mungkin balas dendam karena perbuatanmu dulu."
Praktis, ucapan Aiko membuat Jasper tegang seketika. Ia memalingkan wajah terlihat panik. Aiko dan Regen menahan senyum seolah tak melihat reaksinya.
"Itu pasti tipuan seseorang untuk membuat heboh dan menjatuhkan nyaliku. Sama sepertimu, Aiko-chan. Aku tak percaya takhayul," ucap Jasper seraya mengelus lembut pipi ranum itu.
Aiko tersenyum meski dua tangannya mengepal di dalam lengan yukata menahan emosi. Jasper seperti berusaha untuk menciumnya, tetapi dengan cepat, Aiko berpaling.
"Aku akan menjadi milik orang lain sebentar lagi, Jasper-san. Jangan menggodaku," ucapnya.
Jasper tersenyum lebar lalu memundurkan tubuhnya. "Oke. Namun, akan bertahan berapa lama? Dia akan pergi ke negara terasing. Kau akan sendirian. Hanya aku yang bisa menggantikan posisi pria itu. Kau juga nanti akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak," ucapnya yang membuat Aiko tersenyum dengan pandangan tertunduk.
"Manis sekali. Aku terbuai. Ingin rasanya kutarik lidahnya dan kutendang wajah tampan itu," ujar Kiarra yang membuat para pendengar menahan senyum.
***
puanjang nih. jangan lupa dukungannya ya. lele padamu dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yg mengamalkannya. siapa yang bisa nebak, siapa pria yang dimaksud Jasper??
__ADS_1