
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
"Aku Raja Owe. Pemimpin Kerjaan Tur. Selama setahun penuh, kami telah mengalami banyak perubahan dalam segala aspek. Dalam kompetisi kali ini, kami telah melakukan banyak pembaruan. Salah satunya dalam dunia transportasi," ujar Owe tenang.
"Wow! Dia sudah bisa berbicara tanpa mengeja per tiga huruf. Keren," puji Kenta kagum.
"Mungkin, Hiro dan Aiko yang mengajarinya," sahut Rak. Kenta mengangguk setuju.
"Saat perang terjadi antara empat kerajaan melawan Tur, kami mempelajari banyak hal. Saat itu, muncullah alat terbang pertama yang disebut balon udara. Melihat keefektifan dan efisiensi benda terbang tersebut, divisi transportasi Tur melakukan pengembangan dengan membuat ...."
Semua orang dibuat tegang menunggu Tur menunjukkan maha karyanya. Tak hanya cara bicara Raja Owe yang mengalami perubahan pesat, tetapi cara berpikir dan bersikapnya juga.
"Kapal balon udara!" sambungnya seraya menunjuk ke arah tanah lapang.
Semua orang langsung menoleh ke arah benda berukuran besar berbentuk kapal. Petugas kapal tersebut adalah para manusia setengah burung. Beberapa manusia setengah hewan memasukkan beberapa komoditi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan. Semua orang dibuat takjub karena kapal besar itu mampu memuat peti-peti dan tong-tong berukuran besar sampai memenuhi gudang kapal. Perlahan, kapal bergerak naik saat jangkar dilepaskan. Kapal tersebut melayang di atas permukaan tanah dengan sebuah balon udara menggembung besar yang membuatnya terbang sampai menembus awan.
"Tuan Hiro memberikan ide tentang pengiriman barang melalui udara. Kami sadar jika di Negeri Kaa, mesin masih belum tercipta. Oleh karenanya, kita mengalami banyak kesulitan dan hambatan dalam perniagaan. Jalur darat juga dirasa kurang menguntungkan karena jalanan terjal, berliku dan ancaman hewan buas saat melintasi kawasan liar. Namun, dengan adanya kapal balon udara, hal ini menjadi mudah," imbuhnya.
"Jelaskan lebih detail," pinta Kiarra penasaran.
Owe tersenyum. "Kapal balon udara di Tur telah dimodifikasi sehingga mampu mengangkut banyak barang dalam perjalanan. Dalam kapal balon terdiri 10 awak yang bekerja untuk mengoperasikan. Kami sedang dalam pengerjaan untuk membuat 10 kapal balon udara khusus untuk pengangkutan barang dengan ukuran seperti contoh. Lalu 10 kapal balon udara ukuran kecil yang bisa menampung 10 penumpang berikut barang bawaan dan 5 petugas sebagai sarana transportasi di Tur sehingga membantu penduduk yang ingin berpergian jauh, melintasi sungai, lautan atau wilayah luas mempersingkat waktu."
Seketika, tepuk tangan meriah terdengar. Namun, Kenta berdecak kesal akibat idenya dicuri.
"Sebelumnya kami berterima kasih kepada Raja Kenta sebagai inspirator. Mengingat balon udara pertama muncul di Negeri Kaa karenanya saat terjadi perang," imbuh Raja Tur yang membuat amarah Kenta reda. Lelaki itu lalu berdiri dan membungkuk hormat.
"Heh, dasar sombong," sindir Ryota.
"Sudah kubilang, aku inovator di Negeri Kaa," sahut Kenta ingin dipandang.
Namun, saudara saudari pria itu hanya memasang wajah malas. Sedang Tora, terlihat bangga kepada anak-anaknya.
