Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Dia Merepotkan (Kenta)*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Sepeninggalan Kiarra yang masih terkurung dalam telur ciptaannya, Negeri Kaa mulai merasakan sedikit kedamaian. Hanya saja, Kerajaan Tur yang tak sudi bergabung untuk menciptakan kedamaian sejati di negeri itu, membuat empat kerajaan mulai membuat strategi baru untuk menaklukkan. Mereka juga bertujuan untuk menyelamatkan Kiarra meski para penyihir meyakinkan jika hutan kabut putih adalah wilayah paling aman di seluruh tempat di Negeri Kaa. Tepat saat bulan ungu muncul dan menerangi beberapa wilayah yang masuk dalam jangkauannya, Kenta dipercaya untuk memimpin pertemuan yang sengaja diadakan di padang rumput dekat pegunungan tempat sang Naga berada.



"Kita sudah memikirkan banyak cara untuk bisa memasuki hutan kabut putih dan melawan pasukan Tur yang menjaga wilayah tersebut. Sekarang, saatnya bertindak," ucap Kenta yang duduk bersila di atas rumput.


Perwakilan dari kerajaan lain duduk sepertinya dalam lingkaran besar. Beberapa makanan dan minuman tersaji di tengah-tengah lingkaran siap disantap sebagai pendamping rapat. Namun, belum ada satu pun yang menyentuhnya. Mereka tampak serius mendengarkan penjelasan Kenta. Hingga tiba-tiba, Lon mengangkat tangan seperti ingin mengajukan pertanyaan. Kenta dengan sigap menunjuk bocah tampan itu.


"Kenapa kita melakukan pertemuan yang cenderung membahas hal rahasia di tempat terbuka? Bagaimana jika mata-mata Tur tahu?" tanya Lon heran yang ternyata banyak orang sependapat dengannya karena mengangguk.


Kenta geleng-geleng kepala dengan senyuman. Kening semua orang berkerut.


"Apakah kalian tak merasakan perbedaannya? Zaman sebelum Kiarra, kalian tak pernah bersantai seperti ini. Apa dugaanku benar?" tanya Kenta dengan dua alis terangkat. Orang-orang yang duduk melingkar mengangguk membenarkan. Kenta tersenyum. "Setelah Kiarra muncul di negeri ini meski dalam jasad jenderal ternama dari kerajaan Vom, atau sepertiku yang berada dalam raga Wen, suasana damai mulai terasa, bukan? Kita bebas mengunjungi kerajaan lain, bahkan terjadi pernikahan antar kerajaan. Bagiku, ini adalah kemajuan yang sangat hebat. Sudah tak ada batasan. Kita bebas," ucap Kenta semangat.


"Namun, Tur masih ancaman, Panglima Wen," ucap Kapten Mun mengingatkan.


"Itulah masalahnya. Raja Tur. Aku sudah mendengar banyak hal tentang manusia-manusia setengah binatang dari kerajaan itu. Maaf, kalian jangan tersinggung," ujar Kenta seraya menunjuk orang-orang yang membelot dari kerajaannya. Penyihir Boh dan kelompoknya mengangguk dengan senyuman. "Aku merasa, pokok masalahnya adalah raja itu sendiri. Aku cukup yakin, jika penduduk di kerajaan Tur tak berani melakukan perlawanan karena dua hal," imbuhnya seraya menunjukkan dua jari. Semua orang menatap sosok Wen lekat. "Pertama. Mereka takut dengan raja. Yang kedua, mereka tak memiliki sosok untuk melakukan pemberontakan."


"Kami sudah melakukan aksi pemberontakan kala itu, Panglima Wen," ucap sang putri, Xen.


"Oh, ya? Sejauh mana? Apakah terjadi perang besar di Tur antara pemberontak dan bawahan Raja? Setahuku, dari informasi yang kudapat, kalian memberontak secara tersembunyi, terselubung, bagaikan pengecut. Kalian takut ditangkap, disiksa atau bahkan dibunuh. Oleh karena itu, kalian memilih pergi selagi ada kesempatan karena tahu, Kiarra sedang berperang," sindir Kenta.


"Jaga bicaramu, Ken-ta. Kau tak tahu pengorbanan kami," tegas Pangeran Owe melotot tajam.


"Kenapa? Tersinggung karena ucapanku benar? Aku pernah melihat hal yang lebih buruk dari kondisi Negeri Kaa. Bahkan aku yakin, kalian akan memilih bunuh diri ketimbang ikut berperang melawan musuh di duniaku. Kalian ikut berperang karena merasa dilindungi. Terlebih, kalian putri dan pangeran. Aku tak melihat kalian melakukan pemberontakan secara terang-terangan karena ... Raja Tur adalah ayah kalian."


Sontak, ucapan Kenta membuat sang putri dan pangeran tersentak. Mereka seperti tertohok.


"Kau keterlaluan!" teriak Boh marah.

__ADS_1


Seketika, penyihir itu mengulurkan tangan dengan mantera diucapkan ke arah Kenta. Sontak, pria asal Jepang tersebut tertegun karena rumput di sekitar tempatnya duduk bergerak seperti akan menyerang.