"Selain itu, kapal layar di Negeri Kaa juga telah diperbarui. Kami memiliki 20 armada kapal. Namun, bukan untuk berperang. Negeri Kaa telah damai dan kami sangat menghargai perjuangan para kesatria baik yang masih berjuang hingga saat ini atau telah gugur," ucapnya yang membuat para pejuang di tempat tersebut tersenyum dengan anggukan pelan. "Lalu ... saya selaku Raja, tentu saja harus memiliki kapal balon udara kerajaan. Nona Aiko, silakan," pinta sang Raja seraya mengarahkan tangan ke sisi tempat kelompok Tur berkumpul.
Aiko tersenyum seraya memegang sebuah tali. Mata semua orang tertuju pada gerak-gerik wanita cantik tersebut.
SRETT!
"Woah!" seru orang-orang kagum.
__ADS_1
"Seperti kembali saat zaman kerajaan!" sahut Michelle dengan wajah berbinar.
Aiko lalu menaiki kapal balon udara jenis baru tersebut. Kenta mengangguk-anggukkan kepala. Ia setuju kali ini karena pengembangan tersebut memang bagus dan sesuai dengan kemampuan Negeri Kaa untuk zaman sekarang. Negeri Kaa tak banyak bangunan tinggi menjulang sehingga benda besar tersebut tak akan menabrak. Selain itu, angin di atas awan juga cukup kencang sehingga layar besar akan sangat cocok untuk menerbangkan benda berukuran besar tersebut. Semua orang kembali bertepuk tangan.
"Ada pertanyaan?" tanya Raja Owe dengan senyuman. Kiarra langsung mengangkat tangan. Para petinggi Tur menatap Ratu Vom lekat.
"Bisakah sebutkan secara detail, berapa bobot yang bisa ditampung oleh tiap satu kapal dagang balon udara kalian? Jika hanya dihitung dari jumlah tong dan ukuran peti, tampaknya itu kurang akurat mengingat isi peti bisa barang apa saja. Bagaimana jika kelebihan muatan? Apakah rangka kapal akan rusak? Atau mengakibatkan kapal tak bisa terbang ke atas dan terbang?"
Sontak, pertanyaan Kiarra membuat Hiro mengedipkan mata. Raiden menyeringai karena tak menduga jika pertanyaan Kiarra bisa sekritis itu.
"Karena waktu yang cukup mendesak hanya satu tahun, uji coba selanjutnya akan kami lanjutkan sampai kapal-kapal ini dinyatakan siap dan bisa diperjual-belikan," ucap Hiro gugup.
"Oke," jawab Kiarra yang tak ingin mempermalukan Tur di hadapan semua kerajaan. Owe terlihat gugup dan menatap Hiro yang masuk dalam jajarannya.
Suasana terasa canggung seketika. Ratu Vom tersebut lalu melirik ke arah Ratu Nym. Wanita peri itu mengangguk paham seperti menyadari arti dari isyarat mata itu.
"Jika Vom dan kerajaan lain ingin memiliki benda ini, kalian bisa langsung memesannya, dan jangan lupa untuk membayar," terang sang Ratu Peri yang membuat semua orang tertawa.
"Pasti ajaran Aiko. Dia 'kan sangat perhitungan," sahut Azumi yang membuat orang-orang di sekeliling ber-Oh karena baru mengetahui hal tersebut.
"Vom pesan satu! Kapal balon udara kerajaan. Jika memuaskan, aku akan pesan kapal dagang. Tentu saja, harus berwarna ungu," seru Kiarra dengan tangan terangkat ke atas.
"Siap, Ratu Ara!" sahut Hiro sigap yang langsung mencatat.
"Itulah fungsinya perdagangan antar kerajaan, Tuan-tuan. Kita menghargai jerih payah kerajaan lain dengan membeli produk mereka. Hal ini sangat bagus untuk mempererat jalinan bisnis. Selain itu, kita bisa fokus untuk melakukan pekerjaan lain tanpa harus membuat barang serupa. Kita buat sesuatu yang tak dimiliki kerajaan lain sehingga mereka membeli pada kita karena menjadi satu-satunya penyedia," terang Kiarra.
"Woah, pemikiran Anda di luar kemampuan saya," sahut Kapten Mun yang membuat Kiarra terkekeh.
"Ya, kita juga memberikan kesempatan pada Tur untuk menyelesaikan pekerjaan kapal balon udara pesanan Vom, meski hanya satu unit. Mereka pastinya akan memikirkan dengan serius kritik dari Kiarra. Tur akan berusaha keras untuk membuat kapal balon udara seperti harapan Kiarra atau mereka akan dicela. Dan hal itu, akan sangat buruk dalam bisnis," ujar Rein yang membuat para petinggi Vom ber-Oh.
Raja Owe menyelesaikan presentasinya. Kapal balon udara yang ditunjukkan oleh mereka tetap terbang di langit sebagai penghias nuansa keunguan, tepat saat bulan tersebut bercahaya terang. Kabut hijau di Tur telah memudar dan membuat bulan ungu serta merah terlihat. Hal itu dikarenakan Grr yang dulu meracuni wilayah Tur telah memusnahkannya. Ia melakukannya setelah kawan-kawan monster iblis dibebaskan dari segel Raja Tur dan kini menghuni pohon jembatan di seluruh pelosok Negeri Kaa.
Hanya saja, para manusia Tur tidak dapat kembali seperti semula. Mereka telah terkena racun dan zat tersebut telah bersemayam di dalam tubuh untuk selamanya. Penduduk Tur tetap akan menjadi manusia setengah binatang. Namun, Owe dan warga Tur telah berlapang dada menerima kutukan tersebut sebagai bentuk ujian dari sang Naga.
"Terima kasih atas hasil karya yang sangat mengagumkan, Raja Owe. Tur yakin jika transportasi udara akan menjadi pilihan tepat sesuai dengan kemajuan zaman. Mereka juga meyakini, armada terbang Tur akan menjadi yang terbesar di Negeri Kaa," ujar Ratu Nym yang membuat beberapa petinggi dari kerajaan lain langsung berbisik. "Selanjutnya. Kita akan menyaksikan hasil karya dari Yak. Kepada Raja Kenta dan tim, kami persilakan."
Kenta dengan penuh percaya diri melangkah ke depan ditemani Rak. Para petinggi kerajaan lain menatap pria yang energik itu dengan saksama. Penasaran dengan apa yang dia buat untuk memenangkan kompetisi.
"Halo semua, aku Kenta. Raja dari Yak dan ini calon istriku yang cantik, Rak, selaku penyihir agung," ucap Kenta memperkenalkan diri dengan bangga.
"Kami sudah tahu! Langsung saja!" teriak Chiko yang membuat Kenta melotot tajam. Semua orang menahan tawa.
__ADS_1
"Oke, oke, aku tahu jika kalian sudah tak sabar. Baiklah, langsung saja. Rak sayang, tolong, ya," pinta Kenta genit seraya mengedipkan satu mata.
Rak tersenyum tipis. Wanita cantik itu menggunakan sihirnya. Semua orang dibuat terkejut ketika terbentuk jalanan es di atas permukaan tanah. Terlihat sebuah papan seluncur es dari kayu. Di atasnya terdapat persegi panjang terbuat dari lempengan besi berbentuk seperti sebuah peti. Mata semua orang tertuju pada benda yang ditarik oleh Rak tersebut dengan sihir sehingga bergerak dengan sendirinya sampai ke depan Kenta.
"Aku pernah menjanjikan untuk membuatkan sebuah lemari es. Nah, inilah benda tersebut," ujarnya yang membuat Kiarra dan lainnya berseru kagum.
Kenta membuka kotak besi dengan penutup itu. Terlihat ada balok-balok es di dalamnya dengan jumlah banyak. Terdapat ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan yang dibekukan dalam kotak tersebut.