"Seyana habe!" teriak Rak cepat dengan dua telapak tangan ia tempelkan kuat di atas rumput-rumput itu.


Seketika, rumput yang berubah runcing bagaikan jarum membeku lalu pecah menjadi serpihan. Kenta tertegun, termasuk yang lainnya. Suasana tegang seketika. Orang-orang dari kerajaan Tur menatap kubu Kenta tajam seperti siap untuk melawan jika diserang.


"Ken-ta. Jangan memicu perselisihan. Kiarra mati-matian menciptakan perdamaian," tegas Dra melotot.


"Lihat kemampuan Boh ketika ia tersinggung. Kenapa tak kau gunakan untuk melawan orang-orang yang sudah dicuci otaknya oleh Raja Tur untuk membebaskan kerajaanmu? Membebaskan penduduknya?" tanya Kenta menatap Boh tenang.


"Apa itu cuci otak?" tanya Lon berkerut kening.


Kenta mendesah malas. "Semacam ... dihasut, pikirannya diracuni oleh hal-hal yang membuat pendengarnya merasa apa yang diucapkan oleh sang Raja adalah benar. Mereka menurut begitu saja tanpa menolak," jawab Kenta mencoba menjelaskan dengan sederhana.


Sontak, ucapan Kenta mengejutkan Boh dan lainnya. Kenta tersenyum tipis seraya mengelus punggung kekasihnya lembut. Rak yang tadinya dalam posisi merangkak itu langsung duduk bersimpuh di samping Kenta meski matanya masih menatap Boh tajam.


"Hehe, kau licik juga, Ken-ta. Apa orang-orang di Bumi melakukan semacam tipu muslihat seperti yang kau lakukan untuk memancing emosi lawan lalu menggunakannya untuk menyerang?" tanya Lon.


Lon meringis dan membiarkan rambutnya jadi berantakan karena berujung diacak-acak oleh kakak Kiarra tersebut.


"Kau ingin kami melakukan apa?" tanya Jenderal Gom. Kenta tersenyum sebagai jawaban.


Usai mendapatkan arahan dari Kenta, orang-orang yang menghadiri rapat kembali ke kerajaan masing-masing. Kenta bersama para penyihir tiap kerajaan dan Lon, mendatangi rumah Naga. Sang Naga terbang melayang di atas kolam menatap para tamunya lekat. Mereka semua bersujud, kecuali Kenta yang berdiri tegak.


Kenta dan sang Naga berbicara dengan bahasa Inggris. Terjemahan.


"Jadi ... kau bisa melakukannya, Tuan Naga? Atau aku harus meminta Oag datang kemari untuk membantu? Bagaimanapun, membawa manusia ke negeri ini juga karena ulahnya. Secara tak langsung, ia ikut bertanggungjawab," ucap Kenta santai di depan sang Naga.


Dra dan lainnya berkerut kening. Mereka bingung dengan ucapan Kenta karena pria tersebut berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti.


"Hem ...," jawab sang Naga menatap Kenta lekat.

__ADS_1


"Jadi? Bisa? Ayolah, tunjukkan kemampuan supermu! Saat di Planet Mitologi, Rex sangat hebat menjadi seekor naga. Padahal saat itu, kami semua masih anak-anak. Mungkin seumuran Lon, tapi lebih tua sedikit," ucap Kenta seraya menunjuk Lon yang bersujud.


Bocah laki-laki itu mengedipkan mata karena merasa namanya disebut. Lon menaikkan pandangan, tetapi kemudian kembali bersujud dengan wajah menghadap rumput karena Naga meliriknya.


"Baiklah. Satu kali saja. Setelah itu, jangan usik aku. Kau tidak sopan," ucap sang Naga kesal, tetapi Kenta menjawabnya dengan jempol dan kedipan mata.


"Kau memang sangat bisa diandalkan, Naga. Thank you," ucap Kenta dengan senyum terkembang, tetapi Naga memasang wajah malas.


"Masuklah ke kolam naga. Kau kuberi waktu lima menit. Setelahnya, kau akan ditarik kembali ke sini," ucap sang Naga yang membuat Kenta langsung bersiap di tepian.


"Terlalu cepat. 15 menit. Please," pinta Kenta merengek memasang wajah malas.


"Hempf!" dengus sang Naga terlihat marah. Dra dan lainnya menelan ludah karena bisa merasakan aura lain dari sang Naga. "15 menit."


"Oke. Aku siap!" ucap Kenta mantap.


Rak dan lainnya menaikkan kepala. Mereka melihat Kenta bergerak ke tepi kolam seraya melompat-lompat kecil dan melakukan gerakan aneh. Lalu, tiba-tiba saja, BYUR!


"Oh!" kejut Rak dan langsung duduk bersimpuh, diikuti yang lain.


"Dia baik-baik saja," ucap sang Naga yang diangguki orang-orang itu dengan gugup.


Rak terlihat cemas karena Kenta menceburkan diri ke kolam naga. Entah apa yang dibicarakan dengan sang Naga karena ia tak mengetahui bahasa mereka.


"Dia sungguh merepotkan. Aku menyesal menariknya ke Negeri Kaa," ucap sang Naga dalam bahasa Inggris.


Lon dan lainnya kembali bingung.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2