"Dengan lemari es atau lebih tepatnya kotak es, bahan makanan yang mudah busuk akan lebih tahan lama jika didinginkan. Terlebih, es di Yak abadi. Es di dalam kotak besi ini sudah aku masukkan sejak seminggu yang lalu dan tak mencair. Bahkan, ikan yang disimpan di dalamnya masih segar seperti baru ditangkap," ucap Kenta seraya mengambil seekor ikan kemudian menunjukkannya.
"Ya, lemari es akan sangat berguna untuk hal tersebut. Terlebih, minuman dingin. Oh, aku merindukan es buah," ujar Kiarra yang membuat orang-orang Negeri Kaa langsung melirik sang Ratu.
"Hei, bagaimana, Ara? Ingin membelinya?" tawar Kenta karena melihat adiknya tertarik.
"Aku akan membelinya jika Vom benar-benar dinyatakan kalah. Jika menang, bukankah aku mendapatkan gratis darimu?" jawab Kiarra yang membuat orang-orang tertawa. Kenta cemberut.
"Hei, selanjutnya apa selain kotak pendinginmu itu?" tanya Raiden.
"Haish, tidak sabaran," gerutu Kenta. "Rak sayang. Tolong singkirkan benda ini, ya. Aku harus melakukan presentasi kedua," ujarnya.
Rak mengangguk paham lalu menyingkirkan benda itu dengan sihirnya. Jalanan es mencair dan membuat rumput yang tadi membeku kembali subur.
"Yeah. Jika Tur mengembangkan udara, tentu saja aku tak mau kalah. Hang Glider yang pernah dibuat oleh Lon dan warga Desa Gul kala itu menginspirasiku. Namun, aku teringat akan karya fenomenal dari Leonardo da Vinci yang kemudian dikembangkan dan dimodifikasi. Baiklah para penduduk Negeri Kaa, sambutlah, manusia terbang!" seru Kenta yang membuat semua orang langsung menoleh ke arah menara buatan dari kayu.
Benda itu menjulang tinggi dan terdapat empat roda di bagian bawah agar bisa dipindahkan dengan mudah. Tangga dari kayu pada salah satu dinding kayu dipanjat oleh Tam dan Aim yang menjadi penunggang burung Eee di kerajaan Yak. Semua orang dibuat terkejut ketika sebuah kain penutup ditarik oleh Aim dan terlihat sebuah alat berukuran besar terbuat dari kayu. Tampak tali-tali mengikat benda bersayap layaknya burung raksasa.
Di bagian bawah benda itu, terlihat sebuah busur besar yang akan melontarkan benda bersayap tersebut. Mesin terbang yang terbuat dari kombinasi kayu, tali, kain, dan juga kulit hewan, dinaiki oleh dua orang dalam posisi duduk. Tam dan Aim terlihat siap ketika sebuah tuas akan ditarik dari samping dudukan. Kenta mengangguk sebagai isyarat.
KLEK!
WUSSS!
"Woahhh!" seru orang-orang ketika benda tersebut terbang dengan dua sayap terkembang dan bergerak bagaikan burung Eee yang mengepakkan sayap.
"Jika kapal balon udara berukuran besar dan bisa menampung banyak orang, benda terbangku ini bisa dikendalikan oleh satu orang saja. Aim dan Tam sebagai contoh jika benda tersebut bisa dinaiki dua orang. Artinya alat ini bisa dipakai siapapun dan menjadi transportasi pribadi. Kenapa harus pergi beramai-ramai jika pergi berdua bersama kekasih atau ingin berkelana seorang diri bisa dilakukan? Hebat, bukan?"
Orang-orang kembali dibuat kagum lalu bertepuk tangan. Namun, saudara saudari Kenta terlihat biasa saja. Bagi mereka, Kenta menjiplak ide Leonardo da Vinci dan menerapkannya di Negeri Kaa.
"Tukang pamer," gerutu Ryota.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE